Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Terkenang


__ADS_3

CITTT….!


Mobil Honda Brio Merah milik Flora sudah berhenti tepat di depan sebuah club yang sering kali Fai kunjungi. Ia memasang wajah memelasnya. Tapi Fai hanya memberikan kekehannya.


“Fai…. aku benar-benar gak mau dapat amukan dari Papa kamu!”


“Hahaha…. Kenapa sih kalian pada takut banget dengan Papa? Yang paling terpenting, di sini gak ada Papa. Buat apa coba takut? Kecuali kalau kakak yang sengaja mengadukan kelakuanku.”


“Kalau kakak juga ikut dengan kamu, aku sih gak berani mengadu Fai.”


“Dasar licik.”


“Hahaha....”


Fai menarik paksa Flora untuk segera memasuki ranah neraka jahanam para anak-anak muda berpesta alkohol. Tabiat Fai dari dulu hingga sekarang tidak pernah berubah. Ia memilih untuk hidup sendiri sebab ia selalu mendapat kekangan dari keluarganya. Baginya, setelah ia sudah tumbuh dewasa tidak ada perlu lagi yang diawasi. Ia merasa berhak untuk mendapatkan kebahagiaannya.


Flora memang sama seperti Fai. Tapi ia sudah mulai sadar akan hal gila semasa mudanya dulu. Kini ia ingin mengurangi kebiasaan buruknya dulu. Ia mempunyai suatu trauma yang pernah ia alami. Mabuk-mabukan hingga ia tidak sadar diperalat oleh teman pria bejatnya. Kehidupannya hancur setelah ia tahu bahwa ia sempat mengandung. Mengandung anak di luar nikah. Ia diusir dari keluarganya. Dan berusaha bangkit sendiri. Hingga sekarang ia benar-benar hidup dalam kemandiriannya. Namun, kehadiran Fai malah membuat dirinya kembali masuk dalam kubangan liar lagi.


“Hai Fai….! Baru kembali dari persembunyian lo selama ini?” Sapa seorang Bartender yang sudah sangat mengenali Fai.


Fai memutar kedua bola matanya dengan sapaan penuh olokan yang tersirat. Dan Flo malah memberikan kekehannya yang juga sedikit meledek Fai.


“Jangan ikut-ikutan meledekku kak!”


“Sorry Fai. Bukan maksud gue untuk ngeledek lo. Cuma…. gue jadi bingung kalau lo gak datang. Lo itu udah gue anggap kayak jimat gue. Lo datang ke sini, selalu bisa meramaikan nih club. Orang-orang pasti selalu nanyain lo Fai.”


“Oh ya? Gue emang ratunya di club lo Cell.” Mengibaskan helaian rambutnya dengan angkuh.


Flo sejenak bergidik ngeri dengan tingkat kepedean Fai. Tapi bisa ia akui bahwa Fai ini selebgram yang cukup digandrungi para followersnya.


“Lo mau pesan apa nih Fai? Dan…. Kakak manis ini, mau pesan apa?”


“Sama kak Flo aja lo berubah manis gini. Sama gue, seenak jidat lo kalau ngomong.”


“Hahaha…. jangan cemburu gitu dong Fai. Lagian…. Mas-mas ini bukan tipe aku kok.”


Sang Bartender terlihat memberikan raut murungnya. Namun, tidak terlalu kentara. Memang sudah beberapa kali ini perjumpaannya dengan sosok Flora. Ia menyukai karakter Flo yang tangguh. Tapi ia rasa, Flora tidak menyukainya. Jadi, ia seberusaha mungkin menyembunyikan perasaannya.


“Ok Cell. Gue pesan Vodka. Untuk kak Flo…. gue pesanin Tequila Sunrise.”


“Ok, siap Fai.”


Tangan sang Bartender menjadi pusat perhatian sementara Fai yang mulai termenung. Memasuki area club selalu bisa mengembalikan kenangan-kenangan manisnya bersama Bagas.


Flashback On


“Kenapa kamu bawa aku ke sini Gas?”


