Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Harapan Terberat


__ADS_3

“Ma….”


“Fai…. Hiksss…. Hiksss….”


Fai berlari cepat ke pelukan sang Mama. Ia menumpahkan seluruh tangisnya. Ia luruh dan bergetar hebat pada tubuhnya. Sesekali ia melihat pintu ruangan yang ia tahu bahwa ada sosok sang Papa yang tengah berjuang dari tindakan medis.


“Fai minta maaf Ma. Fai minta maaf…. Hiksss…. Hiksss…. Fai gak menyangka semuanya bakal seperti ini. Hiksss…. Hiksss…. Fai udah jahat sama Papa. Fai gak mau kehilangan Papa, Ma…. Hiksss…. Hiksss….”


“Jangan berkata seperti itu Sayang. Mama juga gak mau ada hal buruk yang terjadi.”


“Semuanya kita serahkan ke kuasa Allah. Kita berdoa agar Danar benar-benar bisa pulih.”


Fai melerai pelukannya. Ia tetap tidak bisa berhenti menangis. Ia kembali memutar semua moment dirinya yang terus saja membuat keributan dalam keluarga. Ia yang selalu menjadi sumber pertengkaran hebat pada keluarganya. Ia biang. Biang masalah dan terus menyakiti hati siapa pun yang justru berusaha untuk melindunginya.


“Benar-benar tidak tahu malu!!!”


PLAKKK!


“FADHIL!!!”


Dengan emosi yang coba ia tahan akhirnya tersalurkan juga terhadap Fai. Sebuah tamparan dan tatapan tajamnya berhasil membungkam tangis sesak Fai.


“Apa yang kamu lakukan ke Fai Fadhil?! Dia Adik kamu!!”


“Dia bukan siapa-siapa lagi di keluarga kita Ma!! Saat keadaan Papa yang seperti ini baru kamu pulang Fai!!”


“Fad, udah Fad! Kontrol emosi kamu!”


“Dia gak layak berada di keluargaku Al!! Kalian lihat kan?! Kalian lihat Fai!! Berpenampilan layaknya ******!! Berani beraninya kamu menginjakkan kaki kotor kamu itu ke hadapan kami Fai!! Dimana pemikiran kamu?! Dimana kewarasan kamu Fai!!”


“FADHIL!!! Ini Rumah Sakit. Tolong jaga emosi kamu. Ada pasien lain yang butuh ketenangan. Jangan membuat keributan di sini Fad!!”


Semua runyam. Kemarahan Fadhil benar-benar tak tertahankan. Ia terus menghakimi Fai yang kini hanya bisa menangis tersedu-sedu. Flora dan Ayla yang mengambil alih untuk menenangkan Fai. Sedangkan Al menahan tubuh Fadhil yang ingin terus memukul dan meluapkan seluruh amarahnya.


“Cukup….!!! Mama gak mau semuanya jadi ribut seperti ini!! Papa lagi berusaha berjuang dalam kesembuhannya, kalian malah membuat keributan!! Jaga ucapan kamu Fadhil!! Enggak ada satu orang pun yang mau mendapatkan musibah seperti ini. Lebih baik kamu pulang Fadhil!!”


Fadhil mereda dengan semua teguran sang Mama. Ia sangat memandang penuh kebencian ke arah Fai. Di matanya, Fai bukanlah sosok Adik. Ia mengutuk diri Fai yang sudah tega membiarkan dan meninggalkan rumah hanya untuk mencari kebebasan yang ia inginkan.

__ADS_1


“Ikut aku Fad! Tenangkan dulu diri kamu. Ayo!”


Al menarik Fadhil menjauh dari kerumunan keluarga yang menunggu di depan ruang operasi.


“Lepasin aku Al!!” Tepisnya pada cekalan Al.


“Jangan membuat semuanya semakin runyam Fad! Aku tahu kamu sangat marah dengan Fai. Aku tahu Fai punya banyak kesalahan. Tapi kamu harus tahu, Fai juga merasa kalut, sedih dan terpuruk saat ini sama dengan apa yang kamu rasakan sekarang. Lupakan amarah kamu. Lupakan semua kesalahan-kesalahan yang Fai buat. Lebih baik kita sama-sama berdoa untuk kesembuhan Papa kamu. Om Danar pasti kuat Fad. Aku yakin itu.”


“Papa mengalami pendarahan otak dan belum lagi dengan penyakit jantung Papa, Al. Dokter bilang tidak bisa memastikan berapa persen kemungkinan Papa akan membaik. Bagaimana aku harus tenang?”


