Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Terlihat Lusuh


__ADS_3

Annette menajamkan pendengarannya apakah berfungsi dengan baik atau tidak karena tidak mungkin Edwin pulang hampir dini hari.


"Aku pasti salah," ucapnya dan terus berpikir bagaimana cara menghubungi suaminya.


"Bagaimana ini?" gusar Annette. Tiba-tiba pintu terbuka menampilkan sosok pria yang terus membuat perasaan Annette sakit.


"Kau sudah puas Ibu mengetahui pernikahan kita dan detik ini juga kau akan jadi ratu di apartemen mewah ini," sindir Edwin.


"Mas kau pasti lelah," balas Annette yang terlihat sengaja ia abaikan ucapan Edwin.


"Kau keluar temani Ibu cepat!" teriak Edwin karena jengkel melihat Annette yang terlalu polos.


"I-iya Ibu," balas Annette takut.


Di bawah alam sadarnya Edwin masih bisa mengingat Susan Penny tapi karena dirinya bau minuman dan lelah Edwin memilih istirahat.


Annette kelimpungan melihat kedatangan Edwin dalam keadaan lusuh sementara di bawah Susan Penny memijit pelipisnya yang berdenyut tiba-tiba melihat kedatangan putra semata wayangnya perdana berantakan dia lihat.


"Apa yang dilakukan Edwin selama ini kepada Annette?" ucapnya pelan.


Annette turun dengan langkah cepat dan tidak memperdulikan langkah kakinya menuruni anak tangga kapan aja bisa salah. Namun langkah Annette berhenti karena mengingat Edwin ia tinggalkan di atas dengan keadaan yang kacau.


"Tidak mungkin aku turun ke bawah menemui Ibu sementara Mas Edwin di atas tidak sadar,'' gumamnya. Annette memilih kembali naik ke atas dengan perasaan yang campur aduk.


"Mas?!" pekik Annette melihat Edwin tidur tanpa mengganti pakaian apa lagi tergeletak di lantai keadaan terlentang.


"Berisik pergi kau dari hadapanku!" bentak Edwin tidak karuan.


"Mas, Ibu ada di bawah,'' ucap Annette sambil mengguncang pelan tubuh kekar Edwin.


"Kau wanita buruk pergi dari hadapanku!" teriak Edwin tanpa disadarinya dia mendorong Annette sampai terjatuh ke lantai juga.


''Pinggangku sakit sekali,'' lirihnya.

__ADS_1


"Menantu?" panggil Susan Penny tiba-tiba sudah berdiri di belakang Annette.


"Ibu?!" pekik Annette.


Sebagai Ibu dan sekaligus wanita Susan Penny menarik Annette dari kamar Edwin tanpa memperdulikan putra semata wayangnya udah tidak sadar lagi karena efek minuman yang Edwin teguk.


"Ikut Ibu karena kau tidak pantas lagi tinggal disini,'' geram Susan Penny.


"Ibu tapi Mas Edwin dia lagi-'' Susan Penny langsung memotong cepat ucapan Annette.


"Diam kau Annette! Mulai sekarang kau harus mengikuti apa yang Ibu katakan,'' bentak Susan Penny.


Susan Penny terus membawa Annette keluar dari apartemen hingga sampai ke parkiran. Banyak penghuni apartment memperhatikan mereka namun setelah tahu siapa Susan Penny, mereka mengurungkan niat membantu Annette yang terus ditarik.


"Ibu, Mas Edwin dia pasti akan mencari Annette besok pagi,'' ucap Annette berusaha untuk menahan Susan Penny membawanya.


"Kau itu wanita bodoh Annette jika Edwin menerima kamu dalam kehidupannya dia akan mencarimu.'' Annette terbelalak mendengar ucapan mertuanya.


"Ibu aku-'' kembali lagi Susan Penny memotong ucapan Annette karena merasa geram dalam pola pikir Annette yang terkesan lambat.


"Ibu ... Annette tidak ada bermaksud untuk meninggalkan Mas Edwin sementara ini,'' lirih Annette dan menunduk tidak berani menatap Susan Penny.


"Jadi kau ikhlas jika suatu saat Edwin nanti meninggalkanmu?" tanya Susan Penny tidak percaya mendengar jawaban menantunya itu terdengar lemah.


