Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
9 Tahun


__ADS_3

Kesunyian. Segelas cokelat panas menemani berdirinya ia saat ini. Memandang aktivitas malam kota Jakarta. Fai suka dengan kemerlap lampu-lampu bangunan menjulang tinggi dan beberapa lampu-lampu sorot kendaraan yang berlalu lalang pada malam harinya. 9 tahun sudah ia lewati. Kini, Fai tengah merasakan usia dirinya yang baru saja memasuki ke 25 tahun. Cukup panjang waktu yang ia buang dalam perjalanan cintanya.


Genap 6 bulan hatinya hampa. Hubungan lamanya bersama Bagas terpaksa kandas sebab satu masalah yang sudah mempermalukan dirinya. Ia merehatkan dirinya yang sudah sangat banyaknya membaca komenan-komenan negative mengenai dirinya pada kolom komentar akun Instagram, Twitter, YouTube dan Tiktok miliknya. Fai dewasa berprofesi menjadi seorang Marketing Executive Property. Dan waktu selingnya yang lain, ia gunakan menjadi seorang Selebgram, Konten Kreator pada akun YouTubenya dan menjadi seleb di TikTok nya. Seluruh kegiatannya selalu ia posting secara bersamaan. Itu semua ia lakukan sebab ia senang sekali mengabadikan semua aktivitas penuh dirinya. Maka tidak salah kalau beberapa orang sangat mengenali dirinya. Ia yang cantik, imut dan lucu sangat bisa membuat para subscriber nya memuja dan banyak juga yang terinspirasi dari gaya hidupnya yang asik, santai dan smart dalam setiap rutinitasnya.


Tapi kini, semua berangsur hilang. Kata-kata memuja tergantikan dengan kata-kata olokan, ledekan, kesedihan terhadap dirinya. Banyak yang membahas dirinya saat ini. Semua kolom komentar dan ruang DM nya dipenuhi banyak sekali kiriman pesan menyakitkan dari semua netizen-netizennya. Fai menahan malu dari satu video yang menunjukkan dirinya dilabrak habis oleh orang tua perempuan dan kakak kandung Bagas. Mereka datang tepat dimana Fai sedang melakukan siaran langsung pada akun TikTok nya. Saat video berlangsung, kedatangan Mommy dan kakak dari Bagas langsung di saat itu juga mencaci, menghina dan mengancam dirinya agar segera memutus hubungan dengan Bagas. Hubungan yang sudah sangat lamanya. 8 tahun lebih lamanya. Dan sekarang kandas dengan melempar banyaknya kotoran pada wajahnya.


Fai masih selalu bersembunyi dari incaran para followers nya yang terdahulu memujanya kini malah balik menghinanya. Entah sudah berapa banyak serangan keluarga Bagas lakukan terhadapnya. Ia tidak menyangka dengan pemberontakan mereka terhadap dirinya. Bahkan, bukan hanya dirinya yang menerima rasa malu. Kedua orang tuanya, kedua kakaknya dan orang-orang terdekat dari dirinya. Tapi tetap, mereka yang selalu memberi semangat serta support penuh untuk dirinya.


Selama ini, ia mencoba bertahan. Sudah lama sekali hubungan dirinya dan Bagas selalu ditentang oleh pihak keluarga Bagas. Fai lupa akan status keluarganya. Dirinya sangat tidak pantas mengimbangi keluarga kaya raya dari sang kekasih. Tapi, hati Fai yang terlalu tuluslah yang membuat ia enggan untuk mengakhiri hubungan panjang mereka. Memang tidak selalu mulus. Akan ada saja percecokan yang mereka lewati. Tetap mereka bisa menjaga satu sama lain. Tapi, 6 bulan lalulah menjadi hari tersial dan terkutuknya. Ia dihempaskan dan dijatuhkan sangat dalam ke dasar jurang penuh dengan kotoran.


“Fai!”


Membalikkan tubuhnya yang kini sudah bisa ia lihat kak Flo masuk dengan membawa beberapa cemilan untuk mereka. Senyum hambar Fai coba ia berikan.


“Fai…. jangan sering-sering deh kamunya berdiri di balkon selama ini.”


“Emangnya kenapa sih kak….” Berjalan dan meraih semua bungkusan cemilan dan minuman kaleng yang kak Flo bawakan. Ia pun menuntun kak Flo untuk duduk lesehan pada karpet bulu tebalnya. Ia menyetel Televisinya. Mencari sebuah film terhits saat ini.


