
“Akhirnya sampai juga….!! Lelet banget sih lo kak.”
“Heh! Maklumin dong. Ini Jakarta, kota padat penduduk. Kota asing buat kita. Kakak ya mesti beradaptasi dulu dong bawa motornya.”
“Cih! Alasan banget lo.”
“Eh, Fai! Ganti gak tuh bahasa! Jangan ikut-ikutan bahasa anak-anak di sini deh! Enggak sopan banget di dengar.”
“Ya ampun kak…. Lo bawel banget sih. Lo bilang kita mesti beradaptasi di sini. Fai gak salah kan? Udah ya, Fai mau langsung ke kelas. Bye kak!”
Berlari kencang meninggalkan Fadhil yang masih terheran dengan kelakuan sang Adik. Motor matic yang baru saja Papanya berikan ia parkirkan diantara puluhan motor ninja yang sangat membuat Fadhil tercengang. Fadhil mengagumi puluhan motor-motor itu. Tapi ia kembali bersyukur atas apa yang ia punya sekarang.
BRUM! BRUM! BRUM!
Sekumpulan anak-anak lainnya juga baru saja memakirkan motor ninja mereka. Salah satunya seseorang yang sudah Fadhil kenali.
“Wahhhh…. Motor baru nih?”
“Hahaha…. Iya nih Al. Baru dapat dari Papaku. Biar gak terus-terusan ngerepotin Papaku untuk antar jemput.”
“Tapi Beb…. motornya anak cupu banget ya? Kurang cocok banget dengan wajah gantengnya. Hihihi….”
Fadhil menatap geli dengan gelayutan genit teman perempuan Al. Al memang sangat popular. Semua membicarakan dirinya. Tampan, kapten Futsal, jago Basket dan pintar pada bidang Akademisnya. Dia selalu menjadi bahan incaran para cewek-cewek centil yang ada di sekolah barunya ini. Bisa dikatakan Al adalah pemain wanita. Mudah baginya menaklukkan hati para cewek-cewek genit.
“Jangan merendahkan teman gue!!” Amuk Al terhadap Sisy. Seketika Sisy merubah moodnya menjadi kesal. Ia menarik cepat teman-temannya untuk lebih dulu meninggalkan area parkir.
“Kenalin guys, ini Fadhil. Anak baru. Satu kelas dengan gue.”
“Oh, hai Bro. Gue Nathan.”
“Gue Jerry. Dan ini Bayu.”
“Hai semua. Aku Fadhil. Senang berkenalan dengan kalian semuanya. Jadi bisa nambah teman baru lagi. Hehehe….”
“Keren juga nih anak, Al. Bisa nih kapan-kapan kita ajarin dia riding bareng kita. Entar gue pinjamin deh motor gue ke lo. Lo keren man.”
“Hahaha…. Enggak usah deh. Aku gak berani yang begituan. Lagian, susah untuk dapat izinnya.”
“Ya ampun…. Emangnya kalau lo mau pergi ke mana pun harus izin sama bokap nyokap lo dulu ya? Ini zaman milenial Bro. Semua anak itu udah harus bebas ngelakuin apa pun. Kasihan banget hidup lo. Hahaha….”
“Bacot banget lo Nat!! Dia dari Bandung. Wajar dia gak terlalu bebas kayak kita. Enggak usah dipikirin lagi. Langsung ke kelas aja Fad.”
Al dan Fadhil berjalan lebih dulu. Fadhil merasa beruntung mendapatkan teman akrab yang sangat membantunya dalam bersosialisasi pada lingkungan barunya yang mungkin bisa dikatakan masih susah ia masuki. Anak-anak Jakarta yang ia ketahui, sangat lebih mementingkan eksistensi. Bagi seseorang yang tidak memiliki kemampuan atau kepopularitasan akan tidak dianggap ada.
“Bentar Fad.”
Al menghentikan langkahnya. Ia berdiri menyender pada dinding kelas yang sedang ia lewati.
“Tugas yang kemarin beneran belum selesai Fai?”
“Belum Ran. Gue pusing banget dengan semua pertanyaannya.”
“Ya ampun Fai…. Ini sih menurut aku gampang banget.”
“Lo kan tahu gue gak sepintar lo. Kalau gitu…. gue copy paste jawaban lo aja ya Ran. Please….!”
“Hahaha….”
BUGHHH!
“Aw! Sakit Fad!”
“Lagian kamunya kenapa sih? Ketawa sendirian gak jelas. Lihatin apa?” Bisik Fadhil.