“Dan yang harus kamu tahu, Papaku seperti ini sebab Fai. Papa berusaha keluar rumah untuk menemui Fai. Aku udah melarang. Tapi Papa tetap kekeh dan pergi tanpa sepengetahuan kami. Dan…. aku langsung mendapat kabar Papa mengalami kecelakaan. Sebuah truck menabrak mobil Papa. Papaku masih dalam keadaan sakit rela keluar hanya untuk menemui anak badung itu Al!! Dia memang Adikku. Tapi sebab dialah yang membuat Papa seperti ini. Apa aku salah meluapkan semua amarahku saat ini?! Apa aku salah Al?!”


Al tahu bagaimana kekeras kepalaannya Fai. Ia tahu bagaimana sikap buruknya Fai. Tapi tetap ia juga tidak tega setelah melihat Fai menangis tersedu-sedu. Ia juga merasakan ikut andil dalam semua sumber masalah keluarga Fai. Bermula pertemuan kedua keluarga yang sangat membuat Fai tidak nyaman. Ia marah dan bertingkah seenaknya di kala itu. Setelahnya, ia mendapat kabar bahwa Fai marah besar dan menentang keras perjodohan mereka.


Dan ia rasa, kemarahan Fai berlanjut hingga saat ini. Hingga Fai juga merasakan sebuah penyesalan yang sangat besar. Fai menganggap semua ini kesalahannya. Tapi nyatanya semua berawal dari dirinya yang hadir secara tiba-tiba.


“Aku minta maaf ke kalian. Enggak seharusnya aku datang dengan harapan bisa memiliki Fai. Itu yang membuat Fai marah dan menimbulkan sebuah pertengkaran di keluarga kamu Fad. Walaupun kita tahu semua musibah itu datangnya atas kuasa Allah, tapi tetap melalui aku semua ini bermula. Aku minta maaf Al.”


Fadhil kembali menangis dan merenungkan semua pertengkaran terakhir mereka. Pertengkaran yang membuat Fai memilih menyingkir dari keluarganya, membuat Papa sakit-sakitan dan berakhir pada sebuah kecelakaan sehebat ini.


“Untuk urusan pihak yang menabrak Papa kamu, sedang diurus sama Papaku Fad. Pikirkan saja kesembuhan Papa kamu.”


“Terimakasih Al. Kamu jadi direpotkan dengan semua musibah ini.”


“Seseorang yang butuh bantuan, jangan membuat kita buta dan tuli. Sekarang kamu lebih baik pulang dulu. Istirahatkan dan tenangkan tubuh kamu. Besok kamu ke sini lagi.”


“Aku gak bisa meninggalkan keadaan Papa seperti ini Al.”


“Tapi gak ada penyelesaian diantara kamu dan Fai kalau kamu masih tersulut emosi Fad. Setidaknya tenangkan pikiran kamu dulu. Nanti aku yang akan mengabari kamu mengenai perkembangan Papa kamu. Jangan khawatirkan hal itu.”


Fadhil menyetujui usulan Al. Ia juga tidak tenang terus berlama-lama di Rumah Sakit ini. Dirinya masih bisa tersulut emosi jika terus menatap wajah Fai.


Setelah Al memastikan Fadli benar-benar pulang, ia kembali berjalan menuju arah ruangan operasi. Tapi langkahnya semakin lambat ketika ia kembali mengingat satu permintaan papa Fai terhadap dirinya.


“Om benar-benar berharap kamu bisa menuntun dan membimbing Fai. Om akan tenang kalau benar-benar kamu orangnya Al. Tolong terima permintaan Om. Om sangat berharap sama kamu.”


“Tapi Al juga gak mau memaksa Fai, Om. Fai berhak memilih. Ini masalah hati. Fai benar-benar tidak menyukai Al. Fai menolak Al. Al gak bisa bertindak sejauh itu Om.”

__ADS_1


‘Aku mencintai seseorang begitu dalam. Aku memendam perasaanku selama ini Fai. Aku gak tahu jalan apa yang akan aku lalui. Aku udah meminta dalam doaku, aku ingin melupakan dan menjauhi kamu. Tapi saat ini, selalu ada hal yang mengharuskan aku terlibat dengan kamu Fai. Dan perasaan itu semakin kuat. Bahkan, Papa kamu memberi aku sebuah amanah untuk bisa menjaga kamu. Ini semakin sulit. Apa yang harus aku lakukan Fai?’


Sorot matanya kembali tertuju pada satu wanita yang kini meringkuk pada lantai dingin Rumah Sakit. Fai terus memandangi pintu ruangan operasi yang belum juga ada tanda-tanda para tim medis selesai mengurusi Papanya.


