
Fai menatap dirinya pada pantulan cermin toilet. Tubuh kecilnya sudah terbalut sebuah gamis brokat putih milik sang Mama yang sudah Mamanya persiapkan. Sebuah riasan tipis juga melekat pada wajahnya. Dan kini, Dina tengah memakaikan sebuah kerudung pada Fai.
“Mama tahu ini semua tidak sesuai keinginan kamu. Tapi percayalah Fai, semua atas skenario Allah. Allah lebih tahu mana yang terbaik untuk setiap umatnya. Hati yang dulu kamu jaga, yang selalu kamu agung-agungkan, kalah dengan takdir yang Allah beri Nak. Al tidak mau memaksakan kamu menerima perjodohan ini. Tapi apa? Ada cerita lain yang Allah rangkai yang membuat kalian bersatu. Insyaallah, Al memanglah jodoh yang terbaik untuk kamu. Jalani semuanya dengan ikhlas.”
Fai memalingkan sebentar wajah penuh buliran air matanya. Tidak lagi memberontak apa yang tak ia sukai. Semua ia lakukan demi sang Papa. Ia coba paksa hatinya menerima semua ini. Walau berat. Paras pria yang ia cintai kini terus berputar pada ingatannya. Seakan menatap tajam ke arahnya. Menatap dengan rasa kesal sebab ia akan mengkhianati.
“Ayo Fai. Kita keluar. Kita tunggu Al dan keluarganya datang membawa penghulu untuk melangsungkan semua pernikahan singkat kalian.”
Fai berjalan pelan hingga ia sudah bisa melihat kedua mata Papanya menatap kagum dirinya saat ini. Fai coba juga untuk mengulas senyum semanis mungkin. Ia tidak mau lagi mengecewakan.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Pihak pria sudah kembali yang juga menghadirkan pihak penghulu. Sebelumnya mereka sudah meminta izin lebih dahulu kepada pihak Rumah Sakit untuk memberi mereka akses untuk melangsungkan pernikahan singkat mereka.
Al dan Fai saling bertemu pandang. Al terpaku dengan sosok Fai yang sangat anggun memakai balutan gamis brokat putihnya. Dan ditambah lagi dengan kecantikan diri Fai yang tengah memakai kerudung.
‘Masyaallah…. Kamu sangat cantik Fai. Tapi aku minta maaf kalau aku belum berhasil membuat kamu tersenyum saat ini.’
Bapak penghulu mencoba mendekati Danar. Beliau sudah tahu bagaimana musibah yang terjadi dan apa yang akan ia tuntun nantinya.
“Assalamualaikum Pak. Saya yang akan menuntun prosesi sakral putri Bapak dengan calonnya. Bapak harus kuat untuk bisa melihat putri Bapak diikat dalam kalimat ijab kabul sang calon mempelai pria.”
Setelahnya, Pak penghulu menatap kedua calon mempelai.
“Pernikahan ini masih berstatus dalam agama saja atau yang sering kita sebut dengan nikah siri. Belum secara hukum, sebab permohonan pernikahan yang dilakukan secara mendadak. Saran saya, setelah pernikahan berlangsung, untuk kedepannya kalian berdua harus segera melakukan isbat nikah. Menunggu terbitnya buku nikah kalian berdua yang juga menunggu pengesahan pada Pengadilan Agama serta Kantor Urusan Agama. Setelahnya, buku nikah yang sudah terbit itu harus dibawa ke Disdukcapil untuk mendapatkan suatu status perkawinan yang sah secara hukum. Bisa dimengerti?”
“Baik Pak.” Al menjawab dengan sigapnya.
__ADS_1
“Siapa yang akan menjadi wali? Karena gak mungkin juga orang tua laki-laki dari calon mempelai wanita yang menjadi wali sebab dalam keadaan sakit.”
“Saya Pak. Saya Fajar, kakak pertama dari Fai.”
“Para saksi?”
“Kami berdua Pak.”
“Ok, baiklah. Kita mulai sekarang.
Fai dan Al dituntun untuk duduk bersanding di hadapan sang penghulu dan Fajar sebagai wali dari Fai. Bagian atas kepala mereka ditutup dengan kain selendang.
“Kita mulai dengan basmalah.”
“Bismillahirrahmanirrahim….”
Al menghembuskan napas beratnya. Ia menegakkan tubuhnya tegap untuk memulai kalimat ijab Kabul yang akan menjadi awal kehidupan barunya bersama Fai nanti. Walau ia tahu, semua ini sebab keterpaksaan bagi Fai.
“Saudara Albian Dirgantara bin Rahmat Alfian Dirgantara, Saya nikahkan dan saya kawinkan Anda dengan Adik kandung saya Faizah Nur Fadhila binti Danar Fahrezi dengan mas kawin berupa seperangkat alat sholat dibayar tunai.”
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Faizah Nur Fadhila binti Damar Fahrezi dengan maskawinnya seperangkat alat sholat dibayar tunai."
"Bagaimana para Saksi.... Sah....?"
"Sah!!" Seruan kedua keluarga yang menyaksikan.
"Alhamdulillah hirobbil alamin...."