“Aku gak mau membaca dan melihat berita menyedihkan tentang kamu. Tentang kamu yang sudah dengan gilanya mengakhiri hidup.”


“Ikhhhh…. Kak Flo!! Kok sadis banget sih pemikiran kakak tentang Fai…. Fai gak segila dan gak setolol itu kak.”


“Hihihi…. Sorry. Jangan dianggap seriuslah! Just kidding, my baby.”


Fai berdecak sebal.


Semua bungkusan Fai buka. Menata dan memposisikan duduk mereka agar lebih nyaman.


“This is my real life. Gak semuanya terus di atas kan? Ada kalanya kita pindah posisi di bawah. Aku rasa…. Ini titik terendahku kak. Tapi apa pun yang terjadi, tetap harus aku terima kan? Jangan disesali. Sekarang ini…. Fai lepas semua beban dalam pikiran Fai dan tetap berjalan ke depan. Orang-orang yang menatap buruk tentang Fai, bakal Fai berikan salam pembalasan. Tapi Fai gak mau pakai cara licik dan jahat. Tetap tenang.”


“Benar banget itu Fai. Dan ingat, jangan pernah mengemis cinta! Kamu beruntung di tolak saat ini Fai. Karena akan lebih seram kalau kalian berdua benar-benar jadi memutuskan untuk menikah. Kamu pasti akan merasakan yang namanya punya mertua galak. Ihhh…. ngeri banget ngebayanginnya.”

__ADS_1


Fai menundukkan kepalanya. Ia memilin-milin ujung sweater yang ia pakai. Masih ada hati yang mengganjal.


“Tapi…. yang namanya hubungan udah terlalu lama itu, susah banget untuk dilupain kak. Bagas sangat berarti buat Fai. Bagas cinta pertama Fai. Dan kami berdua sudah sangat hebat melewati 8 tahun lamanya. Udah banyak drama, tawa, sedih yang Fai dan Bagas lalui kak. Fai susah move on.”


“Fai…. dicoba! Jangan mengharapkan apa pun lagi dengan hubungan toxic kalian berdua. Kamu gak kasihan dengan kedua orang tua kamu, keluarga kamu. Bahkan, udah lama juga kan Papa kamu menentang dan mewanti wanti hubungan kamu ini dengan Bagas. Kamu bisa lihat sendiri bagaimana sikap Bagas saat kejadian itu. Dia cuma bisa diam tanpa mau membantu kamu. Setidaknya dia bisa menengahi dan menghentikan cacian, hinaan dari kedua penyihir itu. Aku sebal banget ngelihat wajah belagu mereka.”


Fai merobek kemasan roti dengan sangarnya. Ia menggigit sebal kepada roti tersebut. Seakan melampiaskan semua geraman kekesalannya. Masih ingat betul bagaimana brutalnya mereka menghinanya dan bagaimana sedihnya ia mendapati Bagas hanya terdiam mematung tanpa niatan untuk membantunya.


“Percaya deh Fai. Ini cara Tuhan menunjukkan bahwa Bagas itu bukanlah jodoh terbaik buat kamu. Nantinya, kamu akan tahu bagaimana hebatnya Tuhan mempertemukan kamu dengan satu sosok hero yang sudah Tuhan persiapkan untuk kamu sebelumnya.”


Fai menatap serius ke arah kak Flo.


‘Jodoh? Apa gak bisa ya, kalau Bagas aja yang menjadi jodohku? Siapa? Siapa orangnya yang akan menggantikan posisi Bagas?’ Fai berulang kali menggelengkan kepalanya. Ia berusaha menghapus pemikiran-pemikiran kusutnya.


“Enggak! Masa bodoh dengan jodoh. Fai gak bisa kalau sama yang lain kak Flo…. Fai gak bisa berjodoh dengan yang lain selain Bagas.”


“Ihhhh…. Fai! Jangan bodoh deh. Udah, ditunggu aja! Berdoa aja yang baik-baik. Minta sama Tuhan kalau kamu butuhnya sosok pria ganteng, macho, keren, super tajir, pengertian, baik dan yang lebih tepat harus dalam lingkungan keluarga yang baik dan saling bisa menghargai siapa pun.”


“Hahaha…. jahanam banget kita ya. Hahaha….”


Tertawaan terus mereka gemakan pada ruangan kamar Apartemen Fai.


