Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Rumah Kita


__ADS_3

“Ya ampun…. udah berulang kali saya bilang Al gak ada di sini. Ngeyel banget sih!”


“Tan…. Sisy harus cari ke mana lagi coba? Ke warung Bian gak ada juga Tan. Tempat tongkrongannya Al juga gak ada. Karyawannya Al juga bilang kalau Al udah beberapa hari ini jarang datang.”


“Ya udah, kamu pulang terus istirahat. Apa kamu gak punya kesibukan lain selain ngintilin anak saya?”


“Siapa Buk? Kenapa dari tadi papa dengar dari dalam ribut banget.”


“Hai Om!” Melangkah lebih mendekat dengan senyum sumringah coba Sisy berikan.


“Si jelangkung datang lagi Pa.” Ledek Ranum.


“Kok jelangkung sih Tan…. Cantik-cantik gini dikatain jelangkung.”


“Habisnya kamu selalu aja datang ke sini tanpa saya undang. Al sangat merasa terganggu dengan kehadiran kamu.”


“Sudah Buk, jangan dilanjut!”


Ranum terdiam mengikuti perintahan sang suami. Rahmat kembali menatap lekat Sisy yang terus saja mengulas senyum cerianya.


“Om tahu kan Al ke mana?”


“Al benar-benar tidak ada di sini. Untuk apa lagi kamu mengganggu anak saya. Dari dulu saya memang risih dan tidak suka putra saya dekat dengan kamu. Lebih baik kamu pulang dan jangan pernah mengganggu anak saya lagi!”


“Om…. Saya perempuan baik-baik. Hubungan saya dengan Al juga masih baik-baik aja kok Om. Cuma…. saya gak tahu kenapa Al udah susah banget untuk diajakin ketemuan. Padahal, dulu kalau ke mana-mana kita terus barengan.”


“Intinya anak saya sudah gak mau lagi berhubungan dengan kamu. Tolong jangan dipaksa dan tolong jangan pernah mengusik kita lagi!”


Kalimat penuh penegasan tidak cukup membuat Sisy putus asa. Saat ini dengan lancangnya Sisy menarik dan menahan tangan Rahmat sembari memohon untuk dipertemukan dengan Al. Bahkan, sedikit mengeraskan suaranya hingga beberapa tetangga yang berseliweran bingung melihat kegilaan Sisy.


“Tolong pertemukan Sisy dengan Al, Om! Sisy cinta Al. Sisy gak mau Al berubah. Sisy mau Al yang dulu Om. Sisy cuma mau Al. Tolong pertemukan Sisy dengan Al, Om!”


“Rada gila kamu ya!! Enggak mengerti banget. Sudah tidak ada kesempatan lagi untuk mendapatkan Al. Al sudah menikah!!”


Sisy tersentak dan berhenti dari aksinya. Ia termangu berusaha mencerna sebuah pernyataan yang tidak masuk akal menurutnya.


“Menikah? Siapa yang menikah Tante?”


“Al putraku. Saya rasa itu sudah cukup untuk menyadarkan kamu kalau udah gak ada hak lagi mengusik kehidupan putraku. Relakan Al!”


Rahmat membawa cepat Ranum memasuki rumahnya. Ia sudah sangat risih dengan pandangan para tetangganya yang menyaksikan keributan mereka.


“Bagaimana ini Pa? Tetangga kita pasti pada kepo banget dengan pengakuan kita. Ibuk bingung menjelaskannya nanti bagaimana.”


“Itu urusan Al, Buk. Yang jelas, anak itu harus tahu status Al sekarang. Supaya dia tidak lagi datang dan mengusik Al. Dari dulu sampai sekarang masih saja menyusahkan.”


“Itu resiko mu Mas. Mempunyai anak terlalu tampan. Hihihi….”


“Iya, dia sangat menuruni kecantikan Rania. Wajahnya sangat mirip dengan Rania. Aku minta maaf kalau aku masih belum bisa melupakan Rania.”


“Enggak masalah Mas. Mbak Rania tetap istri yang berhak menempati tahta utama di hati kamu. Aku gak pernah mempermasalahkan apa pun mengenai mbak Rania.”


