
“Apa Mas yakin dengan keputusan Mas ini? Fai sangat tidak cocok dengan Al, Mas.”
“Dari mana kamu bisa menilai seperti itu?”
“Mas lihat dong bagaimana sikapnya tadi. Tidak punya tata krama. Dia memang cantik dan pintar. Tapi minus pada kelakuannya.”
“Itu hanya salah satu caranya untuk membuat kita ragu menjodohkan Al dengannya Buk. Wajar lah. Fai hanya perlu pendekatan dulu dengan Albi.”
“Terus, menurut kamu bagaimana Al? Ibuk tahu kamu itu tidak suka dengan wanita yang minus etika.”
Al yang sedang fokus pada arah jalannya hanya tersenyum hambar saat ia membayangkan kembali bagaimana penolakan Fai terhadap dirinya.
“Al yang lebih tahu apa yang terbaik untuk Al, Buk. Insyaallah kalau memang kita berjodoh pasti ada jalan untuk mempertemukan Al dengan Fai.”
“Jadi maksud kamu, kamu akan menerima saja kalau Fai benar-benar berjodoh dengan kamu? Dia itu gak bisa jadi istri yang baik Al. Keras kepala dan kasar. Akan selalu menjadi sumber pertengkaran kalian nantinya.”
“Sudahlah Buk! Serahkan saja semuanya ke takdir Allah. Dan masalah hati, papa udah serahkan ke kamu Al. Papa akan menepati janji papa kalau inilah usaha terakhir papa mencarikan jodoh untuk kamu.”
Al diam. Ia pulang dengan hati yang patah. Fai menolak untuk didekati. Sebuah kesempatan yang ia harapkan selama ini benar-benar sulit untuk ia dapatkan.
***
“Kamu udah benar-benar keterlaluan Fai!! Kamu udah mempermalukan keluarga kita!!”
“Mempermalukan apa Pa?! Papa yang mulai duluan!! Fai gak suka dengan rencana gila Papa!!”
“Al itu anak yang baik. Ada seseorang yang lebih pantas untuk kamu malah kamu tolak!!”
“Jangan mengusik kehidupan Fai Pa!! Dari dulu sampai sekarang Papa selalu melarang apa yang sebenarnya Fai inginkan.”
“Bagas?! Anak itu yang kamu maksud?! Apa kamu masih belum sadar juga bagaimana keluarga konglomerat mereka itu merendahkan keluarga kita?! Menginjak-injak harga diri kamu Fai!! Apa lagi yang kamu harapkan Fai?!”
Perselisihan sengit yang hanya bisa mereka dengar dari bawah. Fai dan Papanya masih saling mempertahankan ego masing-masing.
“Fadhil…. tolong hentikan mereka! Hiksss…. hiksss…. Mama pusing mendengar pertengkaran seperti ini terus….”
“Biarkan aja Ma! Sesekali Fai harus ditegasin.”
“Tapi berbahaya untuk Papa. Mama gak mau Papa berujung dirawat lagi Fadhil!!”
“Kalau Papa merasa jenuh dengan sikap Fai, jangan lagi mengurusi kehidupan Fai!!!”
BAMMM!!!
Pintu dihantam kuat oleh Fai. Ia tidak memperdulikan lagi keluarganya yang terus menyalahkannya. Ia dengan cepat mengemasi seluruh barang-barang bawaannya.
“Menginap di rumah ini terus saja membuatku stress. Enggak ada satu orang pun yang mengertiku. Mereka hanya bertindak semaunya.”
Tidak berapa lama, suara ketukan pintu dan panggilan dari Flora terdengar. Fai membukanya dan kembali lagi mengemasi barang-barangnya.
“Apa yang kamu lakukan Fai?”
“Aku mau pulang.”
“Jangan seperti ini Fai! Ubah sikap kamu!”
“Ikut aku pulang atau aku pulang sendirian?! Tanpa siapa pun aku masih bisa hidup kak!!”
Flora tidak mau mengambil resiko. Ia mengikuti saja keinginan Fai. Ia juga dengan cepat mengemasi barang barangnya. Dengan berat hati ia meninggalkan kekacauan malam ini.
“Fai! Mau ke mana kamu?!”
__ADS_1
“Ini memang bukan tempatku!! Tolong jangan ada siapa pun yang mengurusi hidupku lagi!!”
“Fai…. Hiksss…. Hiksss…. Jangan seperti Nak…. Jangan pergi lagi dari sini. Mama mohon.”
