
Fai dan Al baru sampai sore harinya. Mereka membawa beberapa banyak cemilan untuk mereka makan bersama sama nantinya. Semua terheran dengan sumringahnya Fai kala ini.
“Wahhh…. banyak banget makanannya.”
“Mantap banget nih. Gini dong, sekali-kali kamu pulang bawa makanan. Jangan muka muluk yang masem.”
“Cari ribut banget sih. Tuh makan tuh!”
“Gimana Al, Fai? Sudah selesai?”
“Udah dong. Nih! Fai udah punya rumah atas nama Fai sendiri.”
“Emangnya pakai uang kamu? Pasti bukan kan? Pasti Al nih yang bayarin. Nyusahin banget. Bisanya morotin muluk.”
Fai seketika cemberut kesal mendapati olok-olokan Fadhil terhadapnya. Al berkacak pinggang sembari melayangkan tatapan tajamnya ke arah Fadhil.
“Jangan menggoda emosi istriku Fad! Hartaku juga menjadi harta Fai. Memang udah tanggung jawabku memenuhi kebutuhan Fai. Dan rumah memang udah seharusnya milik Fai.”
Fai memandang pongah dengan raut kesal Fadhil.
“Alhamdulillah…. semoga ini menjadi berkah untuk pernikahan kalian ya. Mama sangat berterimakasih kamu sudah menjadi suami yang baik untuk Fai.”
“Tinggal kamunya yang harus banyak belajar dari Al. Menjadi istri yang baik. Jangan bisanya nyusahin aja. Wlekkk….”
“Mama….!! Kak Fadhil ngeselin banget sih!!”
“Hahaha…. Sudahlah. Istirahatkan diri kalian dulu. Mama ke dapur dulu. Nyiapin makan malam kita.”
Fai lebih dulu berjalan ke arah kamarnya. Diikuti Al pada belakangnya. Al tersenyum di saat Fai masih sumringahnya menatap berkas-berkas kepemilikan rumah baru mereka.
“Simpan baik-baik ya! Jangan sampai hilang. Itu perlu banget sewaktu-waktu kita memerlukannya.”
“Maksud lo apa? Lo punya niatan mau ngejual lagi nih rumah?!”
Al terkekeh dengan tuduhan Fai.
“Bukan Sayang…. Maksud aku…. kalau misalnya kita ada urusan mendadak yang mengharuskan memakai surat surat itu, kita gak pusing nyarinya. Bukan mau dijual.”
“Jangan panggil gue dengan sebutan itu!”
Al mengkerutkan keningnya di saat ia bingung dengan apa yang dimaksud Fai.
“Panggilan apa Fai?”
“Lo barusan manggil gue Sayang. Gue gak suka.”
“Emangnya kenapa? Enggak salah kan? Manggil istri sendiri dengan kata Sayang, itu sunnah untuk kita Fai. Berbicara dan memanggil pasangan suami istri dengan kata-kata yang manis.”
“Gue berada di posisi ini aja karena kepaksa. Bukan kemauan gue. Enggak ada satu orang pun yang berhak manggil gue dengan kata-kata bualan lo itu.”
Al memijat pelipisnya yang sedikit terasa berdenyut. Ia rasa, Fai ampuh memancing darah tingginya.
“Huffftttt…. terserah kamu. Yang jelas, memang gak ada satu orang pun yang berhak manggil kamu dengan sebutan Sayang selain aku. Ok Sayang. Aku mandi dulu ya. Atau…. kamu mau mandi bareng aku juga. Ayo!”
“Apaan sih lo?! Dasar gila!!”
“Hahaha…. Aku duluan ya Sayang. Bye Sayang….!”
“Al……………..!!!”
BUGHHH! BUGHHH! BUGHHH!
Fai berulang kali menendang kuat ranjangnya. Dirinya selalu kesal di kala Al mampu memancing emosinya.
“Dari dulu sampai sekarang pun lo tetap sama ngeselinnya. Bisa-bisa gue botak ngehadapin lo. Fai…. lo gak bisa diam aja. Bagaimanapun lo harus bahagia. Lo harus bebas kayak dulu lagi. Tanpa diatur dan dikekang dengan siapa pun.”
Merogoh tas untuk mencari handphonenya. Ia tetap tidak berhenti mengirimi pesan ke nomor kekasih yang meninggalkannya begitu saja.
“Aku butuh kamu Bagas. Bawa aku pergi dari sini. Kamu ke mana aja sih? Kamu benar-benar udah lupa dengan aku ya, hum?”
Tok…. Tok…. Tok….
“Siapa?”
“Ini mama Fai.”
