Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Sengit


__ADS_3

Fai dan seluruh keluarganya yang menjenguk sang Papa berangsur pulang ke kediamannya. Siang ini juga mereka mengabari seluruh keluarga Fai lainnya untuk melakukan proses pemakaman sang Papa. Fai berada 1 mobil dengan Fajar, kakak iparnya dan Ayla yang menenangkan dirinya saat ini. Ia terus tidak berhenti menangis. Semua perasaan penyesalannya terus berputar pada kepalanya. Ia sangat buruk menjadi seorang anak.


Jarak Rumah Sakit dengan kediaman rumah orang tua Fai tidak terlalu jauh. Seluruh kerabat, sahabat dan para tetangga sudah menunggu kehadiran mereka. Begitu juga dengan ketiga teman kantornya yang ternyata sudah mengetahui kabar buruk ini.


“Fai….”


“Kita turut berduka cita Fai atas meninggalnya bokap lo.”


“Iya. Terimakasih.”


“Yang tabah Fai. Mungkin ini yang terbaik buat bokap lo.”


Fai hanya mengangguk pelan. Ia mendapatkan pelukan haru dari ketiga temannya.


Semua sudah berkumpul. Tidak ingin memperlama waktu, semua prosesi pemandian jenazah, pengkafanan, sholat jenazah dan pemakaman dilakukan secepatnya. Dalam pelukan Dina, Fai menatap kosong dimana jenazah Papanya tengah dimasukkan ke liang lahat oleh Fajar, Fadhil, Al dan Saudara laki-laki dari Papanya.


Gundukan tanah itu sudah tertancap batu nisan yang terukir nama sang Papa. Dalam doa yang dituntun salah satu pemuka agama semakin membuat Fai sulit untuk menahan tangisnya. Ia mengingat semua dosa-dosanya yang belum sempat ia tebus. Kata permohonan maaf nya pun belum sepenuhnya puas untuk menghapus semua kesalahannya.


“Sudah ya Dina, tabah dan ikhlas. Ini yang terbaik untuk mas Danar. Usia memang tidak ada yang tahu sampai kapan berakhir. Fai, Fadhil dan Fajar juga harus selalu mendoakan Papa kalian agar tenang dan ditempatkan di surganya Allah.”


“Iya Bik. Fadhil benar-benar sangat merasa bersalah dengan semuanya. Fadhil belum sempat membahagiakan Papa.”


“Fajar juga merasa bersalah setiap kali Papa meminta Fajar untuk pulang. Fajar selalu mementingkan pekerjaan Fajar. Fajar lupa dengan orang tua yang mengharapkan semua anak-anaknya untuk bisa kumpul bersama.”


Semua berangsur-angsur pulang dari pemakaman. Sedangkan Fai masih betah berdiam memeluk batu nisan sang Papa. Berulang kali dibujuk tetap ia kekeh untuk tinggal beberapa jam lagi.


“Buk, Pa, duluan pulang aja ya! Fai masih belum mau pulang. Biar Al yang nemanin Fai di sini dulu.”


“Iya Mbak. Mbak Ranum dan mas Rahmat ikut kita pulang aja. Di rumah juga masih butuh persiapan untuk pengajian malam nanti. Biarkan Al yang menemani Fai.”


“Baiklah. Papa sama Ibukmu duluan ya. Tenangkan Fai. Jangan terus-terusan larut dalam kesedihan seperti itu.”


“Iya Pa. Hati-hati. Terimakasih ya Bik.”


“Sama-sama nak Al.”


Al kembali berjalan dimana Fai masih betah terduduk lesu sembari memeluk batu nisan sang Papa. Menangis tidak ada hentinya.


“Fai minta maaf…. Fai minta maaf Pa…. Hiksss…. Hiksss…. Fai masih gak mau dengan semua ini Pa…. Fai gak mau Papa ninggalin Fai secepat ini. Hiksss…. Hiksss…. Siapa lagi yang akan memarahi Fai, yang selalu melarang Fai melakukan apa pun….? Pa…. Fai minta maaf…. Fai benar-benar merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan Papa…. Seharusnya Papa gak usah mencari Fai malam itu…. Hiksss…. Hiksss….”


