
Annette menoleh dan tersenyum kecut tidak percaya bahwa suaminya sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun kepadanya apalagi calon buah hati mereka yang baru saja tumbuh pergi begitu saja.
"Hari ini. Hari ini aku mengetahuinya setelah kehilangan. Kau di mana Mas ketika aku kesakitan?!" jerit Annette. Tangisan langsung tumpah mengatakan hal itu jika saja seseorang tidak menolongnya mungkin nyawanya juga tidak akan tertolong.
"Ka-kau.'' Mulut Edwin tersendat tidak bisa mengatakan apapun.
"Kau membuat bayi kita pergi selamanya Mas dia baru saja tumbuh di sini namun kau sudah menghilangkannya,'' teriak Annette. Edwin tercengang dan berpikir keras apa yang diucapkan Annette itu semuanya tidaklah benar seketika kejadian tadi siang membuatnya ingat.
"Kau?" Edwin langsung ambruk di lantai setelah mengetahui hasil perbuatannya tadi di apartemen.
"Itu tidak mungkin? Bagaimana bisa aku melakukan hal itu kepadamu dan anakku yang baru saja tumbuh,'' ucap Edwin.
Annette tidak menyangka mendengar ucapan Edwin. Anakku? Sejak kapan Edwin Baverly mengakuinya sebagai istri sementara selama ini sekalipun tidak ada artinya di hadapannya.
"Ceraikan aku Mas, aku siap. Mas tidak perlu kuatir dengan Ibu aku akan bicara dengan beliau,'' ucap Annette menahan rasa sesak di dadanya.
"Kita tidak akan pernah bercerai sampai kapanpun tidak akan pernah. Jangan kau berpikir karena selama ini aku tidak baik kepadamu aku akan melepaskanmu begitu saja,'' ucap Edwin dengan nada yang penuh penekanan.
"Kau egois Mas. Aku tidak tahu apa maumu?'' teriak Annette. Edwin langsung membawa Annette kedalam pelukannya.
"Tidak ada kata cerai,'' bisik Edwin.
Annette terus memberontak dalam pelukan Edwin sambil menangis meratapi calon anaknya yang baru aja tumbuh pergi begitu aja. Edwin tidak kalah kaget namun nasi sudah menjadi bubur.
Lelah dan tidak kuat Annette mulai mengendurkan pukulan ya dan memilih terisak sendirian membelakangi Edwin. Tidak lama kemudian keadaan tenang, Annette tidur kembali karena efek obat yang baru saja diberi dokter lalu Edwin keluar dengan wajah yang terlihat kusam.
"Tuan ini saya temukan di apartemen anda." Sekretaris David memberikan hasil rekaman yang diam-diam dibuat Edwin di apartemen. Di sana sangat jelas terlihat Annette kesakitan menahan perutnya.
"Dia,'' ucap Edwin tidak menyangka Annette begitu kuat berjalan sampai menuju pintu.
"Maaf Tuan, saya tidak memantau dan akhirnya-'' Edwin langsung memotong ucapan sekretarisnya.
__ADS_1
"Siapa pria yang menolong Annette?" tanya Edwin.
"Salah satu penghuni apartemen ini Tuan. Tapi, dia adalah seorang petugas parkiran yang baru aja bekerja di sini," jawab sekretaris David.
Edwin terdiam pandangannya tertuju kepada Annette yang kesakitan, tanpa Edwin sadari air matanya lolos begitu saja. Sekretaris David memilih mundur pelan-pelan membiarkan sang majikan meratapi kebodohannya.
"Anakku," lirih Edwin.
Sela Edwin merasakan sakit atas bepergian ya sang buah hati dari ujung lorong rumah sakit sosok wanita paruh baya terlihat jalan tergesa-gesa. Ibu Susan Penny langsung meluncur dari luar negeri ketika mengetahui kondisi Annette.
Susan Penny melihat Edwin dari kejauhan. Marah, tentu aja karena dari informasi yang dia dapat semua ini terjadi karena perbuatan Edwin.
"Edwin?!" Susan Penny memberikan sentuhan ke pipi kanan Edwin.
"Mommy?" pekik Edwin. Kaget, marah, kecewa ini yang membuat perasaan Edwin semakin hancur.
"Kalian detik ini juga pisah. Mommy mulai sekarang tidak akan melarangmu menikahi wanita yang kurang beres itu." Edwin terbelalak mendengar perkataan Mommy Susan Penny yang terdengar putus.
