Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Sandiwara Edwin


__ADS_3

Annette cukup lama berada di sana memperhatikan kepergian Edwin. Ia merasa bersalah kepada pria tersebut terlalu dingin dan tidak memperhatikan dirinya.


Namun setelah tiba-tiba dan ingatan Annette berputar begitu cepat mengingat perbuatan Edwin dahulu.


"Apa yang kamu pikirkan?" Annette begitu malas setelah melihat kembali peristiwa yang hampir membuatnya hamper hilang di dunia ini.


Ibu yayasan melihat Annette banyak melamin sendirian ketimbang berbaur dengan anak-anak. Dia tahu apa yang dipikirkan masa tubuhnya apalagi kondisi ini sedang mengandung.


"Nak, sudah malam malam lebih baik masuk ke dalam karena ibu hamil tidak cocok berada di luar karena cuaca tidak mendukung," tegur kepala yayasan.


Waktu begitu cepat berputar hingga beberapa bulan sudah dilewati Frederick dan Annette. Sampai sekarang tidak ada yang memulai obrolan mereka berdua menganggap seperti orang asing.


Annette mengusap perutnya yang sudah terlihat besar sekali pun ia tidak mau memeriksa ke dokter bagaimana perkembangan calon anak ya itu.


"Sayang, apakah kalian tahu dari mana kehidupan bunda saat ini?" lirihnya.


Air matanya tiba-tiba menetes perasaannya begitu sakit sekali sampai saat ini. Andai saja dulu tidak mengandung saja detik itu juga meninggalkan Edwin.


Sebuah mobil pribadi berwarna merah memasuki halaman parkiran. Annette melihat kebawah kedua bola matanya terbelalak melihat kedatangan Susan Penny.

__ADS_1


"Sedang apa ibu kemari?" gumamnya sambil memikirkan alasan yang tepat mengenai rumah tangga ia bersama dengan Edwin.


"Annette, Edwin, kalian di mana sayang?" panggil ya.


"Ibu di sini?" alasan Annette.


"Hai sayang, maaf ya ibu telat datang karena mengurus cabang perusahaan kita di luar negeri. Perusahaan itu sudah lama di impikan oleh ayah Edwin dan bau bisa diwujudkan.


"Ya Bu, Annette mengerti," balasnya.


"Bagaimana dengan kandungan mu sayang? Apakah kalian sudah pernah memeriksa ke dokter?" tanya Susan Penny lembut.


Annette gendeng ganteng kepala karena dia tidak ingin memeriksa kandungannya. Untuk saat ini dia memang baik tidak ada mengeluh, namun kadang ingin merasakan mulai dan itu membuatnya cukup lelah.


Edwin melihat perut Annette yang sudah membulat pengen rasanya dia mengusap dan menyentuh. Sebagai seorang pria akan aji yang membuat Annette seperti itu.


"Edwin, kenapa diam di situ?" tegur Susan Penny.


"Ha Bu, kapan ibu pulang?" tanya Edwin lalu duduk.

__ADS_1


"Satu jam lalu nak." Edwin benar-benar kecewa kepada Susan Penny seharusnya menghubungi dia agar dijemput di bandara.


"Kenapa tidak menghubungi Edwin?" protesnya.


"Ibu baik-baik saja kog nak, oh ya bahasa kita ke panti ya ibu kangen suasana di sana," alih Susan Penny.


"Ibu serius?" tanya Annette begitu senang mendengar ucapan Susan Penny.


"Ya sayang, kamu pasti kangen ya juga ke sana?" tanya Susan Penny sambil mengusap kepala Annette lembut.


"Ya Bu," lirihnya.


Edwin semakin merasa bersalah atas Annette, dia memang pria yang bodoh pernah menyia-nyiakan wanita di hadapannya saat ini.


Dia meneguk minuman itu sampai habis sambil membayangkan wajah dan perut Annette. Semakin lama Annette terlihat cantik karena faktor kehamilan ya.


Tiba-tiba Edwin berniat untuk menemuinya ke kamar ingin bicara secara pribadi.


"Annette, bisa kita bicara sebentar?" panggilnya setelah mengetuk pintu.

__ADS_1


Annette baru saja mengganti pakaian terkejut mendengar suara panggilan Edwin. Belum pernah Edwin mengetuk pintu kamar sebelumnya.


"Mau apa mas Edwin? Apa karena ibu di sini dia ingin bersandiwara?" kesal ya.


__ADS_2