Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Udang di Balik Batu (Flashback)


__ADS_3

“Aku Al. Anak kelas 12 IPA 1. Sorry, aku gak sengaja numpahin minuman ke baju kamu.”


“Uwww…. Hahaha…. jangan percaya Adik manis. Si Al bisa aja modusnya.”


“Apaan sih lo pada!! Gue emang gak sengaja kan?”


“Ok Bro. Sorry deh. Kalau gitu, kita duluan ya? Bye Al….” Melambai sembari meledek nasib Al saat ini.


Kembali menatap Fai yang masih dengan susah payah mengelap tumpahan minuman berwarna yang saat ini mengecap pada seragamnya tepat di bagian dadanya. Al bingung sebab Fai tidak menanggapi kata maaf darinya.


Dirinya yang berlari terburu-buru ingin ke satu basecamp tempat berkumpulnya teman satu gengnya harus urung di saat ia tidak sengaja menabrak langsung tubuh kecil Fai dan berakhir menumpahkan minuman yang sedang ia pegang. Ia tidak menyangka orang itu ialah Fai.


Al semakin bingung dan berusaha ingin membantu Fai. Membuka dasinya dan ikut mengusap-usap bagian yang basah pada seragam Fai. Namun yang ia dapat malah tepisan kuat pada tangannya.


“Apaan sih lo?! Jangan cari kesempatan dalam kesempitan lo ya!”


“Huffftttt…. Aku cuma mau membantu kamu. Kamu bisa lihat sendiri kan, baju kamu basah dan…. maaf, bra merah kamu tercetak jelas.”


BUGHHH!


“Awww! Kecil-kecil begini tenaga kamu kuat juga ya. Hehehe….”


Fai mendengus geram di saat Al dengan santainya terkekeh kala ia masih kacau dengan seragam basahnya. Apalagi ia juga menyadari seragam putih yang ia pakai menerawang memperlihatkan bra miliknya.


Fai semakin gelisah. Ia mengutuki kesialan dirinya. 2 kali. 2 kali moment termalu dirinya di hadapan pria yang sama. Pria menyebalkan yang selalu saja memberikan masalah ke dirinya.  Tak berselang lama, sebuah jaket tersampir pada kedua pundaknya.


“Sebelum kering, kamu pakai jaket aku dulu ya! Aku benar-benar gak sengaja. Tadi aku terburu-buru sampai aku gak tahu kamu lewat di depan aku. Aku minta maaf ya.” Mengusap berulang kali pucuk kepala Fai hingga poni miliknya menjadi acak-acakan.


“Bye!”


“Uuuggrrrhhhh….!! Resek banget sih!! Baju gue basah. Mana di bagian dada gue lagi. Mimpi apa gue semalam sampai-sampai gue dapat masalah dari tuh orang.”


Fai terus ngedumel sembari merapatkan jaket pada tubuh bagian atasnya. Berjalan cepat sebab ia sudah menjadi bahan lawakan anak-anak lain yang juga melihat kondisi dirinya. Menuju kelas dimana Ranti sudah menunggunya sedari tadi.


“Kenapa Fai? Kok kamu lama banget ke toiletnya?”


Fai terduduk dengan lemasnya. Ia membuka sedikit jaket yang ia rapatkan. Memperlihatkan kondisi bajunya yang basah.


“Fai, bra kamu kelihatan. Tutup lagi Fai!”


“Ck, sebel banget gue hari ini.”


“Kok bisa sih? Kenapa Fai?”


“Ini semua gara-gara Al. Cowok mesum itu numpahin minumannya ke gue.”


“Kak Al maksud kamu?”


“Iya Ran….! Al siapa lagi yang selalu ngebuat gue bad mood terus? Kedua kalinya gue dibuat malu sama tuh anak. Dan kali ini gue jadi bahan lawakan yang lain Ran. Tuh orang resek, nyebelin, mesum, sumpah demi apa pun gue selalu sial kalau ketemu dia.”


