
Masa rehat yang kini malah membuat Fai sangat sibuk membereskan semua barang-barang penting yang akan ia bawa pulang. Sepagi ini ia sudah bersiap pada dirinya. Kak Flora yang juga akan mengikutinya, juga tengah sibuk menyiapkan barang-barangnya selama menginap nanti. Beberapa pakaian kerja, alat make up, laptop, perlengkapan konten dirinya dan beberapa barang endorsan yang memang belum sempat ia kerjakan.
“Huffftttt…. banyak banget Fai.”
“Ini alasan Fai gak mau pulang ke rumah Mama sama Papa kak. Bakal repot banget. Dan Fai sangat gak merasa leluasa kerja kalau di rumah. Pasti ada aja ulah kak Fadhil ngerusuhin Fai.”
“Hihihi…. Mau bagaimana lagi? Mama sama Papa kamu itu kangen sama anaknya. Ini makan dulu Fai.”
“Thanks kak Flo.”
Mereka menyelesaikan sarapan pagi mereka. Setelahnya, mereka kembali merapikan dan menurunkan 3 koper milik mereka. Bisa dikatakan milik Fai lah yang lebih banyak. Sebab Fai juga membawa semua barang-barang tempurnya saat membuat sebuah konten nantinya.
“Huffftttt…. Sumpah Fai gak ngerti banget kenapa Papa sama Mama mendesak Fai kayak begini kak. Dan Fai jamin, nantinya Mama sama Papa pasti berusaha banget nahan Fai untuk pulang lagi ke Apart.”
“Ya udah lah Fai. Ikuti aja dulu kemauan orang tua kamu. Jangan kesal begini dong. Entar kamu akan menyesal kalau kamu gak nuruti keinginan orang tua kamu. Umur gak ada yang tahu.”
“Kak Flo!! Kok bahasan kakak seram kayak begini sih?! Jangan bawa-bawa kematian dong!!”
“Hahaha…. Sorry Fai. Kakak cuma gak mau kamu berakhir dengan rasa penyesalan. Udah siap?”
“Udah dari tadi kali.”
“Ok, let’s go!!”
~Kediaman Orang Tua Fai
“Bik, nanti tolong di pel semua ruangan ya! Malam ini akan ada tamu.”
“Baik Buk.”
“Wahhh…. Fai jadi pulang Ma?”
“Iya. Barusan ngabarin ke Mama kalau mereka sudah berangkat. Mungkin bakalan lama karena Jakarta kan langganannya macet.”
“Tumben banget tuh anak nurut.”
“Tolong nanti jangan selalu jahili Adik kamu Fad.”
“Hahaha…. Kapan lagi Fadhil punya kesempatan Ma.”
Dina menggelengkan kepalanya terheran dengan ulah sang putranya. Ia sangat suka keadaan ramai kalau adanya Fai dan Fadhil. Tapi mereka berdua itu selalu susah untuk dipisahkan kalau sudah berdebat. Sama-sama tidak ada yang mau mengalah.
“Nanti kamu juga ajak Ayla ke sini kan?”
“Iya Ma. Sebentar lagi Fadhil keluar. Eh, tapi ya Ma, apa benar Papa bakal jodohin Fai dengan pilihan Papa?”
Dina mengedikkan bahunya. Ia juga tidak terlalu paham dengan niatan sang suami. Sempat membantah sebab ia tahu bagaimana Fai. Tapi, ia juga tidak berani menolak usulan sang suami. Lagipula, ia juga merasa Fai harus benar-benar bisa mencari sosok pria matang yang memang benar-benar sudah siap untuk membawanya pada ikatan hubungan yang halal. Bukan lagi untuk main-main.
“Lihat saja nanti Fad. Mama juga tidak terlalu paham dengan rencana Papa. Tapi yang pasti, mereka dari keluarga baik-baik. Teman dekat Papa kamu dulu.”
“Apa Fai tahu hal ini Ma?”
“Enggak tahu lah. Papa bilang, Papa gak mau infoin hal ini ke Fai nya dulu. Biarkan semuanya mengalir begitu saja. Jangan terlalu berharap akan perjodohan ini. Setidaknya mereka sama-sama dipertemukan dulu. Mama juga tidak terlalu paham dengan anaknya. Nanti kita nilai bagaimana pria yang akan dijodohkan dengan Adik kamu. Harus selektif.”
