Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Rutinitas Pagi Fai


__ADS_3

Fai sudah rapi dengan outfitnya pagi ini. Ia berjalan ke area luar Apartemennya. Sembari menghubungi jasa Grab untuk mengantarnya ke kantor tempat ia bekerja. Fai memang tidak bisa mengendarai kendaraan apapun. Ia sangat takut akan hal itu. Maka dari itu, ke mana pun dia ingin pergi, pasti selalu memerlukan jasa antar jemput secara online.


“Fai, sepagi ini?”


“Iya kak Flo. Takut telat. Kakak kan tahu, Jakarta macetnya seperti apa. Fai gak mau merasakan gaji dipotong.”


“Ya ampun Fai…. Gaji kamu itu sebenarnya bisa beli mobil untuk kamu. Tapi kamunya aja yang terlalu bodoh.”


“Apaan sih kak Flo…. Jangan ngeledin Fai gitu terus deh!” Sebalnya.


“Hahaha…. Sorry Fai. Aku kasihan banget ngelihat kamu yang sekarang. Ke mana-mana harus sendiri. Gak ada supir gratisnya lagi ya Mbak. Hihihi….”


“Kak Flo….! Ihhhh…. Pagi-pagi udah buat kesal Fai aja.”


“Hahaha…. Ampun Mbak. Cepat gih, cari gantinya Bagas. Jangan lupa cari yang lebih tajir dari si Bagas dan cari camer yang bisa ngehargai kasta kita Fai.”


Fai tidak mau lagi menanggapi ocehan Flo. Kalau ia masih betah meladeni, waktunya akan tersita habis. Dan terlambat bukanlah kebiasaannya. Ia sudah menuruni gedung Apartemen ini dengan lift yang beruntungnya belum banyak pengunjung. Ia bisa memakainya dengan leluasa.


Drrrtttt…. Drrrtttt….


“Iya Pak. Ini saya baru turun kok. Tunggu di depan ya Pak.”


Driver Grab yang ia pesan sudah sampai. Ia berlari untuk segera menghampiri mobil Grab yang sudah menunggunya. Memasuki dan mengarahkan arah tujuannya. Mobil itu melaju dengan kecepatan penuh yang Fai inginkan. Padahal keadaan memang masih pagi. Tapi tetap Fai akan selalu merasa takut terlambat pada pekerjaannya.


Mobil Grab yang membawanya sudah berhenti tepat di gedung pencakar langit milik “Agung Sedayu Group”. Fai memberikan ongkos sesuai aplikasi. Setelahnya ia memasuki area gedung pencakar langit itu. Walaupun masih pagi, tetap saja sudah lumayan ramai karyawan-karyawan lainnya yang sudah lebih dulu sebelum kehadiran dirinya. Fai memberikan salam ramahnya. Begitu juga dengan yang lainnya yang memang sudah mengenal sosok Fai. Sosok murah hati, ceria dan smart di pandangan mereka.


“Selamat pagi Ibuk Fai….!”


“Pagi Fai….”


“Selamat pagi si imut Fai….”


Dan masih banyak yang lainnya. Fai membalas dengan lambaian tangan dan senyum yang terus mengembang. Fai terburu-buru berjalan memasuki lift. Ruangan miliknya berada di lantai 12.


“Hai semua!” Sapa Fai setelah ia temukan teman-temannya yang lain.


“Eh, hai Fai. Hari ini gue yang lebih dulu Fai. Hahaha….”


“Ck, jadi gue nih yang mesti traktir kalian?”


“Iya dong Fai. Hahaha….”


“Ya udah deh.” Memasang raut cemberutnya.


“Eh, apaan nih?”


Menarik 1 kotak makanan yang baru saja ia lihat.


“Oh, ini martabak telur kesukaan gue Fai. Dicoba deh! Enak loh. Mereka aja pada ketagihan.”


“Iya Fai. Sering-sering aja deh lo bawain kita nih makanan.”


Fai melirik isi di dalam kotak tersebut. Ia sedikit bingung dan merasa langka dengan makanan di hadapannya.


“Coba aja Fai. Higienis kok. Penjualnya super cakep. Hehehe….”


“Jadi lo doyan dengan makanannya atau si abang-abangnya sih?” Sambung Fai dengan kekehan geli melihat aksi genit temannya.


“Dua-duanya kalau bisa. Hihihi….”


Fai mulai memotong kecil bagian pinggirnya. Mengunyah berulang kali dan menelannya. Rasa asin, manis dan gurih sangat pas dan cocok di lidahnya. Seketika mata Fai berbinar dan menarik lebih dekat kotak makanan yang barusan ia cicipi.


“Mampus lo Fai. Ketagihan juga lo kan? Hihihi….”