“Fai…. Jangan nangis seperti ini terus! Sekarang Papa udah tenang. Papa ingin melihat anak-anaknya baik-baik aja. Tanpa rasa sedih.”


Dengan sembab matanya, Fai menggelengkan kepalanya menolak semua kata-kata penguat dari Al.

__ADS_1


“Kita pulang sekarang ya! Masih ada beberapa hal lagi yang kita persiapkan untuk pengajian Papa. Ini juga udah mau sore Fai. Semua butuh bantuan kita.”


Satu tangan Al ia tadahkan di hadapan Fai. Berharap Fai mau mengikutinya pulang. Fai menatap sebentar gundukan tanah milik Papanya. Ia mengusap sebentar ukiran nama tersebut. Setelahnya, ia berdiri dan berjalan lebih dulu tanpa memperdulikan tangan Al yang sudah menunggu sambutan darinya. Al tidak merasa kecewa. Ia memaklumi sikap acuh Fai terhadapnya.


Di dalam mobil pun Fai memilih duduk lebih jauh dari Al. Menyenderkan tubuhnya pada bagian pintu mobil. Al mendekat dan memasangkan seat belt pada Fai yang justru mengejutkan bagi Fai.


“Apa-apaan sih lo?!” Bentaknya dengan refleks.


“Aku hanya mau memakaikan seat belt untuk kamu Fai. Bukan mau yang aneh-aneh.”


Fai mendorong tubuh Al menjauh. Dan ia langsung memposisikan duduknya dengan benar serta memakai seat beltnya. Al pun juga begitu. Ia pasrah dengan sikap Fai. Mulai melajukan mobilnya sebab waktu sudah hampir sore. Masih banyak yang harus mereka kerjakan malam ini.


~ Kediaman Orang Tua Fai


BAMMM!


Fai membanting pintu dengan kuat. Al keluar dengan sedikit malu sudah menjadi pusat perhatian orang-orang terhadap sikap Fai.


“Fai benar-benar ya! Enggak lihat kondisi banget.” Kesal Fadhil yang kini sudah menghampiri Al. Al hanya tersenyum menanggapi kekesalan Fadhil.


“Udah pada beres ya?”


“Alhamdulillah udah Al. Berkat bantuan warga-warga di sini. Kamu cepat mandi gih! Kalau kamu masih belum ada baju ganti, pakai punya aku aja. Langsung ambil di lemariku ya Al.”


“Ya ampun Al, kamar Fai juga ada kamar mandinya kok.”


“Hmm…. masih gak enaklah Fad. Fai pasti gak nyaman banget.” Menggaruk tengkuknya.


“Huffftttt.... Ya udah deh. Terserah kamu Al.”


Al memasuki setiap ruangan yang sudah dipenuhi para kerabat Fai. Ia terus mengulas senyum ramahnya di saat setiap kali keluarga Fai menyapa. Masih baru bagi Al. Satu ruangan yang berada di lantai atas menjadi tujuan utamanya. Ia langsung masuk sebab sudah diberi izin. Mencari terlebih dahulu pakaian yang bisa ia pakai di pengajian malam ini.


Sebuah baju koko hitam milik Fadhil. Beruntungnya ia yang memiliki postur tubuh sama persis dengan Fadhil. Jadi, tidak akan menyulitkan ia memilih pakaian.


Buru-buru ia menyelesaikan mandinya. Sebab waktu hampir menjelang magrib. Ia keluar dan langsung memakai pakaian yang sudah ia pilih.


CEKLEK!


“Kak, gue pinjam charger handphone lo ya kak? Charger Fai lagi rusak. Lo simpannya di mana?”


Al membalikkan tubuhnya sebab suara Fai lah yang mengusik dirinya. Seketika Fai tercekat, terdiam kaku melihat siapa yang sebenarnya di hadapannya kali ini. Bukanlah Fadhil sang kakak. Melainkan Al. Dan yang membuat Fai semakin terkejut sebab keadaan Al saat ini ialah masih bertelanjang dada.


