Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Dunia Terlalu Sempit


__ADS_3

Senyuman manis dari sang pria tampan terus terukir. Di hadapan cermin ia sibuk mencukur sedikit kumis dan merapikan sedikit rambut. Memagut dirinya yang sudah terlihat lebih fresh dari sebelumnya. Beralih dari kamar mandi. Ia berjalan menuju arah lemari miliknya. Membuka dan menyibak satu persatu pakaian yang cocok ia pakai pada malam ini.


Sebuah kemeja putih berlengan pendek ia padupadankan dengan celana bahan creamnya. Ia juga memilih sneakers sebagai alas kakinya. Ia pakai dan kembali merapikan penampilannya. Memasukkan kemejanya pada celana bahan yang ia pakai. Menyisir dan mengoleskan Gel pada rambutnya. Menyemprotkan parfum untuk memberikan kesan maskulin pada dirinya.


“Assalamualaikum. Wawww…. Penampilan yang berbeda dari sebelumnya. Lebih terlihat rapi dan seperti sudah siap untuk bertemu langsung dengan calon permaisuri. Benar begitu toh Nduk?”


“Waalaikumsalam. Enggak ada salahnya kan Buk berpenampilan seperti ini? Penampilan yang bersih dan rapi itu cerminan dari diri kita Buk.”


“Alahhh…. alasan. Bilang aja kamu pengen terlihat menawan di hadapan putri om Danar. Ibuk punya feeling yang kuat. Kamu tertarik toh dengan anaknya om Danar? Masa baru lihat dari fotonya saja kamu bisa langsung sesemangat ini. Berbeda dengan perjodohan kamu sebelumnya. Acuh, cuek dan berpenampilan biasa saja.”


Al menggaruk tengkuknya dengan raut yang menahan malu. Belum ada yang tahu bahwa dirinya sudah sangat mengenali Fai. Ia ingin pertemuan malam ini akan berjalan baik dan mengalir begitu saja. Tapi ia kurang yakin bagaimana nantinya ia bisa menahan rasa gugupnya. Fai memang berbeda dari wanita mana pun.


~ Kediaman Orang Tua Fai


Fai kebingungan dengan semua orang-orang yang ada di rumah. Rumah bersih dan tertata rapi. Menu makanan sudah banyak yang terhidang. Dan kini dirinya juga terus dipaksa untuk berpenampilan anggun. Flora lah yang menjadi fashion stylist nya kali ini. Melulur dan menyiapkan apa saja yang harus ia pakai nanti.


“Ada apa sih kak? Kenapa semuanya pada heboh banget. Siapa yang mau datang sih? Sampai semua orang serepot ini.”


“Jangan banyak tanya Fai. Nurut aja malam ini. Bersikap anggun dan ramah.”


“Huffftttt…. Ok.”


Langit senja sudah berganti kelam. Semua sudah siap untuk menunggu kehadiran sang tamu spesial. Menduduki ruang keluarga sekadar menghilangkan kebosanan.


“Fadhil penasaran banget siapa yang akan dijodohkan dengan Fai.”


“Lihat saja nanti. Kalau Papa kasih tahu sekarang, bukan kejutan namanya.”


“Emangnya Papa yakin banget Fai bakal nerima rencana Papa ini?”


“Tidak usah dipikirkan hal itu. Fai memang keras kepala. Banyak cara yang Fai lakukan. Tapi Papa akan lebih banyak lagi cara agar Fai mau menuruti rencana Papa ini.”


“Tapi kita tetap harus menilai pria yang dijodohkan dengan Fai Pa. Jangan asal menerima saja.”


“Iya Om. Jangan sampai Fai merasakan rasa sakit untuk yang kedua kalinya.” Pungkas Ayla.


Danar terpikir kembali bagaimana malunya ia dan keluarganya menerima semua gunjingan orang-orang mengenai putrinya. Cinta ditolak sebab kasta. Dari dulu Danar juga tidak menyetujui hubungan lama Fai. Tapi tetap saja Fai melanggar aturan itu. Dan sekarang, jika memang pria yang ingin ia kenali dengan Fai ini benar-benar anak baik baik sesuai harapannya, ia tidak akan menolak untuk menjodohkan Fai dengan putra sahabatnya.


“Assalamualaikum….”


“Pa, sepertinya itu mereka.”


Sontak Danar langsung berdiri dan bergegas melangkah ke arah pintu utama. Begitu juga dengan yang lainnya yang juga ingin menjamu tamu mereka.


“Waalaikumsalam…. Rahmat….! Akhirnya sampai juga kamu.”

__ADS_1


“Hahaha…. Untung saja aku tidak tersesat. Berkat penunjuk arah dan putraku ini Danar.”


“Om.” Membungkuk dan menyalami dengan santun tangan Danar.


“Al?!” Suara lantang Fadhil mengejutkan semuanya.


Al yang mendapati reaksi Fadhil kini tersenyum manis menyapa teman lamanya. Pandangan orang-orang pun terikut terheran dengan interaksi keduanya.


“Gila…. Jadi kamu yang bakalan dijodohkan dengan Fai? Dia Pa?”


Danar mengangguk sebagai jawaban.


“Kalian sudah saling mengenal?” Tanya heran Rahmat mewakili semuanya yang bingung.


“Iya Om. Kita mah udah temenan lama. Teman semasa SMA. Teman akrab saya dulu Om. Al kan juga pernah ke sini Pa. Papa masa lupa sih?”


“Hmm…. apa iya ya? Papa lupa Fad.”