“Sumpah sih enak banget. Jujur ini baru pertama kalinya gue coba. 1 kotak ini buat gue aja ya May? Entar gue ganti dengan makanan yang bakal gue traktirin ke lo semuanya.”


“Yaelah Fai, gak asik dong. Paket jumbo buat gue ya?”


“Iya, iya! Dasar gentong.”


Olokan Fai berhasil mengundang tertawaan pada kedua teman akrabnya.


Hari ini, Fai memeriksa terlebih dahulu semua jadwal dirinya yang sudah ia susun sebelumnya dalam buku hariannya. Ia selalu mendapatkan laporan email yang berisi semua susunan jadwal kegiatan dirinya setiap harinya. Semua yang ia lakukan tidak terlepas dari bertemu banyaknya client, kolega yang memang membutuhkan jasa dirinya. Fai bisa dibilang termasuk karyawan teladan dan terbaik dalam staff marketing. Ia yang memang sangat bagus dalam public speakingnya sangat selalu dibutuhkan jasanya dalam memajukan perusahaan tempat ia bekerja.


“Fai. Kita mulai 2 jam lagi ya! Saya mau menyusun dulu semua berkas-berkasnya. Kamu udah sarapan kan? Ini client terbaik kita. Jangan sampai nahan lapar lagi seperti kemarin. Entar kamu tumbang sebelum pertemuan kita berakhir.”


“Siap Pak!” Jawab mantap Fai dengan semangat paginya.


“Uuuuhhhh…. Pak Dimas manis banget kalau ngomongnya sama lo Fai. Coba aja sama kita. Kaku kayak kanebo kering. Hihihi….”


“Apaan sih….? Jangan nganggap yang aneh-aneh deh.”


“Kenapa gak lo ajak jadian aja Fai. Cocok juga kok dengan lo. Si Bagas mah kalah ganteng sama pak Dimas. Hihihi….”


“Nad…. Jangan kembali memancing emosiku sepagi ini!” Ancamnya.


Kedua temannya memberikan senyum akwardnya. Mereka selalu salah saat hati Fai yang masih sakit akan peristiwa memalukan bagi diri Fai.


Waktu yang sudah pas untuk dirinya berangkat ke satu tujuan pertemuannya saat ini. Pak Dimas juga sudah menghubunginya. Ia berjalan cepat ke satu ruang tunggu yang sudah menampilkan sosok pak Dimas dan 3 temannya yang lain.

__ADS_1


“Semuanya udah kamu bawa kan?”


“Udah Pak. Semua berkas yang sudah saya buat, sudah dalam 1 map ini. Dan untuk kalian, semua juga udah aman kan?”


“Udah Fai. Kita udah amankan kamera terbaik kita.”


“Apa gak masalah kan Pak, kalau client kita yang satu ini untuk kita shoot juga?”


“Semua aman Fai. Beliau bersedia untuk kita shoot. Lagian, dia sangat bersemangat setelah tahu kamulah yang akan mempresentasikan beberapa hunian yang sudah masuk dalam daftar pilihannya.”


“Bagus deh Pak. Semoga saya gak melakukan kesalahan.”


“Kamu mah dijamin membawa hoki Fai. Semangat untuk kita.”


“Semangat!!” Teriak semangat mereka.


Sepanjang jalan mereka dalam gedung ini, selalu tidak berhenti memperbincangkan pekerjaan mereka. Hingga satu wanita mencuri pandangannya ke arah Fai yang sedang seriusnya mengobrol dengan sosok pak Dimas.


“Kenapa sih, si Fai tambah lengket aja dengan pak Dimas? Kesal banget.” Gerutuannya.


“Lo semakin kalah saing dengan Fai, Bel. Apalagi, si Fai itu jomblo. Pak Dimas kelihatan banget naksir ke Fai. Pandangannya terus gak berpaling dari Fai.”


“Ihhhh…. Lo bisa diam gak?! Ocehan lo itu semakin bikin gue panas!!”


“Sorry Bel. Gue kan cuma berasumsi.”


Bela menatap tajam ke arah temannya. Ia dibuat semakin kesal.


***


“Memang ya Mat. Kalau udah kangen itu, bawaannya pengin langsung ketemu.”


“Hahaha…. Iya Nar. Baru aja semalam kita ketemu. Eh, sore ini juga kamu langsung menelepon aku dan ngajak aku untuk ketemuan lagi dengan kamu.”


“Hahaha…. Semalam itu aku kurang puas Mat. Oh iya, kapan-kapan bisa nih kita ajak juga anak dan istri kita.”


“Yaaa…. Bakal susah ngebujuk anak-anak kita. Mereka sudah besar. Sudah saling jaim untuk diajak berkumpul keluarga.”


