Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Annette Pingsan


__ADS_3

Edwin diam seribu bahasa mendengar jawaban Annette, suasana ruangan tersebut menjadi dingin.


Susan Penny masuk ke dalam setelah memberikan privasi kepada anak dan menantunya itu.


"Kalian kenapa?" tanya Susan Penny berpura-pura tidak tahu apa yang terjadi.


"Bu, Annette harus kembali ke panti," lirihnya.


"Kenapa?" tanya Susan Penny panik.


"Saya butuh sendiri Bu, Mas lekas sembuh ya." Setelah mengatakan itu Annette langsung keluar.


"Tunggu Annette!" panggil Susan Penny namun tidak diindahkan.


"Hentikan Bu, Annette sudah memilih jalannya sendiri," ucapnya pelan.


"Kenapa? Apa yang kalian bicarakan tadi Edwin?" tanya Susan Penny panik.


"Biarkan Annette memilih jalannya kali ini Bu. Aku sudah terlalu banyak menyakiti ya selama ini," lirihnya.


Susan Penny melihat raut wajah Edwin tidak bersemangat, sebagai ibu tidak bisa melihat dia terpuruk.


"Aku harus kembali meminta Annette kembali, semua ini terjadi karena wanita ular itu. Tapi Edwin juga salah andaikan dia tidak terlalu mencintai Rachel semua ini tidak akan terjadi," gerutunya.

__ADS_1


Edwin meninggalkan rumah sakit tanpa peduli siapapun yang menyapa dia. Sesampainya di rumah dia langsung menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur sambil memejamkan mata.


Bayang-bayang semua kelakuannya dari awal menikah dia tidak percaya pernah melakukan itu kepada Annette.


"Annette," lirihnya.


"Mas Edwin," ucapnya pelan sambiloto melihat ke luar jendela bus.


Annette mengusap air matanya terus menerus keluar perasannya perih belum bisa membuka hatinya kepada Edwin. Hingga akhirnya bus telah berhenti tepat di depan panti.


"Nak, dari mana kamu ibu mencarimu ke mana-mana," ucap ibu panti.


"Maaf ya Bu, tadi ada sesuatu yang mendesak," balasnya.


"Ayo masuk, anak-anak menunggu di dalam," ajak ibu panti.


Annette langsung menuju kamar ia merasa tidak enak badan setelah pertemuannya dengan Edwin dan ibu ya. Ingatan dahulu terbayang apalagi ia pernah mengandung anak Edwin.


"Ntah jadi apa aku seandainya masih mengandung anak ya?" ucapnya pelan sambil mengusap perutnya yang sudah rata.


Waktu terus berputar begitu cepat Annette tidak keluar hingga semua mencarinya terutama ibu panti.


"Di mana Annette?" tanya ya kepada salah satu anak panti.

__ADS_1


"Kak Annette tadi sore sudah masuk kamar Bu," balasnya.


Ibu panti khawatir dengan Annette langsung menuju ke sana. Tanpa berpikir panjang pintu dibukakan kebetulan tidak kena kunci.


"Annette?" panggil ya.


Namun tidak ada sahutan ya hingga ibu panti mendekati namun tubuh kurus itu sudah bergetar.


"Ibu dingin," ucapnya pelan.


"Apa yang terjadi Annette?!" teriak ibu panti, apalagi wajah Annette terlihat pucat. Annette langsung tidak sadarkan diri lagi tubuhnya lemah dan tidak berdaya.


Ibu panti langsung membawanya ke rumah sakit sambil menghubungi Edwin. Hubungan mereka masih ada hanya saja secarik kertas belum terbubuhkan tanda tangan perpisahan.


"Annette pingsan?" pekik Edwin langsung bergegas menuju ke rumah sakit.


"Kamu mau ke mana, Edwin?" panggil Susan Penny.


"Bu, Annette pingsan ia sudah di bawa ke rumah sakit," ucapnya.


"Ibu ikut Edwin!" Edwin mengangguk.


Susan Penny melirik sesekali ke samping Edwin terlihat begitu cemas bahkan menyetir kadang tidak fokus.

__ADS_1


"Win, pelan-pelan saja," peringat Susan Penny karena mereka berulang kali hendak menabrak kendaraan lain.


"Annette membutuhkanku Bu. Saat ini ia pasti kesakitan sendirian menahan sakit itu," ucapnya tertahan. Edwin ingin mengeluarkan air matanya tidak jadi karena wibawanya akan jatuh kalau Susan Penny melihatnya.


__ADS_2