Melempar handphonenya ke sembarang arah.
“Kenapa Ma?”
“Al mana?”
“Mama ke sini cuma mau nanyain Al doang? Di sini tuh Fai anak Mama. Kenapa apa-apa mesti Al sih?”
“Kamu sensian banget. Lagi PMS ya? Jangan dong. Nanti, gimana bisa punya cucu cepat kalau kamunya lagi datang bulan. Hihihi….”
“Iihhh…. Mama!!! Kalau Mama ke sini cuma mau ngeganggu Fai aja, mending pergi deh Ma!”
“Maaf deh. Mama ke sini mau minta bantuan kamu untuk bantu-bantu mama di dapur. Kamu kan gak bisa masak. Sekarang waktunya belajar. Mumpung kamu masih di sini. Ayo! Jangan mau kalah dengan kemampuan Al.”
Tanpa aba-aba dari Fai, Dina langsung menarik tangan Fai untuk turun dan mengikuti dirinya ke arah dapur. Dan juga sudah ada Misha yang lebih dulu menata bahan-bahan masakan mereka sore ini.
__ADS_1
“Misha…. Tugas kamu hari ini menilai hasil masakan Fai aja ya! Kamu istirahat. Jangan banyak berdiri. Kita lihat bagaimana cara memasaknya Fai.”
“Enggak perlu lah Ma. Fai memang gak bisa masak. Percuma juga.”
“Karena gak bisa itu, kamu harus belajar. Mau kamu kasih makan apa Al?”
“Beli aja dong. Pesan online atau apa kek.”
“Astaghfirullah…. Malu mama punya anak kayak kamu Fai. Mana ada mertua mau memiliki menantu seperti kamu.”
“Ya udah, Fai juga sebenarnya gak mau jadi menantunya tante Ranum dan om Rahmat. Fai menikah karena terpaksa. Cinta atau perasaan itu gak bisa dipaksa Ma. Awwww….!!!” Memekik di saat telinga dijewer sang Mama.
Perdebatan sengit terhenti dengan Fai yang pada akhirnya mengalah dan mengikuti kelas memasak dari ajaran Dina. Berulang kali Dina menggeleng kepala di saat sang anak benar-benar tidak adanya basic memasak. Bahkan segala rempah-rempah pun Fai tidak mengerti cara membedakannya. Misha puas tertawa melihat interaksi kedua wanita di hadapannya ini.
Beberapa menit setelahnya, Al terlihat turun dari anak tangga sebab ia juga penasaran dengan keributan yang berasal dari arah dapur. Dirinya yang sudah fresh mencoba ikut bergabung diantara ketiga wanita yang sibuk pada alat-alat dapurnya.
“Eh, Al! Maaf ya, di sini terlalu berisik. Agak berantakan juga nih, sebab Fai. Hihihi….”
“Lagian, Fai tuh gak bisa masak masih aja dipaksa.”
“Ini pelajaran untuk kamunya. Kamu duduk aja ya Al. Nanti kamu rasakan gimana masakan istri kamu yang bego memasak ini.”
Fai memberikan tatapan sinisnya ke arah sang Mama yang sedari tadi mengolok-olok dirinya. Sangat tidak ia sukai ketika ia direndahkan di hadapan musuhnya. Albian Dirgantara. Mata Fai menajam dan menarik sebelah sudut bibirnya seakan memiliki makna terpendam.
‘Bakal seru kali ya, kalau gue kerjain aja tuh anak. Sekali-kali buat dia kapok berhadapan sama gue.’ Sungutnya dalam hati.
Al terus tak berhenti mengulas senyumannya setiap pergerakan kaku Fai memegang semua alat memasaknya. Walaupun dalam pengawasan Dina, tetap saja Fai kebingungan dalam setiap langkahnya. Misha dan Al lah yang tertawa terbahak menyaksikan aksi Fai.
“Wahhh…. atraksi apaan nih?” Tegur Fadhil dan Fajar yang baru saja datang.
“Finish!” Teriak lega Fai pada hasil akhirnya.
Meletakkan 2 piring yang sengaja ia sajikan di hadapan Misha dan Al. Fai tersenyum ceria di saat melihat tampilan akhir masakannya.
“Ayam pedas manis ala buatan Faizah Nur Fadhila.”
“Buatan mama kali. Kamu mah cuma bikin hebohnya doang. Mama mentornya.”
“Cih! Intinya Fai udah mau belajar masak kan?!” Kesalnya.
Misha yang memang tengah mengandung sudah sangat tergiur melihat tampilan dan mencium aroma yang sangat menggugah seleranya.
“Jadi, udah boleh dicicipi sekarang kan?”
