
“Papa mau ke mana?”
“Mau ketemu dengan putriku.”
“Untuk apa lagi Pa? Anak itu sudah bukan lagi bagian dalam keluarga ini Pa!!”
“Dia tetap anakku Fad. Adik kamu!!”
“Tapi Papa gak boleh ke mana-mana dulu. Papa belum 100 persen sembuh. Masih perlu istirahat yang cukup Pa.”
“Terus siapa yang mau mengantarku?! Aku menyesal Dina. Aku tahu bagaimana Fai. Anak itu terlalu nekat. Di luaran sana tetap tidak baik bagi Fai. Aku gak mau Fai kehilangan arah. Aku gak tenang melihat anakku hidup sendirian di luaran sana.”
“Tapi Fai sendiri yang memutuskan Pa. Fai lebih memilih dunia bebasnya dibanding kita. Dia sudah teganya mencampakkan kita. Biarkan dia hancur di luaran sana!!”
“Cukup Fad!! Jangan menghakimi Adik kamu terus-menerus!!” Bentak Danar yang kesal mendengar cibiran Fadhil mengenai putrinya.
Fadhil dengan gerak cepatnya meraih kunci mobil yang berada di genggaman sang Papa. Ia tidak ingin mengambil resiko. Dalam kondisi yang lemah Danar nekat untuk menemui Fai.
“Tunggu Fadhil sampai pulang Pa! Sekarang Fadhil mau ke kantor dulu. Istirahat yang cukup. Jangan ngebantah perintahan Mama!”
“Kita ke kamar Pa. Jangan semakin membuat aku frustasi. Kamu masih perlu istirahat yang cukup. Jangan terlalu dipikirkan mengenai Fai. Kondisi kamu yang lebih penting.
***
Fai mendapatkan sebuah apresiasi dari pihak perusahaan yang sangat menyukai kinerjanya ia selama ini. Semua para client merasa puas dan beruntung mengenal dirinya yang sangat cakap memberikan pelayanan yang terbaik. Alhasil, ia sudah bisa mendapati kedudukan teratas dari team-team lainnya. Yakni Senior marketing executive. Sangat sesuai dengan pengalaman maupun peningkatan kinerjanya setiap tahunnya.
“Terimakasih atas sanjungan dan apresiasinya kepada saya. Saya berharap kita semua bisa saling bekerja sama dan lebih memajukan perusahaan ini. Dan saya juga akan lebih meningkatkan kinerja menjadi lebih baik lagi. Sukses untuk kita semuanya!!”
PROK! PROK! PROK!
Gemuruh tepukan tangan mengisi seluruh aula yang memang tengah dihadiri banyaknya para karyawan maupun karyawati lainnya.
“Fai…. akhirnya lo bisa dapatin posisi itu.”
“Iya May…. gue happy banget. Ini satu keinginan gue yang tercapai.”
“Dan lo harus berusaha lagi sampai lo bisa menduduki posisi yang setara dengan pak Dimas. Hihihi….”
“Enggak lah Rin. Menurut gue, diangkat jadi Senior Marketing Executive aja gue udah senang banget kok. Perjuangan gue selama ini gak sia-sia.”
“Wahhh…. boleh dong traktirannya Fai. Hihihi….” Celetuk Lala.
Fai tersenyum lebar sembari menganggukkan kepalanya.
“Ok. So…. club mana yang mau kita datangi, hum?” Mengedikkan sebelah alisnya sekadar menggoda ketiga temannya ini yang selalu sulit untuk ia bawa ke lubang jahanam.
Maya, Lala dan Karin memang tidak terlalu polos. Hanya saja mereka tidak ingin mengambil resiko pada kenakalan mereka. Club salah satu tempat yang dapat membuat mereka lupa diri.
“Mesti club ya Fai?” Tanya Karin dengan ragu.
“Kalau lo semua mau dapatin traktiran dari gue, ya ikuti dong ke mana gue mau pergi.”
“Dasar licik. Ok, kita ikuti ke mana pun lo bawa kita.”
“Ok, deal!”
Malam pun tiba. Fai dengan pilihan outfit yang minim dan sexy sangat cocok melekat pada tubuhnya. Ia juga memoles wajahnya seperfect mungkin. Malam ini ia akan memberikan service terbaik kepada ketiga teman temannya. Ia sangat bahagia dan merasa puas dengan apa yang sudah bisa ia capai.
