Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Wanitanya


__ADS_3

“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Menolehkan kepala ke arah samping kanan.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Menolehkan kepala ke arah samping kiri.


Menengadahkan kedua telapak tangan seraya berdoa di dalam hati.


“Ya Allah ya Rabbi…. Ampunilah Hamba, ampunilah segala dosa dan kekhilafan Hamba selama di dunia ya Allah. Ampunilah segala dosa Ibu dan Bapak Hamba. Ampuni segala keburukan dan kesalahan kami selama ini ya Allah. Berikan dan tempatkan Mama di sisimu yang terbaik ya Allah. Hamba sadar ya Allah, Hamba sadar atas segala keburukan Hamba dulunya dalam lubang dosa. Hamba terlalu jahat sudah memberikan kumpulan dosa untuk Mama ya Allah. Lindungi Hamba. Lindungi Hamba serta keluarga Hamba ya Allah. Berkahi kami. Bukakan pintu rezeki yang berlimpah dan bermanfaat untuk kami dan sesama ya Allah. Panjangkan umur kami dan kesehatan kami ya Allah. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qinaa adzabannari. Amin….”


SREKKK! Mengibaskan dan melipat sajadah miliknya. Tidak lupa ia membuka kain sarung. Melipat dan menaruhnya kembali dalam keadaan yang sangat rapi. Dirinya yang sudah mandi terlebih dahulu, membereskan ruang kamarnya. Membuka lebar gorden yang terhubung langsung ke area balkonnya. Cahaya langit yang masih minim. Udara segar sangat memanjakan penciumannya kali ini.


“Huffftttt…. Suasana Jakarta kalau di jam segini adem banget dilihat. Enggak macet, gak berisik, gak panas. Ciptaan Allah itu sangat indah. Kekuasaan Allah juga sangat menakjubkan. Kamu beruntung. Masih bisa diberi kesempatan memperbaiki hidup menjadi lebih baik.”


Tok…. Tok…. Tok…. Ketukan pintu menyentaknya.


“Albi….! Kamu udah bangun Nak?"


“Udah Buk. Sebentar lagi Al turun ke bawah. Mau siap-siap dulu.”


“Ok Al. Jangan lama-lama. Udah ditungguin sama Papa di bawah. Ibuk juga udah siapin kopi untuk kamu.”


Al mempercepat pergerakannya. Ia menjinjing waist bag miliknya dan sebentar bercermin sekadar untuk membenahi kembali dirinya. Keluar kamar dan menuruni anak tangga.


“Temani tuh Papa! Dari tadi nanyain kamu muluk. Ibuk juga udah langsung taruh kopi kamu di meja. Ibuk balik masak lagi ya?”


“Iya Buk. Makasih ya Buk.”


“Iya. Sama-sama. Buruan gih! Jangan sampai Papa kamu sendiri yang menegur kamu.”


Al berjalan menghampiri terduduknya Papa di halaman rumah dengan kursi rotannya.


“Udah dari tadi Pa?”


“20 menitan. Kenapa gak ikut Papa ke Masjid?”


“Maaf Pa. Hari ini agak telat bangun. Alhamdulillah masih dapat waktu subuh.”


“Ke mana aja kamu semalam? Papa ke warung kamu. Tapi kamunya gak ada. Pulangnya pun sampai larut malam. Ke mana? Kok gak ngabarin?”


“Kalau siang, Al ke warung Bian yang satu lagi. Lanjut ke Panti. Dan sorenya waktu arah mau pulang, mobil Al mogok. Al bawa ke bengkel dulu Pa. Nunggu beberapa jam, eh langsung dapat telepon dari teman-teman Al ngajakin Al ngumpul di café teman Al. Al dimintai tolong untuk ngehibur pengunjung cafenya Pa. Udah lama banget gak ngeband.”


“Teman kamu yang mana? Café yang mana?”


“Pa…. Papa jangan takut. Al udah gak mau macam-macam lagi kok Pa. Di luar Al juga gak lupa dengan kewajiban Al. Papa tenang aja. Terkadang Al juga memang butuh mereka Pa.”


Menghembuskan napas leganya. Al bisa melihat bagaimana kegusaran dan trauma Papanya mengenai dirinya.