“Aaaaaaaaaa………………….!!!” Menutupi matanya dengan kedua tangannya.

__ADS_1


Al dengan cepat memakai bajunya. Setelahnya ia mendekati Fai dan mencoba menenangkan Fai yang berteriak kencang. Hingga satu orang pun memeriksa keadaan kamar Fadhil dimana Fai masih betah berteriak tiada hentinya.


“Fai? Kenapa berteriak? Ada apa?” Bibiklah yang mengecek.


“Hmm…. bu-bukan apa-apa Bik. Fai…. tadi….”


“Ooo…. Ada pak suami juga di sini. Kirain apa. Ini belum malam. Jangan membuat keributan dulu. Ayo cepat turun ke bawah! Urusan ranjangnya entar dilanjut lagi setelah pengajian selesai ya. Hihihi….”


Fai membulatkan matanya sebagai reaksi tak terduga dari celetukan Bibik. Setelah semuanya aman, dengan cepat Fai menggigit tangan Al yang tengah membekap mulutnya.


“Akhhh! Sakit Fai.”


BUGHHH! BUGHHH! BUGHHH!


“Lo yang udah ngebuat Bibik jadi salah paham!! Resek banget lo!!”


“Hahaha…. Sorry Fai. Aku gak tahu kalau kamu yang masuk secara tiba-tiba.”


“Lagian lo ngapain ada di kamar Fadhil? Mau maling lo ya?! Ngaku lo!!”


“Fai…. aku ini udah jadi Adik Ipar Fadhil. Udah gak ada batasan lagi untuk masuk ke kamar ini. Lagian aku juga udah dapat izin dari kakak kamu. Aku numpang mandi dan juga minjam baju Fadhil. Aku merasa gak enak kalau langsung mandi di kamar kamu. Pasti kamu merasa gak nyaman nantinya.”


Fai lupa akan siapa Al sekarang ini. Al ialah suaminya. Suami dadakan. Jadi, apa pun yang ingin Al dapatkan di rumah ini sudah sangat bebas. Al sudah bagian dari keluarganya. Tapi kenyataan itu semua kembali lagi Fai tolak. Ia tetap menganggap Al adalah orang asing bagi dirinya.


“Kalau lo berani-beraninya kayak gitu lagi di depan mata gue, gue cincang lo!” Ancamnya.


“Aku kan suami kamu. Enggak masalah kan aurat aku dilihat langsung sama istri aku.”


“Shut Up!!”


BUGHHH!


“Awww…. Hahaha…. Sakit Sayang….”


“Al!!!”


Al terus tertawa dengan amukan Fai yang tidak pernah berhenti memarahinya. Raut amarah Fai sangat menggemaskan bagi Al. Satu yang ia tahu, ia harus selalu membuat Fai seperti ini. Agar ia bisa lebih intens dan sering berinteraksi dengan sosok istri garangnya.


Fai tidak lagi memperdulikan keberadaan Al saat ini. Ia mengelilingi setiap sudut kamar untuk mencari charger milik Fadhil. Dan telah ia temui barang itu di atas meja nakas. Dengan terburu-burunya ia mengambil dan berjalan melewati Al yang masih betah memperhatikannya sembari senyumannya yang tidak pudar. Al mencekal pergelangan tangan Fai dan menariknya hingga Fai kini membentur tubuh tegap tinggi menjulangnya Al. Kedua bola mata mereka saling mengunci.


“Kamu tambah cantik kalau berkerudung Fai. Aku gak menyangka sekarang aku udah beristri dan itu kamu. Terlepas semua ini sebab wasiat Papa kamu, aku gak perduli. Nyatanya…. aku sangat bahagia.”


Al memundurkan posisinya. Ia membiarkan Fai lebih dulu berjalan keluar. Entah kenapa degup jantung Fai memompa dengan sangat cepatnya setelah kata-kata Al sedikit berhasil membuat ia terdiam. Merasa tersanjung? Entahlah. Fai segera membalikkan tubuhnya dan mulai berjalan keluar kamar yang juga diikuti oleh Al.

__ADS_1


__ADS_2