Fai dan kak Flo sebenarnya ialah bertetangga. Mereka berkenalan tepat di saat Fai pertama kali menyewa Apartemennya. Sosok ramah dan baik hatinya kak Flo, membuat Fai merasa nyaman dan tersanjung dengan setiap niat baik kak Flo. Keluarga Fai pun juga sangat mempercayakan kak Flo untuk bisa menjaga diri Fai. Keputusan Fai untuk hidup mandiri sangat menggusarkan hati dan pemikiran keluarganya. Namun bukan Fai namanya jika dia tidak keras kepala dan mengikuti semua isi hatinya.


***


“Danar?!”


“Hei, Rahmat!! Apa kabarmu kawan….?”


“Hahaha…. Alhamdulillah sehat-sehat saja Danar. Bagaimana denganmu, keluargamu bagaimana juga?”

__ADS_1


“Alhamdulillah baik, aman terkendali dan sehat wal afiat.”


“Hahaha…. Sudah lama sekali kita tidak berjumpa kawan.”


“Iya nih. Wahhh…. sepertinya semakin berjaya kamu Rahmat. Oh iya, aku turut berbela sungkawa atas kepergian istri kamu. Aku benar-benar minta maaf banget Mat, aku gak bisa datang waktu itu. Aku gak bisa meninggalkan pekerjaanku.”


“Iya Danar. Aku memaklumi. Tapi terimakasih, waktu itu kamu juga sudah sangat baik membantuku dalam pembiayaan pengobatan istriku. Walaupun…. tetap saja aku kehilangan dirinya.”


“Mat, jangan dipikirkan lagi. Semua itu sudah garis tangan dari Allah. Kamu sudah berhasil menjadi suami yang baik untuk Rania. Setidaknya kita sudah berusaha semampu kita. Allah lebih menyayangi Rania. Jadi jangan menyalahkan takdir.”


“Iya Nar. Sudahlah, aku gak mau bersedih lagi. Sekarang ini, aku ingin melanjutkan kebahagianku dengan anak dan Ranum.”


“Dia juga wanita yang baik. Dia sudah menerima dengan ikhlas takdirnya bersama kamu. Itu pasti sangat sulit juga untuk Ranum terima, Mat.”


Rahmat menyunggingkan senyum hambarnya.


“Baiklah Nar. Aku tidak banyak waktu saat ini. Lain kali kita atur perjumpaan kita selanjutnya.”


“Benar itu Mat. Oh iya, aku kehilangan nomor kamu. Boleh aku memintanya kembali? Sesekali aku juga ingin mengobrol panjang dengan kamu Mat.”


“Hahaha…. dasar kamu Nar. Nomor teman sendiri tidak disimpan.”


“Bukan begitu Rahmat. Handphoneku sempat rusak. Aku bawa ke counter, eh semua nomor yang ku punya langsung hilang terhapus. Udah lama juga kejadiannya. Beruntung aku ketemu kamu di sini.”


“Hahaha…. Baiklah Nar. Ini kartu namaku. Segera simpan dan hubungi aku di waktu senggang. Aku juga ingin mengenang semua masa-masa bodoh kita dulu.”


“Hahaha…. Banyak sekali kenangan kita, Rahmat.”


Pertemuan dengan teman lama yang sangat dirindukan. Tapi sekarang bukan waktu yang tepat untuk berbincang lama. Masing-masing dari mereka diharuskan untuk kembali bekerja. Rahmat seorang CEO dari perusahaan yang ia bangun. menggarap dalam bidang jasa transportasi darat. Ia menyediakan banyak sekali penyewaan kendaraan


roda empat baik dalam taraf besar maupun mobil sedan pribadi lainnya. Sedangkan Danar ialah seorang Accounting Manager pada satu perusahaan ternama di Jakarta. Yang dulunya sempat berdiri di kota Bandung.

__ADS_1


Pertemuan pertama keduanya berlangsung di saat mereka sama-sama mengenyam pendidikan perguruan tingginya di kota Bandung. Berteman akrab hingga pada akhirnya berpisah saat Rahmat sudah melangsungkan pernikahan pertamanya. Rahmat memilih tinggal di Jakarta. Mengikuti jejak sang Ayah yang juga mahir dalam berbisnis. Sedangkan Danar masih tetap tinggal di Bandung hingga saat dimana ia dipindah tugaskan ke kota Jakarta.


__ADS_2