Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Sangat Spesial (Flashback)


__ADS_3

“Ingat! Jangan terlalu larut malam pulangnya!” Tegas sang Papa.


Fai melirik sembari diam-diam menyunggingkan senyum ke arah Fadhil yang sudah sangat tegang rautnya.


“Kalau Fai sih.... ikuti kak Fadhil aja. Kan.... kak Fadhil yang punya rencana.”


“Ekhem! Hmm.... Fadhil dan Fai langsung pamit ya Pa, Ma. Assalamualaikum. Cepetan Fai!”


Fai berusaha menahan kekehannya.


Motor matic milik Fadhil berjalan sedikit mengebut ke arah tujuan sirkuit yang tengah mereka cari menggunakan bantuan penunjuk arah jalan. Fai sedikit ngedumel dengan kerempongan kakaknya yang sama sekali tidak mengetahui tujuan mereka.


“Seharusnya kakak tanya jelas-jelas dong dengan teman kakak itu. Udah begini jadinya susah kan.”


“Sorry Fai.... Ini pertama kalinya kita keluar malam di Jakarta. Lagian, teman kakak sendiri yang mendadak ngajakin kakak malam ini.”


“Siapa sih teman lo itu? Kalau kita kena masalah dalam balap liarnya, apa teman lo itu mau tanggung jawab ke kita? Lo ngelarang-ngelarang gue sok berusaha jadi kakak yang patut untuk dicontoh, tapi buktinya apa? Pergaulan lo lebih berbahaya dari gue.”


“Ck, gak usah bawel deh! Baru malam ini juga kakak minta bantuan ke kamu, udah heboh banget.”


Perseteruan Fadhil dan Fai masih terus berlanjut hingga satu tempat yang sudah dipenuhi berbagai anak-anak muda menghentikan debat mereka. Dari kejauhan saja Fai sudah sangat risih dengan deruan-deruan kencang motor yang terus memekakkan pendengarannya.


“Kakak rasa ini tempatnya Fai.”


Fadhil kembali melajukan motor lebih mendekat ke arah segerombolan anak-anak. Fai termangu dengan pemandangan malam pada tempat yang mereka datangi. Anak-anak Jakarta yang berpenampilan sangat menarik di mata Fai. Mereka berlagak bebas seakan merasa aman dan nyaman. Berbeda dengan dirinya dan Fadhil yang berpenampilan sangat cupu dan culun. Apalagi dengan kacamata miliknya.


BRUMMM!! BRUMMM!! BRUMMM!!


Fadhil dan Fai merasa terkejut dengan suara keras motor yang mendekat ke arah mereka. Dan pandangan orang orang mulai menyadari kehadiran mereka.


“Akhirnya lo datang juga Fad!!”


Fadhil terdiam bingung dengan seseorang yang baru saja turun dari motor gedenya. Masih memakai helm full face nya berjalan mendekat ke arah Fadhil dan Fai. Diikuti oleh beberapa orang lainnya yang berpenampilan sama. Seseorang itu menggantungkan tangannya ingin melakukan sebuah high five ke arah Fadhil. Fadhil hanya menurut saja. Dan Fai kini masih tetap termangu mengamati segerombolan pria yang ia rasa merekalah yang akan menguasai arena ini.


“Ini gue Fad.”


“Al?”


“Iya gue. Lo masih kebingungan karena helm gue ini kan? Hehehe.... sorry.”


Fai termangu lebih lebar dengan sosok pria di hadapan mereka saat ini. Ia tidak menyangka akan kembali dipertemukan dengan pria semenyebalkan seperti Al.


“Lo....!” Dengus geramnya yang tertahan.


Al memberikan senyuman lebarnya ke arah tatapan tajam Fai.


“Aku ikuti cara kamu Al. Dan aku berhasil dapat izin dari orang tua aku. Hihihi....”