“Hahaha…. tenang aja Sayang. Ini gak semenyeramkan yang kamu kira. Ini tempat terbaik untuk menghilangkan rasa lelah kita Sayang.”


“Tapi aku gak biasa ada di sini. Dan kalau Papaku tahu atau kak Fadhil tahu, aku bisa dimarahi habis-habisan Gas.”


“Udahlah Fai. Ini juga kita jadikan sebagai perayaan hari jadian kalian berdua.”


“Iya benar banget. Kalau lo jadi pacarnya Bagas, lo harus masuk juga dengan perkumpulan kita. Lo harus terbiasa dengan have fun kita Fai.”


“Yuhuuuu….!!”


Fai menatap horor dengan obrolan mereka. Di tempat ini, Fai masih terlalu polos. Sering kali ia melihat hal-hal menyeramkan anak-anak lainnya yang dengan bebasnya beraktivitas tidak senonoh di hadapannya. Berbotol-botol minuman alkohol juga sudah tersaji di hadapannya. Ia melihat juga bagaimana taman-teman barunya ini menenggak habis minuman keras itu.

__ADS_1


“Lo harus coba ini Fai!” Satu teman perempuannya menyodorkan 1 botol minuman alkohol miliknya.


Sekilas Fai menggeleng cepat. Ia semakin merasa takut berada di kumpulan teman-teman barunya.”


“Ayolah Sayang…. Cuma sedikit aja deh. Kamu lihat nih! Aku akan menghabiskan 2 botol ini dalam satu tarikan napas. Aku jadikan ini sebagai penyambutan pacar baruku di hadapan teman-temannya kita Sayang.”


“Iya Fai, ayo Fai….”


“Kalau dianya gak mau, jangan dipaksa!!”


Semua menatap tidak suka ke arah satu teman laki-laki mereka. Begitu juga dengan Bagas yang menatap tajam ke arah teman sekaligus rivalnya saat ini.


“Bukan urusan lo Al! Dia pacar gue, bukan milik lo. Gak ada siapapun yang ikut campur hubungan gue dengan Fai.”


Al yang sedari tadi tidak suka dengan kehebohan perkumpulan teman-temannya ini, hanya diam dan menikmati saja semua jamahan 1 wanita kenalannya pada tubuhnya.


“Kamu benar-benar tidak menghargaiku Fai. Aku sudah mentraktir mereka, tapi kamu sangat mengecewakan aku malam ini.”


Fai menggelengkan kepalanya tidak suka dengan pengungkapan kecewa Bagas. Ia pun dengan berat hati memegang botol yang sudah berada di hadapannya. Sejenak ia menatap serius ke arah semuanya yang sudah menunggu aksinya. Dengan helaan napas pasrah, ia mulai mendekatkan bibir itu dan sudah menunggingkan botol itu hingga rongga mulutnya menerima aliran cairan minuman yang pahit, beraroma sangat tajam dan sangat membuat tenggorokannya terbakar dengan sensasi yang ia terima.


PROK! PROK! PROK!


Tepukan tangan bergema berbarengan dengan sorak histeris mereka di saat pertama kalinya Fai merasakan minuman beralkohol.


Flashback Off


 Flora menyikut keterdiaman Fai. Fai tersentak dan kembali mewaraskan dirinya.


“Kenapa lagi Fai?”


“Enggak ada kak. Cuma mengingat lagi saat-saat pertama kali aku datang ke club. Aku tahu semua minuman ini, semua karena Bagas. Dia yang membawaku dan mengenaliku tempat-tempat seperti ini.”


“Huffftttt…. Kenapa selalu orang yang kita sayangi, selalu membawa pengaruh buruk ya?”


“Maksudnya apaan sih kak?”


“Kita ini sama-sama korban Fai. Kamu lihat dong, kehidupan buruk kita. Kamu tahu hal ini karena Bagas, cinta pertama kamu. Dan aku…. kamu tahu kan bagaimana kehidupanku yang dulu. Sama persis seperti kamu. Aku yang polos berpacaran dengan cowok brengsek seperti Alex. Dia memberikan keyakinan kepadaku bahwa aku akan baik-baik aja, aku akan terlindungi dari dirinya. Tapi yang ada…. dia menjebakku. Dia merenggut sesuatu yang ku jaga. Setelah semua kesialan itu menimpaku, dia membuangku. Dia menatap jijik denganku. Padahal, aku begitu sebab dirinya. Sebab dirinya yang jahat dan bejat.”