“Fai? Mau ke mana kamu?”
“Biasa kak. Kakak mau ikut?”
“Fai, tolong dong berhenti dari kebiasaan buruk kamu itu! Apa kamu ada merespon telepon dari keluarga kamu? Berulang kali Mama kamu menghubungi ke nomor kamu. Tapi gak ada satu pun yang kamu respon Fai.”
“Cih! Untuk apa? Bukannya mereka sendiri yang sudah tidak lagi menganggapku bagian dari mereka.”
__ADS_1
“Fai!!” Menarik tangan Fai dengan kekesalannya.
“Tolong jangan memancing emosiku kak Flo. Hari ini aku mendapatkan apa yang aku mau. Kakak lihat kan, aku semakin sukses tanpa bantuan dari mereka. Aku bisa mencari kebahagiaan aku sendiri.”
“Tega kamu Fai. Tega kamu membiarkan Papa kamu dalam penyakitnya. Kamu sudah terlalu gelap akan duniawi. Kamu lupa siapa kamu sebenarnya. Kamu lupa dari mana kamu dibesarkan.”
“Jangan mengguruiku lagi kak!! Kalau kakak gak suka dengan apa yang semua aku lakukan, jangan ikut campur urusanku!!”
Flora mengeratkan rahangnya yang sudah tak kuasa meladeni kekeras kepalaan Fai. Ia hanya bisa meneteskan buliran air matanya di mana ia tahu sendiri bagaimana hancurnya hati seorang orang tua yang sangat menyayangi Fai. Fai sangat beruntung. Tapi semua keberuntungan itu tidak diperdulikan oleh Fai. Ia sangat terpukul dengan kondisi papa Fai yang terus memohon untuk membawa Fai pulang. Tapi apa dayanya. Fai sudah melupakan dan tidak lagi menganggap keluarganya ada.
Fai dengan paksa menepis genggaman tangan dari Flora. Dengan gerakan kesalnya, ia meraih heels dan tas sandang kecil miliknya. Melangkahkan kakinya dengan sangat terburu-buru. Ia langsung memasuki mobil Grab yang sudah menunggunya. Dalam perjalanan itu pun berulang kali Fai menghapus buliran air mata yang luruh membasahi pipinya.
‘Lo berhak bahagia Fai. Lo bisa tanpa mereka. Lo bisa hidup sendiri.’
Dentuman music keras sudah memekakkan pendengarannya. Fai melihat ketiga temannya itu sudah menunggu dirinya di ambang pintu masuk club. Tertawa puas saat melihat Lala yang terus digoda beberapa pria tua. Memang sangat awam bagi ketiga teman polosnya ini. Sebab itulah Fai ingin sekali menantang mereka.
“Tolong jangan memaksa temanku pria tua!” Ketus Fai yang berhasil mengusir para pria tua tersebut.
“Lo lama banget sih Fai?! Gue terancam digilir sama pria-pria bejat di sini tahu!!”
Kekesalan Lala berhasil memancing gelak tawa renyah Fai.
“Habisnya lo sih, pakai pakaian yang menggoda iman banget.”
“Namanya juga ke club. Ya begini dong outfit gue. Fai aja nyantai banget pakai pakaian minim begini.”
“Heh! Lo harus sadar dong. Fai sama kita itu beda. Ratu dunia malam lo lawan. Fai masih bisa ngelawan ribuan pria-pria berhidung belang. Lah kita? Langsung disekap terus dieksekusi bloon.”
“Hahaha…. Udah dong. Ada gue, lo semua bakal aman. Ayo masuk!”
Fai menarik ketiga temannya untuk lebih memasuki area club. Ia menuntun mereka untuk menduduki satu table yang kosong. Berulang kali mereka bergidik ngeri saat mata polos mereka melihat banyaknya sepasang sejoli sedang bertindak tidak senonoh.
“Tunggu di sini dulu! Gue mau pesan banyak cemilan dan beberapa minuman haram pelepas da-ha-ga kita. Hahaha….” Sedikit mengolok raut tegang ketiga temannya.
