
Edwin melotot menatap Annette yang menolaknya.
"Kau pikir aku sudi memegangimu dengar, ada yang ingin kau tanyakan kepadamu sebelum aku pergi bekerja!" ucap Edwin begitu seriusnya sambil menatap lekat Annette.
"Apa itu Mas?" balas Annette berusaha untuk tenang sambil mundur beberapa langkah. Setiap perkataan yang telah keluar dari mulut Edwin menjadi catatan penting untuknya sebelum Edwin akan benar-benar bosan kepadanya.
"Katakan, malam kemarin apa kita berdua benar-benar melakukan suatu hubungan yang seharusnya tidak terjadi?" tanya Edwin dingin. Seketika raut wajah Annette langsung berubah drastis mendengar pertanyaan Edwin.
''Kenapa Mas Edwin bertanya soal kemarin? Sementara kejadian itu sudah hampir mau satu bulan.'' Annette berusaha untuk tenang karena tidak mau sesuatu yang buruk akan berdampak kepadanya.
"Katakan?!" desak Edwin karena tidak sabar mendengar jawaban langsung dari mulut Annette.
"Bagaimana ini apa yang harus aku jawab?" batinnya dalam hati sambil menunduk kecil.
''Cepat katakan jika tidak aku akan membuatmu tidak betah berada tinggal di sini!" tambah Edwin marah.
''Ia Mas,'' jawab Annette pelan.
Edwin langsung mundur beberapa langkah setelah mendapatkan jawaban dari Annette. Tidak menyangka bahwa dia pernah berhubungan langsung bersama dengannya namun tidak dibawa alam sadar.
"Tidak mungkin itu terjadi karena aku adalah pria yang tipikal menjaga diri. Melakukannya bersamamu itu adalah hal yang mustahil,'' teriak Edwin dan langsung meninggalkan Annette dengan perasaan yang begitu kecewa.
Annette tidak mengejar Edwin karena merasa seluruh tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Berdiri saja sudah membuatnya pusing namun karena menghargai Edwin rela turun dari tempat tidur.
"Sadar kau Annette bahwa pria itu tidak akan pernah melihatmu,'' hiburnya dan langsung menuju kembali ke kamar untuk beristirahat. Efek obat yang telah diberikan Mora benar-benar bagus bisa cepat melakukan reaksi yang belum pernah dilihatnya. Rasa lapar biarlah ia tahan sampai di mana bisa bertahan menahannya.
Di kantor Edwin terlihat marah-marah kepada seluruh karyawan yang bekerja tidak becus tanpa memandang jabatan.
"Sepertinya kalian membutuhkan liburan yang panjang untuk,'' kesal Edwin.
''Tuan maaf kami tidak akan pernah mengulang lagi,'' ucap salah satu karyawannya yang tidak diketahui siapa namanya.
__ADS_1
"Keluar!" bentak Edwin tanpa melihat karyawannya keluar dengan wajah yang pucat. Sementara Edwin langsung bangkit dari bangku kebesarannya menuju salah satu ruangan yang cukup besar untuk beristirahat menenangkan pikiran.
"Apa aku benar-benar telah mengambil apa yang telah dimilikinya selama ini? Lalu kenapa dia diam dan tidak mau menuntut?" tanya Edwin pada dirinya sendiri.
Tanpa berkata apapun Edwin langsung meninggalkan perusahaan miliknya yang saat ini dia butuhkan ingin berpikir tenang. Begitu banyak para karyawan melihat Edwin yang memperhatikannya terlalu berlebihan menyikapi pekerjaan mereka yang jelas-jelas bagus.
''Heran aku melihat bos yang selalu seperti ini? Apa jangan-jangan rumah tangganya tidak benar?" tuduh salah satu karyawan wanita yang kebetulan melihat Edwin keluar begitu seriusnya.
''Kau harus menjaga ucapanmu juga tidak sesuatu yang buruk akan terjadi dan berdampak semua karyawan di sini!!" peringat karyawan kedua.
"Oh iya aku kelupaan.'' Para karyawan langsung membubarkan diri tidak mau berdampak apa yang dialami Edwin. Sementara itu, Edwin langsung membawa mobil mewah miliknya menuju ke apartemen.