“Benar Ma. Walaupun Fai juga bisa dikatakan gak pantas untuk jadi calon istri idaman, setidaknya ia harus berhasil mendapatkan pendamping yang pas, yang mau menerima baik keluarga kita dan merubah sikap buruk Fai.”
“Amin…. Udah gih, jemput Ayla sekarang!”
“Ok, Ma. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
1 jam lebih Fai berada dalam kemacetan. Menggerutu berulang kali dengan bosannya ia menunggu. Dan kini, ia sudah bisa menghembuskan napas lelahnya setelah halaman rumahnya terlihat.
__ADS_1
“Akhirnya sampai juga.”
“Sumpah Fai boring banget di jalanan kak Flo. Banyak banget ya orang yang pada liburan di hari weekend begini. Ini yang Fai takutkan kalau besok Fai berangkat kerja kak. Jarak rumah Mama ke kantor itu lumayan jauh banget.”
“Yaaa…. mau gimana lagi Fai. Yang sabar aja ya.”
Fai menurunkan 2 kopernya dan mulai berjalan lebih dekat ke arah pintu utama yang memang sedang terbuka lebar.
“Ma…. Pa…. Fai udah pulang nih….!!!” Teriak panjangnya.
Hal itu dengan cepatnya memunculkan sosok Papa dan Mamanya yang dengan senyum sumringah mereka menyambut dirinya.
“Faizah…. Anak Mama…. Hiksss…. hiksss…. Mama kangen banget Sayang….”
“Hahaha…. Apaan sih Ma. Kok jadi mewek gini sih? Fai bukannya merantau jauh ke kota orang Ma.”
“Wihhh…. Akhirnya si bontot pulang juga ya. Baru ingat di sini masih ada banyaknya nyawa yang khawatirin kamu. Dasar anak durhaka.”
BUGHHH!
Fai menendang kuat tulang kering milik Fadhil hingga sang kakak mengaduh kesakitan.
“Hai, Fai!”
“Kak Ayla?! Haaaa…. Fai kangen banget dengan kakak…. Apa kabar kak?”
“Sehat dong Fai. Kamu gimana? Aman?”
“Aman dong bestie. Hihihi….”
“Sama Ayla aja kamu ngomongnya lemah lembut. Sama kakak sendiri diajak berantem muluk.”
“Lo nya aja yang mancing emosi gue duluan Bangsat!!”
“Fai!! Jaga ucapan kamu!”
“Papa gak kangen sama Fai? Pulang-pulang tetap aja dapat amukan.”
“Orang tua mana yang tidak suka anaknya balik lagi ke rumah? Salim dulu. Itu baru namanya punya sopan santun.”
Fai dengan malasnya menyalimi tangan sang Papa. Dan setelahnya mereka saling tertawa saat bibir Fai yang manyun seperti ikan arwana.
“Eh, nak Flora! Masuk sini Flo.”
“Iya Tante.”
“Jangan merasa sungkan begitu Flo. Kelihatan banget kalian yang jarang pulang ke sini.” Lontar Danar.
“Mama buatkan teh hangat dulu ya. Istirahat kalau memang capek. Ajak kak Flo langsung ke kamar kamu Fai.”
“Iya Ma.”
Fai memang ingin segera memasuki kamar lamanya. Ia menuntun Flora masuk ke kamarnya yang sudah lama sekali tidak ia masuki. Tetap sama dan rapi. Ia membuka 2 koper miliknya. Begitu juga dengan Flora.
“Huffftttt…. Boleh rebahan dulu gak sih Fai?”
“Boleh dong kak. Kalau di kamar Fai mah bebas-bebas aja kak.”
Fai sendiri masih sibuk merangkai tripod yang ia bawa. Sebab hari ini pun ia akan langsung membuat sebuah video endorsan barang suatu brand.
Tok…. Tok…. Tok….
Ketukan pintu menghentikan sejenak kesibukan Fai. Ia membuka dan terlihatlah sang Mama yang masuk.
__ADS_1
“Ini Fai, Flora. Teh dan beberapa cemilan. Dimakan dan diminum atuh!”
“Tahu aja Tante. Flo memang lagi lapar lagi nih Tan.”
