Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Nama Yang Sama


__ADS_3

Fai terbangun dengan tersentak. Ia mengatur napasnya yang tidak beraturan. Mimpi aneh mengganggu pulasnya ia tertidur. Ia melirik jam yang masih sangat pagi baginya. Ia memijat pelipisnya yang sedikit berdenyut. Entah kenapa ia bisa bermimpi bertemu dengan sosok pria yang selalu mampu membuat ia merasa kesal sejak dulu.


“Gue kenapa sih? Bisa-bisanya gue mimpiin tuh orang. Yang selalu jadi bahan pikiran gue itu Bagas. Seharusnya Bagas yang ada di dalam mimpi gue. Ini kenapa malah si brengsek itu sih? Aneh banget. Mana gue terlihat anggun banget lagi pakai dress. Fai…. jangan gila lo. Huffftttt…. jangan bilang ini pertanda buruk yang bakal menimpa di kehidupan gue selanjutnya.”


Fai yang sudah terlanjur tidak bisa menidurkan kembali dirinya pun lebih memilih bangkit dan memulai aktivitasnya lebih awal. Merasa beruntung juga ia bisa terbangun lebih awal. Jadinya, ia bisa datang lebih dulu dari teman temannya yang lainnya. Ia menghindari sebuah perjanjian mereka. Tidak ingin lagi menjadi sumber porotan ketiga teman kantornya.


Mandi dan beberes. Menyiapkan sarapan siap saji yang sudah lebih dulu ia pesan setiap harinya. Ia yang tidak bisa memasak memang lebih memilih makanan cepat saji yang bisa ia panaskan suatu waktu. Duduk pada area balkon memandangi suasana kota yang masih lengang dari orang-orang. Udara sejuk juga memanjakan penciumannya. Dinginnya tidak menghentikan keasikannya pada balkon.


“Lo harus benar-benar move on dari Bagas Fai. Jangan melow muluk. Udah berulang kali lo hubungi Bagas, tetap aja gak ada satupun yang direspon. Lo gak tahu aja apa yang Bagas lakuin selama ini. Di sini lo sedih muluk. Berharap Bagas datang dan ngebujuk lo. Tapi nyatanya, dia sama sekali gak perduli Fai. Lo harus bisa move on Fai!!!” Teriak kerasnya.


***


“Saya sangat senang dengan team Anda. Mereka sangat pandai merayu saya untuk mengambil hunian ini. Apalagi…. si kecil mbak Fai. Dia benar-benar pandai merayu saya dengan kemampuannya.”


“Hahaha…. Terimakasih atas sanjungannya Pak. Itu cara jitu saya agar saya tidak kalah saing dengan yang lainnya. Ada harga ada kualitas. Benar begitu kan Bos?”


“Tepat sekali. Fai ini memang piawai dalam ilmu Marketingnya. Saya tidak salah menempatkan Fai di posisinya saat ini.”


“Bos bisa saja. Saya harap Bapak bisa selalu bekerja sama di perusahaan kita ini ya Pak. Kita jamin, semua akan sesuai keinginan Bapak.”


“Baik nak Fai. Cheers!!”


“Cheers….!!”


Pertemuan makan malam bersama para team, client dan Bapak Direktur Utama. Fai sangat disambut dengan sangat baiknya. Lagi dan lagi ia mendapatkan sanjungan dari orang-orang yang telah puas dengan kinerjanya.


“Fai, aku antar kamu pulang ya?”


“Pak Dimas, enggak usah. Saya mau naik Grab aja.”


“Mumpung saya lagi gak ada tumpangan Fai. Bahaya juga wanita malam-malam pulang dengan orang asing.”


“Terus, kalau sama Bapak apa saya gak merasa khawatir?”


“Hahaha…. Setidaknya kita sudah lama mengenal Fai. Dan aku bisa menjamin keselamatan kamu. Ayok! Yang lagi jomblo bahaya dianggurin. Banyak preman malam yang berkeliaran.”


“Pak Dimas….!!”


Fai ditertawakan oleh atasannya. Mau tak mau ia menuruti saja ajakan atasannya ini.


“Saya selalu gak enak kalau Bapak terlalu baik ke saya. Banyak loh Pak yang menganggap saya ini terlalu caper ke Bapak.”


“Hahaha…. Apa salahnya? Saya menganggap ini biasa saja. Lagian, kalau memang kita ada apa-apa tidak masalah kan? Kamu jomblo dan saya juga jomblo.”


“Pak…. jangan berpikiran yang aneh-aneh.”


“Saya serius Fai. Jujur…. saya tertarik sama kamu sudah sejak lama. Bahkan, saat kamu masih bersama dengan mantan kamu itu. Cuma ya…. saya gak mau mengganggu hubungan kalian. Dan saat ini, saya punya kesempatan kan untuk mendekati kamu?”


“No Pak. Bapak tetap hanya menjadi atasan terbaik saya. Enggak lebih. Ok, pak Dimas?”