Fai benci dengan tangisan sang Mama. Ia selalu tidak bisa melihat derai air mata sang Mama yang terus mencoba mengalahkan egonya.
“Fai gak suka dikekang. Fai gak suka dipaksa Ma. Fai udah besar, Fai punya pilihan sendiri. Dari dulu Fai memang terus mempermalukan keluarga ini. Lebih baik Fai pergi dan kalian akan baik-baik aja. Jangan pikirkan Fai. Fai bisa jaga diri dan menentukan pilihan sendiri Ma.”
Melepas cekalan tangan sang Mama. Ia melangkahkan kakinya dengan cepat. Begitu juga dengan Flora yang mengikutinya juga dari belakang.
“Memang benar-benar anak itu!! Jangan pernah lagi kamu menginjakkan rumah ini Fai!!!” Amukan Fadhil sangat kecewa dengan ulah sang Adik.
***
Sudah seminggu terlewati. Fai kembali menyibukkan dirinya dari berbagai aktivitasnya. Ia bekerja sampai tidak mengenal lelah. Semakin lama semua komenan miring mengenai dirinya sudah tak terlihat lagi. Ia merasa damai dengan hidupnya yang sekarang. Bahkan, kini ia telah terpilih menjadi salah satu model produk kosmetik yang lumayan digandrungi anak muda saat ini. Ia juga sudah memiliki 2 orang teman yang akan membantunya mengatur jadwal aktivitasnya setiap harinya serta membantu ia melancarkan kegiatan merekam video-video terbarunya.
“Ok. Nanti kita ketemu di café. Ikuti aja alamat yang akan aku kasih nanti. Jangan lupa bawa semua hasil editan kamu Tom. Aku mau lihat langsung. Kalau sudah sesuai yang aku inginkan, mau langsung aku posting. Kabari Mira untuk juga cepat datang. Jangan sampai telat.”
TIT….
Fai memasuki mobil Grab yang telah ia pesan. Ia menjelaskan alamat yang akan ia tuju. Sang supir pun dengan segera melajukan kemudinya. Sebuah café ternyamannya yang memberikan nuansa ramai pada sepinya. Café yang selalu dipenuhi para pengunjung. Baru beberapa hari ini ia tahu akan tempat ini.
Satu meja ia pesan. Ia datang lebih dulu. Ia memanggil sang waiters dan memesan beberapa menu makanan dan minuman sebelum kedua temannya datang.
“Hai Al…. Akhirnya lo datang juga.”
“Sorry agak telat. Baru selesai.”
“Enggak apa-apa bro. Lo datang ke sini aja udah ngebuat teman-teman ngeband lo senang bro.”
Al membuka tas gitar yang ia bawa. Memang sudah langganan dirinya untuk mengabulkan beberapa keinginan para pengunjung setia pada café ini. Café miliknya dan juga kenalannya. Selain warung makanannya, Al memang menjalin sebuah kerja sama dengan satu temannya. Bisa dibilang dirinyalah yang mengajarkan kepada temannya ini mengenai dunia bisnis yang memang sudah ia geluti secara baik.
“Tambah ramai aja nih café.”
“Hahaha…. Jangan begitu Van.”
“Yaaa…. emang benar kan? Semua ini kan karena otak lo. Lo yang kasih konsep, lo yang kasih masukan dan lo juga yang nyariin beberapa ide makanan yang memang lagi hits saat ini. Dan satu lagi. Wajah ganteng lo ini, jadi jimat para cewek-cewek di sini bro.”
“Istighfar Van. Jangan jadi laki-laki mata keranjang. Wanita itu mudah kepancing.”
“Hahaha…. daya tarik kita harus kuat Al. Supaya gak jomblo muluk.”
Albi terus saja terbahak dengan omongan receh temannya ini. Ia terduduk sebentar pada kursi yang berhadapan pada meja seorang Barista. Ia memesan terlebih dahulu satu kopi kesukaannya. Menunggu semua teman satu band nya berkumpul dan siap untuk membawakan beberapa lagu pilihan.
Lain hal dari Al. Di salah satu ruangan indoor yang tersekat oleh dinding kaca, Fai masih dengan bosannya menunggu kedua temannya untuk datang. Ia sudah mengemil beberapa makanan yang ia pesan. Lambat laun kepala itu mengangguk-angguk mengikuti lantunan lagu yang sangat menarik di pendengarannya. Suara khas dari sang vokalis salah satu band music pada café ini. Sesekali ia ikut menyenandungkan beberapa bait lagu yang ia ketahui.