‘Kalau gue tahu siapa teman yang lo maksud kak, gue gak bakalan mau ikut. Lagi-lagi gue harus berhadapan dengan nih cowok mesum.’


Fadhil terpaku dengan motor gede milik Al. Ia terkagum dengan penampilan Al malam ini. Walaupun Fadhil sudah sering melihat Al dengan motor gedenya, tapi kali ini ia semakin terkagum dengan apa yang coba Al tampilkan nanti. Berbeda dengan Fai yang terus saja memberikan tatapan sinisnya dan sesekali membuang muka mengacuhkan senyuman manis Al.


“Lo bakalan semakin kagum dengan aksi gue nanti Fad.”


“Wahhhh.... member baru nih?”


Al, Fadhil dan Fai menghentikan interaksi mereka di saat sapaan seseorang menegur mereka.


“Hai Fai!”


Fai tercekat dengan panggilan terhadapnya. Seorang pria yang juga masih menggunakan helm full facenya menyapa dan mengulurkan tangannya.


“Aku Bagas. Mungkin kamu bingung kenapa aku tahu nama kamu. Kamu anggota cherleaders yang aku sukai Fai. Aku dari team basket. Kita harus saling kenal ya.”


“Hai juga kak. Fai.” Membalas uluran tangan dengan senyuman yang sangat sumringahnya. Sebab Fai sangat menyukai dan menghargai siapa saja yang menyukai dirinya dalam team cherleaders yang tengah ia geluti saat ini.


“Ekhem! Lo jangan lupa dengan taruhan kita! 10 menit lagi dimulai.” Melerai keakraban Fai dan Bagas.


“Lo dan Adik lo berdiri di situ ya! Dukung gue Fad!”


“Pasti itu Al. Semoga menang!!” Dukungan semangat dari Fadhil.


Fai yang mulai menyukai area balapan liar ini pun dengan cepat menarik Fadhil agar bisa bergabung dengan penonton lainnya. Walaupun masih sangat asing baginya. Semua teriakan dan sorakan terus terdengar. Beberapa pembalap sudah menyiapkan diri mereka dengan sebaik mungkin. Deruan gas motor yang sangat memekakkan gendang telinga semuanya semakin membuat suasana menjadi lebih riuh. Seorang wanita berpenampilan sexy berjalan berlenggok di tengah para pembalap yang sudah siap dengan motornya. Sembari membawa sebuah bendera kecil sebagai acuan waktu mulai start.


Sekilas Al menatap lurus ke arah sisi berdirinya Fai. Malam ini ia merasa sangat spesial sebab harapan yang ia inginkan benar-benar nyata. Seorang gadis dengan tatapan khasnya selalu membuat Al mati penasaran.

__ADS_1


“Kak Bagas....!!!” Teriakan nyaring Fai yang masih terdengar walau masih samar Al dengar.


Al beralih menatap ke arah sampingnya dimana sosok lawan taruhannya kali ini juga tengah menatap sembari menunjukkan mimik sumringahnya ke arah Fai. Ia sedikit kesal dengan interaksi keduanya seakan sudah sangat dekat. Padahal yang ia tahu perkenalan keduanya masih sangat singkat.


“Go....!!!”


Teriakan keras dari wanita gemulai di tengah-tengah arena sirkuit menyentaknya. Al hampir kehilangan fokusnya. Namun itu semua hanya sebentar sebab ia dengan sigapnya mengubah laju motornya mulai menyalip beberapa lawan. Ia selalu tak pernah ingin terkalahkan.


Teriakan-teriakan penonton lainnya sangat gemuruhnya meneriaki pemilik nama si cowok resek menurut Fai. Bisa dibilang semua orang mendukung penuh kemahiran Al saat ini. Bahkan sang kakak pun juga mendukung penuh Al dengan semangatnya. Sangat membuat Fai kesal. Sekeras apa pun ia meneriaki nama yang lain, tetap tidak berpengaruh apa-apa. Alhasil, ia hanya berdiri sembari menunggu bosan sepanjang durasi acara balap liar itu.


