Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Izinkan Aku


__ADS_3

Masih betah berbincang pada ruangan keluarga. Fai sudah merasa bosan terus bertatap muka dengan pria yang duduk di seberangnya. Ia masih tidak menyangka bahwa Papanya memiliki hubungan keakraban dengan keluarga si pria yang sangat menyebalkan menurutnya.


“Jadi…. nak Fai ini benar lagi single?”


Fai tersentak dengan pertanyaan dari sahabat Papanya. Ia mengangguk dengan perlahan.


“Alhamdulillah…. Kebetulan Albi juga single. Dan om juga gak menyangka bahwa kalian berdua ini sudah saling mengenal. Jadi, gak terlalu susah untuk melakukan pendekatan.”


‘Terus hubungannya dengan gue apa? Kenapa jadi ngepromoin status anaknya sih? Jangan bilang nih orang bakal mau jodohin gue dengan si brengsek ini. No Fai….’


“Lebih tepatnya Al ini teman dekat saya Om. Kita sekelas, kita sering main bareng dan Al juga pernah kok sesekali ke sini. Dari kedekatan kita berdua lah yang membuat Al juga mengenal Fai.”


“Tapi nih ya Om, saya masih belum menyangka dengan perubahan Al yang sekarang. Al yang saya kenal dulu gak sekalem ini Om. Urakan, berandal dan terus saja membuat masalah. Sekarang kamu berubah 180 derajat Al. Malah jadi pengusaha sukses. Aku salut sama kamu Al.”


“Hahaha…. Alhamdulillah Fad. Semua juga berkat doa orang tua.”


“Di dunia ini memang tidak ada yang tidak mungkin terjadi. Om juga dulu sampai putus asa dengan kelakuan Al. Selalu jadi bahan omongan orang-orang. Maka dari itu, Om sempat paksa Al untuk mondok di pesantren dekat kampung halaman om.”


“Benar begitu nak Al? Berapa lama kamu mondok?”


“2 tahun Om. Di situ Al benar-benar mendapatkan banyak pelajaran. Al sadar apa yang Al lakukan dulu itu sangat salah besar dan tidak ada manfaatnya.”


“Namanya juga anak muda. Selalu ingin merasa bebas. Selalu menganggap kita ini terlalu mengekang mereka. Padahal mah…. itu bentuk sikap keperdulian kita ke anak-anak. Benar begitu atuh Mbak?”


“Betul itu. Masih darah muda. Masih menggebu-gebu dengan dunia luar. Sampai lupa untuk mengontrol diri.”


Fadhil menyikut lengan sang Adik dan berbisik pelan.


“Relate banget ke kamu kan? Dasar anak pembangkang.”


Fai memberikan tatapan tidak sukanya ke arah kedua bola mata Fadhil. Ia benar-benar merasa terpojok dengan pembahasan mereka. Apalagi dengan sang Papa dan Mamanya yang terus mencuri lirikan ke arah dirinya. Seakan menunjukkan bahwa dirinya inilah yang mereka maksudkan.


“Dari tadi kita asik mengobrol. Sampai lupa kalau tamu kita ini belum kita jamu dengan hidangan makan malam. “


“Hahaha…. Baru saja saya mau mengode Mbak seperti itu.”


“Ya udah atuh, kita pindah ke ruang makan. Saya udah bela-belain masak banyak untuk malam ini.”

__ADS_1


“Alhamdulillah…. Terimakasih mbak Dina. Kita sangat dijamu dengan baik.”


“Perjamuan yang sangat spesial untuk calon besan.”


Semua tersenyum sumringah dengan celetukan Danar. Hanya Fai lah yang memberikan reaksi tidak sukanya. Ia sedikit paham dengan tujuan pertemuan keluarganya kali ini. Ingin masa bodoh tapi mereka terus memancing kekesalannya.


‘Gue benar-benar gak terima kalau harus dijodohin dengan cowok brengsek kayak dia. Bagi gue, dia tetap buaya darat. Lo…. bukan masuk dalam kriteria gue Al bajingan.’


Dina dan Flora masih sibuk mengangkat beberapa menu lainnya yang baru saja mereka hangatkan kembali. Sedangkan Fai dan Ayla diperintahkan untuk membuka satu persatu sajian makanan yang sudah terhidang. Juga menuangkan minuman pada gelas yang tersedia.


“Terimakasih Fai.”


Suara itu mendapatkan balasan tatapan sinis dari Fai. Sedangkan Al hanya terkekeh kecil. Dari dulu perlakuan Fai terhadap dirinya tidak sedikitpun berkurang. Tapi itu hanya ia anggap sebagai tantangan untuknya dalam mendekati dan meluluhkan hati Fai.


“Ayo Mbak, Mas. Silahkan dicicipi masakan saya.”


“Dijamin pasti enak. Jangan sungkan untuk menambah porsi nak Al.”


“Siap Om. Semua memang sangat menggugah nafsu makan saya.”


“Ah, nak Al bisa saja menarik perhatian calon mertua. Hihihi….”


Fai dengan kasarnya mengambil nasi dalam porsi banyak dan mengambil semua lauk pauk yang ia taruh langsung pada satu piring miliknya. Sontak hal itu bisa dilihat oleh keluarga Al. Termasuk Ranum yang sekarang ini sedikit mengernyitkan dahinya dengan ulah Fai. Fai yang mendapati tatapan lekat itu pun langsung menambah aksi bar bar nya. Ia dengan sengaja mengangkat satu kakinya layaknya makan di warteg. Dan menggunakan tangannya untuk memasuki lahap semua makanan yang ia ambil.