Sebuah doa dipanjatkan oleh Bapak penghulu dengan sangat khitmadnya. Al dan Fai sudah larut dalam rasa haru yang mereka rasa saat ini. Namun semua itu berbeda dalam penafsiran hati mereka masing-masing. Al merasa haru sebab ia sudah berhasil melewati kesakralan pernikahan singkat yang ia lakukan. Sedangkan Fai, ia merasa berat menerima semua apa yang sudah ia lakukan. Menikah dengan sosok pria yang tidak ia sukai dan tidak ia sangka sebelumnya.
__ADS_1
Al membalikkan tubuhnya hingga kini ia sudah berada di hadapan Fai yang sedang menunduk. Dengan gerakan ragunya ia membuka kotak cincin yang sudah ia persiapkan sebelumnya. Sepasang cincin perak yang ia pesan secara mendadak dan sedikit ragu dengan ukuran yang sebenarnya. Ia tahu saat ini Fai tengah menangis. Menangis dengan keadaan yang mengecewakan bagi Fai.
Al meraih tangan kiri Fai.
“Semoga pas di jari kamu Fai.” Lirih pelannya.
Memasangkan cincin itu di jari manis Fai. Leganya ia di saat cincin yang telah ia pilih sangat pas di jari manis Fai. Tersenyum dengan tulusnya. Setelahnya, Al menjulurkan tangan kirinya di hadapan Fai. Berharap Fai juga mau memasangkan cincin untuknya. Fai pasrah dan memasangkan cincin itu. Fai masih bingung dengan Al yang kini mengganti tangan kanannya yang terjulur di hadapannya lagi. Menatap datar kedua bola mata Al. Al sendiri memberikan senyumannya.
“Sambut dan salim tangan suami kamu nak Fai!” Tegur Bapak penghulu yang mengerti tindakan Al. Dengan perasaan yang kesal Fai menerima dan mengarahkan tangan Al pada bibirnya. Mengecup dengan singkatnya. Kemudian ia melepas cepat seakan tidak ingin berlama-lama.
Al tersenyum getir. Ia lebih mendekat dan sedikit menundukkan tubuhnya. Ia menangkup wajah Fai dan berakhir mengecup lama dahi Fai seiring dengan doa yang ia panjatkan dalam hatinya.
‘Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.Bimbing aku menjadi suami terbaik untuk istriku saat ini ya Allah. Aku ingin berjanji akan selalu membahagiakannya. Fai wanitaku selamanya sampai ke surgamu ya Allah.’
TIT…. TIT…. TIT…. TIT…. TIT….
“Pa!”
Dokter dan para perawat lainnya bergerak cepat menangani pasien di saat alat pendeteksi jantung berbunyi sangat cepat. Danar mengalami sesak pada dadanya dan lambat laun mengalami penurunan kesadaran. Dengan cepat sang Dokter menyiapkan alat pacu jantung. Mengolesi bagian permukaan alatnya dengan Gel yang memang khusus digunakan.
Semua yang menyaksikan sudah tidak bisa lagi berharap apa-apa. Hanya menangis, meraung memanggil sang Papa.
TITTT……………………………….
“Innalilahi wa innalilahi rojiun. Maaf Buk, kami dari pihak Rumah Sakit sudah semaksimal mungkin mencoba menyelamatkan suami Ibuk. Tapi takdir berkata lain. Kami sangat berbela sungkawa atas wafatnya Bapak Danar, Buk. Untuk sekarang, pihak kami akan mengurus jenazah Bapak dan membawa pulang jenazah Bapak untuk segera disemayamkan. Sekali lagi kami turut berbela sungkawa atas meninggalnya suami Ibuk.”
Kain putih yang hampir menutupi wajah sang Papa, kembali Fai tahan sebab Fai sangat merasa belum percaya dengan apa yang ia hadapi saat ini. Ia sangat tidak menerima kepergian Papanya. Ia merasa belum siap dan masih belum bisa memberikan satu hal indah untuk Papanya.
Seisi ruangan dan seluruh keluarga yang menjenguk sangat terpukul akan kabar buruk yang mereka terima. Fai yang meraung tetap Al coba tenangkan. Ia juga merasa terpukul dengan wafatnya sosok Danar yang baru saja menjadi mertuanya. Pernikahan yang mereka berdua laksanakan benar-benar sebagai harapan terakhir yang ingin Danar saksikan. Melepas putrinya dengan pria yang terbaik menurutnya.
__ADS_1
“Sabar Fai.... Tenangkan diri kamu. Semua ini sudah ketentuan Allah. Allah lebih menyayangi Papa kamu. Aku janji akan menjaga kamu sesuai amanah yang Papa kamu berikan ke aku. Ikhlaskan semuanya Fai….”
Fai seakan lemah dan merasa capek dengan semua isak tangisnya. Dan kini, ia dan seluruh keluarganya sudah menyelesaikan mengemas semua barang-barang yang akan kembali mereka bawa pulang. Menunggu pihak Rumah Sakit membawa jenazah Danar untuk berpulang dan akan segera mereka laksanakan prosesi pemakaman siang ini juga.