
Fai memeluk Fajar yang baru saja hadir. Mereka terlihat sangat terpukul dengan kondisi sang Papa yang belum juga siuman dari semalam. Apalagi setelah Dokter menjelaskan semua secara detail bagaimana kondisi Papa mereka. Seluruh keluarga terdekat sudah berkumpul. Sama-sama saling menguatkan. Begitu juga dengan Fadhil yang kini tidak lagi menghakimi Fai.
Danar sudah dipindahkan pada ruangan ICU. Kondisi terus tidak stabil. Berulang kali para perawat dan Dokter mengecek kondisi terbaru sang pasien. Mereka yang menjenguk selalu melafalkan sebuah doa untuk Danar.
“Kita harus terima semua ini apa pun yang terjadi nantinya. Jangan menyiksa Papa. Kita harus ikhlas.”
Fai dan Fadhil menatap haru semua nasihat dari Fajar si kakak tertua. Mereka mengangguk lemah tidak sanggup sebenarnya harus menerima semua ini.
“Fad! Aku ke sini ingin mengabari kalau yang menabrak om Danar sudah ditindak lanjuti oleh pihak polisi. Semua laporan kejadian yang sebenarnya sudah diterima. Supir positive dalam pengaruh obat terlarang saat kejadian. Hal itu yang menyebabkannya tidak fokus dalam mengemudi dan berakhir menabrak Papa kamu Fad.”
“Pastikan dia benar-benar mendapatkan ganjarannya Al. Aku benar-benar sangat dendam dengan semua yang terjadi dengan Papaku.”
“Terimakasih banyak Mas, Mbak, Al. Kalian sudah banyak membantu kami. Kalian sangat perduli dengan apa yang menimpa keluargaku. Aku sangat berhutang budi dengan kebaikan kalian.”
“Sudah Mbak. Jangan dipikirkan. Selagi kami masih mampu membantu, akan kami bantu.”
“Jadi…. apa sekarang sudah ada perkembangan dengan om Danar, Tante?”
Dina menggelengkan kepalanya seiring dengan air mata yang kembali luruh.
“Belum ada kabar baik dari suamiku. Hiksss…. Hiksss…. Dari semalam sampai sekarang mas Danar belum siuman. Dokter juga belum bisa memastikan untuk kesembuhan mas Danar. Aku takut Mas, Mbak. Aku belum bisa kehilangan suamiku. Hiksss…. Hiksss….”
“Mbak…. yang sabar, yang tenang. Ikhlaskan apa pun yang terjadi. Semua sudah garis tangan Tuhan. Kita hanya perlu banyak berdoa Mbak.”
“Permisi Ibuk, Bapak. Pasien sudah siuman. Keluarga inti pasien sudah bisa menjenguk kondisi bapak Danar. Untuk yang lainnya, bisa secara bergantian dengan maksimal kunjungan 3 orang saja Buk, Pak.”
“Ma…. Fai mau lihat Papa….” Pinta cepat Fai yang sudah sangat merindukan sosok sang Papa.
Dan kini, Fai, Fadhil, Fajar dan Dina sudah memasuki ruangan dimana Danar terbaring lemah. Para perawat memberi ruang untuk mereka bisa saling menyapa pasien yang baru siuman. Fai yang kini lebih meraung dalam tangisnya. Walau ia mencoba untuk menahan itu semua, nyatanya sulit. Ia merengkuh tubuh Papanya. Fai terus meluapkan seluruh isi hatinya. Dengan napas yang tersengal-sengal.
“Maaf Pa…. Hiksss…. Hiksss…. Papa harus sembuh…. Papa harus bisa kayak dulu lagi. Hiksss…. Hiksss…. Fai janji akan pulang. Fai janji akan berubah Pa…. Hiksss…. Hiksss…. Fai mohon Pa. Fai masih mau melihat Papa kayak dulu lagi. Hiksss…. Hiksss….”
“Fai, udah. Jangan terlalu memperlihatkan kesedihan kita di hadapan Papa. Kita harus kuat untuk Papa.”
Fai memeluk erat Fajar.
“Suami saya bagaimana Dok? Baik-baik aja kan Dok?”
“Untuk saat ini pasien memang sudah siuman Buk. Tapi belum bisa merespon semua apa yang ia dengar. Belum bisa berbicara sepenuhnya. Hanya bisa merespon dari kontak mata dan pergerakan-pergerakan kecil yang beliau berikan. Saya harap, Ibuk dan anak-anak Ibuk, bisa memberi ruang yang nyaman untuk pak Danar. Jangan sampai membuat rasa trauma atau shock jantung terlalu berlebih. Bisa fatal Buk.”
“Baik Dok. Terimakasih.”
Kedua kelopak mata itu meneteskan buliran air matanya. Danar mencoba menggerakkan jari-jari tangannya yang kaku. Sontak, hal itu disadari oleh Fadhil. Fadhil berjalan lebih mendekat.