"Edwin tidak akan pernah cerai Mak. Sampai kapanpun aku tidak akan mau," tolak Edwin penuh penegasan.
Edwin tidak menyangka dia akan mendapatkan musibah yang bertubi-tubi. Tidak ada satupun orang berada di sampingnya bahkan Rachel Leona sekalipun.
"Cerai?" ucap Edwin pelan dan tatapannya kosong menatap depannya.
Sementara itu dalam ruangan Annette menangis pilu dalam pelukan Susan Penny. Ia mencurahkan semua sakit yang dirasakan selama menikah. Walaupun Susan Penny mengetahui rumah tangga ya namun, tidak lagi semua ya.
"Maafkan Annette Bu. Maaf tidak bisa menjaganya dengan baik," ucap Annette.
"Don't worry Baby, kau wanita yang hebat dan kuat. Dengar besok kau sudah bisa pulang, katakan kau mau tinggal di mana? Ayah atau Mommy?" tanya Susan Penny halus.
"Bu, Annette ingin sendiri sementara waktu ini," pintanya pelan. Tanpa berpikir panjang Susan Penny mengiakan permintaan menantunya itu.
__ADS_1
"Baiklah tapi jika kau membutuhkan sesuatu hubungi Mommy, kah mengerti!" ucap Susan Penny hati-hati.
"Ia Bu." Susan Penny memberikan penghiburan pelan-pelan sampai akhirnya Annette terlelap tidur karena kelelahan.
"Kau wanita yang baik Annette, maaf kan Mommy sudah membawamu ke dalam masalah keluarga kami," isak Susan Penny.
Akhirnya Susan Penny memutuskan untuk meninggalkan rumah sakit karena pekerjaan masih banyak menumpuk dan tidak bisa dilepas begitu saja. Edwin langsung berdiri ketika melihat Susan Penny dengan raut wajah yang kecewa.
"Mommy, bagaimana keadaan Annette?" tanya Edwin pelan.
Langkah Susan Penny langsung berhenti mendengar ucapan Edwin sebagai orang tua merasa bersalah karena kelakuan sang putra yang salah jalan.
Susan Penny memejamkan kedua bola matanya berpikir keras apa yang harus dikatakan kepada Edwin saat ini. Karena berbicara dengannya sama aja berbicara dengan batu yang tidak akan pernah bisa masuk ucapan kepadanya.
"Kau, untuk sementara ini lebih baik kalian berpisah. Renungkan semua apa yang kau lakukan selama ini kepada Annette, jika kau masih menginginkan pernikahan ini dilakukan apa yang Mommy katakan!" Susan Penny langsung meninggalkan Edwin begitu aja.
"Mommy tunggu!" panggil Edwin sampai menahan lengan Susan Penny.
"Kau tidak mendengar ucapan Mommy, Edwin?" tanya Susan Penny lagi.
"Aku akan menuruti semua apa yang dikatakan Mommy tapi biarkan kami tinggal satu atap. Aku tidak akan mengganggunya sampai Annette merasa baikan dan mau memaafkanku,'' ucap Edwin.
''Tidak boleh karena yang kau lakukan kepadanya sudah melebihi batas, Annette berhak memilih hidupnya daripada berada dalam naungan seperti kau Edwin. Mommy tidak habis pikir jalan pola pikir mu seperti apa sampai kau tega melakukan itu kepadanya! Bagaimana nanti Mommy menghadapi almarhum Daddy sementara kau seperti ini,'' isak Susan Penny.
Tubuh kekar Edwin langsung tegang mendengar nama Daddy yang menjadi panutannya. Bayang-bayang permintaan terakhir yang almarhum membuat hatinya sesak. Tanpa disadari Edwin, Susan Penny sudah meninggalkannya dari sana.
"Daddy?" ucap Edwin lemah.
Larut dalam kesedihan seseorang menghampiri Edwin yaitu dokter.
''Tuan Muda, boleh kita bicara sebentar?" ucap dokter tersebut.
__ADS_1
''Ada apa?" tanya Edwin tidak bersemangat.
''Ada yang ingin saya sampaikan mengenai kondisi kesehatan Nona Annette Tuan.'' Mendengar nama istrinya disebut kedua bola mata Edwin membulat. Perasaannya tidak enak apalagi dengan masalah yang baru saja mereka hadapi ini.