Senyum tulus Ranum terus terukir dari wajahnya. Ia sangat sadar siapa dirinya. Tidak ada sedikitpun menepis kehadiran Rania pada hati suaminya ini. Menjadi istri dan Ibu pengganti. Itu sudah sangat cukup baginya. Keluarga Rahmat dari dulu memang sudah sangat baik terhadapnya. Ia jadikan ini semua sebagai balas budi atas kebaikan mereka.


***


Al menunggu lamanya Fai yang saat ini masih tengah berdandan. Semua sudah sesuai dengan rancangannya. Temu janji pada sebuah café dan setelahnya mereka akan memulai perjalanan menuju beberapa lokasi hunian rumah yang menurutnya lebih menarik diantara lainnya.


“Fai belum juga selesai?” Tegur Dina.


“Belum Ma.”


“Perempuan memang seperti itu Al. Harap dimaklumi ya.”


“Gue udah selesai. Ayo!”


Al, Dina dan Fajar termangu atas penampilan Fai yang terlihat sangat tertutup. Pakaian hoodie serta celana jeans cutbray nya, topi hitam, kacamata hitam dan topi baseball hitam miliknya. Sangat aneh di penglihatan mereka. Sebab biasanya Fai akan selalu berpenampilan anggun dan modis.


“Ya Allah Fai…. kenapa jadi ksatria baja hitam begini sih?”


“Apaan sih kak?!”


“Kenapa seperti ini tampilan kamu? Ini siang terik Fai. Panas kalau pakai hoodie tebal kayak begini.” Protes sang Mama. Al sejak tadi masih berusaha menahan tawanya melihat penampilan Fai.


“Kenapa pada ribet banget sih?! Berangkat sekarang atau gak sama sekali!” Ancamnya tepat di hadapan Al.


Dengan terburu-burunya pun Al menyalami tangan mertua dan kakak iparnya.


“Al dan Fai berangkat sekarang ya Ma, Kak. Semoga kita berdua cepat menemukan pilihan yang terbaik.”


“Iya, amin.... Hati-hati nyetirnya Al.”


“Iya Ma. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


Al menuntun Fai memasuki mobil tuanya yang sangat Fai tidak sukai. Fai terus menggerutu sebal dengan nasib dirinya yang terus-menerus akan berada pada mobil ini lagi.


“Sumpah demi apa pun lo kuno banget sih! Males banget gue dengan mobil lo!”


“Bersyukur Fai. Mobil ini masih bisa kok bawa kamu ke mana aja yang kamu mau.”


“Ihhh…. ogah banget. Kalau sampai nih mobil mogok di tengah jalan, saat itu juga gue pulang!!”


Al menggelengkan kepala menanggapi sikap Fai yang sangat tega berpikiran seperti itu. Ia berharap mobilnya bisa membawa mereka sampai ke tujuan dengan baik. Sebab ia sebenarnya juga sudah ragu. Sudah sering kalinya ke mana pun ia bepergian jauh akan selalu mengalami kerusakan. Kalau benar-benar terjadi, ia akan merasa malu di hadapan Fai.

__ADS_1


Satu tujuan mereka pada sebuah café sudah di depan mata. Mobil menepi dan berhenti. Al lebih dulu keluar dan membukakan pintu untuk Fai yang kini masih sibuk mengecek penampilannya. Al tersenyum terus memandangi kelakuan Fai membenarkan hoodie, kacamata dan maskernya.


“Udah selesai Tuan Putri? Teman aku udah menunggu kehadiran kita Fai.”


“Minggir lo!” Mendorong kuat tubuh Al dan hampir saja terhuyung ke belakang.


Fai mengitari pandangannya ke seluruh penjuru café. Sedikit meringis sebab keadaan café yang cukup lumayan ramai hari ini. Hingga ia tidak menyadari bahwa dirinya terseret oleh langkah Al. Al menggenggam erat tangan Fai dan terus membawa lebih dalam ke salah satu ruangan privat yang memang sudah ia reservasi sebelumnya.


“Silahkan masuk Mas, Mbak!”


“Terimakasih Mbak.”


“Al??”


Fai tersadar dengan keberadaannya saat ini. Sudah berada dalam satu ruangan dengan satu pria asing sudah lebih dulu menunggunya dan juga Al.


“Hai Za. Maaf ya, kita telat. Kamu udah menungguku lama ya?”