“Iya dong kak. Habisin sampai bersih ya. Hihihi….”
Al juga memulai menyendoki potongan ayam yang sudah terbaluri kuah saus. Ia memasukkan pada suapan pertamanya. Mengunyah beberapa kali namun selang berikutnya pergerakan mulutnya terhenti. Ia seakan merasakan keanehan pada makanan miliknya. Fai yang tahu diamnya Al, mulai menyunggingkan senyum tipisnya. Dalam benaknya ia merasa puas di saat Al mengenai ranjau yang sudah ia buat.
“Enak kok. Rasanya pas banget. Harus sering-sering kamu ingat resepnya Fai. Biar besoknya kamu bisa membuatnya sendiri.”
“Hihihi…. Fai senang deh dengar pujian dari kakak.”
Al mulai mengunyahkan kembali makanannya. Ia bingung dengan reaksi kak Misha yang tenang memakan semua masakannya. Padahal, yang ia rasakan saat ini ialah sangat asin dan sangat pedas melebihi level kepedasannya.
“Gimana Al? Masakan Fai enak kan? Kamu pasti suka kan?” Tanya mama mertuanya saat ini.
Al mendapati senyuman manis dari Fai yang seakan meminta jawaban dari dirinya mengenai makanan yang sudah Fai masakkan. Merasa tidak enak jika ia menjawab jujur. Alhasil ia hanya mengangguk sembari terus memakan makanan yang sangat tidak sesuai ekspetasinya. Al tidak tahu bahwa Fai sengaja menaruh banyak garam dan merica pada makanan miliknya. Dan bersikap biasa saja seakan Fai tidak benar-benar melakukan itu.
‘Hahaha…. Gue tahu raut kebohongan lo itu Al. Gue sengaja ngebedain rasanya dengan milik kak Misha. Itu balasan dari gue karena lo udah berulang kali ngebuat gue emosi ke lo. Lo rasain tuh obat penambah darah tinggi lo.’
“Alhamdulillah…. kakak sampai habis nih makanannya. Enak Fai. Belajar menu lainnya ya!”
Fai tersenyum puas dengan hasilnya.
“Kalau memang enak, aku juga mau deh.”
“Fajar juga deh Ma.”
“Ya udah, masih banyak kok yang lainnya. Habiskan ya. Ini masih makanan percobaan. Untuk nanti malam, mama masakin lagi.”
Al dengan susah payah menghabiskan makanan miliknya. Mungkin, pakaian yang ia pakai sudah basah dengan keringatnya. Dirinya yang sudah mandi tidak ada artinya lagi.
‘Kenapa pengakuan kak Misha sangat berbeda dengan makanan yang ku makan? Ini sangat asin dan sangat pedas. Lidahku sudah mati rasa, tenggorokanku juga panas. Apa ini hal yang disengaja Fai? Ya Allah…. Aku benar benar udah gak sanggup lagi.’
Detik berikutnya, Al menghentikan makannya dan berlari dengan terburu-burunya. Ia meninggalkan semuanya dalam keterbingungan.
“Al! Kamu kenapa Nak?” Teriakan Dina yang tidak digubris oleh Al.
Semua menatap bingung dengan kekehan tertahan Fai. Fadhil yang penasaran mencoba mencicipi makanan yang tersaji milik Adik Iparnya.
“Uwekkkk…. Ini makanan apaan?! Kok kak Misha bilangnya enak sih? Ini sih terlalu asin dan sangat pedas.”
“Enggak kok. Beneran enak Fad. Cobain deh yang itu!” Menunjuk masakan Fai yang masih berada dalam wajan.
Fadhil dan Fajar bergerak cepat ke arah wajan dan mencicipi masakan Fai. Mereka saling menatap dengan raut wajah bingung.
“Enak kok Fad.” Nilai Fajar.
“Sumpah, beda banget dengan yang punya Al.”
Kembali melayangkan tatapan bingung ke arah Fai. Selang berikutnya, Fadhil melangkah ke arah Fai dan menghunuskan tatapan tajamnya.
__ADS_1
“Kamu ngerjain Al ya?! Kalian rasain juga makanan yang Al punya! Fadhil yakin, sekarang Al pasti terganggu dengan pencernaannya. Fai sengaja ngebuat makanan milik Al terasa sangat asin dan pedas.”
“Benar begitu Fai?” Tanya sang Mama.
Fai tanpa rasa bersalahnya malah dengan santai mengiyakan apa tuduhan kakaknya. Ia tertawa puas sembari memegangi perutnya. Sangat lucu menurutnya. Ia tidak perduli dengan raut mereka yang menahan kekesalan terhadapnya.