“Iya juga sih. Mereka punya kehidupan sendiri. Oh iya, bagaimana kabar anak tunggalmu Mat? Apa dia masih badung seperti yang dulu sering kamu curhatkan ke aku.”


“Hahaha…. Albian?”


Danar mengangguk mengiyakan. Ia sempat melihat bagaimana rupa putra tunggal Rahmat saat masih berusia 10 tahun. Sosok anak yang enerjik dan sedikit pembangkang.


“Alhamdulillah, baik Nar. Alhamdulillah Albian tumbuh menjadi anak yang membanggakan. Dia sudah berubah. Aku bersyukur banget dengan perubahan drastis putraku. Dulu kamu tahulah bagaimana karakter anakku. Aku kan sering curhat ke kamunya.”


“Iya Mat. Sampai-sampai, kupingku panas mendengar semua keluh kesah kamu.”


“Yaaaa…. Aku sedikit memaklumi karakter putraku. Kehidupan rumah tanggaku dulu sangat mempengaruhi pertumbuhan Albi. Dia menjadi pembangkang, pemarah, selalu berontak, selalu liar dan…. putraku itu hampir mengonsumsi obat-obatan terlarang Nar.”


“Itu waktu yang cukup berat kamu lalui Mat. Anak mana sih yang mau melihat Papa dan Mamanya dalam kekacauan? Apalagi, anakmu itu hanyalah satu-satunya. Ia cuma bisa curhat ke kalian berdua. Tapi, malah ia dapatkan pengalaman buruk dari hancurnya rumah tangga kamu dengan Rania.”


Rahmat menundukkan kepalanya. Ia mengaduk-aduk kopi yang ia pesan. Danar yang melihat itu seketika langsung berusaha mengembalikan raut ceria teman lamanya.


“Mat, sekarang Rania pasti bangga dan bahagia melihat kamu sudah mengikuti harapannya. Dan kamu benar benar berhasil menjadi sosok suami dan ayah yang hebat.”


Rahmat sudah kembali menyunggingkan senyumannya.


“Aku jadi kepingin ketemu dengan anak badungmu itu Mat.”


“Hahaha…. Dia bukan badung lagi Nar. Jangan menyebutnya seperti itu lagi.”


“Hahaha…. Aku masih belum yakin dengan ucapan kamu sebelum aku sendiri yang melihatnya.”


“Ok. Catat kembali hari pertemuan kita berikutnya. Aku akan memperkenalkan kembali sosok putraku dalam versi terbaiknya.”


“Ok. Bisa diatur.”


***


Pulangnya Fai pada aktivitas padatnya, membuat ia sangat kelaparan. Kini, ia sudah berdiri tepat di salah satu gerai makanan yang sempat ia ketahui dari Maya teman satu kantornya.


“Pak, tunggu saya ya! Saya mau mampir sebentar ke toko itu.”


“Baik Neng. Tapi jangan lama-lama ya Neng. Saya mau kejar target hari ini.”


“Tenang Pak. Nanti saya kasih bonus.”


“Ok, siap Neng cantik.”


Fai melangkah pasti memasuki gerai makanan yang berlabel “Warung Bian”.


“Selamat datang Mbak…. eh, mbak Fai?”


“Hihihi…. Iya ini saya. Kenal aja si Mbak ini.”


“Ya saya kenal dong Mbak. Saya ngefans banget dengan Mbaknya. Nanti saya boleh minta foto kan Mbak?”


“Boleh dong. Tapi, jangan berlebihan gini deh! Saya bukan artis terkenal kok.”

__ADS_1


“Tapi Selebgram terkenal Mbak.”


“Hahaha…. Bisa aja kamu.”


“Fai?”


Fai berbalik dan menangkap sosok Papanya yang ada di hadapannya kini. Ia mematung dan kaku.


‘Kenapa bisa ketemu Papa di sini sih? Males banget. Pasti bakalan diceramahin lagi.’


“Ini anak kamu Nar?”


Fai juga sedikit membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan sempurna dengan dua sosok pria paruh baya di hadapannya ini.


“Iya Mat. Ini putriku. Namanya Faizah. Faizah, ini teman lama Papa. Om Rahmat.”


Fai yang memang sedikit tahu tata krama, menundukkan kepalanya dan meraih tangan itu untuk ia salami secara santunnya.


“Fai Om.”


“Om Rahmat. Cantik putri kamu Nar. Ini…. anak terakhir kamu kan? Yang dulu pernah kamu tunjukkan foto masa kecilnya padaku dulu. Aku masih menyimpan semua kiriman foto-foto lama keluarga bahagia kamu Nar.”


Fai merasa kikuk diantara kedua pria paruh baya ini. Ia sampai lupa untuk memesan apa yang ingin ia pesan.