“Wait! Lo gandeng siapa nih? Enggak ada hujan gak ada badai tiba-tiba lo gandeng cewek Bro!!”


Fai memutari kedua bola matanya sebal mendengar interaksi mereka. Sangat memperlama waktu baginya.


“Siapa Al? Calon lo?”


“Dia istriku. Namanya Fai.”


“Al….!” Menegur dengan sungutan tajam ke arah Al. Al begitu santainya menjelaskan siapa Fai sebenarnya.


“Ah! Bercanda aja lo. Kapan lo nikahnya? Terus kok gak ngundang gue?!”


Fai tidak berhenti mencubiti lengan Al sebagai ancaman darinya. Ia tidak menyangka Al akan berkata segamblang itu mengenai statusnya.


“Aku ke sini untuk meminta tolong ke kamu mengenai rumah yang ingin ku pilih. Bukan untuk menjelaskan urusan pribadiku Za.”


“Bro, lo nongol langsung ngegandeng cewek Bro. Setahu gue, lo gak punya hubungan apa pun dengan wanita mana pun. Dan sekarang lo bilang ini istri lo. Kalau lo benar udah menikah, lo jahat banget sama gue. Lo gak ngundang gue. Lo lupa dengan gue ya?!”


Fai lebih dulu menduduki dirinya pada kursi dan bersender lemas saat kedua pria di hadapannya ini belum berhenti juga berdebat.


“Ceritanya panjang. Aku butuh waktu yang cepat untuk menyelesaikan rumah. Masih banyak lagi yang harus kita berdua selesaikan Za. Intinya, aku sudah menikah dan memang tidak ada siapa pun yang ku undang. Jadi jangan mempermasalahkan hal ini.”


“Ok. Lo masih berhutang penjelasan ke gue. Sekarang, kita fokus ke hunian rumah yang ingin lo pilih dulu. Hari ini juga kan lo mau lihat-lihat lokasinya?”


“Iya Za.”


“Baiklah. Kita kunjungi beberapa lokasi yang kemarin udah kamu tentuin mana yang lebih menarik. Beberapa rekan aku juga udah menunggu kita di berbagai tempat lokasi Al.”


Menghabiskan beberapa menu hidangan terlebih dahulu sembari berbincang kecil. Fai sendiri masih kekeh mempertahankan identitasnya yang tertutupi oleh kacamata dan masker hitamnya. Ia tidak menyentuh sedikitpun makanan. Membuat Al bingung bagaimana untuk membujuknya.


“Istri lo aneh banget. Apa dia gak lapar? Lagian, ini di ruangan Mbak, bukan area luar. Betah banget pakai kacamata sama maskernya. Hehehe….”


Al berusaha menahan tawanya saat melihat Fai sedikit kesal dengan gurauan temannya. Lantas Fai membuang muka di saat Al terus saja menatap dirinya sembari terkekeh kecil.


“Jadi, tujuan pertama kita nanti ke Jagakarsa. 3 hunian rumah yang lo minati kebetulan berada di satu komplek yang sama Bro. Kalau diantara 3 hunian itu ada yang klik di lo, langsung deh kita tanda tangan di atas materai. Tapi kalau memang gak cocok, kita lanjut ke Cilandak. Komplek rumah yang lumayan diminati juga nih Al”


“Aman Za. Doakan semoga hari ini juga kita berdua clear di urusan rumah.”


“Amin Bro.”


Perjalanan pada satu lokasi pertama mereka mulai. Fai dan Al mengitari area hunian rumah pertama. Dibantu oleh Developer lainnya. Fai dan Al menilai setiap ruangan. Rumah pertama dengan konsep yang terlalu sederhana menurut mereka. Al bisa melihat bahwa Fai tidak terlalu menyukai konsep bangunan rumah pertama. Terlalu sederhana dan simple. Seluruh ruangannya tidak terlalu besar dan hanya memiliki 3 ruang kamar.


“Tenang Bro. Ini memang yang pertama dan menurut gue juga kurang cocok dengan selera kalian berdua.”


“Jadi, kita lanjut di bangunan rumah yang kedua?” Tanya rekan Eza.


“Baik Mas, Za.”


