Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Edwin Dan Annette


__ADS_3

Rachel geram dan tidak menyangka Edwin menolak panggilannya yang tidak pernah sekalipun dia tolak sebelumnya.


"Kenapa anak Mami itu tidak mengangkat panggilanku? Apa jangan-jangan dia sudah jatuh cinta kepada wanita kampung itu? Jika memang benar aku tidak akan diam," ucap Rachel marah lalu membanting ponselnya sampai hancur.


Rachel yang beranggapan lebih Edwin sudah tidak mau lagi menerima panggilannya karena Annette ada di sekitarnya, merasa geram dan tidak suka jika uang berjalannya beralih kepada wanita kampung itu.


Annette yang saat ini berada dalam kamar karena lebih baik mengurung diri setelah apa yang terjadi kepadanya kemarin malam. Apa lagi perbuatan Edwin kepadanya tetap tidak baik padahal Annette berharap dengan kejadian itu Edwin akan lunak namun tidak. Edwin masuk ke dalam apartemennya dan mengedarkan pandangannya mencari sesuatu namun tidak ada.


"Wanita itu kemana?" tanya Edwin pelan.


Edwin langsung memilih naik keatas untuk membersihkan tubuhnya yang lengket karena aktifitasnya yang cukup padat. Kebetulan sekali kamar Annette dan Edwin berdekatan jadi otomatis suara kaki akan terdengar berbeda dengan kamar Edwin yang memiliki kedap suara.


"Dia ternyata sudah pulang?" ucap Annette pelan lalu langsung beranjak dari tempat tidur dan mengunci kamar. Edwin yang belum sempat masuk mendengar suara pintu yang dikunci lalu kedua kakinya beranjak dan menuju pintu kamar Annette.


"Apa dia satu harian dalam kamar ini?" tanya Edwin pada dirinya sendiri. Namun, Edwin tidak mau mengambil pusing dan langsung masuk ke dalam kamarnya.


"Seperti yang kamu katakan Mas aku tidak akan muncul dihadapanmu, mari kita jalani rumah tangga ini dengan jalan hidup masing-masing," isak Annette sambil menahan suaranya agar tidak keluar.


Edwin yang sudah segar dan wangi keluar dari kamar dan kedua bola matanya tertuju arah kamar Annette yang masih tertutup rapat.


"Dia benar-benar tidak keluar?" tanya Edwin geleng-geleng kepala lalu turun kebawah untuk makan malam. Namun seseorang telah berada dalam dapur apartemen miliknya dan itu membuatnya kaget.


"Kau siapa?" tanya Edwin dingin.


"Maaf Tuan saya Mirna asisten baru di sini. Saya mendapat pekerjaan ini dari Ibu Annette," jawabnya takut.


"Annette?" ucap Edwin lalu dia ingat nama istrinya itu adalah Annette. Bukannya menjawab Edwin menuju kamar Annette dengan langkah yang sedikit tergesa-gesa, setibanya.


"Buka pintunya!" teriak Edwin sampai membuat Annette yang saat ini sedang membaca buku kaget dan jantungnya berdegup kencang.

__ADS_1


"Annette tidak mau Mas," jawab Annette dan langsung menahan pintu agar Edwin tidak mendobrak.


"Buka tidak?!" ancam Edwin yang sudah siap mau mendobrak pintu karena emosi sudah menguasainya.


Tidak ada jawaban Edwin semakin berang langsung mendobrak pintu sekuat tenaga dan akhirnya pintu terbuka di sana Annette terjatuh ke lantai.


"Jika saja kau menurut tidak akan mengalami ini!" bentak Edwin lalu masuk ke dalam sedangkan Annette berdiri pelan sambil menahan pinggangnya kembali sakit.


"Mas, kamu mau ngapain?" tanya Annette melihat Edwin duduk tepi tempat tidur kecilnya.


"Aku mau bicara!" balas Edwin dingin.


"Katakan saja Mas." Annette diam secara perlahan mundur karena ia ingat betul jika berdekatan dengan Edwin dan akan berakibat fatal.


"Kenapa kau memasukkan orang lain ke apartemen ini?" tanya Edwin dengan sorot mata yang tajam.