“Hihihi…. kamu aneh. Semua cewek kalau bernasib seperti kamu bakal kesenangan Fai. Secara kak Al itu cowok idaman banget di sini. Rata-rata semua cewek yang berusaha ngedeketin kak Al itu super duper butuh rayuan ekstra Fai. Nah kamu, segampang itu dapat perhatian dari kak Al. Apa kamu gak ngerasa ada maksud terselubung dari setiap senyuman kak Al ke kamu? Manfaatin dong Fai! Kak Al itu terkenal dingin banget dengan cewek mana pun. Beda banget dengan kamu Fai.”


Fai tidak lagi memperdulikan teori-teori Ranti yang sangat receh untuk di dengar. Dalam pemikirannya, lebih baik menjauh daripada harus terus mendapatkan kesialan untuk kesekian kalinya.


~ Kelas 12 IPA 1


Al berjalan mengendap-endap hingga sampai pada bangku kosong di sebelah Fadhil. Fadhil yang tengah fokus pun mendapatkan sikutan dari Al. Fadhil melirik dan memberikan mimik bingungnya.


“Entar malam lo ikut gue ya!”


“Ke mana?”


“Gue bakalan terima taruhan dari rival geng gue.”


“Taruhan? Taruhan apa Al?” Tanya Fadhil dengan suara yang sangat pelan.


“Balap motor Bro. Lo harus lihat kemampuan gue.”


“Balap? Keren banget kamu bisa sehebat itu Al. Sirkuit di mana Al? Legal kan?”


Al terkekeh sebentar dengan reaksi Fadhil. Menurutnya, Fadhil masih terlalu polos.


“Ilegal Fad. Balap liar. Cuma kita-kita aja yang tahu. Makanya lo juga harus datang. Gue butuh dukungan lo.”


“Duhhh…. aku minta maaf Al. Jujur aku gak bisa. Pasti gak diizinin sama orang tua aku selain memang tugas sekolah.”


Al menyunggingkan senyuman liciknya. Ia akan memulai ide gilanya yang memang sudah ia rencanakan sebelumnya. Ia pun semakin mendekatkan dirinya ke arah Fadhil untuk menyampaikan suatu hal yang bagus untuknya.


“Gue punya satu cara. Manfaatin Adik lo Fad! Menurut gue sih…. kalau lo mengikutsertakan Adik lo itu, nyokap sama bokap lo pasti gak akan curiga dengan lo.”


“Kamu gak tahu aja Fai itu gimana. Dia itu lebih kejam dari apa yang kalian pikirkan tentang Fai selama ini. Aku gak mau cari masalah Al. Maaf ya.”


Al menggaruk tengkuknya bingung dengan cara apa lagi ia bisa mendapatkan kesempatan. Akalnya berpikir bahwa ia bisa memanfaatkan Fadhil sebagai perantara dirinya mendekati sosok wanita incarannya. Ternyata tidak segampang seperti yang ia pikirkan.

__ADS_1


PLAKKK!


“Awww….!”


Sebuah spidol tepat mengenai kepalanya. Al mendapati pelototan tajam dari gurunya.


“Ke sini dan kerjakan soal-soal ini! Kalau kamu gak bisa menjawab semua soalnya, hormat bendera di tengah lapangan!!”


Al mengambil spidol yang terjatuh dan mulai melangkah ke arah papan tulis. Tanpa berpikir lama terlebih dahulu, Al langsung menulis semua rumus-rumus dengan sangat mudah dan cekatannya. 3 soal rumit menurut anak-anak lainnya dengan gampangnya Al selesaikan hanya dalam kurung waktu selama 5 menit.


“Sudah Buk. Boleh Ibuk kroscek jawaban saya.”