Fai terkekeh sebentar menanggapi lontaran atasannya. Ia sedikit risih dengan pembahasan mereka kali ini.


‘Pak Dimas semakin lama semakin ngebuat gue risih banget. Dia bukan tipe gue banget. Enggak akan ada satu orang pun yang bisa ngegantiin posisi Bagas. Lagian gue gak mau lah jadi bahan gosipan satu kantor. Apalagi sih Bela. Tuh anak musuhin gue banget.’


Fai tersentak bersamaan dengan pak Dimas yang mengerem mendadak saat ia melihat sepinya jalanan. Fai bingung.


“Kok berhenti Pak? Kenapa?”


“Kamu tunggu di sini dulu ya. Saya rasa dia dalam kesusahan.”


Fai melirik ke arah luar kaca mobil yang masih tertutup rapat. Pak Dimas pun sudah keluar dari mobilnya dan berjalan ke arah seseorang di seberang jalan.

__ADS_1


“Hmm…. permisi Mas. Ini ada apa ya? Mobil Mas ada kerusakan?”


“Oh, iya Mas. Hmm…. memang biasa seperti ini. Mobil tua, jadi banyak yang udah rusak.”


“Sepertinya memang udah parah banget sih ini. Mau bawa ke bengkel juga belum bisa. Ini udah malam banget.”


“Saya juga kepikiran begitu. Tapi…. saya juga harus pulang.”


“Hmm…. gini aja Mas. Masnya coba telepon jasa derek untuk ngebawa mobil Mas ini. Dan Mas nya ikut pulang bareng saya aja. Sini udah sepi banget Mas.”


“Iya sih Mas. Tapi…. saya jadi ngerepotin.”


“Hahaha…. Enggak masalah. Sesama manusia itu memang harus saling tolong menolong kan?”


Fai sudah sangat mengantuk. Pak Dimas sangat lama berbincang dengan pria asing itu. Ingin turun tapi malas. Alhasil, Fai hanya bisa terduduk lemas menunggu selesainya perbincangan mereka.


“Oh iya, kenalin nama saya Dimas.”


“Albi. Terimakasih banyak loh Mas, udah mau saya repotin.”


“Hahaha…. jangan begitu lah. Sedari tadi kamu juga lihat kan enggak adanya kendaraan yang lewat. Kalau bukan saya, siapa yang akan membawa Mas nya pulang?”


“Hahaha…. iya juga sih.”


Lama berbincang hingga sang jasa derek pun sudah datang dan mulai mereka perintahkan untuk membawa mobil mogok tersebut menuju kediaman si pemilik.


“Ayo Albi!”


Al mengikuti langkah pria baik tersebut menuju mobil di seberang dan memasukinya di bagian belakang.


“Sorry Fai, gak sadar ada kamu. Sampai kamu ketiduran begini.”


DEG!


Al lagi dan lagi mendengar sebutan nama yang sama. Entah kenapa ia malah tersenyum menggelikan dengan pemikirannya saat ini. Membayangkan paras wanitanya yang beberapa hari ini sulit untuk ia lupakan.


Dimas membawa mobilnya melaju sesuai arahan maps yang sudah Al beri tahukan di mana tempat ia tinggal. Sepanjang jalan pun mereka terus mengobrol hingga sama-sama merasa sudah saling akrab.


“Pendapat saya ini ya Mas, mobil seperti itu memang sudah harus diganti Mas. Bukan maksud saya untuk merendahkan Mas. Cuma kalau keseringan mogok begitu, kasihan Mas nya. Ngeluarin uang banyak dan pasti semua aktivitas Mas jadi terhambat kan?”


“Benar sih Mas. Tapi…. saya udah merasa nyaman banget dengan mobil saya itu. Mobil saya satu-satunya hasil dari jerih payah saya.”


“Oh ya? Wahhh…. sangat bersejarah banget ya.”


“Iya. Dulu saya sangat berfoya-foya akan apa yang saya punya. Tanpa memikirkan bagaimana orang tua saya susahnya mencari uang. Sekarang saya sadar bahwa hal itu sangat tidak berguna. Saya keluar dari kemewahan orang tua saya. Saya memberanikan meminjam uang dengan paman saya dan memulai membuka sebuah usaha kecil-kecilan yang Alhamdulillah sekarang sudah bisalah mencukupi hidup saya. Dan mobil itu lah yang menjadi aset pertama saya sebagai rasa syukur saya atas keberkahan nikmat yang Allah berikan. Walau saya belinya juga dalam bentuk bekas, tapi saya merasa udah bangga banget dengan pencapaian saya. Jadi, sesulit apa pun kendalanya, itu bisa mengingatkan kembali bagaimana susah untuk mendapat itu semua. Saya takut akan kembali berubah seperti saya yang dulu.”


Dimas mengacungi ibu jarinya. Ia menggeleng salut dengan semua maksud dari filosofi mobil tua milik Albi teman barunya.


“Hebat…. Saya jadi malu dengan pemikiran kamu. Oh iya, kapan-kapan kita boleh nih ngumpul bareng lagi kalau kita sama-sama punya waktu luang.”