“Hahaha…. Lo sendiri jomblo Fai. Eh, by the way…. kakak lo mana? Kok gak ikutan?”
“Lagi ngedate sama gebetan.”
“Yang benar lo Fai. Masa gue kalah cepat sih?”
“Hahaha…. canda kali. Intinya gue gak punya waktu untuk hang out bareng dia. Terlalu bawel.”
“Cepetan ya! Gue tunggu.”
“Ok Fai. Have fun ya!!”
Fai kembali bergabung. Ia menyenderkan tubuhnya sembari terus terkekeh kecil memperhatikan seluruh ekspresi kaku teman-temannya.
“Santai aja dong guys! Tempat ini tuh gak terlalu berbahaya kok. Lo semua boleh minum asal jangan sampai teler.”
“Fai, apa lo gak ada ngerasa takut datang ke tempat beginian? Lo cantik Fai. Bahaya banget buat lo. Lo bisa dijebak sama pria-pria mesum di sini Fai.”
“Sebagian dari mereka ada yang udah kenal sama gue. Jadi, kalau ada aja yang berani mau macem-macem ke gue, mereka bakal ngelindungin gue.”
“Bego apa lo ya? Fai ini selebgram bro. Ya pasti banyaklah yang kenal sama Fai.”
“Hehehe…. Gue sampai lupa kalau lo terkenal Fai.” Lontar Lala.
“Ini mbak Fai. Selamat bersenang-senang Mbak semuanya.” Ungkap 2 pelayan yang baru saja mengantarkan pesanan mereka.
“Lihat kan? Gue udah dikenal banget di sini. Santai aja. Selagi lo semuanya datang bareng gue, kalian aman guys.”
“Gila lo Fai. Lo benar-benar ngejerumusin kita ke hal yang gak baik.”
“Hahaha…. Sesekali ngehibur diri sendiri itu penting. Kalau lo lagi stress, ini tujuan utama yang terbaik. Cheers guys….!!!” Sorak Fai menuntun ketiga temannya ikut meminum minuman beralkohol yang ia pesan.
__ADS_1
Music Disc Jockey menghipnotis dirinya untuk bergabung pada kerumunan orang-orang yang bergoyang, bersorak seiring dengan musik yang dimainkan. Fai menarik Lala dan Maya untuk ikut memeriahkan lantai club dengan goyangan mereka. Sedangkan Karin menolak sebab ia benar-benar merasa pusing dari efek minuman beralkohol yang ia tenggak.
Lama mereka mengisi waktu luang pada malam temaram. Fai tidak lagi memperdulikan waktu yang cepat larut. Karin yang sudah lumayan mabuk masih bisa terus mendengar nada dering handphone dari tas Fai. Dengan tubuh lunglainya ia mencoba merogoh dan mengambil handphone berdering milik Fai. Ia membaca siapa si pemanggil. Namun susah untuk ia baca dalam keadaan mabuk berat. Alhasil, ia meletakkan saja handphone Fai pada meja. Denyut kepalanya tak tertahankan.
“Gue balik duduk dulu ya? Lo berdua lanjut aja.”
“Ok Fai. Asik juga nih tempat. Hihihi….”
“Ok. Have fun ya!!”
Fai berjalan cepat ke arah table dimana Karin sudah terbaring lunglai pada sofa panjang. Terbahak sebentar menertawakan kekonyolan Karin.
Selang beberapa menit, handphone miliknya kembali berdering. Ia membuka layar dan terlihatlah nama sang kakak.
“Cih! Mau apa sih nih orang? Kenapa tiba-tiba lo neleponin gue? Persetan dengan lo Fad!”
Menenggak habis satu botol yang tersisa.
Drrrtttt…. Drrrtttt….
Kembali lagi berdering. Bahkan sudah terhitung puluhan kali pesan notifikasi masuk pada layar handphone nya.
Drrrtttt…. Drrrtttt….
“Arghhhh…. Kesel banget sih!!! Sibuk banget lo pada neleponin gue muluk. Kurang kerjaan banget.”
Mereject panggilan yang terus berulang kali mengusiknya. Tapi terus tidak ada kata hentinya dari si pemanggil. Dengan tingkat kekesalannya Fai mengangkat dan bernada ketus.
“Apa urusan lo sama gue BANGSAT!!! Lo udah bukan siapa-siapa gue….”
