
Fai terbangun untuk yang kedua kalinya. Setelah subuh, ia kembali tertidur sebab rasa kantuk masih mengusiknya. Ia menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Memandang keseluruhan kamar yang sudah sangat rapi. Di atas nakas sudah terdapat segelas air mineral dan secarik kertas yang membuat Fai penasaran akan isinya.
“Aku pergi dulu ya. Ada urusan mendadak. Aku udah beli soto ayam untuk sarapan kamu. Langsung minta ke Mama ya.”
“Cih! Perduli apa gue sama lo. Lo pergi dan gak balik lagi ke kehidupan gue, itu baru yang gue mau.”
TAP! TAP! TAP!
“Pagi Ma!”
“Pagi? Udah panas terik tuh. Apanya yang pagi? Kamu gak lihat tuh langit udah cerah banget.”
Fai membenarkan suasana luar yang sudah sangat terik. Ia belum tahu pukul berapa saat ini. Tidurnya sangat lelap hingga enggan untuk mengetahui berapa jam lamanya ia tertidur.
“Biasakan bangun subuh Fai.”
“Fai udah bangun subuh kok Ma. Udah sholat subuh juga dengan…. Al. Cu-cuma Fai tidur lagi karena ngantuk banget Ma. Hihihi….” Menyunggingkan senyuman di kala sang Mama terheran dengan tingkahnya.
“Fai…. jangan lagi bersikap terlalu kekanak-kanakan lagi Nak. Sekarang ini kamu sudah menjadi istri orang. Ubah sikap kamu. Belajar bertanggung jawab dan belajar menjadi istri yang baik untuk suami. Penuhi dan patuhi semua kewajiban kamu. Al pagi-pagi sekali sudah menyempatkan membereskan kamar kamu, mencari menu sarapan untuk kita dan menyiapkan kebutuhan dirinya sendiri tanpa bantuan istrinya yang malah dengan asiknya masih tertidur pulas. Enggak baik seperti itu Nak. Ini masih di rumah kita. Bagaimana nantinya kalau kamu menginap di rumah mertua kamu. Apa kata mereka saat melihat menantunya ini tidak bisa bersikap baik layaknya seorang istri melayani suaminya. Malu Nak.”
“Fai ngantuk banget Ma. Lagian siapa juga yang mau menginap di rumahnya om Rahmat? Sifat dan kelakuan itu gak bisa diubah Ma. Emang dari orok Fai begini, ya terima aja dong. Al nya juga gak pernah tuh mempermasalahkan kelakuan Fai.”
“Jangan seenaknya kamu! Siapa yang tahu hati seseorang. Al pasti selalu ngelus dada banget melihat kelakuan kamu. Dengar ya Fai. Sekali aja kamu mengacuhkan Al, maka berlipat-lipat dosa yang kamu dapatkan. Al itu suami kamu. Surga kamu saat ini ada berada di Al. Jadi jangan macam-macam kamu Fai!”
Fai berdiri sembari bersedekap menatap tajam ke arah Mama dan Fadhil yang sudah memancing luapan amarahnya saat ini.
“Kenapa sih dari dulu sampai sekarang Fai selalu salah di mata kalian?! Dan semakin salah setelah kehadiran Al di keluarga kita. Jangan pernah percaya dengan sikap sok polos dan alimnya Al. Dia itu masih sembunyi dari balik topengnya. Nanti kalian juga bakal tahu kok bagaimana sifat aslinya. Saat ini, Fai pasrah menerima semua keinginan terakhir Papa. Tapi jangan sekali-kalinya kalian semua memaksa Fai untuk bisa menerima ikhlas kehadiran Al!!”
“Assalamualaikum.”
Fai tersentak kaget dengan suara Al yang baru saja masuk dan mengucapkan sebuah salam. Fai meyakini bahwa bentakannya barusan bisa didengar juga oleh Al. Terlihat dari tarikan senyum kaku Al terhadapnya.
