
Perubahan besar yang telah terjadi dalam diri Annette hingga Edwin tidak bisa banyak berkutik lagi. Susan Penny mendengar kabar yang tidak enak itu langsung menuju ke rumah sakit memastikan keadaan Annette baik.
"Sayang?" panggil Susan Penny dengan senyumannya yang tidak pernah lupa wajib dia keluarkan.
"Ibu!" seru Annette lalu memeluk Susan Penny begitu erat.
Sudah begitu lama sekali ia tidak merasakan pelukan seorang ibu hingga air mata itu pada akhirnya membasahi pakaian Susan Penny.
"Ada apa menantu?" tanya Susan Penny lembut.
"Annette tiba-tiba kangen kepada kedua orang tua ku," lirihnya.
"Mulai sekarang anak saja ini sebagian orang tua mu ya, tidak perlu takut dan sungkan kalau kita adalah keluarga," terang Susan Penny.
"Ya Bu," ucap Annette sambil menundukkan wajah ya.
Edwin melihat mereka berdua dari balik pintu perasaannya semakin tidak enak melihat perubahan terhadap dalam diri Annette. Tidak mau lama-lama melihat kedekatan itu, Edwin lebih memilih meninggalkan rumah sakit.
__ADS_1
Namun langkahnya terhenti karena ibu kepala panti datang sambil membawa buah-buahan.
"Tuan di sini?" tanya ibu panti.
"Ibu ternyata sudah datang, Annette pasti senang dijenguk oleh orang-orang yang menyayanginya.
"Tuan, saya masuk ke dalam dulu," izinnya.
"Ya," angguk Edwin.
Edwin merasakan sesak napas hanya dia yang ditolak namun dia tetap berusaha untuk bisa mendapatkan perasaan Annette lagi.
"Di mana dia ya?" gumamnya.
Edwin menenangkan dirinya di perusahaan sambil minum-minum mengurangi rasa sakit pada kepalanya.
Sebagai pria dia benar-benar gagal telah membina rumah tangga yang selama ini diimpikannya. Edwin tertawa meratapi dirinya yang begitu miris hingga tatapannya tertuju pada sebuah foto panutannya.
__ADS_1
"Semua ini karena ayah, andai tidak memperkenalkan aku dengan wanita itu semua ini tidak akan terjadi," tawanya.
Edwin sudah masuk dalam pengaruh minuman hingga dia bicara sudah tidak beraturan. Sekretaris Davin merasakan sakit melihat Edwin jatuh ke dasar hanya karena seorang wanita.
"Tuan besar, tolong berikan keajaiban terhadap putramu ini," batinnya.
Edwin langsung tidak sadarkan diri lagi karena pengaruh minuman. Sekretaris Davin dengan cepat membantu Edwin menuju tempat tidur peristirahatan ya.
"Kadang kesal kalau Tuan sudah banyak dosa bersama Rachel tapi kalau sudah seperti ini, sudahlah penting Tuan sudah sadar dari wanita seperti Rachel," ucapnya pelan lalu keluar.
Setelah pintu pintu tertutup Edwin membuka kedua bola matanya. Dia mendengar semua yang dikatakan sekretaris Davin, seketika dia tertawa ternyata selama ini orang yang begitu dekat dengannya menertawakan nasib yang tidak baik ini.
Beberapa hari berlalu Annette sudah kembali ke panti diantar oleh supir pribadi Susan Penny. Kebetulan beliau tugas di luar negeri tidak bisa menemani Annette pulang.
Annette termenung sendirian di taman yang sudah mulai tumbuh bunga. Perasannya aneh saat ini semenjak Edwin tidak pernah lagi datang kepadanya.
"Annette jangan pikirkan pria itu, dia sudah tenang dan aku juga tenang. Kini hanya tinggal menunggu surat cerai datang," lirihnya pelan sambil mengusap air matanya menetes.
__ADS_1
"Siapa bilang kalau kita akan cerai?" Annette langsung berbalik terkejut mendengar suara yang sangat familiar.
"Mas Edwin?!" pekik ya tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini banyak orang-orang berpakaian rapi.