“Iya Mat. Kamu udah pulang kerja?”


“U-udah Pa.”


“Kerja di mana? Aku kira dia masih pelajar Nar.”


“Hahaha…. Bisa aja nih Om. Umur Fai udah tua kok Om.” Sedikit nimbrung dengan obrolan kedua pria di hadapannya ini. Walau kecanggungan yang ia rasa.


“Kelihatannya…. cocok dengan putraku Nar.” Bisik Rahmat tepat di telinga Danar, papa Fai. Fai hanya bingung dengan tatapan menelisik teman Papanya ini.


“Hahaha…. Apa kamu yakin? Jangan bercanda seperti ini Mat. Kamu akan menyesal nantinya.” Membalas dengan juga berbisik.


“Oh iya, nak Faizah. Kebetulan ini tokonya anak Om. Makasih loh udah mau mampir. Pasti kamu mau memesan sesuatu kan?” Tanya Rahmat.


“Hmm…. Iya Om. Fai jadi lupa dengan tujuan Fai. Hehehe….”


“Ok. Pesan semuanya apa yang kamu inginkan. Biar om yang bayar.”


“Eh, enggak usah Om! Fai memang udah niat mau memesan sendiri.”


“Udah, gak usah sungkan seperti ini. Anggap ini sebagai simbol awal perkenalan kita.”


Fai tidak bisa melarang lagi setelah teman Papanya itu langsung saja memesan beberapa makanan untuknya. Ia semakin merasa tidak enak hati.


“Kapan kamu mau pulang? Merasa udah gak punya keluarga lagi?”


Fai memutar kedua bola matanya dengan bosan. Perdebatan akan kembali dimulai.


“Pa…. Fai masih sibuk dengan kerjaan Fai. Bukan cuma masalah di kantor Fai aja. Barang-barang endorsan Fai masih banyak numpuk di Apart Fai Pa. Bakal repot kalau dibawa pulang.”


“Cih! Dari dulu itu aja alasan kamu.”


“Pa….”


“Mbak Fai…. Ini pesanan mbak Fai. Boleh sekalian minta fotonya kan Mbak?”


“Eh, iya boleh kok.”


Fai langsung mengikuti arahan sang pelayan yang mencari spot terbaik dalam pengambilan gambarnya. Rahmat bingung dengan para karyawan putranya meminta berulang kali berfoto dengan Fai anak dari teman lamanya.


“Anakku Selebgram. Jangan bingung begitu Mat. Begitu deh, kalau ke mana-mana sama Fai. Selalu aja ada yang meminta foto lah, tanda tangan lah. Udah kayak artis terkenal aja.”


“Hahaha…. Seharusnya kamu bangga dong Nar. Anak kamu banyak disukai.”


“Cih! Kamu gak tahu aja bagaimana sifat aslinya. Semua itu hanya kepalsuan.”


“Maksud kamu apa sih? Jangan suka ngatain anak sendiri loh. Nanti kualat kamu.”


Temu fans dari Fai sudah berakhir. Fai pun kembali pada posisi berdirinya Papa dan teman Papanya.


“Om, terimakasih ya Om. Fai bakalan ngebuat warung anak Om laku keras. Hihihi….”


“Rezeki itu Allah yang mengatur bukan kamu. Jangan dipercaya nih anak.”


“Pa….!”


“Hahaha…. Sepertinya kalian berdua ini sangat tidak bersahabat. Jangan begitu Nar! Putri cantik kamu ini sangat menuruni karakter asli kamu. Sangat baik, ramah dan pandai menarik perhatian orang. Om juga berterimakasih kamu sudah mau mampir di warungnya anak om. Sayang banget, anak om lagi gak di sini. Kalau ada kan…. bisa langsung dikenalin ke kamu.”


Fai sedikit menyunggingkan senyum hambarnya. Ia mencium hal-hal tidak menyenangkan untuknya.


“Kapan-kapan deh ya Nar. Kita harus mengatur pertemuan kembali dan aku akan membawa anak serta istriku. Dan harus berkenalan dengan putri imut kamu ini. Anakku sangat butuh pendamping. Hehehe….”


“Hahaha…. Insyaallah Mat. Atur saja kapan waktunya.”


“Hmm…. Om, Pa, Fai mau langsung pamit ya. Kasihan Bapak Grabnya. Udah nungguin Fai dari tadi.”

__ADS_1


Fai menyalim kembali tangan teman Papanya serta Papanya. Ia tidak mau dicap sebagai anak yang tidak punya sopan santun di hadapan Papanya. Dan segera memilih kabur di saat ia terus saja mendapatkan pembahasan yang tidak nyaman baginya.


__ADS_2