
Tidak merasa bersalah Edwin terus memikirkan Rachel yang tidak menjawab panggilan ya. Gusar dan kecewa Edwin memilih membersihkan dirinya.
"Rachel kau membuatku gila,'' gusar Edwin. Bekas penyatuan yang telah ia lakukan bersama Rachel kemarin masih terasa hingga pagi ini. Jejak yang ditinggalkan Rachel begitu banyak di leher dan mulutnya. Edwin merasa puas dengan pelayanan yang telah dilakukan Rachel kepadanya walaupun mereka berdua tidak melakukan penyatuan di klub namun, setiap service yang diberikan Rachel mampu membangkitkan gejolaknya
Edwin terus membayangkan apa yang sudah dilakukannya bersama dengan Rachel tanpa memperdulikan perasaan Annette, berbeda di tempat lain wanita yang bersama dengan Edwin bermain api panas bersama pria asing.
''Kau yang terbaik baby,'' ucap pria tersebut sambil memberikan sentuhan hangat di seluruh tubuh Rachel setelah selesai melakukan penyatuan yang sudah tidak tahu berapa kali mereka lakukan.
"Asal kau puas baby.'' Rachel kembali menyatukan buah ceri mereka berdua dan tidak memperdulikan ponselnya terus bergetar.
''Rachel, kenapa dia tidak mengangkat panggilanku?" ucap Edwin tanpa menyadari ternyata Annette mendengar ucapannya dari belakang.
"Segitunya kau mencintai wanita lain sementara aku ada di hadapanmu Mas?" batin Annette lalu meletakkan sepatu kerja Edwin di depan pintu kamarnya.
Ya sementara ini Edwin mulai lunak melihat wajah Annette karena perasaannya udah lebih baik daripada sebelumnya. Kehadiran Annette membawa dampak besar dalam kehidupannya yang dulu aman, tenang dan damai kini berbalik semua.
Selesai membersihkan tubuhnya dan rapi, Edwin turun ke bawah dengan langkah pelan sambil mengedarkan pandangan seluruh ruangan apartemen. Hingga tiba di dapur Edwin tidak melihat keberadaan Annette yang selalu membuat darahnya mendidih.
"Di mana wanita itu?" gumamnya. Berbagai macam makanan tersaji di atas meja makan Edwin merasa lapar melihat makanan kesukaannya yaitu telur dadar.
"Enak sekali,'' ucapnya pelan tanpa berdosa. Edwin melanggar semua ucapannya kepada Annette selama mereka menikah.
Tidak mau menunggu lama akhirnya Edwin langsung menghabiskan seluruh telur tanpa memperhatikan di ujung ruang tengah Annette memperhatikannya.
"Mas aku.'' Annette menangis lalu pergi menuju kamarnya.
Edwin selesai sarapan pagi lalu, pergi menuju kantor begitu saja mungkin dia melupakan sesuatu yang seharusnya diingat namun, sepertinya itu tidak berlaku lagi bagi Edwin.
"Kenyang,'' ucapnya tanpa dosa.
Di Perusahaan Edwin berjalan begitu santai tanpa memperdulikan para karyawan berbisik melihat kedatangannya.
"Tuan Muda sepertinya tidak mengetahui bahwa Nyonya sudah lama berada di sini,'' bisik salah satu karyawan yang tidak disebut namanya.
__ADS_1
Langkah Edwin berhenti karena secara tidak sengaja mendengar bisik-bisik para karyawan yang tidak baik dia dengar. Di depan pintu lift Edwin langsung berbalik menatap tajam para karyawan.
"Dasar kalau moodku tadi tidak baik kalian sudah aku pecat!'' geram Edwin.
Pintu lift langsung terbuka Edwin masuk ke dalam sendirian karena sekretaris handalnya tidak datang bersamanya. Setibanya, kedua bola mata Edwin membola melihat Susan Penny berdiri di samping meja sekretarisnya.
"Ibu?!" ucapnya pelan dan langsung melangkah cepat menghampiri Susan Penny.
"Ibu mau bicara.'' Susan Penny langsung masuk ke dalam ruangan Edwin dengan wajah yang terlihat kesal.
"Buat minuman terbaik untuk Ibu, cepat!'' ucap Edwin kepada sekretarisnya.
''Baik Tuan.'' Edwin langsung masuk ke dalam. Perasaannya tidak enak dilihat kedatangan Susan Penny yang tidak biasanya. Dalam ruangan Susan Penny tidak duduk justru berdiri di tengah-tengah ruang kerja Edwin.