Fai menatap sendu dengan kembalinya Flora membahas masa lalu Flora. Ia tahu cerita itu.


“Aku jadi terpaksa membuang janin dalam perutku Fai. Dia yang gak berdosa menjadi pelampiasanku. Aku udah sejahat itu. Maka dari itu Fai…. aku takut banget dengan kamunya yang belum juga mau berhenti dari dunia malam kamu ini. Kamu beruntung Bagas tidak sempat menjebak kamu. Kamu beruntung masih bisa menjaga diri kamu dengan baik. Tapi please Fai…. dengarkan nasihat keluarga kamu.”


Fai berdecih sebentar. Ia kembali mendapatkan wejangan-wejangan dari Flora yang sudah sangat bosan ia dengar.


“Kak Flo, aku ini bisa menjaga diri. Buktinya, kakak lihat sendiri kan, aku baik-baik aja. Bagas benar-benar menjaga batasannya selama kita berpacaran. Yaaa…. Walaupun, ciuman tidak pernah terelakkan. Tapi tetap, Fai akan melarang keras dirinya untuk menjamah tubuh Fai yang lainnya. Dia…. memang pengaruh buruk untuk Fai, tapi dia yang mengenalkan cinta ke Fai kak. Bagas juga baik, dia menyayangi Fai. Tapi semua hilang sebab Mommy dan juga kak Saras. Mereka sangat menentang dan menghinaku kak.”


“Itu cinta terlarang namanya. Untuk mendapatkan sebuah restu itu memang gak gampang Fai. Mau sesuci dan setulus apapun cinta yang kalian jalani, tetap masih ada tembok tinggi yang harus kalian lewati. Restu. Restu kedua orang tua kalian. Dan jangan pernah memaksa itu Fai. Dosa dan gak akan tenang selamanya.”


Fai kembali menghela napas beratnya di kala ia terus mengingat moment-moment penolakan yang terus ia terima dari keluarga Bagas. Ia selalu dicap wanita matre yang mengincar Bagas sebab harta kekayaannya. Sungguh itu semua bukan tujuannya. Ia menjalani hubungan dengan Bagas real dari hatinya.


Fai pun menenggak habis segelas minuman Vodka miliknya. Menyamarkan rasa hati yang patah sangat sulit Fai lakukan. Bahkan saat ini, Fai kembali menumpuhkan rasa sedihnya.


“Fai….” Usapan lembut dari tangan kak Flo semakin membuat Fai terisak.


“8 tahun itu gak mudah buat Fai kak. Gak mudah untuk ngelupain itu semua dengan cepat. Fai gak tahu harus gimana. Huffftttt….”


“8 tahun selalu putus nyambung, banyak masalah dan titik utama permasalahan kalian memang soal restu kan


Untuk apa yang perlu diragukan lagi Fai? Hubungan gak sehat, akan membuat kamu capek. Kamu masih bisa dapatin pria baik, pria tulus dan tidak memandang apapun itu pasti ada Fai. Kamu harus keluar dari masa lalu kamu. 8 tahun terus putus nyambung itu udah cukup untuk meyakinkan ke hati kamu kalau hubungan kalian gak bisa sejauh apapun lagi.”

__ADS_1


Fai menatap nanar ke arah Flora. Ia sesak dengan mata yang sudah sembab. Flora tahu apa yang dirasakan Fai. Ia tidak ingin Fai juga merasakan cinta sia-sia seperti dirinya. Ia tidak mau melihat Fai akan trauma dengan cinta yang selama ini ia jalani. Fai harus keluar dari toxic relationship yang ia jalani ini. Pelukan dan elusan penuh kehangatan dari Flo berangsur-angsur menenangkan kesedihan Fai.


***


“Fai! Fai, tunggu!”


