Menikahi Mantan Fuckboy

Menikahi Mantan Fuckboy
Pagi Yang Baru


__ADS_3

“Fai…. bangun! Ini udah subuh. Kita sholat subuh dulu.”


“Eghhh….”


“Fai…. bangun ya! Nanti dilanjut lagi tidurnya.”


Menepuk-nepuk pelan pipi Fai. Fai menggeliatkan tubuhnya. Samar-samar ia mendengar suara seseorang yang sedang membangunkannya. Ia mengedipkan kelopak matanya memaksakan untuk terbuka lebar. Siluet paras pria tepat di hadapannya.


“Ngapain lo ada sini Brengsek?!”


BUGHHH!


Fai menendang kuat perut Al yang kini tengah merunduk di hadapan wajahnya. Fai mendudukkan dirinya dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Ia mengeratkan cengkeraman selimut pada tangannya. Melihat sebentar ringisan kesakitan Al pada perutnya.


“Lo-lo ngapain di kamar gue?! Siapa yang ngizinin lo masuk ke kamar gue?! Berani-beraninya lo ya!! Mama….!”


Al berusaha menegakkan tubuhnya. Ia masih meringis kesakitan dengan tendangan kuat pada perutnya.


“Aku suami kamu Fai. Aku berhak keluar masuk kamar kamu. Kita memang udah boleh tidur dalam satu ruangan dalam satu ranjang. Udah sah.”


Fai memijat pelipisnya. Ia benar-benar lupa akan status barunya.


“Aku cuma mau ngebanunin kamu. Ini udah subuh. Kita sholat subuh dulu.”


Al meninggalkan Fai yang masih terdiam. Lebih dulu membersihkan dirinya dan berwudhu. Sedangkan Fai masih terdiam malu akan tindakan salahnya.


“Ya ampun…. kenapa sih nasib gue sejelek ini. Lo udah menikah dengan pria yang sangat lo benci Fai. Semua udah terlanjur. Enggak bisa diubah.”


Beberapa menit setelahnya, Al keluar dengan keadaan diri yang sudah segar sehabis mandi. Namun Fai menutup sebelah matanya sebab Al hanya melilitkan handuk pada pinggangnya.


“Biasakan Fai. Kita udah menikah. Bukan dosa lagi untuk memperlihatkan tubuh polos kita masing-masing.”


“Maksud lo apa?! Lo pikir gue doyan dengan lo?! Cepat pakai baju lo!!”


Al menyeringaikan senyumannya. Ia malah melangkahkan kakinya ke arah ranjang dimana Fai meringkuk sembari menutupi wajahnya. Al merangkak pada ranjang lebih mendekatkan dirinya di hadapan Fai. Ia menarik kedua tangan Fai.


“Al….!! Mau lo apa sih?! Jangan macem-macem lo ya!! Gue bakal teriak kalau lo macem-macem ke gue!!”


“Teriak aja kalau kamu mau dipermalukan di hadapan semua orang. Mereka akan menertawakan sikap kamu yang terlalu kekanak-kanakkan ini Fai. Aku bukan lagi orang asing di kehidupan kamu. Aku suami kamu. Aku bebas melakukan apa pun semauku.”


Fai membuka matanya selebar mungkin sekadar mengancam Al yang masih betah mencekal kedua tangannya pada posisi mereka yang sangat dekat. Bahkan, Al semakin menyisir jarak diantara mereka. Fai tak ingin Al semakin menggila.


“Al….!!!” menggerakkan brutal tubuhnya agar Al mau menjauh dari hadapannya.


“Hahaha…. kocak banget sih. Aku cuma mau mengambil handphoneku Fai.”


Al menjauhkan tubuhnya. Dan Fai mematung dengan apa yang Al lakukan. Benar-benar malu tapi tetap ia tutupi sebab rasa gengsi pada dirinya. Al mencari satu nama pada layar handphone nya. Mengetik sebuah pesan yang akan ia kirimkan kepada salah satu karyawannya. Mengabari bahwa beberapa minggu ke depan ia belum bisa membantu saat ramainya penjualan. Ia masih ingin fokus dengan kehidupan baru yang baru saja ia dapatkan. Masih banyak hal yang mesti ia urus bersama Fai.