Ia pun penasaran dengan arah pandang Al saat ini. Ia melihat lebih jelas ruangan kelas yang menjadi pemberhentian mereka. Fadhil meringis perihatin dengan apa yang ia lihat. Fadhil masuk dan berjalan mendekat ke arah satu meja dimana Fai tengah sibuk mengerjakan sesuatu yang sangat memalukan baginya.
“Ooo…. Jadi gini kelakuan kamu. Pintar banget kamu ya. Dari dulu sampai sekarang gak pernah berubah.”
Fai mengernyitkan keningnya di saat kakaknya lah yang menegur dirinya.
“Ngapain lo ke sini?”
“Siapa Fai?”
__ADS_1
“Bukan siapa-siapa kok. Enggak penting juga.”
Al dari luar masih tercengang dengan luwesnya Fadhil berinteraksi dengan satu perempuan yang saat ini memang menjadi pusat perhatiannya. Ia dengan beraninya memasuki juga ruang kelas yang malah memancing teriakan histeris dari semua murid-murid cewek pada kelas ini.
“Fad! Lo kenal dengan nih cewek? Siapa lo man?”
“Dia….”
“Bisa pergi gak dari sini?! Jangan gangguin Fai!”
“Kamu jangan terlalu bodoh dimanfaatin sama nih anak!”
“Apaan sih? Pergi deh lo!! Gue gak punya banyak waktu. Gue bisa dihukum kalau belum selesai juga dengan nih tugas.”
“Dasar badung!!”
Fadhil berlalu lebih dulu meninggalkan Al yang masih berdiri dengan dikelilingi Adik-adik kelasnya yang sangat genit terhadapnya. Fai baru bisa sadar bahwa bukan hanya kakaknya lah yang mengusik dirinya. Sosok pria mesum yang pernah memberikan pengalaman buruk terhadapnya. Memikirkan hal itu kembali membuat ia semakin merasa jijik dengan paras tampan pria mesum itu. Tidak ia sangka, si pria itu memberikan senyuman manisnya ke arahnya. Fai memalingkan wajahnya dan lebih kembali fokus ke bukunya.
Al semakin penasaran dengan si gadis kecil berkacamata tebal yang belum ia ketahui namanya siapa.
“Fai, sebentar lagi mau jam pelajaran ibuk Sondang. Kamu harus cepat Fai.”
‘Fai? Jadi itu namanya? Ok, gue rasa ini bukan waktu yang tepat. Gue juga udah risih banget dengan nih cewek- cewek centil.’
“Udah, udah, cukup! Jangan sentuh gue!” Amuknya menciutkan nyali Adik-adik kelasnya yang bar-bar.
Fai menatap nyalang ke arah Al. Ia benar-benar memberikan tatapan tidak sukanya dengan sikap sok kerennya Al. Al yang diperhatikan hanya memberikan senyuman manisnya kepada Fai. Walau ia belum tahu apa sebenarnya isi kepala Fai mengenai dirinya.
Sepeninggal Al, Ranti masih mematung berdiri dengan racauan pelannya mengagumi sosok kakak kelasnya yang memang sudah sangat terkenal akan kepopularitasannya.
“Kak Al memang secakep itu ya. Tadi itu benar-benar kak Al yang nginjak kelas kita kan Fai? Belum pernah sejarahnya kak Al mau masuk sembarangan ke ruang kelas lainnya.”
“Emangnya kenapa sih? Kenapa kalian pada segila itu dengan cowok mesum kayak dia? Dia itu brengsek Ran. Sumpah gue kesel banget sama tuh orang. 2 minggu lalu setelah lo ninggalin gue, gue pergok tuh orang dengan cewek lagi ciuman di tanah kosong yang ada pondoknya itu Ran. Makanya waktu itu gue langsung bad mood banget. Apes banget nasib gue.”
“Bakal beruntung kalau kamu yang dicium langsung sama kak Al, Fai. Cuma kamu doang yang menolak pesonanya kak Al. Hati-hati loh. Nanti lama-lama malah kamu yang kepincut dengan pesonanya kak Al. Hihihi….”
“Ihhhh…. Amit-amit deh. Jangan sampai.”
Ranti menghentikan langkah mereka secara tiba-tiba.
“Kamu beneran udah daftar Fai?” Tanya penasaran Ranti.
“Iya Ran. Seminggu yang lalu. Dan gue langsung dikasih brosur pendaftarannya. Kakak pembinanya bilang hari ini gue harus di test dulu. Kalau ok, gue keterima. Doain ya Ran!”
