
Annette memastikan kalau ia tidak salah dengar bahkan di hadapannya sekarang ada Edwin.
Edwin tersenyum melihat wajah Annette semakin lama cantik lalu dia mendekatinya.
"Apa kabarmu?" tanya Edwin ramah.
"Baik, kamu?" balas Annette.
"Seperti yang kamu lihat aku selalu sehat," kekeh Edwin lalu duduk di samping Annette.
Hening tidak ada lagi obrolan berlanjut hingga Edwin secara perlahan menggenggam tangan Annette.
"Mas, jangan lakukan itu!" tolak Annette.
"Hanya sebentar saja." Annette diam memilih untuk menundukkan kepalanya.
Ia dapat merasakan kehangatan yang mengalir dari kulit tangan Edwin. Hanya suara burung yang terdengar berulangkali lalu Edwin menoleh ke arah Annette.
"Aku minta maaf Annette, kelakuanku dulu kepadamu selama ini hingga calon buah hati kita menjadi korban. Kamu mau kan memulai hidup baru bersamaku?" pinta Edwin memohon.
Annette langsung geleng-geleng kepala sambil menarik tangannya dari sana.
__ADS_1
"Mari coba jalani hidup masing-masing Mas, saat ini aku tidak mau memikirkan masalah ini," ucapnya.
Edwin mana mau menerima jawaban seperti itu dia ingin Annette menjadi wanita ya seumur hidupnya.
"Kamu tidak mau memaafkan ku, Annette?" tanya Edwin lagi, kali kami tatapannya terlihat berbeda dari sebelumnya.
"Aku sudah memaafkanmu Mas, kembalilah ke kota karena kamu kan banyak pekerjaan yang harus diselesaikan dengan cepat," semprot ya.
Edwin tidak mau mendengar ucapan Annette dia memilih membantu anak-anak membersihkan rumput hanya menggunakan alat manual.
Hidup Edwin kali ini lebih berwarna daripada sebelumnya padahal pernikahan yang pernah terjadi dalam hidupnya tidak pernah diterima. Dia tersenyum lebar ketika Annette melewatinya bersama dengan para wanita.
"Cantik sekali, ia mau ke mana?" batin Edwin.
Para anak gadis hampir sebaya dengan Annette terlihat bahagia bahkan mereka tidak segan-segan tertawa di hadapan Edwin.
"Annette, tunggu nanti kalau kita sudah bersama akan ku buat kamu merasakan kulit ku ini," ucapnya kesal.
"Om, bicara dengan siapa?" tegur anak kecil itu.
Edwin menjadi salah tingkah karena bicara sendiri padahal anak-anak banyak di sekelilingnya.
__ADS_1
Waktu terus berputar begitu cepat matahari juga sudah meninggi. Anak-anak memilih untuk berteduh berbeda dengan Edwin.
Annette tidak sengaja melihat Edwin di bawah sinar matahari yang begitu terik ,dia cemas nanti bisa sakit karena matahari yang tidak bersahabat.
"Astaga Annette ingat kalau kalian berdua sedang tidak baik." Annette memiliki ide dia langsung menyuruh anak untuk mendekati Edwin.
''Berikan payung ini ya sama Om itu, katakan ibu yang memberinya bukan kakak," pintanya.
"Baik kak," jawabnya seru.
"Om, pakai payung ini nanti sakit tidak ada obat di sini," ucapnya terdengar cerewet.
Edwin terbelalak mendengar ucapan anak tersebut langsung dia terima dengan lapang terbuka.
"Terima kasih ya dik." Edwin menerima namun tatapannya melihat Annette langkah semakin menjauh. Semuanya terbit lebar begitu senang ternyata diam diam Annette menunjukkan perhatiannya kepada dirinya.
Edwin akhirnya selesai memperbaiki taman belakang lalu menuju ke ruangan ibu yayasan.
"Halo Bu, saya izin pamit ya Bu. Kerjaan saya di kota tidak bisa ditinggalkan lama-lama," keluhnya.
"Hati-hati ya nak, soal Annette biar kami membuat hatinya luluh mudah-mudahan ia juga mau kembali memulai hidup baru bersama dengan Edwin.
__ADS_1
Edwin langsung masuk ke dalam mobilnya tanpa melihat sekeliling ternyata diam diam Annette memperhatikannya.