“Fai rasa itu pantas buat Al terima. Fai janji, akan melayani suami tercinta Fai dengan sangat baik. Bukannya bagus ya, kalau pencernaannya lancar.”
“Dasar anak tid….”
“Husssttt…. Jangan terlalu berisik deh kak! Fai udah tahu kok apa yang harus Fai lakukan untuk suami terbaik Fai. Bye semuanya. Fai mau mengecek kondisi suami Fai sendiri.”
Dina terduduk sembari memijat pelipisnya yang terus berdenyut melihat kelakuan sang putri yang sangat bertindak seenaknya.
“Mama takut Al jenuh dengan kelakuan Fai. Anak itu semakin lama semakin membuat Mama pusing.”
“Bagaimana dengan Al ya? Fai sulit untuk ditebak.”
“Fadhil bakal ngedukung kalau suatu waktu Al lebih memilih meninggalkan Fai daripada bertahan tapi tersiksa.”
“Fad, jaga bicara kamu!” Tegur Fajar.
~ Kamar Fai
******! ******! ******!
“Hahaha…. Kasihan banget tuh anak. Rasain tuh bumbu spesial dari gue.”
Fai terus tertawa bahagia mendengar rintihan dan suara tidak mengenakkan dari balik pintu toiletnya. Ia membaringkan tubuh dengan santainya memainkan layar handphone miliknya. Selang berikutnya, Al keluar dengan kondisi yang lemas masih memegangi perut melilitnya.
“Masakan kamu terlalu pedas untukku Fai. Perutku jadi mules terus.”
“Bagus deh. Itu cocok banget untuk memperlancar pencernaan lo. Kalau lo mau lagi, gue bisa kok masakin khusus buat lo.”
“Kamu sengaja ya?”
“Maybe.”
Al sudah menduga apa yang ia alami ini berasal dari ulah nakal Fai. Bahkan saat ini ia kembali merasakan sesuatu ingin keluar dari saluran pencernaannya. Buru-burunya ia masuk ke dalam toilet kembali. Dan tertawaan nyaring dari Fai kembali mengisi ruang kamarnya. Satu keberhasilan bagi Fai.
“Gue mesti cari lagi nih untuk ngerjain tuh orang. Biar dia kapok, bosan dengan gue, terus…. Cerai deh. Hihihi….”
Terhitung 4 kali Al bolak balik masuk ke dalam toilet. Pada malamnya pun ia lebih memutuskan untuk berdiam di dalam kamar. Enggan untuk, turun bergabung dengan yang lainnya. Bukan lapar saat ini. Rasa mules tetap mengganggunya. Fai benar-benar mengerjainya.
Untuk mengisi kebosanannya, Al berjalan ke arah rak milik Fai yang di sana tersusun barang-barang milik Fai. Buku-buku, alat tulis, bingkai foto dan satu kotak berukuran sedang yang ingin sekali ia lihat isinya. Dengan beraninya Al membuka kotak tersebut.
Hal pertama yang ia dapati. Beberapa foto milik Fai dan juga sosok pria lama. Al melihat semuanya satu persatu. Di balik foto tersebut selalu terselip kalimat indah yang Fai tuliskan. Menggambarkan setiap perasaannya. Foto-foto yang sangat manis dan terlihat sangat bahagianya. Bukan itu saja. Al juga menemukan beberapa barang-barang kecil milik Fai yang ia rasa semua itu pemberian dari Bagas. 1 buku kecil ia buka dan tetap beberapa foto-foto berukuran lebih kecil tertempel pada buku itu. Tetap sama dengan sebelumnya. Fai sangat suka menyampaikan perasaannya melalui tulisan. Kalimat-kalimat manis yang belum pernah ia dapatkan.
“Lo apa-apaan sih?! Berani-beraninya lo nyentuh barang gue!! Brengsek banget lo ya!!”
Al tersentak dengan tarikan paksa Fai merebut kotaknya.
“Lo boleh masuk ke kamar gue tapi bukan berarti lo bebas nyentuh-nyentuh barang gue!! Lo gak punya etika banget ya!!!”
Al diam membisu menerima semua kata-kata kasar Fai. Sangat berbeda. Dirinya tidak mendapatkan seperti apa yang Bagas terima dari Fai.
“Aku minta maaf ya. Tadi aku penasaran banget dengan isi kotak itu. Kamu susun rapi dan terlihat sangat indah. Aku buka hanya untuk melihatnya aja. Aku suka dengan foto-foto kalian. Semua itu…. sangat membuat aku tahu bagaimana hubungan kalian dulunya. Dulu aku gak terlalu yakin dengan Bagas bisa mempertahankan hubungan kalian. Karena aku tahu bagaimana Bagas. Dan itu semua udah membuktikannya.”