“Huffftttt…. Apa lagi sih kak? Jangan kejar-kejar Fai terus kayak gini dong kak! Fai malu dilihatin yang lainnya….”


“Aku gak akan berhenti ngikutin kamu kalau kamunya sendiri masih terus aja berusaha hilang dari aku.”


Fai masih bingung dengan kakak kelasnya ini yang sudah berulang kalinya mengejar dan mengikuti ke mana pun ia pergi. Namanya Bagas. Kakak kelas angkatan terakhir yang terus mengincarnya. Ia sangat risih dengan aksi kakak kelasnya ini. Tapi, tidak dipungkiri oleh Fai bahwa ia sangat terpesona dengan aksi beraninya yang sangat terlihat menggemaskan. Ia sendiri masih bingung bagaimana bisa ia dikejar-kejar oleh kakak kelas yang notabane nya ialah salah satu cowok terkenal di sekolah baru yang baru saja ia coba untuk beradaptasi.


“Fai, aku benar-benar serius mau ungkapin hal ini ke kamu. Masa bodoh dengan omongan anak-anak lain yang menilai buruk tentang kita. Tolong jangan dipikirkan Fai! Aku…. suka sama kamu. Aku kamu kita jadian. Kamu mau ya jadi pacar aku. Please….!”


Fai memijat pelipisnya dengan gusar. Ia di hadapkan dengan keterbingungan.


“Fai, itu…. di tangan kamu apa?”


Bagas menunjuk arah satu benda pada genggaman Fai dengan rasa penasarannya. Fai yang ditanya pun mengikuti arah unjuk Bagas. Satu kotak cokelat yang ia juga belum tahu isinya apa. Beberapa hari lalu ia memang selalu mendapatkan beberapa kotak cokelat yang di dalamnya bukan hanya sebuah cokelat. Tapi ada satu barang lainnya yang selalu saja membuat ia suka untuk mengoleksinya.


“Hmm…. Fai juga gak tahu. Fai selalu dapat di dalam tas Fai. Penggemar rahasia mungkin.” Mengedikkan bahunya.


“Ada namanya? Siapa yang kasih? Pasti ada namanya Fai.”


“Apaan sih kak? Enggak ada kok.”


“Ya kalau gak ada, dibuang aja kali Fai.”


“Eh, enak aja. Enggak lah. Ini kan buat Fai. Fai simpan dong.”


“Huffftttt…. Bodoh amat. Sekarang apa jawaban kamu Fai? Jawaban kamu mengenai hatiku, hum?”


Fai melirik ke seluruh penjuru area sekolahnya. Memang hanya ia dan Bagas di tempat itu. Fai menimbang dengan sangat telitinya.


‘Kak Bagas orangnya ganteng, lumayan cool dan…. Tapi gimana aku selanjutnya? Yang lain pasti pada heboh banget dan aku pasti akan terus disalahin. Apalagi gengnya kak Vanes. Mereka bakal cap aku cewek apaan? Kak Bagas terlalu tinggi di atas aku. Tapi…. aku juga suka.’


“Fai!”


“Eh iya kak Fai mau! Eh…. bu-bukan….”


“Fai!! Thank You my baby….!! Aku senang banget kamu benar-benar terima aku Fai….” Teriak girang Bagas pada jawaban spontan Fai.


BUGHHH!


“Aw!”


“Kak Bagas!!”


Fai menatap satu bola basket yang menggelinding ke arah kakinya. Dan setelahnya, ia bisa melihat siapa pelaku sebenarnya.


“Sorry, gue gak sengaja Gas.”


“Lo!!”


“Al!! Brengsek banget lo ya!! Ini kepala gue masih dipakai woi!!!”


“Bukan salah gue kan. Lagian lo berdua ngapain berdiri di sini. Ini area basket. Bukan taman.”


“Cih! Kenapa? Lo iri? Lo merasa kalah man.”

__ADS_1


Bagas meraih bola basket tersebut dan menambah langkahnya merapatkan posisi mereka. Ia menyelinap pada area telinga Al.


“Lo harus tepati janji lo, LOSER!”


__ADS_2