Setelahnya ia berjalan kembali ke arah terduduknya Fai. Sebab ia melupakan sesuatu.


“Hmm…. Fai. Aku boleh minta tolong ke kamu gak?”


“Apaan?!” Tanyanya kembali dengan nada ketus.


“Aku gak bawa pakaian. Tolong pinjamkan ke Fadhil ya! Nanti siang aku sempatkan untuk pulang ke rumah, untuk ambil beberapa pakaianku. Tolong ya!”


“Lo di sini benar-benar nyusahin aja ya.”


Fai menyibak selimutnya dan berjalan cepat keluar kamar dan ke arah seberang kamarnya dimana kamar sang kakak.


Tok! Tok! Tok!


“Kak Fad….!! Kak Fadhil….!!”


CEKLEK!


“Kenapa sih?! Pagi-pagi udah buat keributan.”


Fai tidak memperdulikan ocehan sang kakak. Ia berjalan lurus ke arah lemari besar milik Fadhil. Fadhil yang bingung dengan ulah sang Adik yang dengan brutalnya mencampakkan beberapa baju pada ranjangnya.


“Kamu apa-apaan sih Fai?! Tiba-tiba masuk langsung ngebongkar pakaian kakak. Cari apa?!”


“Gue butuh baju untuk cowok resek yang ada di kamar gue!! Nyusahin banget tuh orang.”

__ADS_1


Seketika tertawaan Fadhil menggelegar menertawakan tingkah Fai.


“Ooo…. Untuk suami kamu. Perduli banget sih.”


“Gue cuma gak mau dia terus-terusan bertelanjang dada di hadapan gue!!”


“Wahhh…. udah ke mana nih arah pembicaraannya? Ngebet banget.”


“Iihhhh…. Apaan sih lo kak!!! Bukan itu maksud gue!! Dia ke sini gak bawa baju satu pun. Dan gue gak mau dia terus-terusan cuma pakai handuk di hadapan gue. Mata Fai ternodai kak. Kenapa sih tuh orang bisa-bisanya tinggal di rumah ini?!”


“Lah, dia itu kan suami kamu. Wajar dong ada di sini. Ke mana pun istri pergi, suami juga ikut. Begitu juga sebaliknya. Ke mana pun suami pergi, istri juga harus ikut. Pakai yang ini aja nih! Enggak usah dibalikin! Kebetulan itu masih baju baru. Untuk Adik Ipar apa sih yang enggak. Hehehe….”


“Iihhhh…. Kalian berdua sama-sama nyebelin ya.”


Kembali melangkah cepat keluar dan memasuki kamarnya dimana ia melihat Al tengah terduduk sedang memegangi pas photo miliknya.


“Nih bajunya. Kak Fadhil bilang bajunya gak usah dibalikin. Itu masih baru.”


“Terimakasih ya.”


“Hum!”


Fai memasuki kamar mandinya. Ia juga tidak ingin memperlama waktu. Al menunggu dengan dirinya yang sudah siap dengan sarung dan pecinya. Sajadah juga sudah ia bentangi lurus searah kiblat. Dan Fai sudah keluar dengan pakaian santainya.


“Udah wudhu?”


“Udah.”


“Ok, pakai mukenanya ya!”


“Iya bawel.”


Al tersenyum dengan sikap penurut Fai saat ini. Mereka berdiri di atas sajadah masing-masing. Al memulai takbiratul ihram pada rakaat pertamanya. Yang juga diikuti Fai sebagai makmumnya.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Menolehkan kepala ke arah samping kanan.


“Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….” Menolehkan kepala ke arah samping kiri.


Menengadahkan tangan memimpin Fai dalam doanya. Begitu tenang dan khusyuk.