Annette terdiam seketika berbicara pun tidak ada artinya jika Edwin terus menjawabnya dengan kata-kata yang tidak enak didengar. Bersentuhan lain-lain adalah hal yang tidak disukai Edwin terhadap dirinya selama menikah bahkan, sampai kesakitan menahan pinggangnya yang terus korban Edwin sama sekali tidak ada rasa bersalah dan kasihan.


"Apa kau tidak mendengarku?!" bentak Edwin dengan nada terdengar menakutkan bahkan, Edwin sama sekali tidak mau menyebut nama Annette.


"Maaf Mas." Hanya dua kata tersebut keluar dari mulut kecil Annette sambil menunduk.


Edwin gusar mendengar ucapan Annette yang terdengar jengkel, kedua bola mata Edwin menatap Annette tajam karena pikirannya satu harian ini tertuju kepada Annette.


"Besok jangan pernah kulihat wanita itu ada di sini, awas!" peringat Edwin lalu pergi meninggalkan Annette gitu saja.


"Apa yang harus kulakukan? Dia tidak mau kusentuh tapi kenapa dia selalu membuatku pusing," batinnya.


Sementara itu, Edwin merasa kesal dengan Annette karena memasukkan orang-orang ke apartemen miliknya begitu saja tanpa mengatakan apapun kepadanya.

__ADS_1


"Begitu beraninya dia? Dia pikir di sini bebas memasukkan orang-orang yang tidak kukenal?" geram Edwin sambil meminum wine merah sampai habis setengah botol.


Pintu tiba-tiba kena ketuk sebanyak tiga kali namun jawaban dari dalam tidak ada. Annette merasa sedih dan kecewa karena Edwin tidak mau menemuinya.


"Bodoh sekali kau Annette pria yang sudah menjadi suamimu ini tidak akan pernah mau mendengarkanmu. Hanya berbicara saja kau sudah seperti ditelan hidup-hidup," hiburnya. Annette langsung berbalik namun tubuh tinggi sudah berdiri tepat di hadapannya dengan sorot mata yang terlihat dingin.


"Sedang apa kau di sini?" tanya Edwin datar.


"Maaf aku bukan bermaksud berdiri di sini Mas tapi ada sesuatu yang ingin aku tanyakan?" jawab Annette gugup.


"Apa itu?" tanya Edwin perdana menjawab Annette baik-baik.


Jantung Annette berdetak kencang mendengar jawaban Edwin yang terdengar mengerikan untuknya. Jawaban yang simple yang ia dengar merupakan hal tidak dianggap sepele. Annette menatap Edwin jarak dekat tidak kuat apalagi melanjutkan ucapannya.


"Maaf saya lancang Mas." Annette langsung meninggalkan Edwin begitu saja karena stok oksigen dalam tubuhnya sudah menipis. Setelah meninggalkan Edwin, jantung Annette masih berdetak kencang karena takut mendapatkan kata-kata yang tidak enak dari mulut Edwin.


"Wanita aneh,'' kesal Edwin lalu masuk ke dalam ruang kerja miliknya.


Dalam kamar yang berukuran untuk anak kuliahan dengan fasilitas seadanya Annette memeluk tubuhnya sambil menangis.


"Ayah, Ibu Annette tidak sanggup lagi menjalani pernikahan ini aku mau pulang dan hidup bersama dengan adik-adikku yang berada di Panti,'' ucap Annette sesenggukan.


Menangis satu malaman tanpa mengisi makanan karena stok habis dan Edwin selama satu bulan ini tidak memberikan uang belanja. Menahan lapar satu harian pandangan Annette tiba-tiba buram lalu tidak sadar.


Pagi hari seperti biasanya perdana bagi Annette tidak berada di dapur ataupun berkeliaran di apartemen. Edwin turun ke bawah bersiap-siap untuk menuju ke kantor kali ini suasana hati dan perasaannya berbeda daripada sebelumnya. Damai, tenang layaknya tidak ada masalah dalam dirinya.


Setibanya di dapur kedua bola mata coklat Edwin terbelalak melihat isi meja makan yang tidak ada apa-apa di sana. Seketika laut wajah tampan tersebut langsung kusut.


"Aku tidak akan pernah memaafkan ya. Ternyata dia sudah berani tidak mau melayaniku lagi setelah apa yang aku katakan,'' umpat Edwin dan langsung berlari menuju ke atas untuk menemui Annette.

__ADS_1


__ADS_2