Fai memalingkan wajahnya yang kini sudah mulai kembali lagi mengingat kenangan indah lamanya. Ia menggeram kesal dengan Al yang seenaknya mengusik barang-barang berharga miliknya.
“Tanpa seizin gue tolong jangan sentuh semuanya!! Dan ingat ya Al! Lo itu cuma tamu gak diundang yang udah dengan lancangnya ngehancurin kehidupan gue!!”
“Fai…. Ak-aku ikhlas ngejalani ini semuanya. Aku gak masalah kalau kamu….”
“STOP!! Bisa gak sih lo gak usah berulang kali ceramahi gue soal takdir!! Gue udah gak bisa nerima takdir yang lo anggap indah di mata lo tapi gak di gue!! Lo bisa dapatin status lo yang sekarang tapi lo tetap gak akan bisa dapatin gue atau kehidupan gue Al!! Gue…. Hidup gue udah berantakan tolong jangan ngebuat semuanya tambah hancur!!!”
“Fai! Ada apa ini?! Kenapa dengan kalian?”
“Tolong jangan ikut campur urusan Fai!!!”
BAMMM!!!
Fai meringkuk di sebalik pintu yang baru saja ia banting kuat. Ia menangis sesenggukan sebab sudah tidak tahan lagi membentung semua kekecewaan hidup yang ia lewati saat ini. Dirinya tetap belum bisa menerima apa yang ia lalui.
Al mengusap buliran air mata dirinya yang pada akhirnya luruh juga. Situasi sulit dirinya saat ini. Berada di tengah tengah dalam harapan Fai. Ia layaknya bayangan yang tidak bisa untuk terlihat jelas di mata wanita yang ia cintai. Ia samar. Mungkin ini kesalahannya. Melangkah percaya diri tanpa memiliki kesadaraan siapa dirinya.
“Aku minta maaf. Aku benar-benar udah lancang. Jangan seperti ini Fai. Aku gak akan ulangi. Aku minta maaf ya. Tegur aku lagi kalau aku udah terlampau mengusik kamu. Aku gak mau ngelihat kamu sampai nangis kayak begini gara-gara aku. Jangan menangis lagi karena aku Fai.”
“Gue kehilangan orang yang gue cintai. Gue kehilangan apa yang udah gue impikan. Dan lo tiba-tiba hadir di kehidupan gue itu gak adil. Kenapa lo terima perjodohan itu? Kenapa gak lo tolak dari awal. Lo bersikap baik di depan Papa sampai-sampai Papa jatuh hati dengan sikap lo. Dari situ awal mulanya lo ngehancurin harapan gue. Gue gak akan sebenci ini ke lo kalau lo gak datang dan maksa ngerebut kebahagiaan gue Al. Gue bingung harus bersikap apa ke lo. Hati dan otak gue benar-benar ngebenci lo Al. Bukan ini yang gue mau…. Hiksss…. Hiksss….”
Al menolak dengan keras semua uangkapan kejujuran hati Fai untuknya. Ia menangisi dirinya yang malang akan cinta. Mencintai begitu dalam seseorang yang tidak mencintainya.
“Aku janji gak akan bertindak jauh Fai. Aku janji gak akan meminta apa pun ke kamu. Aku janji akan memerankan diriku hanya menjadi sahabat untuk kamu. Aku janji hanya akan menjadi teman.”
Fai mulai mengangkat kepala tertunduknya. Ia mencari kebenaran dari kedua manik Al yang sudah basah.
Kesungguhan Al terpancar pada senyuman hambar yang berusaha Al berikan.
“Kamu bisa mencari kebahagiaan kamu sendiri. Aku gak akan mengusik kamu terlalu jauh. Jadikan aku tempat peraduan kamu. Manfaatkan aku kalau kamu butuh bantuan. Aku cuma mau berguna di kamu Fai. Aku gak akan terlalu meminta hakku dalam pernikahan ini. Tapi untuk melindungi kamu, aku butuh posisiku saat ini. Tetap terus berada di sisi kamu. Aku janji Fai.”
Fai menghapus sisa-sisa buliran air matanya. Begitu juga di pipi Al. Ia menerima dan tersentuh dengan kebaikan Al yang tiada habisnya untuknya. Pelukan hangat pertama dari Fai ia dapatkan. Senang bercampur haru. Ia hanya bisa memposisikan dirinya sebagai seorang teman. Tapi ia rasa itu sudah cukup. Sudah cukup untuk bisa selalu berada di sisi Fai.
__ADS_1