Dina menatap sang anak yang terus melanjutkan aktivitasnya merangkai perlengkapan endorsannya. Ia tahu bahwa putrinya ini memang seorang selebgram dan konten kreator. Jadi hal biasa bagi dirinya melihat Fai tidak terlalu mempunyai waktu senggang. Kerja dan kerja terus.
“Jangan terlalu diporsir waktu kamu Fai. Harus ingat dengan kesehatan kamu.”
“Iya Ma. Ini udah biasa bagi Fai. Mama jangan khawatir. Kalau Fai berhenti dari semua ini, rasanya bukan diri Fai yang sebenarnya Ma.”
“Kamu seakan merasa bisa melakukan ini semuanya sendirian. Dari dulu selalu aja menolak pertolongan orang orang. Walaupun saat ini kamu sudah tumbuh dewasa, tetap aja kamu anak Mama. Putri bungsu Mama. Mama dan Papa masih bisa mencukupi keinginan kamu sampai nanti dimana kamu sudah menemukan seseorang yang bisa menggantikan posisi Mama dan Papa Nak. Jadi jangan seperti ini.”
Fai menggenggam tangan sang Mama. Ia dekatkan pada sebelah pipinya.
“Selagi Fai bisa, Fai akan lakukan dengan sendirinya Ma. Mama jangan khawatir. Fai minta maaf kalau masih belum bisa jadi anak yang terbaik.”
“Seburuk apa pun kamu, kamu tetap anak mama.”
Flora bangkit dan mulai mendekatkan diri ke arah kedua wanita yang sangat ia sayangi seperti keluarganya sendiri.
“Kenapa pada melow begini sih? Flo jadi iri tahu dengan keharmonisan kalian.”
“Hihihi…. Mama sampai lupa dengan anak Mama yang satu ini.”
“Hahaha…. Tante bisa aja.”
Fai dan Flora sudah kembali lagi menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri ruang keluarga yang sedang ramainya keluarga Fai.
“Mumpung kalian sudah ada di sini. Duduk Fai, Flo!”
Fai merubah raut wajahnya yang semula santai kini menjadi tajam berusaha menelisik tujuan sang Papa.
“Nanti malam, teman lama Papa akan datang berkunjung ke rumah kita. Sebelumnya Papa udah sampaikan hal ini ke Mama, Fadhil dan juga Flora.”
“Apaan sih? Kok Fai gak dikasih tahu juga?”
“Khusus kamu, ditunggu saja sampai nanti malam. Intinya, Papa mau dari kalian semuanya untuk bisa menjaga sikap dan kerukunan keluarga kita. Sebab Papa tahu Fai, kamu dan Fadhil kalau bertemu pasti selalu buat keributan. Jadi papa mohon khusus malam ini, kontrol emosi kalian. Ingat itu!”
Fadhil tersenyum meledek ke arah serius wajah Fai. Fai sendiri bingung dengan reaksi sang kakak yang terus saja memandang dan menyunggingkan senyuman ledekannya terhadapnya.
“Jadi, ini alasan Papa maksa Fai untuk pulang? Hanya karena kunjungan teman lama Papa itu? Pa…. kalau memang iya, Fai gak perlu kok untuk ikut andil. Fai benar-benar banyak project yang harus Fai selesaikan. Fai kerepotan mengerjakan semua tugas Fai kalau di sini Pa.”
“Jangan membantah perintahan papa, Fai! Ini rumah kita. Memang seharusnya kamu tinggal di sini sampai kamu sudah halal nantinya.”
“Halal? Kayak makanan aja mesti ada label halalnya. Hahaha….”
“Tertawalah Fai sampai suatu saat nanti kamu akan menangis kejar apa yang akan kamu hadapi nantinya. Wlekkk….”
“Kak Fadhil….!!! Resek banget sih!!!”
Baru saja diberikan sebuah wejangan, Fai dan Fadhil kembali memancing sebuah keributan. Tapi kalau bukan adanya mereka, rumah akan terasa sangat sepi.
***
Ini aku spill visualisasi Ayla ya😊
Lagi bersama ayang
Dan selalu klop bersama calon Adik Ipar
__ADS_1
Ikuti terus ceritaku ya 🤗✌️