
Edwin bersandar kedinding setelah mendengar semua obrolan Annette melepas rindu dengan keluarganya yaitu panti asuhan. Untuk pertama kalinya bagi seorang Edwin menangis sendirian meratapi semua apa yang baru saja terjadi kepadanya. Bayang-bayang semua kesakitan yang dialami Annette selama ini akibat dari perbuatannya yang tidak bisa dimaafkan sekalipun.
"Maafkan aku, Annette," ucapnya pelan. Bahkan sampai sekretaris David bisa merasakan bagaimana perasaan Edwin saat ini jatuh ke dasar.
"Tuan Muda pasti merasa dihukum atas kejadian ini. Semua masalah ini karena wanita busuk sana, seandainya saja aku memiliki wewenang untuk menghilangkannya dari muka bumi ini," kesal sekretaris David. Sementara itu dalam ruang rawat inap Annette baru menyadari makanan yang telah diberikan Edwin kepadanya sudah dingin.
"Makanan ini langsung dari tangan Mas Edwin jika aku menyentuhnya pasti dia akan marah. Cukup sudah Annette pria itu tidak akan pernah sadar dan mau melirikmu, dia bahkan tidak merasa bersalah sudah menghilangkan calon buah hatinya apalagi denganmu," kekeh Annette sambil menahan rasa sakit yang saat ini menggerogoti hatinya membayangkan semua perlakuan Edwin.
Semakin larut ternyata makanan itu tidak tersentuh sedikitpun sementara Annette memilih kembali tidur sambil menahan rasa lapar pada perutnya. Ia tidak akan mau lagi terjebak dalam permainan Edwin yang akan berimbas kepadanya.
Keesokan harinya pasca kejadian matahari sudah terbit dan mengenai ruangan yang sangat ini ditempati Annette. Pagi hari yang begitu hangat namun bagi wanita yang ada di sana sama sekali tidak merasakan kehangatan tersebut. Secara perlahan, Annette turun dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan tumbuhnya yang lengket.
Namun pintu terbuka tiba-tiba dan menampilkan sosok wajah pria yang terlihat tidak terurus beberapa hari ini. Pandangan mereka berdua langsung menyatu namun secara cepat Annette memalingkan wajahnya dan langsung beranjak ke kamar mandi.
"Dia sepertinya tidak akan mau lagi melihatku," lirih Edwin dan langsung meletakkan bingkisan yang berisi makanan di atas nakas. Namun, pandangannya langsung tertuju ke arah makanan yang tidak tersentuh sedikitpun. Edwin tahu semalam pasti Annette tidak mengisi perutnya sama sekali padahal seharusnya ia harus mengisi amunisi semenjak operasi.
Tidak berselang lama akhirnya pintu kamar mandi terbuka wajah Annette terlihat lebih segar daripada sebelumnya. Ia sama sekali tidak mau melirik Edwin sedikitpun bahkan menyapanya saja tidak.
"Tunggu?" ucap Edwin sambil menahan pergelangan tangan Annette.
"Mas, tolong lepaskan tanganmu dari sana!" ucap Annette halus namun suaranya penuh penekanan serta tatapannya begitu dingin melihat tangan Edwin berada di sana.
__ADS_1
"Aku mengerti apa yang kau katakan namun aku ingin bicara kepadamu," balas Edwin lalu melepaskan tangannya dari sana.
"Annette lelah Mas. Bukankah hari ini kau harus bekerja? Pergilah bekerja banyak orang yang sudah menunggumu di sana!" tambah Annete dan sama sekali tidak memperdulikan Edwin bagaimana saat ini tatapannya kepadanya.
"Aku minta maaf Annette seharusnya aku mengatakan ini kepadamu lebih dulu namun kejadian ini lebih cepat dari dugaanku. Jujur aja aku tidak mau pisah denganmu apapun yang terjadi, jika kau ingin pergi silahkan namun hubungan kita tetap terjalin. Dimanapun nanti kau berada aku akan mengunjungimu sekali." Tangan Annette refleks langsung berhenti mendengar penuturan Edwin.