Beberapa menit menunggu, sudah mulai terlihat dari kejauhan siluet cahaya terang motor menyorot ke arah para penonton yang sudah sangat penasarannya siapa pemenangnya malam ini. Fai pun juga begitu. Dengan penasarannya ia menyipitkan kedua matanya seakan memfokuskan pandangannya kali ini. Motor gede hitam yang tak ia sangka ialah pemiliknya. Mulai mendekat ke area garis finish semakin menyemangatkan yang lainnya meneriaki namanya.


“Al.... ayo Al....!!!”


“Albian....!!!”


BRUMMM!! BRUMMM!! BRUMMMM!!!


Sorak sorai semuanya memberi selamat atas kemenangan Al. Al memang lebih dulu mencapai garis finish. Ia terikut bersorak keras melepas kemenangannya yang sudah berulang kali ia dapatkan. Tidak ada satupun orang-orang yang bisa meragukan kemampuan Al selama ini.


Fai sendiri kembali merasa bosan dengan penghujung acaranya. Ia terus mendengus sebal dalam hati. Menyumpah serapah dengan kemenangan yang Al terima. Sampai ia tidak sadar kini di hadapannya sudah berdiri sosok pria yang ia kesalkan. Dengan masih ngos-ngosannya Al masih tetap berusaha memberikan senyumannya ke arah Fai.


“Keren....!! Kamu memang hebat Al. Aku gak nyesal datang ke sini. Kamu jago banget Al. Kesurupan kamu ya? Kok bisa secepat itu kamu mengalahkan yang lainnya padahal yang aku lihat tadi kamu itu hampir ketinggalan jauh dengan yang lainnya.”


“Hahaha.... agak gak fokus tadi. Tapi.... kalian lihat, gue yang menang.”


“Yoi Bro....!! Jadi gimana nih, lo jadi kan traktir kita semua? Janji lo Bro.”


“Hmm.... ok. Khusus malam ini, gue bakal traktir sebanyak-banyaknya untuk kalian semua. Termasuk teman spesial gue malam ini yang udah bela-belain datang untuk ngedukung gue.” Merangkul pundak Fadhil sembari memberikan penyambutan kehadiran Fadhil di hadapan perkumpulan pertemanannya.


“Walaupun gue kalah, gue juga bakal traktir kalian semuanya.”


“Wissss.... ada rival terberat nih. Hahaha....”


“Jangan gitu dong. Walaupun gue kalah lagi dari Al, gue tetap masih mau gabung kalian.”


“Sorry Gas, kali ini lo....”


“Al....!!!”


“Congratulation beb.... Sorry ya.... aku telat hari ini. Tapi kamu tetap the best sih. Tanpa dukungan langsung dari aku kamu tetap bakalan menang Sayang. Pasti kamu khawatir banget kan kenapa dari tadi itu aku belum datang juga. Sorry ya Sayang....”


“Apaan sih lo?! Minggir gak!! Gue gak butuh lo datang. Kegeeran banget sih.”


Semua melepas kekehannya mendengar respon ketus dari Al. Tapi tetap tidak membuat Sisy mundur dari kecentilannya.


Fai sendiri sedikit meringis heran melihat gelagat genit Sisy yang sudah sangat ia kenali kali ini. Kakak kelasnya yang selalu saja bertindak meremehkan dirinya. Salah satu seniornya Fai dalam team cheerleaders yang ia ikuti.


“Wait! Kok.... lo ada di sini?”


Fai mencoba memberikan senyuman hambarnya.


“Enggak usah kepo lo. Gue yang undang mereka. Langsung yuk!”


Sisy ditinggalkan begitu saja dalam keterbingungannya. Moodnya berubah kesal di saat yang lain lebih memperdulikan kehadiran Fai ketimbang dirinya. Padahal, di balik itu semua Fai merasa tidak nyaman.