“Pa…. Papa harus kuat ya! Papa harus bisa kembali bersama kami lagi. Kita rindu dengan semua amukan Papa, nasihat Papa, candaan absurd Papa. Fadhil dan semuanya minta maaf kalau kami udah banyak membantah Papa. Fadhil kangen Pa. Fadhil kangen keluarga kita yang utuh.”
Danar mengedipkan kedua kelopak matanya seiring dengan air mata yang kembali luruh. Itu seakan bentuk sebuah respon yang ia berikan. Dan setelahnya, ia berulang kali menggerak-gerakkan jari tangannya seakan menunjuk Fai saat ini. Fajar memahami reaksi sang Papa. Ia pun menuntun Fai kembali lebih mendekat.
__ADS_1
“F-fa-fai….”
“Iya Pa…. Ini Fai Pa. Fai minta maaf udah ngebuat Papa seperti ini. Fai udah terlalu mementingkan ego Fai. Fai minta maaf Pa…. Hiksss…. Hiksss….”
“Al….”
Fai mengerutkan dahinya. Papanya berulang kali menyebutkan satu nama yang sama.
“Al….”
“Ada apa Pa? Papa butuh apa?” Tanya Dina dengan penuh kelembutan.
“Al…. F-fai…. Men-me-nik….”
“Jangan terlalu dipaksakan Pak. Bapak harus bisa mengatur napas dengan baik dulu.” Tuntun sang Dokter.
“A-al….”
Terus begitu hingga Fadhil mendekat dan mencoba untuk merangkai sesuatu yang ingin Papanya sampaikan.
“Al? Apa Papa masih menginginkan Fai dan Al benar-benar menikah?”
DEG!
Fai berhasil terpaku dengan pertanyaan Fadhil kepada Papanya. Bahkan, kini ia tidak menyangka dengan respon sang Papa yang terus mengedipkan kedua kelopak matanya seakan membenarkan apa yang dilontarkan Fadhil.
“Iya kak. Beberapa minggu lalu Papa berusaha menjodohkan Fai dengan Al. Al anak dari teman lama Papa dan juga teman lamaku kak. Tapi Fai menolak perjodohan itu. Fadhil rasa Papa benar-benar menginginkan Fai menikah dengan Al.”
“Pa…. Fai mohon…. Hiksss…. Hiksss…. Jangan membahas hal ini lagi. Fai janji akan melakukan apa pun yang Papa inginkan tapi bukan untuk menikah dengan Al, Pa. Fai gak bisa. Hiksss…. Hiksss…. Fai gak memiliki perasaan apa pun ke Al. Fai gak mau menyakiti siapa pun Pa. Fai Mohon…. Hiksss…. Hiksss…. Fai janji akan berubah. Fai janji Pa….”
Danar terus mengeluarkan cairan matanya setiap kali sang anak menolak keinginannya. Ini harapannya. Melihat Fai benar-benar dinikahi dengan pria pilihannya. Anak baik yang ia rasa bisa menuntun dan membimbing Fai.
“Pa…. jangan memaksa Fai! Bukan jalan mereka untuk bersama Pa.”
Hanya pergerakan kecil dari kepala yang Danar gerakkan seakan tidak menerima penolakan. Selang berikutnya, Danar merasa sedikit sesak. Respon mendadak yang semakin membuat semuanya panik. Suster dan Dokter yang masih mengawasi mereka, dengan cekatan membenarkan alat bantu pernapasan mencoba mengontrol rasa sesak yang pasiennya alami.
“Tenang Pak! Rileks kan tubuh dan pemikiran Bapak! Saya mohon jangan berikan tekanan apa pun dulu kepada pasien! Sangat fatal dampaknya Buk.”
Dina dan ketiga anaknya semakin kalut dengan apa yang telah mereka lalui saat ini. Mereka saling cemas. Fai meringkuk dengan pemikirannya saat ini. Ia memutar terus-menerus permintaan sang Papa. Sangat konyol. Tapi itu harapan sang Papa.
Dina menghampiri Fai dan mencoba menggenggam tangan Fai.
“Mama gak tahu ini hanya sekadar keinginan Papa atau malah harapan terakhir Papa, Fai. Papa berulang kali meminta hal ini ke Mama agar bisa membujuk kamu mau menerima perjodohan itu. Bahkan sebelum semua ini terjadi. Feeling Mama semakin gak enak Fai. Mama gak mau kita menyesal di kemudian hari. Papa ingin kamu dibimbing dengan sosok Al. Al pria pilihan Papa untuk kamu Fai. Mama rasa…. ini permintaan terakhir Papa. Mama…. Hiksss…. Hiksss…. udah pasrah kalau memang ini semua akhir dari kebersamaan kita dengan Papa. Hanya itu Fai. Hanya itu keinginan Papa dari kamu. Mama mohon…. Kabulkan keinginan Papa…. Hiksss…. Hiksss….”