“Ke rumah sakit sekarang Fai! Papa mengalami kecelakaan. Ini aku Ayla. Fadhil dan lainnya masih sibuk mengurusi Papa. Cepat ke sini Fai! Aku mohon…. Hiksss…. Hiksss….”
Deg!
Fai terdiam kaku mendengar kabar buruk dari suara bergetar milik Ayla. Ia masih terdiam menelaah dan meyakinkan dirinya bahwa ini bukanlah nyata. Tapi selang berikutnya, berbagai pesan masuk dari kak Flora, Ayla, kak Fajar dan lainnya terus mencoba mengabarinya.
“Ahhhh…. Hiksss…. Hiksss…. Enggak mungkin kan? Hiksss…. Hiksss….”
“Fai, kita udah capek…. Lo kenapa Fai? Kenapa lo nangis?”
“Gue mau pulang, Gue harus pulang sekarang…. Hiksss…. Hiksss….”
Fai tidak lagi memperdulikan berbagai pertanyaan Maya dan Lala. Ia meraih tasnya dan langsung bergegas berlari keluar area club. Dengan napas yang sesak dan tangan bergetarnya Fai mencoba mencari jasa Grab yang bisa mengantarkan dirinya ke Rumah Sakit di mana Papanya dirawat. Tapi sial baginya yang kehabisan daya pada ponselnya.
“Arghhhh! Brengsek, tolol!! Hiksss…. Hiksss…. gimana caranya gue bisa ke tempat Papa…. Hiksss…. Hiksss….” Meringkuk kesal sembari mencari kendaraan yang lewat. Ia juga berusaha meminta pinjaman ponsel namun tak ada satu pun yang berani mendekati Fai di saat ia sedang kalut dan kacau seperti ini.
“Fai!!”
Dari tempatnya, Fai mendapati sosok pria yang sangat ingin ia jauhi. Namun dengan rasa kepercayaan dirinya ia berharap pria ini bisa mengantarkan dirinya pada Papanya.
“Ikut aku Fai! Kita ke Rumah Sakit sekarang. Papa kamu mengalami kecelakaan Fai!!”
Fai menurunkan egonya. Sesuatu yang sangat ia harapkan saat ia dalam keadaan genting. Ia menuruti tarikan tangannya dari pria ini.
Al dengan cepat melajukan mobilnya. Keduanya saling cemas. Tapi Al masih bisa mengontrol dirinya. Sebab ia tahu Fai lah yang lebih kalut saat ini. Meringkuk dan menenggelamkan kepalanya berusaha meluapkan seluruh desak tangisnya.
Al berusaha mempercepat laju mobilnya. Dan membawa Fai pada tujuan mereka saat ini. Rumah Sakit Jakarta Medical Center yang terletak di Jalan Buncit Raya Jakarta Selatan. Mobil sudah terparkir dan membukakan pintu untuk Fai. Ia bisa melihat bagaimana kacau Fai saat ini. Desak tangis dan tubuh bergetarnya sangat menyayat hati Albi. Dengan kelembutannya ia menenangkan Fai terlebih dahulu.
“Fai…. lihat aku Fai! Sekarang semua sudah ditangani. Aku tahu ini sangat mengejutkan bagi kamu. Tapi aku mohon, kuatkan hati kamu dulu. Kita berdoa untuk keselamatan Papa kamu. Semua udah berkumpul. Hanya menunggu kedatangan kak Fajar. Aku harap kamu bisa tenang dulu ya.”
“Hiksss…. Hiksss…. G-gue gak nyangka…. Hiksss…. Hiksss…. bakal kayak gini. Hiksss…. Hiksss…. Gue jahat Al. Hiksss…. Hiksss….”
“Semua akan baik-baik aja Fai. Tolong tenangkan diri kamu. Sekarang ikut aku ke dalam. Ayok!”
Fai mengatur napas sesaknya. Dan mereka sudah bisa sama-sama memasuki bangunan Rumah Sakit ini. Al dengan erat menggenggam tangan Fai di saat mereka berlari cepat mencari sebuah ruangan operasi yang tengah menangani papa Fai. Menelusuri setiap lorong yang sangat lama sampai Fai rasa.
__ADS_1