"Annette pasti menjebakku sampai bisa tidur bersamanya,'' ucap Edwin kesal. Karena suasana siang hari tidak banyak kendaraan yang lewat dan memudahkan Edwin cepat sampai di apartemen miliknya.
Dalam apartemen Annette mulai merasakan lebih baik karena pengaruh obat yang diberikan Mora. Soal makanan Annette memesan makanan cepat saji yang tidak jauh dari apartemen. Untung aja uang masih ada ia pegang selama ini dan bisa ganjal perutnya. Termenung sendirian ditemani dengan air mata terus lolos membasahi kedua pipi yang terlihat semakin lama semakin kurus.
"Ayah mertua aku minta maaf karena sudah membuat rumah tangga kami berjalan seperti ini. Tidak sesuai dengan keinginanmu yang terakhir kalinya,'' isaknya.
"Kau?!" ucap Edwin pelan. Annette langsung berbalik dan kaget melihat Edwin berdiri tepat di hadapannya dengan raut wajah yang memerah.
"Mas, kau sudah pulang?" tanya Annette kaget dan langsung berdiri. Bukannya menjawab pertanyaan namun Edwin berjalan menghampiri Annette yang terlihat ketakutan.
''Kau harus menunjukkan semua buktinya supaya aku tenang!" ucap Edwin dingin dan datar.
"Bukti apa yang Mas maksud?" tanya Annette gugup dan ikut mundur sampai kedua kakinya mengenai tempat tidur.
''Kalau kita berdua pernah bersama melakukan hal yang tidak seharusnya terjadi,'' tambah Edwin.
"Mas aku akan jujur tapi jangan melakukan hal yang tidak kita inginkan,'' ucap Annette berusaha untuk tenang namun jantungnya sudah berdetak kencang.
''Aku tidak butuh kata-kata yang kau ucapkan Annette sekarang cepat buktikan!" Edwin langsung menarik semua yang dikenakan Annette pada seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Jangan Mas ini tidak benar'' pekik Annette karena Edwin begitu nekat ingin mengetahui yang terjadi diantara mereka berdua.
''Diam!" bentak Edwin dan terus berusaha untuk membuka semua pada diri Annette.
Edwin bukanlah lagi Edwin yang dulu lembu dan baik, semenjak berumahtangga dengan Annette dalam dirinya berubah drastis.
Annette berusaha keras untuk menahan tangan Edwin yang berkeliaran di area sensitif miliknya. Namun usahanya tidak berhasil karena kekuatan yang ia miliki berbanding jauh dengan Edwin. Apa yang ditutupi yang sedari tadi akhirnya terbuka dan hanya menyisakan bagian dalam.
"Mas, kau sungguh keterlaluan!" pekik Annette sambil menyilangkan kedua tangannya di depan. Bukannya menjawab justru Edwin tercengang melihat perdana semua yang dimiliki Annette.
''Cantik sekali,'' ucapnya tanpa sadar sambil menelan ludah. Annette langsung mengambil kesempatan meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
''Stop! Jangan bergerak,'' ucap Edwin cepat.
"Annette tidak mau Mas,'' tolak Annette dan tetap meraih selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
Edwin tidak mau kesempatan ini lepas berlangsung menarik lengan Annette.
"Kau jangan pernah mengujiku kedua kali jadi menurutlah selagi aku masih baik kepadamu!" ucap Edwin penuh penekanan.
Annette terdiam dan sama sekali tidak bisa bergerak karena Edwin mengunci seluruh tubuhnya. Kedua bola mata coklat Edwin menatap intens yang tersaji di hadapannya tanpa berkedip sedikitpun.
''Aku pasti sudah gila menyentuh wanita ini,'' kesalnya.
"Ya Tuhan jangan sampai kemarin malam terulang!" pinta Annette. Sepertinya doa yang telah di panjatkan Annette sama sekali tidak didengar karena dengan cepat Edwin sudah mempersatukan benda cherry merah alami milik Annette penuh kelembutan.
"Manis sekali,'' gumam Edwin dan semakin memperdalam penyatuan mereka berdua.
Annette terbelalak mendapatkan sentuhan dibawa alam sadar mereka berdua mungkin kemarin malam hanya ia yang sadar namun kali ini berbeda.
"Ayah, Ibu tolong Annette,'' lirihnya sambil memejamkan kedua bola mata berharap Edwin tidak sampai dibawa batasnya.
__ADS_1