Di bangunan yang kedua, Fai juga tidak menyukainya. Sangat besar. Harganya juga sangat fantastis. Walaupun Fai menyukai rumah yang mewah, tapi tidak untuk di harga. Setiap ruangannya juga terlalu tua konsepnya. Sangat tidak sesuai dengan seleranya. Dan berlanjut pada rumah yang ketiga.


“Waww…. Ini keren sih. Menurut kamu gimana Fai? Ini modern banget. Lucu.”


“Enggak!”


“Tapi ini ok banget Fai. Banyak ruangannya juga. Kita bisa pakai semua ruangannya sesuai keinginan kita.”


“Rumahnya memang ok. Tapi terlalu banyak sekat. Ini kebalikannya dari rumah yang pertama. Walaupun lebih besar tetap aja membingungkan. Kita cuma tinggal berdua. Gue gak mau ya terlalu capek ngebersihan nih rumah sendirian.”


“Nanti aku pasti cari Asisten Rumah Tangga Fai. Aku juga gak mau ngebuat kamu capek kok.”


“Kalau gue gak suka ya gak suka. Lo bilang sesuai pilihan gue!!”


Interaksi keduanya menjadi pusat perhatian Eza dan beberapa rekannya. Mereka kikuk menyaksikan perdebatan Al dan Fai.


“Lo berdua beneran udah menikah ya? Kok gak kerasa banget aura pengantin barunya sih. Yang sweet dong!” Goda Eza mencoba mencairkan suasana.


Fai menjadi bad mood. Ia berjalan keluar lebih dulu meninggalkan yang lainnya. Al mengikuti langkah Fai berusaha ingin membujuk.


“Fai…. aku minta maaf ya. Aku kira kamu bakal suka dengan rumah yang ini. Kamu kan anaknya modis dan kekinian banget. Jadi, aku memilih rumah ini juga dalam kandidat pilihan rumah yang terbaik menurutku.”


“Lo itu udah ngebuang waktu gue dengan percuma!! Udah tiga rumah yang kita telusuri. Tapi sama sekali belum ada yang sesuai dengan keinginan gue. Benar-benar kuno dan bego banget lo ya!!”


Al menggaruk tengkuknya sembari menyunggingkan senyuman konyolnya. Hal itu semakin membuat Fai geram.


“Kalau sampai rumah yang terakhir ini gak sesuai yang gue mau, lo tetap tinggal di rumah lo sendiri dan gue tetap tinggal di Apartemen gue sendiri. Bodoh amat gue dengan status kita!!”


Al menghela napas lelahnya. Menghadapi Fai memang tidak mudah. Butuh kesabaran yang sangat besar.

__ADS_1


“Gimana Al? Tetap mau lanjut kan? Gue takut banget ngelihat karakter istri lo Bro. Serius lo udah nikahi dia? Nemu di mana tuh cewek?” Berbisik ke arah Al.


“Jangan memancing emosiku Za. Lanjut ke rumah selanjutnya!”


Al memasuki mobil dan sudah mendapati Fai yang bersandar pada kaca mobilnya dengan wajah kesalnya. Al menjulurkan tangannya untuk mengelus pucuk kepala Fai.


“Sabar ya! Kalau gak ada juga yang kamu sukai, kamu bisa cari pilihannya sendiri di mana pun kamu mau. Aku ikuti kamu aja. Karena jujur aku gak ngerti memilih seperti ini. Kemarin aku berusaha untuk meminta pendapat kamu. Tapi kamu duluan yang marah. Jadi aku diam dan mencoba berinisiatif memberikan beberapa pilihan untuk kamu. Yang lebih paham dan bisa diandalkan itu memang kamu Fai. Jadi jangan sungkan untuk memberikan pendapat ke aku ya.”


Fai menatap kedua manik Al yang teduh. Dalam benaknya, Fai sedikit tersanjung dengan sikap Al yang seakan mengalah dengan semua kekeras kepalaan dirinya. Al belum pernah sekalipun membalas keegoisan dirinya dengan amarah. Pasti selalu kata-kata lembut dan perlakuan manis yang ia terima.


Kembali menjauhkan dirinya. Al menghidupkan kembali mobilnya dan memberi kode kepada Eza untuk memulai perjalanan ke satu lokasi terakhir mereka. Fai sendiri masih belum bisa berhenti menatap ke arah fokusnya Al dengan tujuannya.