“Boleh Mas. Diatur saja. Insyaallah saya bisa mengatur jadwal.”


“Iya, kita harus cari waktu yang tepat.”


“Eghhhh….” Lenguhan kecil dari terlelapnya Fai.


Sedikit membuat sunggingan senyum Al pada bibirnya.


“Maaf banget nih Mas. Saya jadi ngebuat pacarnya menunggu lama dan rela mengantar saya lebih dulu.”


“Hahaha…. dia bukan pacar saya kok. Dia teman satu kantor saya. Namanya Fai. Hampir sih jadi pacar saya. Tapi saya langsung ditolak malam ini juga”

__ADS_1


“Fai? Nama yang sama dengan seseorang yang sulit saya lupakan Mas.”


“Oh ya? Mantan kamu ya?”


“Hahaha…. Bukan Mas. Cuma…. wanita yang saya kagumi dulunya.”


“Wahhh…. kenapa jadi sedih begini sih. Kita sama-sama mempunyai perasaan ke satu wanita yang memang bukan milik kita.”


“Hahaha…. Benar banget.”


Obrolan itu berakhir di saat mobil Dimas berhenti di salah satu rumah yang memang betul milik keluarga Al. Ia dan Al sama-sama turun sekadar mengecek kondisi mobil yang diturunkan dari mobil derek.


“Terimakasih banyak nih Mas. Maaf sekali lagi saya udah ngerepotin. Semoga saja besok saya bisa memperbaiki mobil tua saya ini. Dan semoga semua kebaikan Mas dibalas setimpal dan diberkahi setiap langkah Mas.”


“Iya, sama-sama. Oh iya, ini kartu nama saya. Lain kali kita benar-benar harus bertemu. Mungkin, saya bisa menanyakan kiat-kiat menjadi pengusaha sukses seperti kamu.”


“Hahaha…. Amin. Saya juga belum bisa dikatakan dalam taraf itu. Masih banyak belajar juga.”


“Hmm…. saya langsung pamit ya. Mau antar anak gadis dulu. Udah malam banget. Enggak baik bawa pulang anak gadis orang terlalu malam.”


“Baik Mas. Terimakasih sekali lagi ya Mas.”


“Ok Al. Sama-sama.”


Al menuntun para jasa derek untuk bisa membantunya membawa mobil tuanya pada garasi rumahnya. Dan hal itu membuat sang Papa terbangun dari tidurnya.


“Al? Kenapa lagi ini? Baru jam segini kamu pulangnya.”


“Iya Pa. Biasa, mogok lagi.”


“Ya Allah Al…. Papa kan udah sering banget bilang ke kamu, kalau mobil kamu ini tuh udah gak layak lagi untuk kamu pertahanin. Dijual aja mungkin susah lakunya.”


“Hahaha…. segitunya banget Papa ngejelekin mobil Al. Ini tuh banyak ceritanya Pa. Al masih gak rela aja mobil Al diganti dengan yang lain.”


“Terserah kamu deh. Kan kamu sendiri yang repot.”


Al memasuki rumahnya dan langsung memasuki ruangan kamarnya. Cukup lelah untuk hari ini. Membersihkan dirinya sebentar. Setelahnya, ia menggapai gitar. Matanya yang belum mengantuk, membuat ia ingin bersenandung pada malam sepinya.


Petikan gitar dengan not-not lagu yang sama seperti dulu yang sering ia mainkan. Sebuah lagu yang menggambarkan hatinya.


‘Fai. Bagaimana kamu sekarang? Apa benar kamu udah selesai dengan Bagas?’


Dirinya sudah sangat gila tersenyum sejak tadi. Pikirannya hanya terpusat pada sosok Fai. Sosok Fai yang dulu dan kini masih ia ingat.


***


“Ma…. Fai gak bisa pulang minggu besok. Bakal repot banget. Jarak rumah ke kantor juga jauh Ma.”


“Kalau kamu gak pulang, Papa yang bakalan jemput kamu langsung Fai. Kamu tahu kan bagaimana murkanya Papa kalau kita gak ikuti keinginannya.”


“Ck, kenapa sih? Emangnya ada apa Ma? Biasanya juga Papa gak terlalu perduli dengan Fai.”


“Enak saja. Kamunya saja yang keras kepala. Berulang kali kan Mama, Papa dan kakak kamu nyuruh kamu pulang. Tapi kamunya tetap menolak. Kamu itu punya keluarga Fai. Jangan lupakan itu.”


“Ok Ma…. Besok Fai atur waktu dulu.”


“Ajak juga Flora. Suruh menginap juga beberapa hari di sini.”


“Iya Ma…. Bye.”


TIT….

__ADS_1


Fai memutus panggilan lebih dulu. Mau tidak mau ia harus benar-benar pulang pada weekendnya. Sudah terbayangkan bagaimana amukan sang Papa jika keinginannya dihiraukan.


__ADS_2