“Ok deh Fai. Kalau beneran kamu keterima aku pasti bangga banget. Hihihi….”
Fai melanjutkan langkahnya. Dari jauh ia sudah ditatap intens dengan semua team yang sudah berkumpul. Dan sangat membuat Fai merasa gugup.
“Oh, hai Fai!” Sapa kakak Pembina yang tempo lalu memberikan Fai kesempatan untuk mendaftar.
“Hai kak. Hai semuanya!”
“Cih! Sok formal banget.” Celetuk salah satu cewek yang sekilas Fai kenali parasnya.
Fai menjadi semakin gugup di saat yang lainnya terkekeh menertawakannya.
“Ini member baru kita kak Jo?”
“Belum resmi. Tapi gak ada salahnya kita coba dulu. Dari postur tubuhnya lumayan mendukung.”
“Tapi apa lo yakin nerima cewek culun kayak dia kak? Lihat aja tuh mata empatnya! Yang ada team kita jadi bahan ledekan karena menerima cewek culun kayak dia.”
“Hahaha....”
Semua menertawakan Fai dengan sangat kencangnya. Bahkan, hal itu menjadi pusat perhatian anak-anak lain yang memang juga tengah berkumpul pada kelompoknya masing-masing.
“Ada ribut-ribut apaan sih itu?”
Anak tari, anak karate, anak PMR, anak Pramuka, anak Futsal, anak Basket dan masih banyak yang lainnya menghentikan sejenak aktivitas mereka. Sebuah putaran musik sengaja dihidupkan dengan begitu kerasnya. Fai sendiri kini tengah berdiri bingung dengan apa yang kakak pembinanya ini persiapkan.
“Fai, kita bakal terima lo kalau lo bisa ngalahin salah satu anak didik kesayangan gue untuk battle dance bareng lo. Sisy! Gue kasih lo panggung.”
Ranti berusaha menarik-narik tangan Fai yang masih betah mematung.
__ADS_1
“Mending gak usah diladenin Fai! Kamu bakal dipermalukan di depan semua orang. Kamu lihat Fai! Orang-orang udah pada ngumpul untuk menyaksikan moment memalukan kamu nanti.” Bisik Ranti mencoba membujuk Fai.
Fai menggeleng dan melepas cekalan Ranti. Ia lebih memajukan dirinya di hadapan Sisy yang sudah berdiri dengan pongahnya.
“Kalau gue menang apa gue bisa merebut predikat dia? Anak kesayangan? Kita buktikan.”
“Cih! Belagu lo.”
Semakin memanas. Musik kembali Fai perintahkan untuk diputar ulang. Sebelumnya, ia melepas kacamata tebalnya dan meminta bantuan Ranti untuk menyimpannya sebentar.
Sisy sudah sangat tidak sabaran. Ia beraksi lebih dulu mengambil ritme musik yang ia rasa pas dengan gerakannya saat ini. Seketika sorak sorai semua penonton menggema memberi semangat pada kemahiran Sisy. Fai sudah bisa melihat bagaimana populernya Sisy di saat semua orang meneriaki namanya seakan memberi dukungan penuh.
Sisy menjeda aksinya dengan akhiran yang mampu kembali memancing semangat para pendukungnya.
“Giliran lo CUPU!!!”
“Huuuuuu…. Cupu! Cupu! Cupu! Cupu!”
Fai menahan geramannya. Ia meraih ikatan rambutnya dan melepas bebas rambut terikatnya. Fai memasang raut beraninya dengan seringaian senyumannya. Sebelah kakinya ia hentakkan sebagai pancingan awal untuk olokan Sisy. Gerakan absurd yang juga mengundang tawa lainnya. Caranya untuk membuai mereka-mereka yang tengah puas meledeknya.
Namun berikutnya, Fai dengan sangat mengejutkan merubah gerakan absurdnya menjadi lebih energik dan indah. Tangan, kaki, pinggul dan kepalanya ia mainkan. Gerakannya seakan benar-benar menikmati musik hip hop yang tengah diputar. Sontak, semua yang awalnya hanyalah mengolok-oloknya kini berganti menjadi sebuah teriakan semangat juga untuknya. Fai terus membuktikan bahwa ia bukanlah gadis cupu seperti yang mereka anggap.
Dari gerakan energik Fai kini sudah berganti dengan gerakan yang lebih slow dan seksi seiring lagu yang dengan sengaja mereka ganti sekadar ingin menjahili Fai. Tapi itu semua tidak mampu mengalahkan semangat Fai. Tubuh kecil pendeknya sangat lincah mengisi lantai lapangan yang sengaja dikosongkan untuk dirinya. Kemampuan terpendam yang selama ini ia sembunyikan.