"Ibu, silahkan duduk!" ucap Edwin ramah. Tiba-tiba Susan Penny memberikan sentuhan hangat ke pipi kiri Edwin.
"Kau bukan lagi putraku mulai detik ini jangan pernah mencari Ibu!'' ucap Susan Penny dengan napas naik turun. Edwin menyentuh pipinya.
"Ibu?" ucap Edwin tidak percaya Ibu yang selama ini memeluknya tiba-tiba membuangnya dalam sekejap.
Edwin mengeratkan rahangnya tidak suka mendengar nama Annette apalagi setelah menerima sentuhan yang belum pernah diterimanya dari wanita cinta pertamanya.
"Annette,'' geramnya. Edwin sama sekali tidak menyadari kepergian Susan Penny dari hadapannya.
"Nyonya anda mau pergi?" tanya sekretaris Edwin.
"Kau urus baik-baik majikanmu itu.'' Hanya itu saja diucapkan Susan Penny selalu pergi meninggalkan perusahaan.
"Tuan Muda lagi,'' ucapnya sampai mengusap wajahnya yang terlihat kelelahan karena mengurus perusahaan yang selalu Edwin abaikan. Edwin langsung keluar mengejar Susan Penny karena tidak mau menjadi anak durhaka karena hanya seorang wanita yang tidak pernah berlabuh dalam hatinya sekalipun.
"Ibu tunggu! Jangan bertindak seperti ini!" pinta Edwin berusaha menahan Susan Penny.
Susan Penny sama sekali tidak mendengar ucapan Edwin dan terus melangkah menuju mobil yang sudah menunggunya.
__ADS_1
"Kita pergi dari sini,'' ucap Susan Penny kepada sopir pribadinya.
"Ibu jangan mengabaikan Edwin hanya karena seorang wanita,'' tambah Edwin dan langsung menahan pintu mobil. Susan Penny langsung menatap tajam Edwin karena tidak suka mendengar nama wanita sementara menantunya memiliki nama.
"Apa kau bilang? Wanita?" tanya Susan Penny emosinya semakin memuncak.
''Maaf maksud Edwin Annette, Bu,'' ralatnya.
"Ibu kecewa banget sama kamu Edwin.'' Susan Penny mendorong tubuh Edwin dan langsung masuk ke dalam mobil.
''Ibu?!" panggil Edwin begitu frustasi melihat kepergian Susan Penny. Sekretaris Edwin tiba karena hari ini mereka harus melakukan rapat bersama dengan grup Halim sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan jauh-jauh hari.
"Tuan grup Halim menunggu anda di dalam,'' ucapnya.
"Diam kau!'' bentak Edwin. Edwin tidak memperdulikan perusahannya lalu dia berlari menuju mobilnya dengan wajah yang terlihat marah.
"Tuan besar andaikan anda masih hidup," lirih sekretaris Edwin sambil membuang napasnya berat.
Edwin langsung menuju apartemen melajukan kendaraannya dengan kecepatan penuh tanpa memperdulikan pengendara lain hampir mengenainya.
"Annette kau menyalakan api pada diriku lihat aja kau tidak akan kuberi ampunan,'' ucap Edwin dengan kesal.
Tiba di apartemen, Edwin asal-asalan naik keatas karena sudah tidak sabar menemui Annette. Pintu terbuka dan Edwin mengedarkan pandangannya mencari sosok Annette yang ingin dia cecar berbagai macam pertanyaan.
"Di mana wanita itu?" ucap Edwin dan langsung naik keatas. Edwin tetap tidak menemukan Annette di kamarnya semuanya bersih lalu Edwin menuju kamar mandi yang berukuran kecil tidak jauh dari kamar Annette.
"Mas?!" pekik Annette melihat Edwin berdiri tepat di belakangnya.
"Sini kau!" Edwin langsung menarik lengan Annette dan sedikit mencengkram.
"Mas, kenapa cepat pulang?" tanya Annette heran.
"Diam kau!" bentak Edwin dan terus membawa Annette menuju kamarnya.
__ADS_1
Annette meringis kesakitan, tiap hari ia mendapatkan perlakuan seperti ini sudah hal biasa baginya. Namun kali ini sepertinya ia akan mendapatkan masalah besar. Belum pernah sekalipun melihat Edwin marah seperti saat ini membuat tubuh kurusnya menciut.