
Fai dan Al sudah bergabung dengan lainnya. Fai langsung menghampiri Flora, Maya, Lala, Karin, Mira dan Evan. Sedangkan Al memilih keluar untuk memastikan apa-apa saja yang perlu dipersiapkan.
“Eh, Fai! Gue kayak kenal deh dengan tuh cowok. Yang barusan jalan barengan sama lo Fai. Tapi…. rada kurang yakin gue.”
Fai mengerti arah pembahasan Maya. Ia pun berubah menjadi kikuk. Sedangkan Flora terlihat menahan senyuman jahilnya.
“Kerabat lo juga ya Fai? Ganteng banget Fai. Kalau benar sepupu lo, kenalin ke gue dong!” Celetuk Lala.
“Sold out. Udah ada yang punya.” Tegas Flora sembari mencuri pandang ke arah Fai sekadar menggoda.
Lala menghela napasnya. Ia kecewa dengan jawaban Flora.
“Beneran Fai?”
Secara diam-diam Fai mencubit paha Flora. Fai sudah merasa tidak nyaman dengan pembahasan mereka.
“Tenang Mbak, saya jomblo kok Mbak.”
Lala memberikan tatapan melecehnya pada Evan.
“Sorry kawan, lo emang ganteng juga sih. Tapi…. gue lebih suka cowok yang tinggi semampai. Sorry ya. Hihihi….”
“Thanks banget ya. Kalian udah pada mau datang. Sorry, kemarin gue langsung ninggalin kalian gitu aja.”
“Enggak apa-apa Fai. Kita benar-benar gak nyangka kejadiannya bakal kayak begini.”
Fai menunduk pada semua penyesalannya. Waktu memang tidak bisa untuk diulang kembali. Sebuah elusan tangan pada pundak mencoba menenangkan kesedihan Fai.
“Untuk saat ini, kakak harap kamu bisa mulai belajar untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Semua demi Papa kamu Fai. Papa kamu tenang jika semua anak-anaknya mendoakannya.”
“Iya Fai. Tidak ada kata terlambat. Semua memang harus ada perubahan dari kesalahan yang sebelumnya.” Karin terikut memberikan petuah kepada Fai yang kini semakin menahan desak tangisnya.
Tak terasa, kumandang adzan Magrib berkumandang. Semua keluarga bergegas memakai mukena, memegang sajadah, memakai sarung dan peci. Jarak Masjid pada kediaman orang tua Fai tidak terlalu jauh. Jadi, tidak akan terlambat untuk menunaikan ibadah sholat berjamaahnya.
Fai juga tidak lupa memakai mukenanya. Keluar dan berpapasan dengan Al yang juga sudah rapi dengan sarung dan pecinya.
“Al, nanti bantu Uwak untuk mengumumkan kembali pada seluruh jamaah ya. Untuk mengingatkan kembali untuk hadir di pengajian 1 harinya Papa Fai.”
__ADS_1
“Iya Wak.”
Al terus mencuri pandang ke arah Fai yang terdiam menunduk. Ia tersenyum di saat paras cantik sang istri yang sangat ia sukai jika tertutupi auratnya.
‘Kamu benar-benar sangat cantik Fai. Sekarang aku udah bisa bebas mengagumi
kamu.’
“Jangan senyam-senyum sendirian Al. Nanti dikira orang kamu ada kelainan.”
“Hahaha…. Enggak lah Wak. Al…. terlalu mengagumi kecantikan istri Al.”
“Masyaallah…. Bisa melayang tuh si Fai kalau dengar langsung gombalan kamu.”
“Ini kejujuran Wak. Bukan gombalan.”
Uwak menyikut lengan Al sembari terkekeh. Hal itu berhasil mengundang tatapan bingung dari raut Fai.
Jamaah pada Masjid sekitaran komplek memang selalu ramai. Sehabis menunaikan ibadah sholat berjamaah mereka, Al, Uwak dan Fajar kembali mengajak semua jamaah Masjid untuk menghadiri pengajian hari pertama di kediaman orang tua Fai.
Dengan dibimbing seorang Ustadz yang memang sudah terpercaya pada warga komplek daerah sini, semua beramai-ramai menghadiri pengajian pada malam pertama. Para kaum pria memenuhi ruangan depan dan halaman rumah yang sudah terpasang sebuah tenda serta banyaknya kursi yang tersedia. Sedangkan para kaum wanita lebih dianjurkan pada ruangan tengah yang cukup menampung sejumlah ibuk-ibuk pengajian.
Pengajian selesai. Sekarang menyisakan perkumpulan para keluarga dan para sahabat Fai.
“Terimakasih ya Al, kamu sanggup menerima keinginan terakhir Papa.”
“Sebenarnya Al dengan Fai itu memang baru pertama kali kenal atau bagaimana sih? Kok kamu belum ada cerita ke kakak soal perjodohan Fai kemarin Fad.”
“Gimana mau cerita kak. Waktu itu Fai langsung menolak Al. Al ini teman aku. Teman satu SMA. Udah saling mengenal juga dengan Fai. Yaaa…. dulunya mereka memang gak akur. Makanya Fai langsung menolak perjodohan itu. Tapi, Alhamdulillah Papa tetap kekeh untuk menginginkan Fai menikah dengan Al. Aku yakin kamu memang yang terbaik untuk Fai. Walaupun kamu harus bersabar ekstra dengan sikap Fai, Al. Dia keras kepala, egois dan susah utuk menahan emosi.”