Al membalikkan tubuhnya yang kini sudah berhadapan langsung dengan Fai. Fai terdiam terpaku dengan sosok Al di hadapannya. Entah kenapa Fai merasa aneh dengan perubahan sikap Al yang sekarang. Lebih tenang, bijak dan berulang kali tidak lupa dengan ibadahnya. Berbeda dengan diri Al yang dulu. Sosok pemain wanita yang sangat banyak memiliki catatan hitam di kehidupannya.


Al menjulurkan tangannya di hadapan Fai. Berharap Fai mau menyalami tangannya layaknya hormat seorang istri kepada suaminya.


“Aku gak mau terlihat seperti seorang dewa yang harus gila hormat. Tapi ini adalah salah satu sunah ajaran dari Rasulullah dalam berumah tangga. Seorang istri menyalami tangan seorang suami. Akan sangat menyenangkan kalau setiap hari ke mana pun kamu mau pergi dan dari mana pun kamu, tangan aku mendapatkan kecupan manis dari kamu.” Mengulas senyum.


Masih dengan ragunya Fai mengikuti keinginan Al. Meraih dan mengecup punggung tangan itu. Al memajukan dirinya dan mengecup lama pucuk kepala Fai. Sontak Fai membisu dengan perilaku manis Al terhadapnya. Walau ini bukanlah yang pertama kalinya bagi Fai, tetap saja masih ada rasa canggung di dirinya.


“Aku akan belajar untuk menjadi seorang suami yang baik buat kamu. Aku masih banyak kekurangan Fai. Tegur aku kalau aku berbuat salah. Ingatkan aku kalau aku lupa dengan kewajiban aku.” Mengusap-usap pipi Fai.


Fai semakin merasa bingung dan canggung berlama-lama diperlakukan semanis ini. Ia menyudahi perlakuan Al dan memilih menyibukkan dirinya membereskan sajadah dan mukena dirinya. Ia pun mulai membereskan ranjang yang sedikit berantakan. Sebagai peralihan sebab degup jantungnya tidak aman saat ini.


Al tahu akan kecanggungan Fai. Ia hanya bisa tersenyum menahan rasa geli pada reaksi Fai. Ia pun mulai membantu Fai membersihkan dan membereskan ruang kamar Fai. Hingga aktivitas mereka selesai, mereka pun memilih keluar dari kamar. Fai yang lebih dulu berjalan cepat meninggalkan Al di belakangnya.


“Loh, pengantin baru bangunnya kok sepagi ini sih?”


Fai mencubit pelan pinggang sang Bibi yang dengan sengaja mengolok dirinya.


“Hahaha…. jangan galak-galak Fai. Bibik hanya bercanda.”


“Pagi semuanya!”


“Pagi nak Al. Kamu mau kopi atau teh?”


“Wahhh…. pagi-pagi udah langsung ditawarin nih. Boleh deh Ma, kopi. Al suka kopi.”


“Tuh Fai, suami kamu mintanya kopi. Buatin gih!”


“Buat aja sendiri.” Gerutu pelannya.


PLAKKK!


“Aw! Ma….!”

__ADS_1


“Layani suami kamu dengan baik!” Pelototan mata dari Mama menciutkan nyali Fai.


“Iya, iya! Gue buatin buat lo Yang Mulia!!” Kesalnya di hadapan wajah Al. Al hanya tersenyum getir.


***


Sarapan pagi pada keluarga baru Al. Mengelilingi ruang tengah sebab tidak akan muatnya makan pada ruang makan yang tidak terlalu bisa menampung semua keluarga besar Fai saat ini.


“Insyaallah setelah 3 hari pengajian Papa, besoknya Al dan juga Fai mau mengajukan sidang isbat pernikahan kita. Dan mengurus semua persuratan resmi kita.”


“Iya nak Al. Lebih cepat lebih baik. Jadi, semua akan merasa lega kalau pernikahan kalian ini sudah resmi di mata hukum.”