Satu persatu soal terjawab dengan sangat sempurna. Guru Fisika tersebut menatap heran dengan kejeniusan Al. Al paham apa yang tengah gurunya ini pikirkan mengenai dirinya. Ia terkekeh sembari berlagak angkuh di hadapan gurunya.


“Tenang Buk! Saya bisa menggantikan Ibuk mengajar di sini kalau memang sekiranya Ibuk berhalangan hadir.”


“Duduk kamu Al! Kamu beruntung dengan kejeniusan kamu. Walau etika kamu sangat minus. Lain kali tolong hargai saya di saat saya sedang menerangkan!”


“Siap Buk! Saya minta maaf kalau saya sudah tidak menghargai Ibuk. Saya duduk ya Buk? Takut badan saya encok berdiri terus kayak Ibuk. Hehehe…. Canda Buk.”


Al benar-benar mengundang gelak tawa seisi kelas saat mendengar celetukan spontannya. Al memang tipikal murid yang selalu membuat masalah tapi tertutupi oleh ketampanan dan kejeniusan dari otaknya. Maka, jarang sekali para guru berani semena-mena dengan dirinya.


Fadhil tersenyum geli sembari menggelengkan kepalanya berulang kali melihat tingkah berani dan konyolnya dari Al. Ia sangat senang mengenali sosok Al yang sangat menarik dan apa adanya.


KRING…. KRING…. KRING….


Bel sekolah berbunyi menandakan waktu belajar mereka telah usai. Fadhil dengan kesalnya melihat dari kejauhan sang Adik berjalan lambat sembari membawa banyak sekali bingkisan dan barang-barang miliknya. Sudah beberapa hari ini ia selalu melihat Fai kesusahan akan barang bawaannya. Fai sudah mulai dipandang kagum oleh banyaknya murid di sekolahnya. Maka dari itu, Fai mendapat banyaknya bingkisan atau barang-barang menarik lainnya dari para penggemarnya.


“Ya Allah…. Apa lagi sih ini?!” Kesal Fadhil.


“Jangan heran deh. Kalau iri bilang Bos. Hehehe….”


“Idihhh…. Angkuh banget punya Adik.”


“Ya udah, jalan Fad!”


“Dosa kamu ya cuma nyebut nama doang ke kakak.”


“Ok, sorry kakak tergantengku…. Wlekkk!”


Fadhil tidak ingin melanjutkan perdebatannya. Dengan segera ia menjalankan motornya. Jalanan siang di tengah kota Jakarta memang sangat ramai. Apalagi di saat waktu yang berbarengan dengan waktu pulangnya anak-anak sekolahan yang lainnya. Alhasil, kini Fadhil dan Fai terjebak macet panjang. Teriknya matahari menambah kekesalan Fai. Ia merasa haus dan gerah.


“Mending gue minta dijemput sama Papa. Panas dan pengap banget di Jakarta ya?”


“Heh! Enggak usah belagu deh kak! Lo juga masih nerima uang jajan dari Papa aja belagu banget.”


“Yang terpenting uang jajan kakak setimpal dengan otak encer kakak Fai. Enggak kayak kamu. Uang jajan mintanya banyak, tapi gak bisa ngebanggain Papa sama Mama.”


“Bisa gak sih gak usah ngebeda-bedain kemampuan kita?!”


“Kemampuan? Kalau kamu mah kelemahan semua. Apa coba kelebihan kamu, hum?”


“Cheerleader! Semua kado-kado ini sebagai bukti kalau Fai bisa dibanggakan.”


“Hahaha…. Yang ngebanggain kamu ya cuma penggemar gila kamu itu. Bukan suatu prestasi kalau bisanya cuma joget-joget centil gak jelas.”


“Resek banget sih….!!!”


Interaksi sengit keduanya menjadi tontonan orang-orang yang sedang terjebak macet juga seperti mereka. Mereka malah menjadi penghibur dari rasa lelah dan bosannya orang-orang menunggu macet yang begitu panjang.