“Papa bersyukur dengan perubahan kamu saat ini. Tapi tetap masih ada rasa cemas Papa mengenai kamu.”


“Hahaha…. Jangan khawatir Pa. Al gak akan mengulangi hal-hal buruk lagi. Ituhal bodoh yang Al lakukan. Terimakasih udah terlalu keras mendidik Al. Al jadi sadar bahwa cara Al selama ini salah.”


Menepuk-nepuk pundak sang anak. Sebab kagum dengan sikap dewasanya saat ini.


“Ada sih satu cara agar Papa gak akan ngecemasin kamu lagi.”


“Apa tuh Pa?” Menatap serius raut sang Papa yang terus mengulas senyumannya.


“Me-ni-kah!”


“Huffftttt…. Pa…. apa lagi? Perempuan mana lagi yang mau Papa kenalin ke Al….? Enggak perlu lah Pa! Al ini udah besar. Udah bisa nentuin sendiri wanita yang akan Al nikahin nanti.”


“Mana, hum? Mana perempuannya? Gimana mau dapat kalau kamunya sendiri tidak pernah mau mencari dan membuka hati.”


“Pa…. tolong jangan….”


“Ini berbeda Al. Anaknya cantik, baik, ramah, sopan. Papa udah bertemu langsung dengan anaknya. Dia anaknya teman lama Papa.”


“Pa…. Al tetap gak mau lagi. Ok!”


“Mas, Al, menu sarapan udah selesai. Ayo makan dulu!”


Al bangkit dan berjalan cepat ke arah ruang makan. Ia sedikit risih dengan Papanya jika terus membahas mengenai perjodohan yang terus memaksa ia harus mengikutinya. Mengambil cepat hidangan untuk dirinya.


“Mau sampai kapan kamu sendiri terus? Kamu sudah mapan dan sudah matang untuk membina rumah tangga. Dan anak ini juga tidak terlalu jauh umurnya dari kamu. Papa rasa kalian berdua sangat cocok Nak.”

__ADS_1


“Pa…. jangan dibahas lagi! Al lagi makan Pa.”


“Udahlah Mas. Kalau Al sudah menolak jangan dipaksa. Al lebih tahu apa yang Al inginkan.”


“Tapi sampai sekarang dia belum juga memperkenalkan calonnya ke kita Ranum. Aku gak mau kehilangan kesempatan untuk bisa menimang cucu. Al anakku satu-satunya. Aku ingin masih bisa menyaksikan sendiri pernikahannya dan cucuku.”


PRANKKK! Sendok sengaja ia hentakkan pada piring. Ia ingin menyudahi bawelnya sang Papa. Membawa piring dan gelas kotor miliknya untuk ia cuci sendiri.


“Jangan selalu dipaksa Mas.” Bisik Ranum.


“Al udah selesai. Al mau langsung pergi Pa, Buk. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Lihat kan Mas. Al selalu gak nyaman kalau dipaksa kayak begini terus. Biarkan Al dengan pilihan dan kehidupannya Mas!”


“Huffftttt…. Ranum, aku mau melihat ada sosok wanita yang bisa merawat dan menemani Al. Itu aja.”


“Tapi semua itu ada waktunya Mas. Jangan dipaksa. Al udah bisa menentukan hidup dan masa depannya akan bagaimana.”


“Baiklah. Aku juga mau langsung ke kantor aja.”


***


Sepanjang jalan, Al terus tidak berhenti tersenyum dengan sikap berlebihannya sang Papa. Bukannya ia tidak mau berumah tangga. Hanya belum tepat saja menemukan sosok wanita yang sesuai dengan yang ia idamkan. Dan ia rasa hal itu ia serahkan semua dengan ketentuan takdir Tuhan. Berpuluh wanita pun yang sudah Papanya kenalkan belum ada satu pun petunjuk dari Tuhan untuk menggerakkan hatinya.


Mobil yang dikendarainya pun sudah berhenti di salah satu gerai makanan miliknya yang sudah cukup ternama di kalangan khalayak ramai. Gerai makanan yang ia beri nama “Warung Bian” ini sudah dibuka dengan 5 cabang lainnya di berbagai kota pilihannya. Suatu keberkahan yang ia dapatkan setelah perjuangan dirinya dalam dunia bisnis sederhananya.