''Ia Bu,'' jawabnya pelan.


Susan Penny merasa kepalanya semakin sakit tidak menyangka Edwin akan mampu melakukan itu kepada Annette. Tanpa mengatakan apapun, Susan Penny langsung meninggalkan Annette dengan perasaan yang begitu kecewa.


"Maafkan Annette Bu, untuk saat ini aku harus memperjuangkan rumah tanggaku walaupun Mas Edwin sama sekali tidak mau menerimaku. Jika memang tidak ada lagi jalan untuk kami berdua Annette siap pergi untuk selamanya,'' isaknya.


Annette menangis di parkiran sambil memeluk kedua kakinya tanpa disadari seseorang memperhatikannya dari jarak jauh.


"Halo Nona, apa kau baik-baik saja?" tanya ya pelan.

__ADS_1


"Ia, Maaf aku tidak sengaja menangis di sini,'' jawab Annette gugup dan langsung menghapus air matanya.


"Tidak apa-apa menangis itu adalah jalan terbaik untuk menumpahkan semua rasa sakit yang menghampiri kita,'' ucap orang asing tersebut lembut.


''Aku permisi dulu,'' ucap Annette tanpa memperdulikan ucapannya.


"Hei tunggu nama kamu siapa? Aku Bayu,'' teriaknya.


"Anne,'' balas Annette dan terus masuk ke dalam apartemen tanpa menoleh ke arah Bayu yang tersenyum sendirian.


''Nama yang begitu indah mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengan bidadari seperti Anne?" ucap Bayu cengengesan. Bayu kembali bekerja di area parkiran apartemen sampai membawa alat pembersihnya.


Annette menatap nanar wajah damai Edwin yang sama sekali tidak ada rasa bersalah sedikitpun. Berulang kali Edwin tidak mau mendengar ataupun menyentuh dia namun sebagai istri tentunya harus memenuhi kewajiban untuk merawat suami.


"Mas, apapun yang kau lakukan di luar sana aku tidak akan pernah marah atau sakit lagi,'' ucap Annette pelan lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh kekar Edwin.


Dalam kamar yang ukuran kecil Annette merebahan tubuh kurusnya sambil memikirkan masalah yang barunya di terjadi. Tidak menduga masalah semakin rumit setelah Susan Penny mengetahui rumah tangga yang ia bina bersama Edwin ternyata bohong.


"Apa yang harus kulakukan sekarang? Ibu udah mengetahuinya,'' ucapnya pelan dan menatap langit-langit kamarnya tidak lama larut dalam kesedihan dan Annette memilih untuk beristirahat karena merasa pusing.


Keesokan harinya sinar mentari pagi hari mulai memasuki kamar yang berukuran luas, panas serta tidak nyaman melanjutkan tidur karena merasa terganggu Edwin bangun sambil meregangkan seluruh otot tubuhnya yang terasa kaku.


"Jam berapa ini?" gumamnya dan langsung beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi. Tiba-tiba pintu terbuka dengan menampilkan wajah yang tidak pernah diinginkan Edwin selama hidupnya siapa lagi jika bukan Annette yang membawa minuman hangat.


"Mas, Annette bawa minuman kau pasti haus!'' ucap Annette dan mendekati Edwin.


"Aku pasti sudah gila melihat wanita ini berada tepat di hadapanku pagi-pagi buta seperti ini,'' kesalnya.


"Mas!" panggil Annette lagi. Edwin langsung menuju kamar mandi tanpa memperdulikan raut wajah Annette yang terlihat cemberut.


"Ternyata kau masih belum bisa menerima aku Mas padahal semua yang terjadi aku sudah melupakannya,'' lirih Annette.


Setelah menghabiskan waktu yang begitu lama beberapa hari yang lalu, Annette merasa sudah menjadi istri yang menunaikan kewajibannya namun Edwin sampai sekarang tidak menunjukkan perhatiannya.

__ADS_1


Annette meletakkan teh hangat di atas nakas lalu keluar dari kamar Edwin. Kamar mandi Edwin memperhatikan wajahnya yang terlihat lusuh dan mulut ya bau minuman.


__ADS_2