
“Ok guysss…. Malam ini aku balik lagi untuk menemani kalian-kalian semuanya yang pada gabut nih. And then, di sini juga gak bakalan boring kok. Aku kedatangan para ciwi-ciwi gemes yang kabarnya mereka bakal nemenin aku bocan malam ini guysss….”
“Yuhuuuu…. Yang terpenting banyak makanannya aja sih Fai. Hihihi….”
“Dasar Maya gentong lo!!”
“Hahaha….”
Tertawaan nyaring mereka menggema di seluruh ruangan kamar Fai.
Malam ini, Fai memang sengaja mengundang para teman-teman kantornya untuk meramaikan malamnya. Tidak lupa juga dengan kak Flora sebagai koki mereka malam ini. Memasak dan memakan apa saja sesuai keinginan mereka. Tubuh Fai sangat lelah saat bekerja, membuat sebuah rekaman video beberapa endorsannya dan juga menyelesaikan beberapa project kerja yang harus mengejar target bulan ini.
“Ini masih makanan pembukanya. Tolong jangan pada dihabisin dulu!! Capek banget nih yang masak muluk dari tadi.” Amuk kak Flo.
Mereka yang lain hanya bisa tertawa nyaring.
“Fai, hidup lo enak banget ya. Bisa bebas ke mana pun yang lo mau.” Seloroh Karin.
“Hahaha…. bebas? Kalau kak Flo gak gue ajak juga, dia yang bakalan kaduin semua kehidupan gue ke bokap nyokap gue. Dia itu diam-diam menghanyutkan guys. Jangan percaya dengan kebaikannya.”
“Fai….!! I can hear you Fai….”
“Lihat tuh! Garang banget kan?”
“Hihihi…. Iya sih.”
“Oh iya Fai, kapan-kapan lo ajak kita ke rumah nyokap bokap lo ya! Gue pengen banget ketemu dengan kakak lo yang cakep itu. Siapa sih namanya? Gue lupa Fai.”
“Kak Fadhil?”
“Nah, benar banget. Fadhil. Bakal gue ingat sampai gue bisa mimpiin dia. Hihihi….”
“Jangan ngarep lo! Kakak gue udah punya calon. Dan yang jelas, lebih cantik dari pada lo.”
Seketika, wajah Lala lesu mendengar kabar buruk baginya.
“Tenang La. Kan Fai punya satu kakak laki-laki lagi. Iya kan Fai?”
“Kak Fajar?”
“Iya Fai. Enggak kalah ganteng dengan kak Fadhil kan?”
“Hahaha…. Sorry banget. Kakak gue yang itu udah sold out. Udah mau punya anak lagi. Gila lo pada ya! Ganjen banget dengan kakak gue.”
“Yaaa…. gimana lagi Fai. Kita semua kan barisan ciwi-ciwi jomblo.” Lesu Lala.
Topik pembahasan mereka saat ini malah membuat Fai kembali mengulang hal-hal indah pada mantan kekasihnya. Entahlah, iya juga belum paham apakah benar sudah berakhir atau belum hubungannya dengan Bagas. Lagi dan lagi Fai mencoba menghubungi nomor Bagas. Bahkan, terkadang ia sengaja menggunakan nomor kak Flo atau nomor teman-temannya agar jika Bagas benar-benar sudah tidak mau berbicara dengannya lagi, Bagas bisa kecolongan mengangkat telepon dari dirinya. Tapi tetap nihil.
__ADS_1
Maya melirik kelakuan Fai yang terus menerus menghubungi nomor Bagas. Ia pun menarik dan meletakkan handphone Fai pada saku celananya.
“Enggak usah segila dan menjadi pengemis kayak gini Fai! Belum paham juga lo ya. Lo dan juga Bagas itu udah gak ada hubungan apa pun lagi Fai. Itu sama aja dia mutusin hubungan kalian berdua. Lagian lo masih mau dilabrak sama tuh nenek sihir?”
“Sekarang ini semua orang udah pada adem ayem Fai. Mereka udah gak terlalu ngegosipin lo kan?”
Fai mengangguk dengan pernyataan Karin. Ia melirik kembali layar laptop miliknya yang masih memperlihatkan sederetan kolom komentar pada laman live TikTok nya. Bisa ia baca banyaknya dukungan para followers nya yang mendukung serta mensupport Fai. Dengan kepala yang ia tegakkan dengan tegasnya, ia pun juga menghembuskan napas beratnya.
“Ini Tuan Putri. Segini dulu ya. Kakak benar-benar capek nih ngebakar semuanya.”
“Hahaha…. Sorry and thanks kak Flo.”
“Harus habis ya! Capek banget nih buatnya.”
“Ok, sip kak Flo!!”
Malam panjang yang sangat mereka habiskan untuk menonton, bersenda gurau, bergosip dan memakan semua makanan yang sangat banyak mereka buat. Setidaknya mereka berhasil menghilangkan kegalauan Fai saat ini.
***
“Ayo lah Al….! Dicoba saja dulu. Kali ini aja. Kalau benar-benar tidak sesuai lagi dengan keinginan kamu, papa janji gak akan memaksa kamu untuk mencari kandidat calon menantu papa.”