Bahkan bukan hanya keluarga Al saja. Keluarganya pun turut terheran dengan sikap bar-bar Fai.


“Kenapa pada diam? Dimakan dong Tan, Om. Masakan Mama memang gak ada satupun yang bisa menandingi.”


“Fai….! Kaki kamu tolong dikondisikan!” Kalimat penuh penekanan dari sang Mama.


Tentu saja hal itu semakin membuat Fai melakukan aksinya. Ia makan mengecap dan terus berbicara receh seolah ia sangat tidak perduli dengan tata krama.


“Fai…. jangan mempermalukan keluarga kita!” Ancam sang kakak. Dan tetap tidak diperdulikan oleh Fai.


“Eghhhhh…. Upsss, sorry. Fai sampai kekenyangan banget. Hihihi….”


Fai bisa melihat memerahnya wajah sang Mama mendapati sikap tidak sopan dirinya. Dalam hati Fai tertawa sebab ia berhasil membuat semuanya ilfeel melihatnya.

__ADS_1


Fai lebih dulu membawa piring dan gelas kotornya. Ia mencuci dan berjalan santai ke arah luar rumah tanpa ada merasa bersalah sedikitpun. Ia sudah membuat suasana menjadi kacau.


“Benar-benar anak itu. Aku sudah sangat ingin memberi perhitungan ke Fai, Ma.”


“Tenang Pa. Di sini masih ada mas Rahmat dan mbak Ranum. Enggak enak.”


Bisikan itu sebenarnya masih terdengar oleh sepasang sahabat Danar. Tapi tetap mereka ingin mengembalikan suasana kembali hangat seperti di awal pertemuan mereka.


“Hmm…. Om, Tante, Al boleh izin keluar sebentar?”


“Silahkan nak Al.”


Al keluar dan mencari keberadaan Fai. Dari jarak jauh ia sudah bisa melihat Fai tengah terduduk di kursi panjang seberang komplek rumahnya. Al berjalan lebih dekat dan juga ikut terduduk bersebelahan dengan Fai. Ia mendapati Fai tengah menyesap sebatang rokok. Tentu hal itu mengejutkan bagi Al. Setelahnya ia mendapatkan balasan lirikan dari tajamnya mata Fai.


“Rokok gak baik untuk kesehatan Fai.”


“Cih! Ngapain lo ke sini sih?! Apa gak ada hal lain yang bisa lo lakuin?”


“Salam kenal. Anggap aja ini pertemuan pertama kita. Aku ingin mengenal lebih jauh tentang kamu, kita berteman dan….”


“Lo berharap dengan perjodohan gila mereka? Ingat ya Al. Lo orang asing. Gue gak pernah berekspetasi bisa ketemu dengan lo. Bahkan kemarin gue juga nyesel udah sempat mimpiin muka lo. Bangsat banget dengan hidup gue. Mau lo apa sih?!”


“Aku gak berharap apa pun kok. Aku cuma mengikuti keinginan orang tua. Yaaa…. kalau memang kita gak ada kecocokan, aku juga gak mikir sejauh apa pun.”


Fai menyembulkan asap rokoknya tepat ke arah wajah Al. Ia terkekeh dengan penuturan Al.


“Jangan sok bijak deh. Ke mana Al sang pujangga cinta? Sang perayu ulung para wanita-wanita. Buaya darat!! Sekarang lo sok alim ya. Sok paling benar dan paling santun.”


“Fai! Setiap manusia itu bisa berubah. Aku akui dulu aku memang brengsek. Tapi aku sadar kalau semuanya itu gak ada gunanya. Jangan menghakimi aku seperti ini terus Fai. Aku ingin kita akrab. Aku ingin kita saling dekat dan aku ingin kita bisa saling berubah menjadi lebih baik.”


Fai berdiri dalam posisinya. Ia sudah merasa bosan dengan arah pembicaraan Al yang seakan mengguruinya.


“Aku suka kamu Fai. Saat pertama kali aku ketemu kamu. Anak baru dari Bandung yang berhasil memikat hati aku. Aku memang suka bermain wanita. Tapi aku gak pernah pakai hati. Aku berusaha mendekati kamu tapi kamu selalu menghindar. Aku paham kenapa kamu seperti itu. Karena aku bukan orang baik saat itu. Dan sekarang, aku merasa mempunyai kesempatan untuk bisa membawa kamu menjadi lebih baik Fai.”


Fai terdiam tapi tidak merubah posisi tubuhnya yang masih membelakangi Al. Ia berusaha menahan rasa menjijikkan dari bualan Al.


“Izinkan aku membawa kamu dalam kehidupan aku Fai. Aku akan berusaha menjadi yang terbaik untuk kamu.”

__ADS_1


“Gila lo ya!!! Buang omongan sampah lo itu Al!! Gue gak butuh gombalan-gombalan receh lo Bangsat!!”


Ia melempar puntung rokok yang sudah ia matikan sebelumnya. Dan pergi meninggalkan begitu saja Al pada penolakan kasarnya.


__ADS_2