
Hidup dalam kesendirian tidak ada siapapun bersamanya saat ini. Edwin memilih diam dalam kamar sambil menatap langit yang bersih. Ditemani dengan sekumpulan asap yang mengepul mengelilinginya.
Edwin tidak peduli dengan dia sesekali batuk karena menghirup asap tersebut.
Bahkan Susan Penny ibunya sendiri tidak memperdulikan dia lagi setelah mengetahui rumah tangganya dengan Annette tidak berjalan dengan baik. Rapuh, tidak berdaya jalan hidup tidak seindah yang dulu yang penuh dengan warna warni.
''Kenapa ayah memberikan menantu seperti Annette?" ucapnya pelan.
Pertanyaan yang begitu membuat kepalanya semakin sakit. Annette bukanlah wanita yang dia inginkan selama ini namun pilihan kedua orang tuanya membuatnya seketika jatuh ke dasar.
Pintu tiba-tiba terbuka kuat ternyata Susan Penny kembali memastikan keadaan Edwin. Beliau mendapatkan kabar mengenai kondisi putra ya itu tidak baik.
''Edwin?!" pekik Susan Penny.
''Hai Bu,'' ucapnya pelan lalu kembali menghirup benda asap itu.
''Hentikan Edwin! Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?!" sentak Susan Penny.
''Apa peduli ibu? Tinggalkan Edwin Bu, saat ini aku sedang berada di zona nyaman.'' Edwin merampas benda asap itu kembali lalu dia hirup sampai mulutnya penuh.
''Kau mau menjadi anak durhaka, Edwin?!" tambah Susan Penny.
__ADS_1
''Sudah terlanjur untuk apalagi bertobat,'' balas ya.
''Kau mau melihat ibu menyusul ayah, Edwin?" tanya Susan Penny, beliau terisak melihat kondisi Edwin yang memprihatinkan.
''Ayah ya? Dia tidak sayang sama Edwin Bu, andaikan saja ayah tidak berpulang secepat itu semua ini tidak akan terjadi.'' Susan Penny langsung membawa Edwin masuk ke dalam pelukannya.
Sebenci-bencinya dia melihat kelakuan Edwin namun naluri sebagai seorang ibu tidak pernah lepas.
''Maaf kan ibu tidak bisa menghentikan pernikahan kalian berdua,'' ucapnya pelan.
''Sudahlah Bu. Semuanya sudah terjadi bahkan Annette juga tidak mau kembali memulai hubungan denganku. Annette sudah kecewa karena perilaku Bu.'' Edwin menangis dalam pelukan Susan Penny.
''Edwin, boleh ibu mengatakan sesuatu?" tanya Susan Penny sambil melepaskan pelukannya.
''Apa itu, Bu?" tanya Edwin malas.
''Kau sudah mencintai, Annette?" Edwin mengalihkan pandangannya ke samping mendapatkan pertanyaan seperti itu.
''Jawab ibu, Edwin sebelum suatu saat kau akan bertambah menyesal?" ancam Susan Penny.
''Maksud ibu?" tanya Edwin heran.
__ADS_1
''Mau mendengar cerita ibu?" Edwin langsung mengangguk dia benar-benar ingin menghabiskan waktunya bersama dengan Susan Penny sekaligus memperbaiki hubungan yang sempat renggang.
''Pernah bertanya dalam dirimu sendiri, kenapa ayah menikahkan kalian berdua bukan dengan Rachel?" tanya Susan Penny.
''Ya Bu,'' balasnya.
''Annette pernah menyelamatkan ayah di jalan raya ketika mobilnya bertabrakan dengan truk pengangkut ikan,'' terangnya.
''Jadi dulu ayah.'' Susan Penny langsung mengangguk.
''Ayah mengetahui kondisi kehidupan yang dijalani Annette dengan itu ayah memutuskan untuk menikahkan kalian berdua Edwin. Ayah bahkan mengetahui Rachel bukan wanita yang baik untukmu.'' Mendengar nama Rachel membuatnya ingin mulas.
''Jangan sebut nama wanita itu lagi Bu,'' decak ya.
''Siapa yang kau maksud, Edwin?" tanya Susan Penny heran.
''Rachel,'' ucapnya singkat.
''Oh, jadi Edwin sudah membenci wanita ular itu,'' tawa Susan Penny dalam hati.
''Ayah ingin kau menikah dengan Annette bukan hanya ingin membalas budi. Tapi Annette adalah wanita yang baik, bertanggung jawab hanya saja semua berubah ketika kau masih terjerat dengan Rachel,'' ucapnya datar.
__ADS_1