“Sorry Fai. Kita telat banget. Di jalan terjebak macet.”
“Ok. Intinya gue udah ngehabisin beberapa menu yang gue pesan. Pesan lagi gih!”
“Ok Mbak. Sebentar ya.”
Tomi langsung saja membuka tab yang ia bawa. Ia menyodorkan beberapa file video yang sudah ia edit dengan sempurnanya. Fai memeriksa takut ada sebuah kesalahan yang tak ia inginkan. Senyuman manis pun terpancarkan. Suatu kode bahwa Fai puas dengan hasilnya.
“Ok. Gue suka konsepnya. Langsung gue upload aja deh.”
“Siap Bos. Oh iya Fai, ada lagi nih tawaran pemotretan buat lo. Lo mau gak?”
“Apaan tuh?”
“Produk pakaian. Lumayan ok nih.”
__ADS_1
Fai melihat satu pesan negosiasi Tomi pada salah satu Brand produk pakaian yang ia maksud.
“Cukup menarik. Ok, gue terima kalau memang menjanjikan. Tapi tetap gue butuh jadwal yang tepat. Soalnya lo tahu kan kerjaan gue beberapa hari ini juga numpuk di kantor. Pandai-pandai lah lo cari muka ke mereka.”
“Hahaha…. buset. Lo ngajarin gue main licik muluk.”
“Kalau beberapa Brand makai jasa gue, lo berdua juga kan yang kenyang. Tenang aja Van. Gaji lo bakal gue naikin kalau memang berhasil ngebantu gue.”
“Ok deh buk Bos. Serahin semuanya ke gue. By the Way, nih café keren juga. Nemu dari mana lo?”
“Random aja sih. Menarik dari luar. Iseng aja gue masuk. Nyaman juga.”
“Band nya juga keren. Suaranya bagus ya?”
“Hum. Bolehlah.”
3 jam lebih mereka habiskan waktu untuk membicarakan perihal kerjaan dan obrolan receh. Hingga sudah waktunya pun untuk Fai mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Ia dan kedua temannya beranjak ingin menyudahi tongkrongan mereka. Ia mengambil bill dan menuju bagian kasir untuk membayarnya. Namun tidak berapa lama, seseorang menegurnya.
“Fai?”
Ia berbalik dan tak ia sangka paras pria ini lagi yang ia temui. Fai terdiam sebentar.
“Ini kembaliannya Mbak.”
“Eh, iya. Makasih Mbak.”
Fai memasukkan cepat sisa uangnya pada tas kecil miliknya. Dan dengan cepatnya ia melangkahkan kakinya untuk keluar pada café ini.
“Fai, tunggu!” Mencekal tangan Fai.
“Mau ngapain lagi sih lo?! Lo buntuti gue ya? Kenapa lo ada di sini juga, HAH?!”
Al menyunggingkan senyumannya sekilas menanggapi tuduhan Fai.
“Kalau memang ada kesempatan, aku sering ke café ini. Kebetulan…. ini café milik temanku. Sebenarnya aku gak menyangka akan ketemu kamu di sini. Kamu sama siapa?”
“Bukan urusan lo!!”
“Fai!”
Teguran satu pria yang mengejutkan Al.
“Ayo balik! Bareng gue aja pulangnya. Si Mira udah balik duluan pakai Gojek.”
Al menelisik dengan lekat perawakan pria yang merangkul Fai. Dirinya dan pria itu saling bersitatap.
“Siapa Fai?” Bisik Tomi.
“Bukan siapa-siapa. Ayo pulang!”
“Papa kamu sakit Fai!”
Fai menghentikan langkahnya. Ia mencoba menelaah kalimat yang dilontarkan Al.
“2 hari ini baru aja pulang dari Rumah Sakit. Kamu kapan pulang Fai? Mereka menanyakan kamu.”
Fai berbalik dan mensejajarkan posisi berdirinya ia dan Al.
“Jangan coba-cobanya lo ngebohongin gue.”
“Untuk apa aku berbohong Fai. Perkataan itu adalah doa. Penyakit bukahlah keinginan semua orang. Kalau kamu masih punya rasa perduli dengan Papa kamu, pulang Fai!”
__ADS_1
Fai tidak memperdulikan hal itu. Ia kembali melangkahkan kakinya dan memasuki dirinya pada mobil yang Tomi bawa. Ia menganggap pertemuan dirinya dengan Al adalah sebuah kesialan.