Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Merasa Gagal


__ADS_3

Penasaran Annette langsung membuka pintu namun kedua bola mata coklat membulat melihat siapa yang datang tengah malam seperti ini.


"Annette!" ucap Susan Penny yang tidak lain adalah Ibu Edwin.


"Mommy?!" pekik Annette. Susan Penny memeluk erat Annette dan mengusap kepalanya lembut layaknya putri sendiri. Susan Penny melepaskan pelukannya lalu tersenyum melihat wajah Annette lembut. Rasa rindu kepada menantunya terobati setelah sekian lama kepergian almarhum suami tercintanya.


"Kau tidak mempersilahkan Mommy masuk?" tanya Susan Penny hangat.


Annette kaget dan bercampur gugup, masalahnya saat ini ia hanya seorang diri di apartemen sedangkan Edwin tidak tahu ada di mana.


"Maaf silahkan masuk Bu." Susan tersenyum melihat kegugupan Annette.


"Kau sendirian? Mana Edwin Sayang?" tanya Susan Penny heran sambil mengedarkan pandangannya terlihat sepi. Annette terdiam sesaat memikirkan jawaban yang tepat karena saat ini Edwin tidak tahu kemana pergi.


"Sayang mana Edwin?" tanya Susan Penny lagi menatap curiga Annette.


"Mas Edwin lagi kerja Bu," balasnya.


"Lembur dia?" tanya Susan Penny curiga.


"Ia Bu." Susan Penny menatap wajah kurus Annette. setelah cukup memperhatikan Annette Susan Penny memilih duduk.


"Duduklah Ibu mau bicara Sayang!" ucap Susan Penny halus.


"Mommy mau minum apa?" tanya Annette sebelum mendengar apa yang ingin diucapkan Susan Penny.


"Teh hangat aja Sayang." Annette mengangguk dan langsung menuju dapur.


Kini Annette dan Susan Penny ibu mertua ya duduk sambil menikmati teh dan sesekali mengobrol-ngobrol.


"Bagaimana pernikahan kalian Sayang? Apa Edwin baik kepadamu selama Ibu di luar negeri?" tanya Susan Penny serius.


"Edwin baik Bi, dia memperlakukan Annette baik," jawab Annette tersenyum.


"Kamu serius Sayang?" tanya Susan Penny tidak percaya.

__ADS_1


"Ia Bu selama ini Annette nyaman sama Mas Edwin," tambahnya sembari menampilkan senyumannya yang manis.


"Ibu senang mendengarnya sayang karena pilihan Ayah tidak salah memilihkan kamu sebagai menantu kami." Susan Penny langsung memeluk Annette.


"Maafkan Annette Bu belum bisa jujur," batin Annette dalam hati.


"Sayang, kamu kenapa terlihat kurusan? Kamu sakit?" tanya Susan Penny setelah melepaskan pelukannya.


"Annette justru merasa berisi Mommy," balas Annette menunduk. Apa yang diucapkan Susan Penny memang benar namun tidak mungkin ia berkata jujur saat ini keadaan rumah tangganya.


"Kau yakin Sayang? Apa jangan kamu lagi berisi?" terka Susan Penny.


"Belum Bu," lirih Annette menunduk malu.


"Ibu hanya bercanda. Kalau kamu mengalami sesuatu apapun itu cerita aja sama Ibu ya jangan takut. Kamu mengerti?" tambah Susan Penny lagi.


"Ia Bu." Annette merasa bersalah berbohong apalagi Susan Penny adalah mertua yang baik.


"Ibu akan menginap di sini agar bisa mengobrol luas dengan kamu sayang sambil menunggu kedatangan Edwin, lagian balik ke hotel sepertinya tidak mungkin," ucap Susan Penny tiba-tiba.


"Annette siapkan kamar Ibu dulu," ucap Annette lalu menuju kamar tamu yang berada di lantai bawah. Sementara itu Susan Penny menaruh curiga sedari tadi melihat raut wajah Annette yang terlihat pucat dan tertekan.


"Aku yakin ada yang tidak beres pernikahan Edwin dan Annette. Menantu begitu kurus seperti kurang gizi," gumam Susan Penny lalu beranjak menuju lantai atas memastikan apa yang tidak diinginkan tidak benar-benar terjadi.