“Hmm.... kita gak bakalan lama kan? Soalnya kita berdua juga gak bisa lama-lama.”


“Kenapa Bro? Enggak dapat izin dari ortu lo?”


“Anak rumahan itu lebih bagus di rumah aja. Enggak cocok banget ikut gabung kita.”


“Yang lebih gak cocok itu lo Sy. Lo apa gak bosan ngintilin Al muluk?”


Fai menahan kekehannya di saat secara frontal salah satu teman Al menyindir pedas Sisy.


“Enggak usah terlalu perduliin dia. Emang gak ada kapoknya nih anak.”


“Fai.... mau bareng aku gak?”


Al melirik ke arah Bagas yang terang-terangan mulai berusaha mendekati dan menarik perhatian cewek incarannya. Dan semakin kesal melihat Fai seakan merespon dengan ramahnya.


“Fai bareng aku aja. Tugas aku di sini sebagai kakak yang harus menjaga Adiknya.”


“Hahaha.... gagal modus lo Gas.” Tambah ledekan dari yang lainnya.

__ADS_1


Kini, Fai dan Fadhil mengikuti ke mana perkumpulan teman-teman baru mereka. Sebuah cafe yang tak jauh dari tempat awal mereka. Cafe yang bersanding dengan Bar kecil khas anak muda. Fai terpaku dengan ramainya anak anak muda di tempatnya saat ini.


“Ini Al. Lo dapat tiga kali lipat kali ini Bro. Lo janji ke kita bakal traktir apa pun dan sebanyak apa pun kan? Uang lo ini bakal kita habiskan. Hehehe....”


“Terserah lo deh. Gue juga gak terlalu butuh tuh uang.”


Sangat memancing kekesalan Fai dengan keangkuhan yang Al lontarkan.


Mereka dituntun untuk menduduki satu table yang sudah dipilih.


“Kalian berdua ini satu sekolah dengan Al?”


“Dengan gue juga kali. Mereka pindahan dari Bandung. Iya kan?”


“Kok kamu tahu? Bukannya kita baru aja kenal.” Heran Fadhil.


“Gue ikuti Adik lo. Fai. Anak cheerleaders yang saat ini banyak diincar siapa pun. Benar kan? Hebat sih. Bisa secepat itu kamu menandingi senior kamu yang lain termasuk.... si parasit sisy.”


Lagi dan lagi Sisy terpancing emosinya. Semakin membuat ia membenci Fai.


Al yang baru saja selesai memesan semua makanan dan minuman mereka kembali mengambil posisi duduknya berhadapan langsung dengan Fai. Sengaja mencari tempat yang tepat dan berusaha menghindar dari centilnya Sisy. Namun bukan Sisy namanya jika tidak memaksa. Ia terus merengek di hadapan teman di sebelah Al agar ia bisa berdekatan secara langsung dengan prianya.


“Kakak dari kelas mana?” Awal pembicaraan Fai berusaha menghilangkan kecanggungan.


“Aku dari kelas IPS.”


“Oh iya? Berarti kita sama dong kak.” Girangnya Fai.


Hal itu sangat menyebalkan bagi Al. Ia merasakan perbedaan sikap Fai saat berinteraksi dengan dirinya dan juga Bagas.


“Ekhem! Aku sekelas dengan Fadhil. Kelas IPA 1.”


Fai melayangkan kesinisannya di saat Al mencoba ingin memancing obrolan juga.


“Biasanya kalau kelas IPS itu kelas buangan kan? Bagi orang-orang yang lemah akan pelajaran. Hihihi....” Sisy juga ikut dalam obrolan mereka yang malah membuat Fai semakin naik darah.


“Buangan? Kenapa begitu? Setiap jurusan itu mempunyai keunggulannya masing-masing. Emangnya Cuma anak IPA yang selalu bisa maju?”