Sesampainya di rumah Fai langsung menuju kamarnya tanpa menyapa Mamanya terlebih dahulu.


“Astaghfirullah Fai…. Di sini masih ada manusia. Kalau baru masuk itu ucap salam dulu, cium tangan Mama. Bukan main nyelonong gitu aja atuh.” Pusing sang Mama menghadapi sikap acuh tak acuhnya putrinya.


“Assalamualaikum Ma. Biasa lah Ma. Fai memang gak punya sopan santun. Lagi kegirangan banget tuh anak. Dapat banyak kado lagi dari penggemarnya.” Terang Fadhil panjang lebar.


“Waalaikumsalam. Kamu harus jaga Adik kamu itu. Mama gak mau Fai tambah bersikap kurang ajar seperti tadi.”


“Capek Ma. Sampai berbusa pun mulut Fadhil tetap aja gak diserap sama Fai.”


“Ya udah. Ganti baju dan istirahat. Kalau lapar makan dulu ya.”


“Iya Ma.”


Fadhil menaiki anak tangga dimana letak kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Fai. Baru saja ia ingin memasuki kamarnya, sudah dihebohkan dengan suara berisiknya Fai histeris senang dengan semua bingkisan yang Fai dapatkan. Fadhil mengintip sebentar dari celah pintu Fai.


“Pada lucu-lucu banget sih mereka. Gue senang banget bisa sefamous ini. Hihihi….”


Fadhil memberikan mimik menjijikkannya di saat kegirangan sang Adik.


“Apaan nih? Kotaknya bagus banget.” Sembari membuka pita yang terikat indah pada kotak persegi di hadapannya. Fadhil terikut penasaran dengan apa yang sedang Fai buka.


“Wahhh…. coklat!! Banyak banget. Dan…. ini…. wahhh…. mainan gantungan tas ya? Kok lucu banget sih. Siapa yang kasih ya?” Memutar dan membolak balikkan kotak persegi yang tak kunjung juga ia temukan nama si pemberi coklat dan gantungan tas tersebut.

__ADS_1


“Sayang banget sih gak ada namanya. Kok dia tahu banget ya aku suka coklat. Mana nih coklat mahal banget lagi. Yang lagi viral itu kan? Mau beli coklat ini jujur gue gak mampu banget.”


TING!


Satu pesan masuk dari handphone milik Fadhil mengusik keseruan Fai.


“Lo ngapain ngintipin gue?!”


BUGHHH! Fai melempari Fadhil menggunakan boneka miliknya.


“Apaan sih?! Kakak baru aja lewat. Siapa juga yang ngintipin kamu, wlekkk!”


Dengan terburu-burunya Fadhil memasuki kamarnya. Ia juga sedikit kesal dengan Al yang terus mengiriminya pesan beruntun.


Al : “Pokoknya lo harus datang gimana pun caranya.”


Al : “Gue juga mau ngenalin lo dengan teman-teman gue.”


Al : “Lo gak datang, lo bukan teman gue lagi.”


Al : “Entar gue traktir lo kalau gue menang taruhan.”


Al : “Pokonya lo harus datang Bro!!”


“Al…. aku juga sebenarnya mau ikut kamu dan teman-teman segeng kamu itu. Tapi aku juga harus bertaruh nyawa dengan Papaku. Huffftttt….” Merebahkan tubuhnya pada ranjang.


Lebih memilih memejamkan matanya sekadar menenangkan rasa lelah dan pusing memikirkan paksaan dari Al.


~ Malam Hari


Tok…. Tok…. Tok….


Fai membuka pintu yang diketuk. Menampilkan sosok sang kakak yang kini sudah terlihat sangat rapi seperti akan pergi ke suatu tempat.


“Mau perlu apa lo?”


“Bisa gak sih gak usah segaul itu bahasa kamu?”