“Ini pilihan terakhir. Rumah 2 lantai yang cukup besar. Memiliki 5 kamar. Masing-masing kamar dilengkapi dengan toiletnya. Toilet umum ada juga. Terdapat kolam di bagian belakang rumah ini. Dapurnya lumayan luas. Di samping itu, garasinya. Mau lebih detail, kita langsung ke dalam ya!”


Fai memasuki ruang utama rumah terakhir yang mereka kunjungi. Awal mula ia turun dari mobil sudah merasa nyaman dengan suasana komplek yang tenang. Rumah mewah namun tidak terlalu berlebihan. Memiliki berbagai ruangan yang sangat pas seperti bayangannya. Dirinya terus termangu saat menelusuri setiap ruangan. Konsep mewah dan lumayan ok di bayangannya.


“Boleh gue telusuri semuanya sendirian?”


Fai meminta persetujuan pihak Developer yang menemani mereka.


“Boleh dong Mbak. Memang harus, sebelum ada kesahannya kepemilikan.”


Dengan terburu-burunya Fai menaiki anak tangga yang mengarahkannya pada beberapa ruangan di lantai dua. Yang ia lihat memang hanyalah beberapa ruangan kamar. Tapi sangat cukup bagi dirinya. Dan satu ruangan kamar yang ia rasa itu adalah kamar utama pada rumah ini. Sebab lebih luas dari kamar-kamar lainnya.


“Waww…. Gue gak nyangka banget view nya sebagus ini. Di bawahnya langsung mengarah ke area kolam. Ini sih rumah impian gue dulu. Lumayan besar, terkesan mewah dan gak berlebihan. Tapi…. apa Al benar setuju dengan pilihan gue? Emangnya dia mampu ya ngebeli nih rumah? Enggak yakin banget gue.”


“Kenapa gak yakin?”


Fai tersentak dengan kehadiran Al dari arah belakangnya. Langkah itu semakin mendekat dan mengkungkung Fai pada pembatas balkon. Fai terpaku dengan Al saat ini.


“Aku udah mempersiapkan semuanya Fai. Demi kamu istriku, apa pun yang kamu mau aku akan turuti. Anggap ini sebagai mahar aku yang sesungguhnya.”


“Cih! Belagu banget lo. Lo pikir nih rumah murah apa? Gue gak bakalan maksain lo kok. Gue bukan cewek matre.”


“Jangan takut Fai. Aku masih bisa mencukupi keinginan kamu. Untuk sekarang ini, aku kerja demi kamu. Minta apa pun yang kamu mau. Insyaallah aku bisa menyanggupinya.”


Fai kembali menangkap pandangan teduh itu lagi. Tidak ada menyiratkan keraguan, ketakutan dan kebohongan dari kedua manik Al. Serasa sedikit bangga dengan kebaikan Al yang selalu ia berikan untuknya.


“Ok. Gue mau rumah yang ini. Dan gue mau semua interior setiap ruangan gue yang atur.”


“Baiklah Sayang.”


CUP! Mengecup singkat pipi kiri Fai. Terdiam kaku dengan tindakan spontan yang Al berikan. Dan selang berikutnya, ia memekik tertahan meluapkan emosinya.


***


Al dan Fai sudah bisa menentukan pilihan akhir mereka. Rumah berlantai 2 yang cukup menarik di pandangan Fai. Pihak Developer menyerahkan beberapa surat-surat penting sebagai kepemilikan rumah baru mereka. Al menuntun Fai agar mau menandatangi surat-surat tersebut. Sebab memang ia jadikan Fai sebagai pemilik rumah ini. Semula mereka berdebat sebab Fai tidak ingin dirinya yang memiliki hak kepemilikan rumah ini. Namun, Al terus membujuk hingga Fai menyerah dan menandatangi surat-surat pentingnya.


Yang lebih membuat Fai tidak menyangka lagi, bahwa Al membeli rumah ini dengan lunas tanpa meminta tahapan cicilan. Bukan murah bagi Fai. Tapi itu semua nyata di pandangannya. Hingga semua urusan rumah baru mereka cepat terselesaikan hari ini juga.