“Tapi nyatanya Fai itu akan bersikap manja dengan seseorang yang tepat untuknya. Yang sangat bisa meluluhkan hati kerasnya. Karena kamu terlalu bawel dan terlalu sensian dengan Fai, makanya Fai gak pernah akur dengan kamu Fad.”
“Hahaha…. habisnya sih Fai ngeselin banget kalau udah mode ngereog nya. Pengen banget langsung aku getok tuh kepala.”
Al terus terkekeh dengan semua curhatan mereka mengenai Fai. Lebih kurangnya Al sudah tahu bagaimana sifat Fai. Walaupun sulit Al tetap akan berusaha melunakkan hati keras Fai. Itu strateginya sekarang.
“Al, itu Fai udah ketiduran. Mending langsung kamu bawa ke kamar. Ini juga udah malam. Kalian semua harus istirahat.”
__ADS_1
“Duhhh…. Om, kita masih asik ngobrol kok malah diganggu sih?”
“Dasar anak badung. Cepat tidur! Udah malam ini. Yang masih lajang gak boleh tidur kemalaman.”
“Hahaha…. Bisa aja sih Om. Mentang-mentang Fadhil kalah saing dengan Fai, jadi Fadhil nih yang terus di ledekin.”
“Ya iyalah. Kalau sudah mapan dan sudah ada calonnya itu, untuk apa lama-lama. Keburu nak Ayla di selip sama cowok lain yang lebih keren dari kamu.”
“Jangan dong Om! Ah, gak asik banget bercandaannya.”
Semua tertawa ngakak dengan gurauan kedua pria di hadapan mereka ini. Al lebih dulu beranjak dari obrolan seru mereka. Ia benar-benar ingin memastikan Fai yang tertidur. Dan benar saja, Fai tertidur pulas pada pangkuan Flora. Ia melangkah dan kini sudah berada di perkumpulan para wanita-wanita yang ia rasa adalah temannya Fai.
“Kak, Al langsung mau bawa Fai ke kamar ya.”
“Oh, iya Al. Udah dari tadi tidurnya. Kecapean banget.”
Al langsung memindahkan Fai pada lengannya. Menggendong Fai dan mulai melangkahkan kaki ke anak tangga yang membawanya pada kamar Fai.
“Kak…. perhatian banget sih tuh cowok. Seperduli itu dengan Fai.”
“Tapi kok ngerasa aneh ya. Beneran cuma sepupuan? Kayak bukan gak sih?” Kekepoan Karin menelisik aksi Al. Flora terkekeh pelan. Ia benar-benar gatal ingin sekali menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi, ia tidak ingin mendahului Fai. Biarlah ini semua Fai yang sampaikan. Karena ini juga pernikahan yang sebenarnya Fai tak inginkan. Mungkin Fai akan merasa malu jika pernikahan ini sangat cepat diketahui orang lain.
“Coba lain kali kalian tanyakan langsung ke Fai nya. Itu bukan urusan aku. Oh iya, kalian mau langsung pulang sekarang gak? Biar bareng kakak aja pulangnya. Kasihan kalian ini cewek-cewek jomblo. Entar malah digoda sama kumpulan preman-preman yang berkeliaran di jalanan.”
“Sebenarnya Lala mau mengode seperti itu kak. Tapi rada malu. Hehehe….”
“Ya udah ayok!”
Al merebahkan tubuh Fai pada ranjang. Ia menutup dan mengunci dulu kamar Fai. Jujur, saat ini Al grogi. Memasuki kamar pribadi Fai, berada satu ruangan dengan Fai dan nantinya ia juga akan berada di satu ranjang bersama Fai.
Pelan-pelan Al mendudukkan dirinya pada ranjang. Ia menatap lama paras Fai. Memberanikan tangannya untuk menyampirkan rambut-rambut halus Fai. Pipi Fai kini menjadi kesukaannya. Membelai lembut berulang kali.
“Perempuan yang dulu menarik perhatianku. Kamu satu-satunya yang berhasil meluluhkan hatiku Fai. Perempuan yang dulu sulit untuk aku dekati. Kamu berpacaran dengan Bagas itu sangat menyakiti hatiku Fai. Hubungan kalian juga sudah cukup lama. Aku iri. Aku menginginkan hal itu. Bisa dekat dan menarik perhatian kamu tanpa harus dibenci. Kini, aku sudah berhasil menikahi kamu Fai. Aku ingin suatu saat kamu benar-benar menerimaku dengan tulus. Aku janji akan membahagiakan kamu. Aku janji akan melindungi kamu dan terus mengukir senyuman manis kamu Fai.”
Menarik selimut yang akan ia tutupi sebagian tubuh Fai hingga memberikan rasa hangat. Ia mematikan terlebih dahulu lampu kamar Fai dan menyisakan lampu meja Fai. Mengecup sekilas kening Fai sebelum ia ikut berbaring dengan selimut juga menutupi sebagian tubuhnya.
“Selamat malam Sayang.”
__ADS_1
Mereka tertidur pulas dan sudah terbawa pada alam mimpi mereka.