
Edwin merasa tidak yakin meminta tolong kepada ibu panti karena Annette.
"Maaf Bu, sepertinya saya tidak bisa mengatakannya sekarang." Edwin langsung berdiri dari sana meninggalkan ruangan tersebut.
"Apa yang sebenarnya ingin dia katakan?" batin ibu panti.
Edwin langsung meninggalkan panti dan melewati Annette begitu saja.
"Apa pria itu mau kembali ke kota?" gumam Annette.
Tidak lama kemudian Edwin kembali membawa berkas lalu menghampiri Annette.
"Kau mau ini kan? Aku tunggu!" seru Edwin.
"Apa ini?" tanya Annette heran.
"Surat cerai." Kedua bola mata Annette terbuka lebar pada akhirnya dia menjadi seorang janda muda.
Tanpa berpikir terpanjang langsung ia tanda tangani sampai bulir bening lolos mengenai tinta yang baru aja tergores oleh pena.
Edwin langsung menerimanya lalu meninggalkan panti itu tanpa mengatakan apapun. Annette merasakan sesak napas melihat kepergian Edwin hingga ia memilih lari ke kamar mandi.
"Kenapa jadi sakit sekali, beda ketika pria itu selingkuh," tangisnya sesenggukan.
__ADS_1
Namun tiba-tiba Annette merasakan perutnya sakit dan mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.
"Ya Tuhan, sakit sekali," ucapnya lemas ketika baru mengeluarkan begitu banyak cairan bening.
Ibu panti mencari Annette dimana-mana namun tidak ditemukan hingga akhirnya bertanya kepada anak-anak.
"Di mana kak Annette, Mika?" tanyanya.
"Tadi ke sana Bu," tunjuknya.
Ibu panti melihat Annette baru keluar dari kamar mandi sambil memegang perutnya.
"Kamu kenapa, Annette?" tanya ibu panti heran karena wajahnya terlihat pucat.
"Tadi aku habis dari kamar mandi Bu, sepertinya Mika dan teman-teman lupa membersihkan kamar mandi tadi," alasannya.
"Ya Bu," jawabnya pelan.
"Kamu lebih baik istirahat ya. Oh, ya suamimu dari tadi tidak terlihat kemana dia?" tanya ibu panti heran.
"Mas Edwin sudah kembali ke kota Bu," lirihnya.
"Oh begitu," gumam ya agak kecewa terhadap Edwin karena pergi tidak pamit kepadanya.
__ADS_1
Annette sendirian dalam kamar sambil memikirkan Edwin begitu cepat mengubah pikirannya untuk bercerai dengannya.
"Ayolah Annette, kau sudah memutuskan dan ini adalah jalan yang terbaik untukmu memulai hidup baru," ucapnya pelan sambil mengusap perutnya baru dia beri minyak wangi.
Namun tangan itu terhenti baru ingat terakhir kali datang bulan. Annette semakin ketakutan saat ini dia menduga sedang hamil.
"Tanggal berapa aku terakhir kali datang bulan ya?" batin Annette.
Kalender adalah satu-satunya jawaban yang harus dia baca namun ternyata hal itu sudah terjadi.
"Aku hamil?" lirihnya dan air mata ya menetes.
Dua mobil yang hampir bertabrakan membuat salah satu sopirnya keluar. Edwin mengalami benturan cukup tinggi dan dia langsung keluar dari mobil.
"Tuan saya minta maaf tidak sengaja melakukannya," ucap pengendara sepeda motor.
"Lain kali hati-hati Bu!" seru Edwin namun suaranya terdengar lembut.
"Ba-baik Tuan," balasnya menunduk.
Edwin kembali melanjutkan perjalanannya dia memikirkannya tertuju kepada. Mobil tersebut berhenti di tepi pantai dia memilih jalan-jalan di sana karena memikirkan surat cerai Annette baru kena tanda tangani.
"Cepat sekali Annette ingin berpisah dengan ku hanya karena Rachel," batinnya. Edwin terus melihat tanda tangan Annette hingga kini kembali meninggalkan pantai.
__ADS_1
Waktu terus berputar hingga Edwin tiba di kediamannya dengan langkah malas. Dia merasa kosong sendirian di sana, padahal biasanya suara bentakan terus keluar dari mulutnya.
"Annette, aku minta maaf," lirihnya pelan.