
3 hari sepeninggal Papa, keluarga Fai kembali berziarah kemakam sang Papa. Kini mereka sudah bisa ikhlas menerima ketentuan Allah. Tidak larut lagi pada kesedihan.
“Papa yang tenang ya. Kita di sini akan terus tetap bersama. Fajar janji gak akan meninggalkan keluarga kita lagi Pa. Fajar akan menjaga Mama, Fadhil dan…. terkecuali Fai. Karena Fai sudah ada lelaki baik yang mampu melindungi Fai.”
Semua terkekeh kecil dengan celotehan Fajar. Mereka berhasil memancing kemurkaan Fai.
Berjalan pelan pada arah jalan keluar makam.
“Semoga urusan kalian berdua cepat selesai ya. Supaya pernikahan kalian ini sudah bisa membuat hati mama tenang.”
“Amin. Diodakan ya Ma. Nanti kita mau langsung izin pergi mengurus urusan buku nikah kita ya Ma.”
“Iya. Hati-hati di jalan. Tolong jaga anak manja mama ini.”
Fai dan Al berjalan berbeda arah dengan keluarga mereka. Al
membuka pintu mobil miliknya mempersilahkan Fai masuk dan menempati kursi
sebelah kemudi.
BAMMM!
“Cih! Gue gak nyangka sih. Gue kira selama ini mobil pajero hitam itu milik lo. Ternyata bukan. Demi apa lo sekuno ini?! Mobil jadul yang lo pelihara.”
“Hahaha….”
“Kok lo malah ketawa sih?! Gue jadi ilfil banget sama lo kalau lo ngebawa gue pakai mobil butut lo ini!!”
“Fai…. ini mobil sangat bersejarah banget untuk aku. Kondisinya masih bagus kok. Yaaa…. walaupun tetap harus berulang kali masuk bengkel, tapi tetap mobil ini ternyaman untukku.”
Fai menghela napas pasrahnya. Ia geram dan masih memusingkan pemikiran Al mengenai mobil butut miliknya.
Sesampainya mereka di Kantor Pengadilan Agama, Al menuntun Fai menyerahkan semua berkas-berkas penting milik mereka. Permohonan sidang isbat nikah sudah mereka ajukan. Tinggal menunggu beberapa hari lagi mereka berdua akan melaksanakannya pada waktu yang telah ditentukan.
Fai mempercepat langkahnya menuju mobil Al yang terparkir. Ia tidak menyangka masih ada beberapa orang yang mengenali dirinya. Ia lupa menyamari wajahnya.
“Lo lihat kan?! Mereka yang tahu gue jadi bertanya-tanya urusan gue ke sini itu apa!!”
“Emangnya kenapa Fai….? Jawab aja apa adanya.”
“Gila lo ya!! Jangan seenaknya lo mau ngebongkar pernikahan kita ke public. Gue gak sudi semua orang tahu tentang pernikahan kita!!”
“Fai…. tujuan kita mengurus kesahan pernikahan di mata hukum itu supaya orang-orang tahu dan meyakini kita sudah resmi menikah. Apa salahnya orang-orang tahu?”
“Pernikahan ini gue terima cuma demi Papa!! Kalau bukan karena permintaan Papa, gue juga gak mau nikah sama lo brengsek!! Lo harus pahami itu!!!”
Al terdiam dengan semua celotehan kasar Fai terhadapnya. Fai meremehkan ikatan pernikahan mereka. Merehkan keseriusannya mengenai pernikahan ini.
“Fai, percaya sama takdir. Papa kamu sebagai perantara kuasa Allah. Kita dipersatukan dengan cara semudah ini. Aku juga gak pernah berharap lebih dari perjodohan kita. Pertemuan keluarga kita waktu itu aku anggap sebagai hal terakhir kita bertemu. Tapi apa? Allah mempersatukan kita lagi. Mendekatkan kita lagi dalam satu musibah dan kita diikat dalam pernikahan sah atas permintaan Papa kamu. Aku benar-benar mengucapkan ijab kabul Fai.”
Al meraih dan menggenggam lembut kedua telapak tangan Fai berusaha meredakan kemarahan Fai.
“Aku menyukai kamu sejak lama. Aku sangat bersyukur atas pernikahan kita. Aku tahu masa lalu aku sangat buruk. Kamu membenci aku karena itu. Tapi sekarang, aku benar-benar udah berubah Fai. Aku ingin punya kehidupan baru. Salah satunya kamu Fai. Aku ingin membawa kamu ke kehidupan baru aku. Jalani hidup Rumah Tangga kita dengan ikhlas. Insyaallah semuanya akan baik-baik aja. Aku akan menjalankan tugasku sebagai suami dan kamu juga begitu. Tapi aku juga gak akan terlalu memaksa kamu. Aku sabar nunggu kamu Fai. Nunggu kamu benar benar menerima aku.”
