
Annette terus gelisah tidak bisa tidur karena ia dan Edwin dalam keadaan yang polos. Ia tidak bisa berpikiran positif dengan apa yang terjadi barusan.
"Kenapa jadi seperti ini? Bagaimana nanti aku hamil lagi? Aku bahkan sudah melayangkan gugatan cerai kepadanya? Apa kejadian dulu akan terulang kembali? Malang sekali nasibmu Annette, pria ini hanya ambil keuntungan darimu dan dia pasti akan kembali kepada wanita ya," ucapnya dalam hati sambal menahan suara isakannya agar Edwin tidak dengar.
Edwin dari tadi tidak tidur dia dapat merasakan kehangatan kembali. Gesekan yang dibuat Annette membangkitkan gejolaknya yang sudah lama terkubur.
Rachel dulu kekasihnya namun hanya sentuhan tangan saja tidak dapat bangkitkan gejolaknya.
"Kenapa aku memikirkan wanita itu? Rachel bukan kekasihku lagi karena dia selingkuh, enak saja main dua memang ya dia siapa?" umpat ya dalam hati.
Disisi lain Susan Penny baru merasa tenang karena Edwin dan Annette kini menyatu. Dia menatap foto suaminya yang terpajang di kamar.
"Maaf ya sudah lama kita tidak mengobrol suamiku. Apa kabarmu di sana? Kamu tahu tidak Edwin sudah mencintai Annette." Susan Penny tersenyum lebar sambil mengusap bingkai itu.
Waktu berputar begitu cepat di rumah sakit Edwin lebih dulu bangun karena dia ingin melayani Annette lebih awal.
Sarapan pagi dia pesan melalui sekretaris agar lebih sehat dan bergizi. Kali ini dia ingin menebus semua kesalahan yang sudah menaruh luka yang begitu dalam diri Annette.
__ADS_1
"Cantik sekali ia kalau tidur," kekeh Edwin lalu mengusap wajah Annette lalu menggeser anak rambut yang hampir menutupi wajahnya.
Merasa terusik Annette bangun ia kaget wajahnya begitu dekat dengan Edwin.
"Ka-kau?!" pekiknya lalu mundur namun ia menyadari kalau saat ini dalam keadaan polos karena ulah Edwin kemarin malam.
"Hai, selamat pagi Annette," ucapnya sambil tersenyum.
Annette benar-benar gugup seketika ia sulit untuk bernapas karena oksigen tiba-tiba habis.
"Annette?" panggil Edwin karena tidak mendapatkan balasan.
Annette diam lalu turun karena tubuh ya tiba-tiba remuk ulah Edwin kemarin malam.
"Kamu mau ke mana, Annette?" tanya Edwin sambil menahan Annette agar tidak masuk ke kamar mandi.
Annette melihat tangan Edwin menyentuhnya ia semakin ketakutan apalagi samping mereka berdua ada sendok makan serta garpu.
__ADS_1
"Mas Edwin pasti lagi bersandiwara lalu sendok itu akan melayang. Walaupun dia melakukan penyatuan semalam tapi aku tidak mau lemah," ucapnya dalam hati.
"Annette?" panggil Edwin berusaha tetap sabar karena dia merasa bicara dengan patung.
"Lepaskan Mas!" Annette hempaskan tangan Edwin hingga ia dengan cepat langsung masuk ke dalam kamar mandi.
Di sana ia melihat tubuhnya yang penuh jejak Edwin, Annette memeluk tubuhnya yang bergetar sambil menangis.
"Pria jahat, enaknya aja datang habis itu sepah buang," ucapnya bergetar.
Luar Edwin masih tercengang Annette tidak mau bicara dengannya bahkan, menyentuh tangannya saja tidak boleh.
"Seperti ini kah sakitnya?" batin Edwin baru menyadari bahwa dia dulu suka bentak Annette.
Hingga sarapan pagi penuh gizi itu lama-kelamaan menjadi dingin. Sudah satu jam berlalu Annette tidak mau keluar dari kamar mandi.
Edwin memilih keluar kepala yang menunduk perasannya semakin berkecamuk. Bukannya yang dia harapkan terjadi justru sebaliknya.
__ADS_1