“Akhirnya selesai juga Bro. Selamat ya atas rumah barunya.”


“Alhamdulillah. Terimakasih udah membantuku.”


“Gue yang terimakasih Al. Lo udah mempercayai kinerja gue. Dan…. salam kenal ya untuk istri lo ini. Nama lo Fai kan? Gue hampir lupa.”


Fai tidak terlalu menanggapi. Membuat diri Eza geram mendapati sikap acuh tak acuhnya Fai.


“Ya udah deh, gue balik duluan ya. Semoga pernikahan lo bahagia Bro.”


“Amin. Hati-hati Za.”


KRUKKK…. KRUKKK…. KRUKKK….


Fai memegang perutnya sembari meringis malu. Al yang mendengar suara nyaring dari perut Fai pun terkekeh tak tahan menahan kekonyolan Fai.


“Ini resikonya kalau di saat waktunya jam makan, kamu gak makan. Kamu mau makan apa?”


Fai memalingkan wajahnya ke samping dengan pongahnya.


“Siapa yang lapar?! Itu suara burung tahu!” Ketusnya.


KRUKKK…. KRUKKK…. KRUKKK….


“Oh ya? Jelas-jelas suaranya datang dari sini.” Menunjuk perut Fai.


Al tidak memperdulikan lagi acuhan Fai. Dengan cepat ia menarik tangan Fai dan menuntun untuk masuk ke dalam mobilnya. Menyelamatkan perut Fai lebih penting.


Al membawa Fai ke salah satu Restaurant yang tidak jauh dari komplek rumah baru mereka. Fai melirik terlebih dahulu ke sekeliling area. Cukup ramai.


“Fai, ayo turun! Habis kamu makan, kita lanjut lagi untuk cari furniture dan isian rumah kita nanti.”


“Lo aja deh yang makan!”


“Fai…. aku masih kenyang. Kamu yang perlu makan. Aku tungguin kamu aja. Ayo!”


“Gue gak mau orang-orang ngelihat gue bareng lo di sini. Apa cibiran mereka tentang gue nanti.”


“Astaghfirullah Fai…. memangnya semua orang bakal sekepo itu ya sama kamu? Kalau mereka tanya ya bilang aja aku suami kamu.”


“Gue gak mau!! Gue gak mau orang tahu kalau gue udah menikah!! Cibiran mereka mengenai putusnya gue dengan Bagas aja itu udah ngebuat gue malu banget. Apalagi kalau mereka tahu gue udah menikah. Kita menikah secara tiba-tiba. Apa spekulasi orang-orang tentang gue nantinya?! Diputusin langsung cari cowok lain yang mau menerima kemiskinan Fai? Atau, Fai menikahi pria lain untuk melepas kesialan? Atau…. Fai si cewek matre mencari pria lain untuk diporotin? Lo gak ngerasain apa yang gue rasain!!”


Al menghela napas lelahnya mendengarkan semua celotehan Fai. Lebih kurangnya Al kini sudah tahu bagaimana Fai di mata public. Cukup dikenali dengan pemberitaannya di luaran sana. Ia juga sempat mencari tahu apa yang tengah ramai yang Fai hadapi. Pada akhirnya Al pun mengalah.


“Ya udah, kamu tunggu di sini ya! Aku pesankan makanan dulu. Nanti kamu makannya di mobil aja. Sebentar ya.”

__ADS_1


Meninggalkan Fai yang masih terdiam memperhatikan sikap lembutnya Al. Dari lamunannya Fai, ia membayangkan bagaimana Al yang ia kenal dulu dengan dirinya yang saat ini. Sangat berbeda jauh. Al yang berandal dan pemain para wanita, kini malah menjadi manusia berhati lembut dan sopan. Ia bisa melihat bagaimana reaksi Al di saat ia terus saja digoda oleh wanita-wanita centil di Restaurant tersebut. Al hanya tersenyum tipis dan mengalihkan perhatiannya ke arah lain. Seakan menjaga dirinya dari godaan genit si para wanita.


“Kalau aja posisi lo itu adalah Bagas, gue gak bakal sejahat ini jadi istri. Lo salah banget hadir di kehidupan gue Al. Sebaik apa pun lo ke gue, tetap gue gak bisa buka hati gue untuk lo.”


__ADS_2