Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Lepaskan Mas


__ADS_3

Napas Edwin naik turun menuju ke kamar Annette yang bersebelahan dengan miliknya. Sesampainya tanpa mengetuk pintu Edwin mendobrak namun, kedua bola mata ya terbelalak melihat Annette tergeletak di lantai dengan wajah yang pucat karena suhu ruangan dingin.


"Ya Tuhan apa yang terjadi dengannya?!" pekik Edwin namun tidak langsung meraih tubuh lemah Annette justru mengusap wajah ya sambil mondar-mandir. Annette yang sedari tadi sudah sadar namun tidak kuat untuk bangun hanya bisa melihat Edwin dengan tatapan nanar.


"Segitunya kau Mas sampai tidak mau menyentuhku,'' batin Annette dalam hati dan terus memperhatikan Edwin yang terlihat menghubungi seseorang.


"Mora, cepat kau datang ke apartemenku sekarang juga!" ucap Edwin dengan nada yang tinggi suaranya bahkan sampai memenuhi kamar kecil Annette.


Annette hanya bisa kembali memejamkan kedua bola matanya karena tidak kuat lagi untuk menahan sakit yang dialaminya saat ini. Apalagi mendengar ucapan Edwin yang sepertinya tidak tulus untuk menolongnya.


''Aku pasrah,'' ucap Annette pelan. Tanpa disadari Edwin tidak melihat air mata Annette empat tetes membasahi lantai.


Tidak berlangsung lama dokter Mora yang tidak lain adalah teman Edwin tiba. Edwin langsung membawa Mora masuk ke dalam memberitahuman keberadaan Annette di atas dengan santai sementara sang dokter terlihat tidak tenang.


"Edwin kenapa kau begitu santai sekali?" tanya Mora kesal.


"Naik aja kau ke atas!" jawab Edwin tenang.


Mora begitu kesal mendengar ucapan Edwin yang terdengar sepele setelah tiba di atas kedua bola mata Mora tidak kalah kaget melihat keadaan Annette yang masih tergeletak di lantai.


''Edwin! Apa-apaan kau ini tidak mengangkatnya ke atas?" pekik Mora. Namun pria yang disebut Mora baru saja tiba dengan wajah yang terlihat datar.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Edwin tanpa merasa bersalah sedikitpun.


''Bagaimana bisa setega ini kau Edwin? Di mana Edwin yang aku kenal selama ini?" cecar Mora sambil mengangkat tubuh lemah Annette ke atas tempat tidur yang berukuran kecil.


''Kau jangan mencoba menceramahiku Mora tugasmu hanya mengobatinya,'' balas Edwin.

__ADS_1


Mora begitu kesal mendengar ucapan Edwin yang tidak ada rasa belas kasihan melihat keadaan Annette yang benar-benar lemah dan tidak berdaya. Sebagai sesama wanita Mora kasihan melihat keadaan Annette dalam lemah dan langsung memeriksa semua seluruh tubuh kurus ya.


"Ini? Sepertinya ini bukan demam biasa?" gumam Mora dan terus memeriksa denyut nadi Annette.


"Apa yang kau temukan dari dia?" tanya Edwin.


Mora langsung bangkit dan menatap tajam Edwin karena sesama wanita yang mengalami hal seperti dialami Annette merupakan yang harus benar-benar diperhatikan.


"Kau sudah membuatnya stress Edwin, kau benar-benar membuat mental yang dia miliki turun drastis. Apalagi hasil dari perbuatanmu kepadanya kau harus memperhatikan yang lebih. Satu lagi jika kau tidak sanggup memenuhi kebutuhannya lepaskan dia Edwin, kau sanggup sekali membuatnya kelaparan," ucap Mora kesal. Bisa-bisanya Edwin tega melakukan ini kepada seorang wanita.


"Perbuatan apa sampai aku membuatnya stress seperti ini? Jangan menuduh Mora aku tidak Setega itu membuatnya kelaparan," tanya balik Edwin karena merasa apa yang telah dilakukannya kepada Annette tidak ada apa-apa kecuali hanya omongan yang tidak mengenakan selama ini.


Mora menatap serius wajah Edwin yang terlihat kebingungan dengan apa yang telah dikatakannya barusan.