Al menghentikan langkahnya. Sudah sangat pusing kepalanya terus menyerap semua ocehan Papanya. Sepanjang perjalanan pulang mereka dari Masjid, terus saja hal itu yang dibahas sang Papa.
“Pa, lebih baik meminta jodoh itu langsung ke sang Pencipta. Papa jangan khawatir. Segala sesuatunya memang sudah ditetapkan. Sejauh apa pun dan serumit apa pun rintangannya, kalau memang sudah berjodoh ya pasti akan berjodoh Pa.”
Al menggelengkan kepalanya berulang kali tidak habis pikir dengan jalan pikiran Papanya yang terlalu menuntut. Ia lebih dulu berjalan cepat memasuki rumahnya.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ranum bingung dengan Al yang berjalan melengos begitu saja.
“Kenapa lagi itu Mas? Kamu buat perkara lagi?”
“Huffftttt…. Benar-benar susah membujuk anak itu.”
“Aku juga capek melihat kalian berdua yang terus saja berdebat akan hal ini. Stop maksa Albi Mas!”
“Nih, kamu lihat deh! Semalam aku coba minta langsung foto putri Danar. Kamu harus lihat juga. Nih!”
Layar handphone yang Ranum perhatikan sudah menampilkan sosok gadis manis imut yang tengah tersenyum sumringahnya.
“Ini anaknya mas Danar?”
“Iya. Gimana menurut kamu? Cantik dan berkelas kan? Anaknya juga santun Buk.”
__ADS_1
“Kelihatannya sih iya. Tapi kita kan belum tahu terlalu jauh Pa. Dan…. ibuk kurang yakin Al akan mau.”
“Makanya kita coba dulu.”
Al bergegas membereskan barang-barang miliknya. Hari ini ia harus cepat, sebab ada beberapa pemesanan yang harus on time untuk diantar. Para karyawannya akan merasa sangat sulit jika mengatur ini semua tanpa ada bantuan dari dirinya langsung.
Menuruni anak tangga dengan terburu-burunya. Ia duduk dan mengambil satu roti selai yang sudah tersedia.
“Al, lihat ini deh! Kamu lihat dulu seperti apa anaknya. Kamu bisa menilainya sekarang. Kalau memang tidak menarik, kamu bisa langsung menolak. Dan Papa janji gak akan memaksa kamu lagi.”
“Pa! Tolong deh Pa, jangan berlebihan seperti ini. Sekarang ini Al lagi gak punya banyak waktu meladeni Papa. Al buru-buru Pa.”
“Lihat dulu Al. Sebentar aja kok.”
Ranum terus saja tersenyum mendapati putra dan suaminya yang terus saja tidak ada hentinya dalam berdebat. Rahmat menggeram dengan sikap acuh sang anak. Sebelum Al melangkahkan kakinya, dengan cepat ia mencekal tangan Al dan kembali memaksa duduk pada area meja makan.
“Ini Al. Tolong dilihat dulu!”
“Pa…. jangan paksa Al! Ok?!”
Memaksa tangannya terlepas. Namun tetap di cekal kembali oleh sang Papa bersamaan dengan layar handphone menampilkan sosok perempuan di pandangannya.
“Namanya Faizah. Anak ketiga dari teman lama Papa. Dia beda 2 tahun dari kamu. Anaknya baik, ramah, santun dan cantik. Bagaimana menurut kamu? Papa serahkan semuanya keputusan kamu saat ini juga. Biar Papa bisa membatalkan rencana kita.”
Al terdiam terpaku. Ia tidak berkedip sedikitpun. Hati dan pikirannya kembali berdebat. Raut sang Papa kini sudah berulang kali menuntut jawabannya.
Drrrtttt…. Drrrtttt….
“Halo, Assalamualaikum.”
“….”
“Iya, ini sebentar lagi saya langsung berangkat. Tolong mulai aturkan saja semua pesanan yang udah masuk lebih dulu. Nanti saya juga mau ke Senayan.”
“….”
“Ok. Terimakasih Ndra. Jangan sampai ada yang terlupa! Assalamualaikum.”
“Kabari kapan pertemuannya! Al benar-benar terburu-buru hari ini Pa. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Kamu serius mau mengikuti pertemuan ini kan Al?!” Teriak kencang sang Papa kembali ingin memastikan. Dan Al hanya mengacungkan ibu jarinya pertanda ia menyetujui desakan sang Papa.
“Yes!! Akhirnya….!”
“Jangan senang dulu Mas. Belum tentu Al benar-benar tertarik. Hanya dari foto saja belum memastikan hal yang kamu inginkan Mas.”
“Setidaknya Al sudah mau mengikuti pertemuan kita nanti Ranum. Aku harus cepat-cepat mengabari Danar. Kita atur waktu yang sangat tepat.”
__ADS_1
Sangat girang dengan respon sang anak. Ranum terkekeh puas melihat ulah suaminya. Seperti anak kecil dalam jiwa tuanya.