“Wissshhh…. Selamat pagi Bos!!” Seruan salah satu karyawannya yang kini terlihat ingin membuka gerai miliknya.


“Pagi Ben.”


“Pagi banget hari ini Bos. Untung saya juga cepat datangnya. Kalau gak, bakal malu banget saya Bos.”


“Hahaha…. Santai Ben. Saya datang cepat hari ini cuma mau menghindar dari bawelnya Papa.”


“Hahaha…. Ternyata ada maksud terselubung ya Bos.”


Al membantu karyawannya ini dalam membuka rolling door gerai miliknya. Juga satu persatu mereka menyusun kursi dan meja pada area luarnya. Setelahnya, area warungnya sudah mulai dipenuhi para karyawan yang selalu saja datang tepat waktu. Satu hal yang ia sukai. Memiliki para karyawan yang kompak dan pekerja keras.


Al mengerutkan dahinya yang bingung dengan pembahasan karyawannya kali ini.


“Maksudnya bagaimana Ana? Apa ada sesuatu yang terjadi selama saya gak ada?”


“Mulai dari semalam Bos, warung Bos ini diramaikan para pengunjung. Bahkan mereka juga terus menyanjung enaknya semua makanan ini Bos. Keren banget mbak Fai ya?”


Semua menganggukkan kepala dengan meyakinkan pembahasan Ana. Raut keterbingungan Bos mereka sangat menggelitik untuk mereka.


“Siapa yang kalian maksudkan ini?”


“Sebentar Bos.”


“Dasar sih Ana. Ratu rempong.”


“Hahaha….”


Tertawa sembari menunggu hebohnya Ana mencari salah satu postingan konten mukbang milik selebgram idolanya.


“Ini nih Bos. Mbak Fai idola saya. Konten kreator, Selebgram kesukaan saya.”


Semula ia tak tertarik, namun terus saja Ana memaksa dirinya untuk melirik layar handphone milik Ana. Al memperhatikan dengan sangat lekatnya. Ia termangu dengan apa yang ia tonton saat ini. Wanita manis imut yang kembali mengingatkannya kepada satu sosok wanita lamanya.


“Fai?”


Terpaut lama pada putaran video yang sedang ia pertontonkan. Sampai ia tidak menyadari tatapan para karyawannya serentak bingung dengan reaksi Bos mereka.


“Bos! Bos kok jadi serius gini nontonin mbak Fai nya?”


“Bos kenal?”


Tetap terdiam serius mempertontonkan video mukbang Fai dengan menu dagangan makanannya.


PIP!

__ADS_1


“Sorry Bos, harus saya hentikan. Rada-radanya…. Bos ada sesuatu deh. Sampai serius banget nontonin kegiatan mbak Fai. Hayooo….!”


Ana berhasil membuat Al merasa gugup saat ini. Bahkan, mungkin pipinya yang kini sudah sedikit terlihat merona.


“Bos jadi ngefans juga kan dengan mbak Fai? Ngaku lah Bos!”


“Kamu ini apa-apaan sih. Lanjut kerja! Sebentar lagi pengunjung bakal datang. Saya mau ke dalam dulu.”


“Siap Bos!” Sorak serempak lainnya.


“Tapi, kasihan ya dengan mbak Fai itu. Bisa-bisanya perempuan cantik, baik seperti mbak Fai malah ditolak gitu aja.”


“Yaaa…. namanya juga orang kaya Na. Pacarnya itu kan anak terpandang. Susah untuk diterima sama kalangan orang kaya.”


“Aku sempat nontonin juga live nya waktu itu. Kalau aku yang jadi mbak Fai pasti malu banget sih. Terang-terangan mereka menghina, mencaci mbak Fai.”


“Iya kan. Jahat banget. Benar-benar gak punya hati kalau orang yang derajatnya lebih tinggi dari kita ya.”


Pembicaraan para karyawannya masih bisa Al dengar walau ia sedang menyibukkan dirinya. Ia terus berpikir jauh mengenai sosok selebgram yang dimaksud karyawannya itu. Pekerjaannya hari ini menjadi tidak fokus. Entah apa yang ia pikirkan. Semua bercabang dan sangat merubah moodnya hari ini.