__ADS_1
“Gue…. gak akan ngebalas perasaan omong kosong lo Al. Di hati gue cuma ada Bagas. Cuma Bagas bukan lo!!!”
Fai menarik kedua tangannya dengan kasar dan terburu-buru masuk kembali ke dalam mobil. Al masih mematung menelaah semua pengucapan terakhir Fai. Di hati Fai masih disinggahi pria lama yang terus lebih unggul dari dirinya.
“Cepat bawa gue pulang brengsek!!!” Amuk kesal Fai dengan memukul kuat dashbor mobil Al.
***
BAMMM!!!
Pintu dibanting kuat oleh Fai. Ia terus berjalan cepat dengan wajah tertekuknya. Tidak memperdulikan teguran sang Mama yang melihat keanehan Fai.
“Fai kenapa Al?”
“Hmm…. Cuma kecapean Ma. Mungkin karena kelamaan nunggu mengurus urusan kita.”
“Kirain ada sesuatu hal besar yang membuat Fai sampai sejutek itu.”
“Kayak Mama gak tahu Fai aja. Selalu masem tuh muka persis kayak kanebo kering.”
“Husshh! Kalau dengar si Fai, bisa perang dunia entar. Gimana Al? Udah selesai?” Tanya Fajar.
“Belum kak. 2 minggu ke depan baru kita bisa mengikuti proses sidangnya. Kalau untuk hari ini kita baru bisa mendata berkas-berkas kita kak.”
“Semoga urusan kalian berdua cepat selesai ya. Istirahat dulu gih! Nanti sore kakak mau bincang-bincang sama kamu mengenai bisnis. Kamu pasti lebih bisa diandalkan. Hehehe….”
“Ok kak. Al mau izin langsung ke kamar dulu ya.”
“Yang sabar ngebujuk si kanebo kering Al.”
“Berhenti meledek istriku!”
Tertawaan kencang Fadhil menertawakan teguran Al.
Tok…. Tok…. Tok….
“Assalamualaikum.”
CEKLEK!
Hening. Fai sudah terbaring lebih dulu di atas ranjangnya dengan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut tebalnya. Al meletakkan terlebih dahulu beberapa berkas-berkas yang tersisa. Ia hanya bisa terduduk diam bingung ingin melakukan apa. Ini bukanlah ruangannya. Fai pun selalu mengacuhkannya. Ingin memancing obrolan selalu bingung mulai dari mana.
Drrrtttt…. Drrrtttt….
Dering handphone miliknya memancing decakan sebal Fai. Dengan cepatnya ia menjawab panggilan tersebut sebab takut memancing amukan Fai. Al berjalan menuju arah balkon dimana tempat yang aman untuk merespon panggilan dari temannya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam Al. Lo di mana bro? Katanya kita mau bincangin masalah rumah yang lo minta. Gimana nih waktunya?”
“Hmm…. sorry Za. Hari ini cancel dulu ya. Belum…. tepat waktunya.”
“Gimana sih lo bro! Gue udah datang nih ke tempat yang lo share ke gue. Kok gak jadi jelas gini sih?”
__ADS_1
Al menatap miris ke arah terbaringnya Fai. Bukannya lupa. Ia membatalkan rencananya sebab keadaan yang tidak tepat. Fai sangat memberontak hari ini. Ia tidak mau kacau saat keadaan hati Fai yang dongkol terhadapnya.
“Maaf Za. Nanti aku kabari lagi kapan bisanya kita ketemu. Untuk sekarang, tolong kirimkan foto-foto lokasi sama bangunan rumahnya ya! Nanti aku mau langsung minta pendapat dulu dengan…. Hmm….”
“Dengan nyokap bokap lo? Bro, gue gak nyangka sih akhirnya lo punya pemikiran kayak begini. Udah dari dulu juga kan gue maksa lo untuk beli rumah. Rumah aset yang berharga banget bro. Walaupun lo belum berkeluarga, tetap lo butuh yang namanya privasi. Urusan pendamping…. entar-entar aja deh. Nikmatin masa lajang lo bro. Hehehe….”
Al terkekeh pelan dengan celotehan temannya. Ia menertawakan kebodohan dirinya yang mengikuti begitu saja keinginan Fai mengenai kerahasiaan statusnya saat ini. Memang saat ini hanya keluarga merekalah yang tahu. Orang-orang terdekatnya yang lain masih belum tepat untuk ia terangkan.
“Ok Za. Kalau benar-benar udah nemu waktu yang pas aku akan hubungi kamu lagi. Aku juga butuh cepat tempat tinggal yang baru. Terimakasih ya Za. Maaf untuk hari ini.”
“Iya Al. Santai aja Bro. Gue maklumin lo yang terus super sibuk.”
“Hahaha…. jangan begitu Za. Aku jadi merasa gak enak sama kamu.”