Fadhil tidak memperdulikan lainnya. Ia menarik tangan Al dan memeluk erat meluapkan rasa rindunya. Setelah dimana mereka lulus, Al langsung dipindahkan ke satu kota yang ia tahu kabarnya bahwa Al tengah mondok di salah satu pesantren. Al ialah teman yang dulu sangat menerimanya dengan baik. Mereka akrab dan terus bersama. Dan kini, mereka dipertemukan kembali. Sungguh hal yang tidak terduga dipikiran Fadhil.


“Udah dong Sayang. Izinkan tamu kita untuk masuk. Kamu ini gimana sih?”


Fadhil melerai pelukannya. Dan setelahnya….


“Aw! Kok kamu berubah jadi kasar begini sih Fad?!”


“Hahaha…. Aku masih gak menyangka dengan pertemuan kita ini. Udah lama menghilang dan kini kamu datang lagi dalam niatan…. Tunggu! Ini benar rencana orang tua kita atau rencana licik kamu Al? Kamu benar-benar nekat ingin mendekati Adikku lagi.”


“Hahaha…. Aku rasa dunia ini terlalu sempit untuk kita Fad. Doakan saja agar semuanya berjalan lancar.”


“Gila…. Aku masih belum percaya dengan semua ini. Ayo masuk!”


Fai yang masih di dalam kamar hanya menunggu dengan sesekali menguping pembicaraan orang-orang rumahnya. Ia sangat mati penasaran dengan apa yang terjadi. Sampai sekarang ia belum diperbolehkan oleh Flora untuk turun.


“Masih belum ya kak?”


“Belum Fai. Ditunggu aja. Tunggu perintah dari Mama kamu.”


“Aneh banget. Lama-lama Fai bisa ketiduran nih kak.”


“Hahaha…. Jangan dong. Kasihan tamu spesial kita.”


“Terus kenapa Fai harus disembunyikan kayak begini sih? Apa salahnya kita langsung turun aja kak.”


“Udah deh Fai…. Jangan bawel. Duduk manis aja dulu!”

__ADS_1


Tok…. Tok…. Tok….


Pintu kamar Fai diketuk. Dan Fai yang lebih dulu membuka daripada Flora.


“Sekarang Fai udah boleh turun kan Ma? Boring banget di sini. Lagian siapa sih Ma yang datang?”


“Cantik banget anak mama malam ini.”


“Baru tahu ya anaknya secantik ini.”


“Berkat siapa dulu dong yang merias Fai?”


“Hahaha…. Ya udah. Sekarang Fai dan Flora sudah bisa turun ke bawah. Tamu kita udah dari tadi datang.”


Fai dan Flora mulai meninggalkan area kamar. Fai dituntun berjalan beriringan dengan sang Mama. Ia benar-benar bingung dengan suasana malam ini yang banyak menyimpan pertanyaan-pertanyaan pada kepalanya.


“Ini dia putriku. Faizah Nur Fadhila.”


Perlahan Fai mengangkat kepalanya yang semula menunduk. Ia juga menyunggingkan senyuman ramahnya. Memandangi seluruh tamu spesial sesuai ungkapan mereka. Namun setelahnya, senyuman itu menghilang di saat kedua bola matanya menangkap paras pria yang sangat ia kenali. Pria brengsek yang ia benci dan bahkan paras itu juga yang baru saja kemarin datang dalam alam mimpinya.


“Lo?!” Termangu dengan apa yang ia lihat.


“Ngapain lo ada di sini brengsek?!”


Semua mata terfokus saat setelah kalimat kasar dari mulut Fai. Dina pun terkejut dengan reaksi sang anak. Ia sedikit mencubit pinggang Fai sebagai pengingat untuk menjaga sikap. Fai tidak memperdulikan hal itu.


Ia berjalan cepat dan sudah berdiri tepat di hadapan Al. Al hanya terus tersenyum sebab ia terpaku dengan keanggunan Fai.


“Ngapain lo datang ke sini?! Cih! Gila ya, bisa-bisanya gue ngelihat muka lo lagi buaya darat!!!”


“Fai….!” Flora berjalan cepat dan berusaha memperingati Fai untuk bersikap sopan.


Flora, Dina, Danar dan Fadhil merasa terancam dengan sikap tidak sopannya Fai saat ini. Berulang kali Flora merapalkan ke telinga Fai untuk mengontrol emosi. Dan hal itu sudah berhasil menyadarkan Fai kembali. Kini, ia tengah malu ditatap cengo oleh kedua pasangan paruh baya yang belum ia kenali.


“Hmm…. Tenang Om, Tante. F-Fai…. memang seperti itu. Terkadang, Fai suka bersikap aneh di hadapan orang banyak. Hmm…. karena gugup. Sini Fai…. duduk!” Perintahan Fadhil dengan kata-kata penuh penekanan. Fai menjadi salah tingkah. Ia tidak bisa mengontrol emosinya.


Fadhil mengeratkan rengkuhan tangannya pada pinggang Fai dan sedikit mencubit kecil pinggang sang Adik.


“Apaan sih kak? Sakit tahu!” Geram pelannya.


“Jangan bego Fai…. Jaga sikap! Jangan bar-bar kayak tadi….!”


Fai menajamkan matanya sebab ia tidak suka dengan kalimat Fadhil. Ia melepas kontrol emosinya sebab dirinya terkejut dengan kehadiran pria brengsek semasa jenjang SMA nya dulu. Dan paras itu tetap saja tersenyum ke arah dirinya.


‘Dunia terlalu sempit mempertemukan gue dengan lo brengsek.’

__ADS_1


__ADS_2