"Baiklah sepertinya kamu melakukannya tidak sadar tapi kau sudah membuatnya tidak gadis lagi Edwin. Mungkin karena ini dia tertekan memikirkan masa depan yang sudah kau renggut darinya,'' terang Mora.


"Jangan menghakimi Mora kau tidak tahu tahu kejadian yang sebenarnya," ucap Edwin tidak suka.


''Ed, apapun yang terjadi diantara kalian berdua cobalah bicara baik-baik. Semua orang memiliki masalah namun ada baiknya jika kedua belah pihak menyelesaikannya dengan baik-baik. Aku sudah memberikannya obat setelah itu berikan dia makan yang layak dan ingat sementara ini jangan buat dia stres, aku permisi dulu,'' tambah dokter Mora lalu meninggalkan Edwin yang masih mematung.


Edwin merasa tidak percaya apa yang telah dikatakan Mora barusan tentang Annette. Tidak mungkin dia menyentuh Annette sementara melihat wajah ya saja mood ya langsung rusak.


"Aku tidak mempercayai apa yang dikatakan Mora barusan semua ini pasti salah,'' ucap Edwin sambil geleng-geleng kepala.


Mora udah meninggalkan apartemen Edwin sepuluh menit yang lalu sementara itu Edwin langsung menuju dapur dan memeriksa bahan makanan ternyata semua habis.


"Habis?!" pekiknya tidak menyangka satu bahan makanan apapun tidak ada di sana.

__ADS_1


"Astaga Edwin kau tidak memberikan uang belanja lalu bagaimana bisa wanita itu makan selama ini?" tanya Edwin heran lagi. Merasa kepalanya sakit memikirkan masalah ini, Edwin memilih kembali menuju kamar Annette.


Annette tiba-tiba mulai membuka kedua bola matanya karena merasa efek obat yang telah diberikan Mora mulai habis. Namun kesadaran yang belum benar-benar pulih rasa lapar mengganggu perutnya yang semakin lama semakin tipis. Pelan-pelan ia membuka mata namun seketika pandangannya langsung tertuju ke wajah datar Edwin.


"Ma-mas?" ucap Annette gugup dan langsung berusaha untuk duduk namun karena tubuh yang masih lemah mengharuskannya terbaring di atas tempat tidur yang berukuran kecil.


"Jangan bergerak!'' ucap Edwin dan terus menatap wajah Annette yang terlihat pucat.


"Tapi Mas aku harus bangun untuk memasak. Maaf aku telat bangun,'' ucapnya dan langsung beranjak dari tempat tidur tanpa memperdulikan bagaimana ekspresi Edwin yang terlihat semakin kesal.


"Berhenti di sana!" bentak Edwin.


Annette berhenti tepat di depan pintu kamar yang sudah hampir terbuka kedua tangannya memegang dinding ia jadikan tumpuan menahan tubuhnya yang lemah. Berbalik pelan-pelan karena berusaha untuk mengumpulkan semua tenaga mendengar semua apa yang akan dikatakan Edwin kepadanya.


"Aku akan menerima semua hukuman dari Mas,'' ucap Annette pelan dan pasrah.


"Kau mau dihukum?" tanya Edwin sambil menaik alis tebalnya. Annette memilih diam daripada menjawab pertanyaan Edwin yang tiba-tiba akan menjadi bumerang bentuknya.


"Aku permisi Mas,'' ucapnya pelan.


Edwin tercengang melihat kepergian Annette yang sudah menghilang dari balik pintu. Tidak mau Annette mengalami sesuatu yang buruk Edwin mengejar ya sampai ke dapur. Namun pandangannya langsung tertuju kepada Annette yang bertumpu di meja makan menahan kepalanya yang pusing.


''Wanita yang keras kepala,'' decak Edwin dan langsung menghampiri Annette.


''Kau duduklah!" ucap Edwin datar.


Annette sontak kaget melihat Edwin dapat berada di hadapannya, rasa canggung menyelimuti perasaannya karena jarak diantara mereka berdua begitu dekat sekali.

__ADS_1


Lepaskan Mas aku bisa sendiri!" tolak halus Annette sambil melepaskan tangan Edwin di pundaknya.


__ADS_2