Susan Penny mengedarkan pandangannya menatap tajam setiap sudut ruangan yang terlihat rapi namun kedua bola matanya menatap tajam salah satu ruangan yang tidak layak di huni yaitu kamar Annette.


"Edwin!" pekik Susan Penny geram dan mengeratkan giginya.


Susan Penny mengeram kesal melihat jelas bagaimana rumahtangga putra ya dan Annette selama ini. Dia tidak menyangka ternyata perlakuan Edwin benar-benar keterlaluan.


"Ibu?!" ucap Annette gugup selimut yang ia pegang jatuh ke kakinya. Susan Penny menatap Annette dengan tatapan tidak suka karena selama kurang lebih lima bulan ini apa yang dia dengar tentang pernikahan putranya tidak sesuai jawaban Edwin dan Annette.


"Katakan ada apa ini?" tanya Susan Penny geram.


"Annette akan jelaskan namun bisakah kita turun ke bawah dulu. Annette sudah mempersiapkan semua kebutuhan Ibu," ucap Annette gemetaran. Susan Penny tidak menjawab dan langsung turun ke bawah dengan wajah yang terlihat emosi.

__ADS_1


"Aku pasti sudah gila tidak menutup pintu," lirih Annette.


Kini Annette dan Susan Penny saling berhadapan sebagai menantu satu-satunya yang tidak dianggap putranya sendiri. Annette memilih untuk menundukkan wajah karena ia merasa bersalah atas kebohongan yang diciptakannya bersama Edwin.


"Apa Edwin yang menyuruhmu tidur di gudang?" tanya Susan Penny points to points.


"Ibu, Annette minta maaf," ucapnya pelan.


"Kau mengecewakan Ibu Annette menikah itu tidak main-main namun, kalian begitu berani sekali pisah ranjang." Susan Penny duduk tepi ranjang sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba berdeyut.


"Ibu, Annette bisa jelaskan semuanya," ucapnya pelan.


"Cepat hubungi Edwin, Ibu ingin bicara dengannya!" perintah Susan Penny penuh penekanan.


"Ya Tuhan bagaimana aku menghubungi Mas Edwin sementara aku tidak punya nomer ponselnya," ucap Annette dalam hati.


"Annette kenapa kau diam?" tanya Susan Penny lagi. Perdana Susan Penny tidak ramah kepada Annette karena kecewa melihat yang dihadapannya.


"Ibu, Annette akan menghubungi Mas Edwin," jawabnya pelan dan langsung keluar dari kamar Ibu mertua dengan perasaan yang berkecamuk.


"Edwin kau keterlaluan sepertinya menantu tidak bahagia selama ini," gumam Susan Penny geram bercampur kesal.


Di kamar yang berukuran kecil Annette terdiam dan tidak tahu harus melakukan apa untuk menghubungi Edwin yang tidak tahu keberadaannya di mana.


"Mas, kau ada di mana? Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi sama Ibu," lirih Annette bolak-balik di kamar kecilnya.


Tiba-tiba pintu terbuka begitu kencang hingga terdengar suara dentuman keras. Susan Penny yang baru aja keluar dari kamar untuk menuju dapur hendak minum kaget dan mundur namun, kedua bola Susan Penny terbelalak melihat Edwin pulang dalam keadaan tidak baik-baik.


"Edwin?" ucap Susan Penny terbelalak melihat keadaan putra semata wayangnya itu kacau seperti tidak terurus.


"Ibu?! Ibu di sini?" pekik Edwin langsung tegap berdiri namun sepertinya tubuh kekarnya seketika lemah dan tidak berdaya langsung ambruk di lantai karena pengaruh minuman sepertinya banyak masuk ke dalam perut Edwin.


Edwin langsung bangkit dan menuju kamar tanpa memperdulikan Susan Penny di sana emosinya naik ke ubun-ubun.


"Besok kau akan Ibu sidang Edwin!" ucapnya kesal.

__ADS_1


Susan Penny merasa gagal mendidik Edwin yang berubah tiba-tiba menjadi peminum. Apa dia salah menikahkan Edwin dulu bersama Annette? Lelah Susan Penny memilih istirahat biarlah esok menjawab semua pertanyaan yang ada dibenaknya saat ini.


__ADS_2