Pada akhir aksinya, Fai terus bergerak lincah mengitari berdirinya Sisy yang saat ini sangat jelas memberikan tatapan tidak sukanya terhadap Fai. Fai mengambil ancang-ancang dirinya untuk melakukan aksi saltonya beberapa putaran hingga dimana ia sudah menempati posisi Sisy. Ia menarik dengan sengaja ikatan rambut Sisy dan ia akhiri dengan gerakan split dari dirinya.
“Wowwww………!!”
PROK! PROK! PROK! PROK!
“Fai….!! Kamu hebat Fai….!!” Teriak kencang Ranti yang lebih menyemangati Fai saat ini. Ia tersenyum lebar di saat semua memberikan ungkapan kagumnya untuk kemampuan dirinya. Fai berdiri kembali dan berjalan menghampiri berdirinya Sisy.
“Maaf ya. Gue udah sengaja narik ikatan rambut lo. Nih.”
Sisy merampas cepat ikatan rambutnya. Sontak ia terkekeh pelan dan berputar arah ke hadapan semuanya yang masih saja memuja aksinya. Ia memberikan salam penghormatan atas apresia yang mereka berikan. Kini, ia benar benar sudah bisa membuktikan bahwa dirinya juga layak diterima dalam team Cheerleaders mereka.
“Parah banget kamu Fai.” Geram Fadhil.
Dengan langkah tegasnya ia melangkah dan menarik tangan Fai hingga si pemilik tangan tersebut tersentak kuat.
“Kak Fad!”
“Kamu udah gila Fai. Jangan memulai keributan di sini!”
“Siapa yang membuat keributan sih? Fai cuma lagi berusaha supaya bisa keterima di team mereka kak. Cuma itu.”
“Lo punya hubungan apaan sih dengan dia?” Al masuk ke tengah-tengah perselisihan Fai dan Fadhil.
“Dia Adik aku. Ayo ikut kakak!”
“Enggak mau kak!! Fai mau dengar dulu dari keputusan kak Jo!!” Teriaknya sengaja ia lakukan agar segera mendapatkan sebuah konfirmasinya dari ketua team dan kakak pembimbing team Cheerleaders yang sedang Fai incar.
“Tenang Fai! Lo, jadi anggota baru kita. Congrats girl.”
“Yes! Terimakasih kak Jo….!!” Sorak kegirangan Fai seiring dengan teriakan girang anak-anak lainnya yang ia anggap sebagai pendukung barunya.
Fai pun kini berhasil mendapat tarikan paksa dari Fadhil. Dengan terseog-seog nya ia mengikuti langkah lebar kakaknya.
“Jangan cepat-cepat dong kak!”
“Kamu ngapain sih pakai niatan masuk ke team Cheerleaders?!”
“Lah, emangnya kenapa? Fai punya kemampuan kak. Udah lama Fai menginginkan hal ini. Kalau Fai hebat yang bangga kan kakak juga. Kenapa mesti dilarang-larang sih?!”
“Mereka itu berbahaya Fai. Mereka bukan ranah kita. Mereka terlalu memikirkan kepopularitasan. Kamu bakal gak sebanding dengan mereka. Yang ada kamu bakal di buli terus sama mereka. Dan Papa sangat gak suka dengan kegiatan lain selain belajar Fai.”
“Kalau kita terlalu mengikuti apa kata Papa, yang ada kita gak maju-maju kak. Lo lihat kan! Awalnya mereka lecehin gue, olok-olok gue. Karena penampilan gue yang dari dulu selalu diarahkan sama Papa. Ini Jakarta bukan Bandung. Mau gak mau kita harus mengikuti cara hidup mereka. Fai senang dengan sanjungan mereka yang meneriaki Fai dengan semangatnya. Fai bukan cupu kak.”
Menepis cekalan tangan Fadhil. Ia lebih baik cepat pergi dari bawelnya Fadhil. Ingin kembali pada kumpulan teman- teman team barunya.
“Selama ini gue kira dia pacar lo Bro. Ternyata bukan ya?”
Al merangkul Fadhil secara tiba-tiba. Tanpa Fadhil ketahui bahwa Fai adalah incaran Al selama ini. Dan senangnya ia bahwa ternyata cewek incarannya ialah Adik dari teman dekatnya. Fadhil, anak baru dari Bandung.
__ADS_1