“Waalaikumsalam. Tuh, suami kamu udah pulang. Layani dengan baik!”
Fai menggeram dengan celotehan Fadhil terhadapnya.
“Baru bangun?” Mengelus lembut pucuk kepala Fai. Fai pun melirik sinis ke arah Al.
__ADS_1
“Mama tinggal dulu ya. Mau ke warung untuk cari bahan masakan siang ini.”
“Iya Ma. Hati-hati.”
Dan kini, hanya ada Fai dan Al yang tengah terduduk di sofa ruang tamu.
“Kamu udah sarapan? Tadi aku beli soto ayam di luar komplek.”
“Ini udah siang, bukan sarapan lagi namanya!!”
“Enggak apa-apa. Yang terpenting perut kamu gak boleh kosong Fai. Oh iya, tadi aku ninggalin kamu karena di warung aku lagi ada sedikit masalah. Ada seseorang yang mencoba membobol warungku. Alhamdulillah karyawanku langsung sigap. Dan beruntung tidak ada yang hilang.”
“Emangnya gue nanya ke lo ya?! Sedetail apa pun lo infoin ke gue, gue gak perduli.”
Al kembali mengelus lembut pucuk kepala Fai sembari tersenyum manis. Fai risih dan berulang kali menepis belaian dari tangan Al.
“Awas gak lo! Mending lo pergi aja deh dari sini!”
“Istri aku ada di sini, ke mana lagi aku harus pergi?”
“Setres lo ya!!” Memaki dan berdiri akan meninggalkan Al sendirian. Namun Al kembali menarik tangan Fai hingga Fai limbung dan mendarat terduduk tepat di hadapan Al.
“Aku ingin meminta pendapat kamu.”
Fai terdiam mengamati Al yang terus sibuk dengan tabletnya. Ruang galeri yang Al perlihatkan. Fai memperhatikan semua isinya. Banyak gambar bangunan-bangunan rumah dari yang bertipe kecil hingga rumah mewah. Al scroll berulang kali sembari akan menjelaskan maksudnya.
“Kamu boleh memilih sesuai selera kamu. Ini semua bangunan baru.”
“Buat apa?”
“Untuk kita. Seharusnya dari kemarin aku mau mengajak kamu melihat-lihat lokasi bangunannya. Sampai aku udah buat janji dengan temanku yang memang berprofesi di bidang pemasaran hunian rumah. Tapi…. karena kondisi kamu yang marah besar, aku jadi ngebatalin rencana ini.”
“Gue gak butuh. Enggak usah serempong ini deh lo!”
Al menatap bingung reaksi Fai yang seakan menolak rencananya.
“Terus kita bakal tinggal di mana? Enggak mungkin di sini terus Fai.”
__ADS_1
“Lo tinggal aja di rumah lo. Gue balik ke Apartemen gue. Gampang kan?”
“Astaghfirullah Fai…. kita udah menikah. Itu pisah ranjang namanya. Enggak baik. Suami istri itu harus tinggal dalam satu atap dan tidur dalam satu bilik. Niatan aku untuk mencari rumah sebab aku mau kita berdua bisa belajar hidup berumah tangga tanpa campur tangan keluarga kita Fai.”
“Tapi gue gak mau satu rumah dengan lo!”
“Jangan memulai lagi ya Fai. Mau bagaimanapun aku dan kamu udah sepasang suami istri. Kita tetap harus tinggal bersama.”
Fai meremas kuat genggaman tangan Al, menajamkan pandangan sebagai bentuk rasa tidak sukanya dengan usulan Al. Al yang memahami kemarahan Fai sedikit mengelus remasan tangan Fai dengan ibu jarinya. Sakit hatinya di saat Fai terus saja melayangkan tatapan kebenciannya. Tapi Al harus bersabar, tetap tersenyum tulus dan bersikap lembut di hadapan Fai. Sebab ia pahami, bahwa api akan padam hanya dengan air.