“Hahaha…. bercanda doang kali Al. Gue tutup ya. Assalamualaikum Bro.”
“Waalaikumsalam.”
~ Sore, di Halaman Belakang
“Alhamdulillah…. Itu keputusan yang terbaik Fajar. Mama dari dulu memang sangat berharap kamu bisa kembali berkumpul dengan kita semuanya di sini. Tapi, apa benar tidak apa-apa dengan keluarga kamu Misha?”
“Enggak apa-apa Ma. Ini memang udah keputusan kita berdua dan keluarga Misha juga. Bahkan, sebenarnya udah lama juga hal ini terpikirkan. Sebab pekerjaan mas Fajar lah yang terus mengurungkan niatan kita ini Ma. Keluarga Misha sangat mempercayai mas Fajar ke mana pun akan membawa Misha.”
“Tapi yaaa…. Fajar harus mulai dari nol lagi Ma. Niatan Fajar mau membuka satu bisnis. Maka dari itu, Fajar kepo banget dengan usaha Adik Iparku ini. Usia muda sudah memiliki beberapa cabang gerai makanan. Alhamdulillah cukup digandrungi ya Al.”
“Alhamdulillah kak. Berkat ikhtiar dan doa. Insyaallah dimudahkan dan berkah.”
“Tapi hebat loh. Al ini benar-benar berbanding terbalik dengan dianya yang dulu Ma. Kamu itu terkenal banget biang keladinya di sekolah dulu Al. Selalu dipanggil ke ruangan BK. Rajanya club malam lagi, upsss….” Fadhil sedikit terkekeh dengan raut menahan malunya Al kini.
“Sekarang…. kamu udah jadi pembisnis hebat.”
“Masih belum sehebat itu Fad. Jangan berlebihan.”
“Alah Al…. kamu itu merendah banget. Kesuksesan kamu wajib dibanggakan Al. Dan aku masih juga belum menyangka dengan perubahan kamu ini. Yang aku dengar juga, di kampung kamu dikenal sebagai juragan kambing ya?”
“Alhamdulillah bisa mencukupi hidupku Fad.”
“Hahaha…. Lihat kan Ma, kak. Al masih aja terus pura-pura sederhana di saat dia sebenarnya punya segalanya.”
“Fadhil…. Tidak semuanya manusia itu ingin mengumbar-ngumbar apa yang ia punya dan apa yang ia dapatkan. Tindakan Al itu sangat benar. Biarkan orang-orang tidak tahu siapa kita sebenarnya. Semua apa yang kita punya itu bukanlah kekal milik kita. Itu hanya titipan. Kapan pun Allah bisa mengambilnya lagi. Jadi, untuk apa kita mengumbar-ngumbar semua itu?”
“Iya deh. Kalau Mama udah ceramah begini, Fadhil jadi takut. Hehehe….”
Al tersenyum puas dengan nasihat mama mertuanya yang sangat sependapat dengan dirinya. Ia sudah sangat banyak belajar dari pengalaman hidupnya. Dirinya yang dulu berfoya-foya pada harta kekayaan Papanya sangat tidak bisa menyelamatkan dirinya dari liarnya kehidupannya dulu. Masalah demi masalah terus menghampirinya dan juga keluarganya. Ia terus menikmati jerih payah Papanya sampai tidak sadar malah membawa petaka pada bisnis sang Papa yang hampir mengalami kebangkrutan. Semenjak ia dititipkan pada satu pondok pesantren di salah satu kampung halaman sang Papa, Al banyak belajar memahami arti syukur atas semua yang ia jalani. Ia juga sudah banyak diberikan pembelajaran hidup yang mandiri dan bertanggung jawab pada setiap langkahnya. Sosok pamannya juga sangat ikut andil dalam kesuksesan dirinya saat ini. Berkat nasihat, dukungan dan masukan dari sang paman sangat membangkitkan diri Al yang baru. Diri yang tenang, dewasa dan bijak.
“Mama menitipkan Fai ke kamu ya. Mama harap kamu bisa banyak bersabar menghadapi setiap sikap dan ulah Fai. Papa sudah tidak ada. Sekarang ini Mama hanya mempercayakan kamu saja Al. Mama berharap pernikahan kalian berdua ini benar-benar garis tangan Tuhan. Dipersatukan sampai ke surga.”
“Amin ya rabbal alamin. Tetap terus doakan kita berdua ya Ma.”
“Iya Nak. Doa mama selalu untuk kalian semuanya. Hidup berbahagia dengan keluarga masing-masing.”
“Huffftttt…. kecuali Fadhil nih. Kasihan banget ya aku. Dilangkahi sama Fai.”
__ADS_1
“Hahaha…. itu takdir yang Allah berikan ke kamu Fad. Terima aja. Hahaha….”
Tertawa serentak mengolok Fadhil yang terpojok saat ini.