Kata-kata yang diucapkan Edwin membuat perasaannya semakin hancur, bisa tidak dia saat ini pergi jauh dari orang-orang yang sudah membuatnya jatuh ke dasar. Begitu banyak luka yang di toreh kan Edwin selama mereka menikah namun apa yang didapatnya tidak ada yang istimewa. Annette berbalik dan menatap nanar wajah kusut Edwin, bulir bening tumpah membasahi kedua pipinya yang kurus.
"Lakukan apapun yang kau inginkan aku tidak peduli lagi Mas!" Annette langsung meninggalkan Edwin dengan perasaan yang begitu hancur, andaikata waktu bisa diputar kembali dia bisa saja memaafkan suaminya itu namun kesalahannya begitu fatal dan sulit untuk diterima kembali. Edwin tercengang mendengar ucapan istrinya itu namun tidak mau membuat kesalahan kedua kalinya, Edwin mengejar Annette.
"Annette tunggu aku mau bicara!" Edwin kembali menahan lengan Annette.
"Kau saat ini hanya butuh istirahat baiklah aku akan memberikanmu pergi tapi tidak bertemu di meja hijau," tegas Edwin.
"Terserah kau Mas." Annette langsung meninggalkan Edwin dengan berjalan pelan-pelan karena bagian yang dioperasi masa terasa sakit. Edwin sama sekali tidak kuat melihat Annette berjalan seperti itu sambil menahan perutnya yang masih ada bekas operasi.
"Kau mau kemana biarkan aku membawamu!" ucap Edwin.
Annette tidak menjawab dan terus berjalan menuju gerbang dari sana ia bisa menghentikan salah satu angkutan umum. Walaupun merasa kesakitan namun tidak sebanding dengan apa yang dialaminya saat ini. Air matanya tanpa disadari keluar membasahi kedua pipinya.
"Sakit," lirihnya pelan.
__ADS_1
"Annette, jangan bersikeras ayo masuklah ke dalam mobilku!" ucap Edwin.
"Sayang? Sedang apa kau di sini?" tanya Rachel kekasih gelap Edwin yang selama ini menguasainya. Rachel secara tidak sengaja berada di sekitar rumah sakit melihat Edwin dan langsung turun dari mobilnya. Annette semakin kesal melihat wanita yang bermuka dua ini perasaannya semakin tidak stabil.
"Menikalah dengannya Nona. Kalian berdua itu sungguh cocok sekali sebagai pasangan yang diinginkan oleh seluruh dunia," ucap Annette lalu naik ke angkutan umum.
"Annette tunggu, sial!" dengus Edwin melihat kepergian Annette.
"Sayang, kau itu kenapa? Biarkan wanita itu pergi dan bukannya kau senang jika dia sudah memberikan izin kepada kita dua untuk segera menikah?" ucap Rachel begitu senang mendengar perkataan Annette barusan.
"Diam kau?!" bentak Edwin lalu meninggalkan Rachel dan mengejar Annette yang sudah semakin jauh dari jangkauannya.
"Sial! Kenapa anak Mama itu berubah tiba-tiba?" kesal Rachel lalu dia memutuskan masuk ke dalam rumah sakit dan tidak memperdulikan Edwin.
Edwin terus mengejar angkutan umum yang di tumpangi Annette hingga mobil tersebut berhenti tepat di depan sebuah yayasan miliknya sendiri. Wanita yang sudah membuatnya kacau beberapa hari ini turun dengan hati-hati dari sana sampai memegangi perutnya yang terlihat gendut sedikit.
"Dia nekat sekali," ucap Edwin kesal lalu langsung menghampiri Annette yang hendak memasuki panti.
"Annette, kita harus bicara karena di sesuatu yang ingin aku beri tahu kan kepadamu!" ucap Edwin yang sudah tepat di hadapannya.
"Tenanglah Mas. Aku tidak akan pernah menuntutmu apapun tapi setidaknya untuk sementara ini jangan pernah lagi menemuiku ataupun berbicara denganku." Annette kembali mengempeskan tangan kekar Edwin dan masuk ke dalam Panti tempat tinggal ya dari dulu sebelum mengenal keluarga Edwin.
__ADS_1