“Tapi, apa kalian berdua gak mau mengadakan resepsi? Supaya semua orang tahu kalau kalian ini sudah menikah.”


“Itu salah satu yang Al pikir….”


“Enggak perlu lah Wak. Buat apa buang-buang uang dan waktu hanya untuk menyebar luaskan pernikahan Fai. Toh, intinya Fai udah menikah kan. Lagian, urusan Fai bukan cuma di pernikahan ini aja. Fai banyak project yang mau Fai kejar. Fai gak mau terlalu merepotkan siapa pun.”


“Ya sudah, tidak apa-apa. Fokus selesaikan urusan buku nikah kalian berdua saja. Yang terpenting kalian sudah sah di mata agama.”


Fai merasa lega dengan keputusan akhir sang Mama. Pernikahan ia dan Al benar-benar bukanlah menjadi pemikirannya saat ini. Masa bodoh dengan statusnya sekarang. Yang jelas Fai hanya perlu menjalankan kehidupannya seperti biasa. Kehadiran Al tidak terlalu ia pikirkan.


“Kamu mau ikut gak Fai?”


“Ogah ah. Mending gue rebahan di sini.”


“Ya udah, aku izin pulang dulu ya?”


Menjulurkan tangannya ingin Fai menyalaminya. Dengan rasa keterpaksaan Fai menerima dan menempelkan punggung tangan Al pada kepalanya secara singkat.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.” Nada ketus.


Al keluar dan bergegas ke arah dapur untuk berpamitan juga kepada keluarga Fai.


“Ma, Al izin pulang dulu ya. Mau ambil beberapa pakaian dan barang-barang Al lainnya. Enggak enak juga terus-terusan minjam ke Fadhil.”


“Ya ampun Al…. santai aja kali. Jangan sungkan dengan kakak ipar. Hehehe….”


Al tersenyum menanggapi celetukan Fadhil. Status mereka saat ini terus saja menjadi bahan ledekan bagi Fadhil.


“Ya sudah, hati-hati nyetirnya nak Al. Kirim salam untuk orang tua kamu. Kabari juga kalau nanti malam harus datang di pengajian ya.”


“Iya Ma. Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam.”


“Masyaallah.... si budak bageur. Beruntung Fai menikah dengan anak itu.”


“Alhamdulillah…. Doakan saja hubungan Rumah Tangga mereka baik-baik saja. Dijauhi dari musibah dan perkara besar.”


“Amin ya Allah….”


Al sudah sampai pada kediamannya. Ia masuk dengan sangat terburu-burunya.


“Assalamualaikum.”


“Waalaikumsalam. Al, ada apa?”


“Al mau ambil beberapa pakaian dan perlengkapan Al, Buk.”


“Oh, kirain ada apa. Fai mana? Kok gak sekalian diajak ke sini?”


“Hmm…. lagi capek Buk. Lagian Al cuma sebentar kok.”


“Ya sudah. Langsung ke kamar gih! Oh iya, nanti tolong bawakan sekalian beberapa makanan yang udah ibuk buat ya! Untuk cemilan keluarga di sana.”


“Baik Buk. Nanti malam Ibuk sama Papa jangan lupa datang ya!”


“Iya, pasti itu Al.”


Al bergegas memilih beberapa pakaian dan perlengkapan dirinya. Ia gunakan satu koper untuk memudahkan ia membawa barang-barangnya. Ia pun juga mengambil semua berkas-berkas miliknya untuk persiapan ia mengurusi buku nikahnya dengan Fai nanti. Terdiam sesaat memandangi lingkaran cincin perak pada jari manisnya.

__ADS_1


“Huffftttt…. Alhamdulillah. Cara kita untuk bersatu itu memang sangat tidak terpikirkan sebelumnya Fai. Singkat tapi berkesan untukku. Meluluhkan hati kamu itu memang suatu tantangan besar untukku. Tapi aku gak akan putus asa. Aku yakin, suatu hari nanti kamu yang akan susah untuk melupakan aku.”


__ADS_2