“Besok ikut aku lihat-lihat lokasinya ya! Setelahnya, kita sempatkan mencari furniture-furniture dan perlengkapan lainnya untuk di rumah baru kita nanti. Aku serahin semua pilihannya ke kamu.”
Mengusap kembali pucuk kepala Fai dengan gemas hingga ia pun yang lebih dulu meninggalkan Fai sendiri dengan rasa amarahnya yang terpendam.
‘Al brengsekkkk….! Sial banget gue dipaksa nikah dengan tuh anak. Kenapa kehidupan masa depan gue semakin suram sih?! Bisa-bisanya gue menikah dengan orang yang dari dulu gue benci. Albian Dirgantara!! Gue aja baru tahu nama tuh orang dari sekian lamanya gue kenal lo brengsek!! Cowok bajingan yang mau enaknya doang. Gue janji dengan diri gue sendiri, kalau lo gak bakal bisa hidup tenang dan ngedapatin apa yang lo mau dari gue. Termasuk tubuh gue. Bukan lo orangnya. Bukan lo yang seharusnya ada di hadapan gue BAJINGAN!!!”
“Huffftttt…. sabar Fai. Jaga emosional lo. Lo harus bisa cari cara untuk bisa terbebas dari pernikahan konyol lo ini.”
Fai beranjak dari duduknya. Ia ingin mengistirahatkan tubuhnya tapi enggan ke kamar sebab Al lebih dulu berada di sana. Fai masih tersulut emosi akan susah mengontrol diri jika masih dengan jelasnya paras Al di hadapannya. Pada akhirnya, ia memilih berjalan keluar rumah berniat berkeliling komplek sebentar.
Satu taman yang dulu sering ia singgahi menjadi tujuannya. Ayunan besi yang masih kokoh lah sebagai tempat favoritnya. Sedikit berdecak sebal di saat ia melupakan satu candunya yakni sebatang rokok. Dengan bosannya pun ia membiarkan dirinya hanya melamun menikmati udara segar di siang hari. Sesekali mengayunkan ayunan besi itu.
“Kamu gak bohong kan? Kamu janji bakal selalu selamanya bareng aku. Kita udah lama Gas. Aku udah gak bisa sama yang lain karena kamu memang orang pertama bagi aku.”
“Hahaha…. masa sih? Kalau iya, aku beruntung banget dong.”
“Ya iyalah. Lo orang pertama yang ngedapatin first kiss gue brengsek.”
“Hahaha…. Itu belum seberapa Beb. Yang lainnya malah udah dengan bebasnya tidur bareng pacar. Nah aku?”
“Mau aku tonjok ya!! Jangan samakan aku dengan perempuan lainnya. Awas aja kalau sampai kamu berani beraninya ngejebak aku. Kalau kamu mau, nikahin aku dong! Jangan cuma bisanya janji-janji manis doang.”
“Fai…. jangan sering-sering ungkit masalah itu lah. Kamu kan tahu gimana keluarga aku.”
“Huffftttt…. sampai kapan kita kayak begini terus? Ngejalanin hubungan tanpa restu. Aku maunya nikah sama kamu Gas.”
“Aku juga Fai. Tapi gimana caranya?”
__ADS_1
Fai mengusap gusar wajahnya mencoba menghentikan bayangan lama dirinya dan Bagas. Seberusaha mungkin ia lupakan tetap saja terus membekas. Bagas menghilang begitu saja. Tanpa mau menenangkan dirinya saat ini. Fai ditinggal dengan keterbingungan. Bagaimana ia bisa tahu akhir yang sebenarnya hubungan dirinya dengan Bagas. Tanpa ada kata putus atau terus sangat membingungkan dirinya. Bagas masih menjadi utamanya walaupun sosok itu tidak pernah muncul lagi di hadapannya. Ditambah lagi dengan status barunya. Menjadi istri dari sosok orang yang ia benci.