Al hanya terduduk pada satu kursi yang kosong. Mereka semua terdiam sembari merapalkan sebuah doa. Hingga tidak berapa lama, pintu ruangan operasi terbuka. Menampilkan beberapa perawat dan Dokter membawa keluar brankar yang ditempati oleh terbaringnya Danar. Sontak, semua berdiri dan berusaha mengikuti arah dimana Danar dibawa. Sebuah ruangan pemulihan untuk beberapa pasien yang baru saja selesai menjalani sebuah operasi.


“Saya perlu berbicara dengan Ibuk. Ini mengenai kondisi pasien saat ini.”


Dina dengan perasaan cemasnya mencoba tenang dan mengikuti ke mana sang Dokter membawanya. Sedangkan Fai pada ambang pintung yang tertutup terus berdiri gelisah dengan cucuran air mata yang tidak ada hentinya.


“Yang sabar Fai. Tante yakin, Papa kamu pasti akan baik-baik saja.”


“Fai takut…. Hiksss…. Hiksss…. Fai gak mau kehilangan Papa. Hiksss…. Hiksss…. Fai belum sempat membahagiakan Papa. Fai gak pernah ngertiin kemauan Papa. Papa seperti ini sebab Fai…. Hiksss…. Hiksss…. Hiksss….”


“Segala sesuatu itu hanya milik Allah. Kita hanya perlu berdoa dan berserah diri Fai. Kita tunggu saja kabar terbaru dari Dokter.”


“Nanti kakak balik ke Apartemen kamu. Kakak ambil beberapa pakaian untuk bisa kamu pakai nantinya. Sekarang kamu tenangkan dulu diri kamu Fai.”


“Iya Fai. Semua memang masih kalut dengan kondisi Papa kamu. Tapi jangan terlalu dipikirkan. Kamu harus kuat dan sehat. Banyak di sini yang mengharapkan kesembuhan Papa. Lebih baik kamu baringkan tubuh kamu dulu di sini Fai. Sembari menunggu kabar terbaru mengenai Papa.”


Fai menurut. Ia berjalan ke arah kursi tunggu untuk para keluarga pasien. Menidurkan tubuhnya yang lelah dalam posisi yang terduduk. Kepalanya ia senderkan pada bahu Ayla. Al yang memperhatikan itu ingin sekali menenangkan Fai. Tapi ia tidak mau terlalu mengusik Fai. Alhasil, ia hanya bisa terduduk diam sembari menunggu jawaban pasti sang Dokter serta terus mengabari tindakan Papanya mengenai si penabrak mobil papa Fai.


***


“Kami tidak bisa memastikan kesembuhan suami Ibuk. Untuk saat ini kami berhasil menghentikan pendarahan pada otak beliau. Tapi tidak dengan yang lainnya. Suami Ibuk sudah mengalami komplikasi pada jantung, paru-paru dan ginjalnya Buk. Semakin parah sebab kecelakaan ini. Sekarang, beliau masih bisa bertahan sebab berbagai alat yang terpasang untuk mengatur denyut jantung Bapak. Berdoa dan coba ikhlas Buk. Saya dan perawat lainnya akan selalu mengecek kondisi Bapak. Semoga memang ada kabar baik mengenai kondisinya Buk.”


Dina tidak lagi berani mengeluarkan kata-katanya. Cukup pasrah saat ini. Entah perasaan apa yang ingin ia tampilkan. Semua bercampur aduk. Ia berjalan lemah menghampiri kembali seluruh keluarganya yang juga menemaninya malam ini.


“Bagaimana kondisi Om, Tan? Dokter bilang apa?” Al lebih dulu memulai pertanyaan.


Dina menatap Al dengan mata yang penuh derai air mata. Ia bingung harus menjelaskannya seperti apa. Benar benar takut dengan kenyataan yang akan ia terima nantinya.


“Tante?”


“Tante mohon doanya dari kamu. Tante gak tahu harus menampilkan wajah seperti apa di depan anak-anak Tante. Dokter tidak bisa memastikan kesembuhan Om. Mungkin hanya sebuah mukjizat yang bisa menolong Om saat ini. Tante gak tahu harus bagaimana menjelaskan ini semua ke Fai. Hiksss…. Hiksss…. Ini terlalu cepat untuk Tante terima Al. Tante belum siap untuk ditinggalkan. Hiksss…. Hiksss….”


Al memandangi diri Fai yang sudah tertidur pulas. Ia bisa merasakan bagaimana kacaunya hati Fai nantinya setelah tahu apa yang tengah Papanya lalui. Semua sudah seakan pasrah dengan keadaan. Ia bangkit dan lebih memilih pergi untuk menenangkan pikiran campur aduknya. Pemikirannya terus berpusat pada satu permintaan papa Fai mengenai Fai. Merasa terus dibuntuti dengan rasa bersalah dan takut untuk memilih bertindak.

__ADS_1


__ADS_2