Kesekian kalinya Fai menangis. Menutup kedua kelopak matanya mencoba menguatkan hatinya yang kini coba ia lawan rasa egonya.
‘Apa ini memang semua takdirku? Keinginan Papa yang melihat aku bisa menikahi sosok pria yang sangat aku benci, yang sama sekali gak ada dipikiranku. Kenapa harus Al? Kenapa harus dia yang masuk dalam kehidupanku?’
__ADS_1
“Ok. Fai…. me-menerima keinginan Papa.”
Dina menangkup kedua pipi Fai dan setelahnya memeluk erat Fai yang menahan desak tangisnya. Fadhil yang melihat itu semua dengan segera keluar berusaha mencari keberadaan Al.
“Tan, Om, Al mana? Al di mana Om?”
“Al…. izin ke Mushola sebentar. Ada apa nak Fadhil?”
“Fadhil mohon bantuannya lagi dari Om dan juga Tante. Fadhil minta restunya dari Om dan Tante untuk Al menikahi Adik Fadhil. Menikahi Fai, Om. Papa menginginkan Al menikahi Fai, Om. Fadhil mohon.... Hiksss…. Hiksss…. Fadhil ingin permintaan terakhir Papa terkabulkan. Fadhil mohon Om….”
“Yang tenang nak Fadhil! Om akan mencari Al sebentar. Om akan mengizinkan Al menikahi Fai.”
Dengan cepatnya Rahmat berkeliling mencari keberadaan Mushola dimana Al singgahi.
***
“Ya Allah ya Rabbi…. Berikan suatu mukjizat darimu ya Allah. Berikan kuasamu ya Allah. Om Danar orang baik. Berikan kesembuhan untuk om danar. Berikan ketabahan untuk keluarga yang berjuang saat ini. Berjuang untuk kesembuhan om Danar. Ya Allah…. Hamba sangat mencintai ciptaanmu. Tapi Hamba gak mau terlalu larut dalam perasaan. Hamba tahu, dia hanyalah milikmu. Hamba tahu Engkau yang lebih berhak menentukan siapa yang memilikinya. Hamba hanya ingin melihatnya bahagia, melihatnya selalu tersenyum dan melihatnya selalu kuat dalam sedihnya. Hamba mohon ya Allah…. Mohon hapuskan segala rasa sedihnya. Berikan kesembuhan dan kesehatan orang-orang yang ia sayangi. Berikan dia kesabaran dan keikhlasan pada dirinya ya Allah. Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah, wa qinaa adzabannari. Amin….”
Al keluar dan memakai kembali sneakersnya.
“Al!”
“Papa? Papa kenapa? Kenapa terburu-buru gini sih Pa? Ada apa Pa?”
Rahmat mengatur terlebih dahulu napas sesaknya. Berlari pada usia yang setengah abad ini sangat menyulitkannya.
“Ayo persiapkan diri kamu untuk menikahi Fai!”
DEG!
Al mematung dengan apa yang ia dengar dari mulut sang Papa. Ia mengernyit bingung dengan ajakan Papanya.
“Pa…. jangan aneh-aneh Pa! Saat ini keadaan sedang runyam. Jangan memaksakan pihak Fai untuk menerima perjodohan konyol ini Pa! Semua sedang memikirkan bagaimana kesem….”
“Ini permintaan langsung dari keluarga om Danar. Dan Papa rasa…. ini keinginan langsung dari om Danar, Al. Dia menginginkan kamu menikahi putrinya. Faizah Nur Fadhila. Tolong kabulkan keinginan om Danar, Nak! Papa mohon….!”
“Om benar-benar berharap kamu bisa menuntun dan membimbing Fai. Om akan tenang kalau benar-benar kamu orangnya Al. Tolong terima permintaan Om. Om sangat berharap sama kamu.”
“Tapi Al juga gak mau memaksa Fai, Om. Fai berhak memilih. Ini masalah hati. Fai benar-benar tidak menyukai Al. Fai menolak Al. Al gak bisa bertindak sejauh itu Om.”
Semua kembali berputar pada isi kepalanya. Apakah ini adalah jawaban dan petunjuk dari semua doa doanya? Dengan tidak memperlama waktu, Rahmat menarik tangan sang anak dan membawanya pada perkumpulan keluarga Fai. Dan bertepatan itu, Fai keluar dari ruangan ICU dan langsung bersitatap dengan dirinya.
Al kembali ragu. Namun selang berikutnya, ia mendapati Fai berjalan ke arahnya.
“Kita menikah Al. Aku ingin kamu nikahi aku sekarang juga!”
Hanya itu. Hanya itu yang mampu membuat hatinya berdesir. Semua sudah benar-benar meyakinkan dirinya untuk bisa menikahi Fai saat ini juga.
__ADS_1