***


“Mau apa lagi sih kamu ke sini? Enggak ada bosan-bosannya kamu ya?!”


“Tante, saya mau ketemu langsung dengan Al. Cuma itu kok Tan. Bolehin ya Tan….”


“Al lagi gak ada di sini. Al lagi sibuk kerja. Jangan diganggu deh ya!”


“Tan, Sisy akan tetap berdiri di sini sampai Al benar-benar ada di hadapan Sisy.”


“Ya udah. Itu sih terserah kamu. Tungguin aja sampai pegel tuh kaki.”


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Al, cepat pulangnya kamu?”


Al tidak menanggapi pertanyaan Ibunya. Ia malah terfokus dengan satu wanita yang sangat ia kenali tengah berdiri dan menyunggingkan senyuman genitnya.


“Sisy? Ngapain lagi sih kamu ke sini?”


“Udah dari tadi Ibuk coba usir dia. Tetap aja kekeh pengin ketemu kamu. Bocah genit.”


“Aku kangen Al. Aku terus ke sini tapi kamunya selalu gak mau ketemu dengan aku. Kenapa sih? Kenapa kamu benar-benar berubah. Enggak Al yang dulu. Teman-teman yang lainnya juga pada kangen sama kamu Al. Malam ini kita hang out yuk! Ngumpul bareng kayak dulu lagi Al.”


Al menepis gelayutan tangannya wanita genit di hadapannya ini. Ia sangat risih dengan kehadirannya.


“Aku udah gak punya banyak waktu lagi untuk ngelakuin hal-hal gila kalian. Itu bukan minatku lagi Sy.”


“Kenapa? Kamu jangan berubah gini dong! Enggak asik banget.”


“HEH! Kalau anak saya bilang gak mau, jangan dipaksa dong! Pulang gih! Atau mau saya usir secara kasar pakai air, HAH?!”


“Udah Buk, gak perlu. Kita langsung masuk aja!”


Al tidak ingin memperlama dirinya berhadapan dengan gilanya Sisy. Sisy yang mendapatkan penolakan secara tidak mengenakkan, menggeram dengan sikap acuh Al.


“Aku cinta kamu Al!! Aku akan terus mengejar kamu sampai ke mana pun!!!”


CEKLEK!


“Benar-benar gak ada jenuhnya ya teman kamu itu. Berulang kali datang ke sini Cuma ngebuat keributan muluk. Ibuk malu sama tetangga Al.”


“Hahaha…. Enggak usah ditanggapin Buk. Biarkan aja dia di luar sendirian kayak gitu. Nanti juga bakal boring juga kok.”


“Kalau aja kamu sudah gercep punya pasangan hidup, mungkin dia gak akan berani lagi datang ke sini Al.”


“Ibuk…. jangan mengada-ada. Jangan ikut-ikutan seperti Papa. Kalau memang sudah ada pun, di hari itu juga Al pasti akan menikah Buk. Tapi buktinya, belum ada kan. Belum ada petunjuk dari sang Pencipta wanita mana yang pantas untuk Al halalkan.”


Kalimat penuh ketegasan dari Al berhasil membungkam Ibunya.


“Udah dulu ya Buk. Al mau langsung ke kamar dulu. Mandi, istirahat sebentar sambil nunggu waktu adzan. Kalau perlu sesuatu, panggil Al.”


“Ok deh.”

__ADS_1


Al melangkah cepat ke arah kamarnya. Bergegas mandi sebelum waktu adzan magrib berkumandang. Ia sosok pria yang akan selalu dengan rapinya mengatur semua aktivitasnya. Selesai mandi Al mendudukkan tubuhnya yang bersandar pada kepala ranjang miliknya. Ia membuka layar handphone nya. Mengetikkan sebuah nama pada laman YouTube nya. Ia kembali menelusuri semua akun YouTube milik wanita masa lalunya.


Terkadang senyuman dan tawanya merekah. Dan terkadang juga raut datar itu kembali hadir. Selama ini ia sudah sangat melupakan sosok wanitanya. Ia mengira itu hanyalah perasaan hati yang sementara akan hilang begitu saja. Namun nyatanya, saat matanya menatap paras manis wanita itu ia kembali lemah dan murung.


__ADS_2