“Yang terpenting itu dari pribadi diri kitanya sendiri. Apa pun jurusannya, tetap aja kita punya caranya masing masing dalam kemajuan diri kita. Enggak terlalu buruk kok untuk jadi anak IPS.”


Semua mengangguk mengiyakan penjelasan bijak Bagas. Fai tersenyum puas dengan penjelasan Bagas yang terkesan mewakili pendapatnya.


“Cih! Tumben kali ini lo bijak banget. Biasanya mulut lo selalu keluar kalimat-kalimat sampah. Caper.” Dengus Al dengan pelannya walaupun masih saja terdengar oleh lainnya. Yang lainnya hanya terkekeh kecil.


Mereka memakan semua hidangan yang sudah Al pesankan sedari tadi. Obrolan receh mereka sama sekali tidak memancing minat Al kali ini. Tetap saja ia merasa kesal dan hampa di kala ia terus menerus melihat keasikan interaksi Fai dan Bagas. Ia tidak menyangka mereka berdua akan cepat sedekat ini. Harapannya yang ingin dirinyalah yang dapat memperbaiki keakraban dirinya dengan Fai malah berbelok ke Bagas sebagai penghalangnya.


“Makasih banget ya Al dan semuanya. Udah nerima kita berdua dengan baik.”


“Iya Fad. Lain kali kita harus sering-sering keluar bareng lagi. Gue bakal kenali kalian berdua dengan dunia luar.”


“Hahaha.... kurang yakin sih bakal bisa. Tapi, lain kali boleh dicoba sih. Hehehe....”


“Hmm.... gue antar lo berdua pulang ya? Beriringan.”


“Enggak perlu serepot itu juga kali.” Sanggah Fai dengan ketus.


“Terus aku gimana Beb.... Masa aku mesti pulang sendirian sih.”


“Lo kan datangnya juga sendirian. Pulang ya sendirian juga dong.” Sewot Al yang sudah jengah dengan kelakuan Sisy.


“Mending aku aja ya yang antar kalian pulang.” Sahut secara tiba-tiba dari Bagas.


“Eh, enak aja lo. Urusan lo dengan gue belum selesai ya Gas. Lo mesti tepati janji lo dulu ke kita tentang taruhan lo yang kemarin. Jangan berusaha kabur lo. Biarin Al yang antar mereka pulang dan lo masih harus di sini berurusan dengan kita. Dan lo Al, kita tunggu di basecamp ya. Kita tagih nih janjinya Bagas.”


“Yoi Bro. Lo urus dia. Awas aja kalau sampai lo kabur dari gue!” Ancam Al.


Fai dan Fadhil yang masih terlalu polos sangat bingung dengan rencana apa lagi yang akan mereka lakukan Al juga memaksa Sisy untuk cepat menaiki taksi yang sudah ia pesan agar tidak lagi dirinya diikuti oleh cewek parasit seperti Sisy.


“Kalian duluan yang di depan ya. Entar gue kawal dari belakang. Bahaya untuk orang baru seperti kalian di jalanan sepi begini. Takut ada begal.”


“Iya Al. Aku juga masih kurang hafal dengan arah jalanan Jakarta. Seram juga malam-malam begini.”


Fai hanya membisu tidak mempunyai gairah menanggapi semua pancingan obrolan Al.


Sepanjang jalan, Al benar-benar sabar mengendarai laju motornya yang sangat pelan mengikuti tujuan Fadhil. Ia terus terkekeh kecil di saat berulang kali Fai melirik ke arahnya dengan tatapan sinisnya.

__ADS_1


‘Aku tandai kamu Fai. Kamu bisa sebenci itu dengan aku saat ini. Selang beberapa waktu, kamu bakal ngejar ngejar aku sama seperti cewek lainnya. Tapi tenang, aku gak akan mengacuhkan kamu. Justru aku semakin gencar untuk mendekati kamu sampai aku benar-benar mendapatkan kamu. Kamu sangat spesial Fai.’


__ADS_2