“Udah deh, to the point aja! Lo yang udah serapi ini mau ke mana? Mau ngedate loh ya?” Tebak asal Fai.


Fadhil masuk lebih dalam ke kamar Fai.


“Temani kakak malam ini ya!”


“Ke mana sih? Ya kalau lo mau ngedate gak mesti ajak gue dong. Enak aja lo mau jadiin gue nyamuk lo.”


“Ihhh…. bukan itu Fai. Malam ini kita lihat balap liar.”


“What? Balap liar?!”


“Hussstttt…. Jangan keras-keras! Kalau Papa sama Mama dengar bisa habis kita berdua.”


“Lo aja kali, gue mah ogah. Lagian mau ngapain sih ke sana? Ada-ada aja deh.”


“Ini ajakan teman kakak. Kita gak ngapa-ngapain kok. Cuma jadi penonton aja. Plese Fai…. Kakak pengen banget sekali aja ngerasain ngumpul bareng teman-teman baru kakak di sini. Kalau kakak perginya bareng kamu, Papa sama Mama pasti ngizinin dan gak akan berpikir yang aneh-aneh.”


Fai menimbang semua apa yang telah kakaknya ini sampaikan. Ia juga merasakan bagaimana ketatnya peraturan sang Papa dan Mamanya. Mereka selalu susah untuk mendapatkan izin keluar rumah kalau bukan urusan tugas sekolah.


“Ok. Gue bantu lo malam ini.”


“Serius?? Kamu janji ya jangan bocorin apa pun ke Mama sama Papa perihal ini. Ini kita berdua aja yang tahu.”


“Iya bawel! Gue juga boring kali di rumah muluk. Sekarang lo ke bawah dulu deh! Dari tadi Mama manggilin kita untuk makan malam. Fai mau ganti baju dulu. Kalau Mama sama Papa tanya, bilang aja kita mau ke toko buku.”


“Hehehe…. Ok siap Adik nakalku.”


“Lo yang lebih nakal malam ini Bangsat!”


Fai buru-buru merubah penampilannya. Ia memilih celana jeans dan kaos tanpa lengannya menjadi pilihan. Sebuah sweater pinknya sebagai pemanis tampilannya. Fai memakai bedak tipisnya serta lipbalm agar tidak terlalu terlihat pucat. Rambut ia biarkan untuk tergerai bebas. Tidak lupa ia memakai kacamata tebalnya sebab ia juga tidak terlalu bisa melihat begitu jelas tanpa adanya kacamata. Dan ia rasa Mama dan Papanya sangat suka melihat ia berpenampilan lugu seperti ini. Cara jitu Fai untuk selalu menipu kedua orang tuanya.


Menuruni anak tangga menuju ruang makan yang sudah terlihat semuanya menunggu dirinya.


“Kalian berdua jangan pulang terlalu larut malam!”


“Iya Ma. Cuma bentaran doang kok. Paling kita nongki bentar di café kalau haus.”


“Nongki? Bahasa apa lagi itu?” Kepo sang Papa yang terlalu polos.


“Nongkrong Pa. Itu bahasa anak Jakarta.”


“Fai…. Fai…. kita baru beberapa bulan di sini aja kamu udah banyak perubahan. Cepat banget terpengaruh lingkungan. Hati-hati ya Fai, jangan terlalu ikuti pergaulan bebas teman-teman kamu!”


Kembali lagi ia mendapatkan ceramahan membosankan untuk dirinya. Dan yang ia tidak sukai, kedua orang tuanya ini selalu memojokkan dirinya saja tanpa melihat kelakuan putra mereka yang kini terkekeh pelan mengoloknya.

__ADS_1


“Jangan ketawa lo! Gue bisa gagalin keinginan lo malam ini kalau lo kurang ajar ke gue!” Ancam pelan Fai pada telinga Fadhil. Alhasil, Fadhil menghentikan kekehannya. Ia tidak mau menggagalkan rencananya.


__ADS_2