
Edwin melepaskan tangannya lalu dia menatap Annette yang sudah hilang dari pandangannya. Rasa bersalah mulai menyelimuti perasaan Edwin melihat kepergian Annette, ketakutan mulai menghantuinya karena kesehatan Annette.
Berjalan menyusuri jalan setapak panti dengan langkah gontai, Edwin tidak peduli beberapa kendaraan hampir menabraknya karena pikirannya saat ini hanya Annette.
"Annette, kau menghukumku. Aku harus berbuat apa biar kau mau memaafkanku," lirihnya.
Tanpa Edwin sadari dia telah berhenti di salah satu warung kopi yang sepi lalu tanpa berbasa-basi langsung duduk dengan wajah terlihat kusut.
"Mau pesan apa anak muda?" tanya sang penjaga warung.
"Kopi hitam tanpa gula," jawabnya singkat.
"Baik Nak." Edwin tidak sadar dia minum di tempat yang belum pernah di pijak. Jika aja salah satu karyawannya melihat dia di sana tentu akan menjadi trending topic.
"Pak, kue lapisan juga!" ucap Edwin lagi.
"Baik Nak." Edwin kembali diam sambil mengaduk kopi hitamnya. Sang penjaga warung tidak sengaja melihat raut wajah Edwin yang lesu dan tidak berdaya.
"Silahkan Nak," ucap sang Ibu lanjut usia tersebut halus.
"Terima kasih Bu," balas Edwin lagi. Si Ibu kembali bekerja namun pandangannya terus tertuju ke arah Edwin yang lesu dan tidak berdaya. Lalu, Ibu penjaga warung mendekati Edwin.
"Nak, boleh Ibu bertanya?" tanya Ibu tersebut.
"Ya Bu, silahkan!" balas Edwin halus.
"Maaf sedari tadi Ibu lihat Nak tidak semangat apa ad masalah kah?" tanya Ibu tersebut dengan hati-hati.
"Bu." Edwin menunduk pertama kali di hadapan orang yang belum dia kenal tanpa sadar air matanya menetes.
"Ceritakan Nak Ibu siap mendengar," tambah Ibu tersebut.
"Bu, istriku saat ini." Edwin menceritakan semua masalahnya sambil sesekali mengusap air matanya. Bahkan Ibu kandungnya membencinya karena Annette. Semua orang-orang yang dia sayangi telah pergi dalam sekejap.
__ADS_1
"Nak, boleh Ibu memberi saran?" tanya sang Ibu pelan.
"Ia Bu." Kali ini Edwin benar-benar rapuh dan tidak berdaya. Sisi kelemahannya dia tunjukkan pertama kali.
"Minta maaf lah terus kepada istrimu dan buktikan kau menyesali semua apa yang kau lakukan kepadanya selama ini. Mungkin saat ini ia tidak akan mendengarmu karena semua perbuatanmu kepadanya sudah membekas," ucap Ibu warung tersebut lembut.
"Dia tidak akan pernah maafkan aku Bu karena, karena aku sudah membuat calon buah hati kami pergi untuk selamanya dan." Edwin tidak sanggup lagi mengatakan itu semuanya. Sesak dan sakit jika membayangkan jika sewaktu-waktu Annette tahu bahwa ia tidak akan pernah bisa lagi mengandung selamanya.
"Nak, istri itu tidak akan pernah membenci suaminya. Beri dia waktu namun jangan pernah putus asa terus minta maaf kepadanya. Ibu yakin hati ya pasti akan kembali," tambah Ibu tersebut.
Edwin mendongak kali ini wajahnya memerah dan kusut dia tidak menyangka ada seorang Ibu yang tidak dia kenal sama sekali mau memberikan saran kepada.
"Terima kasih Bu. Maaf saya sudah menganggu," ucap Edwin pelan. Ego dan keegoisannya telah sirna di hadapan wanita paruh baya tersebut.
"Tidak apa-apa Nak karena Ibu senang melihat ada pemuda sepertimu masih mau bertanggungjawab terhadap istrinya. Ibu yakin kamu pasti akan bisa melakukannya." Edwin merasa lega sedikit bisa mengeluarkan uneg-uneg yang menghimpit isi pikirannya.
"Bu, saya sudah selesai!" ucap Edwin pelan.
"Dua puluh ribu Nak," ucap Ibu itu.
"Maaf Bu saya hanya punya ini?" ucap Edwin menunjukan mata uang asing yang berwarna hijau yang nominalnya seribu. Kedua bola mata sang Ibu tersebut terbelalak melihat uang asing pertama kali dia pegang.
Keringat mulai membasahi wajahnya karena takut memegang kertas tipis tersebut namun nilainya sungguh fantastis bagi untuknya.
"Empat belas juta!" pekik ya.
"Halo Bu. Anda baik-baik saja?" tanya Edwin takut.
"Nak, kau sebenarnya siapa bisa memiliki uang jenis seperti ini?" tanya Ibu itu lagi dengan wajah yang masih syok.
"Maaf Bu, nama saya." Edwin memperkenalkan dirinya seorang CEO.
"Astaga Tuan Muda?!" pekik ya tidak menyangka bisa melayani seorang pengusaha tajir.
__ADS_1
"Maaf Bu tadi saya cerita soal rumah tanggaku," ucap Edwin tidak enak. Dia baru sadar sudah menceritakan ya kepada seseorang yang tidak dikenal.
"Seharusnya saya tidak lancang bertanya kepada anda Tuan," lirih Ibu tersebut lagi.
"Saya justru senang dan bahagia karena Ibu percaya diriku telah kembali untuk mendapatkan kepercayaan Istriku lagi," ucap Edwin bangga.
"Baiklah kalau Tuan Muda senang Ibu senang mendengar ya," balasnya.
"Ibu kalau begitu saya permisi dulu ingin menemui istriku," ucap Edwin halus.
"Semoga berhasil Tuan Muda." Edwin mengangguk lalu meninggalkan tempat tersebut dengan perasaan yang benar-benar bahagia dan tenang.
Raut wajah Edwin seketika berbinar karena amunisinya kembali setelah mendengar ucapan sang Ibu penjual warung. Setibanya di panti, Edwin memandangi tempat tinggal istrinya itu dengan tatapan wajah nanar. Baru dia sadari panti ini ternyata tidak terurus dengan baik namun orang-orang yang tinggal di sini bahagia.
"Annette!" panggil ya pelan. Namun, Annette tidak mendengar karena ia asik berbicara dengan Ibu panti begitu serius.
"Bu. Dari mana kita mendapatkan dana sebanyak itu sementara kita lagi dalam keadaan tidak baik," lirih Annette.
"Nak, maaf Ibu tidak bisa memberikan contoh yang baik untuk kalian semua. Ibu gagal karena tidak bisa menjaga kalian sampai detik ini." Annette langsung memeluk Ibu panti asuhan.
"Ibu yang terbaik. Ibu sanggup merawat kami selama ini itu sudah lebih cukup," tambah Annette lagi.
"Maaf ya Nak. Kau kembali tapi mendengar berita seperti ini," ucap Ibu panti asuhan.
"Tidak apa-apa Bu. Annette akan coba mencari bantuan biar dana panti cukup untuk kita bulan ini," lirihnya.
"Jangan Nak. Kau mau mencari ke mana?" tanyanya kaget.
"Annette akan cari pekerjaan Bu. Ibu tenang aja besok Annette akan coba mudah-mudahan bisa dapat secepatnya." Ibu panti menatap wajah Annette dengan tatapan yang nanar.
"Tidak perlu Nak. Ibu yang akan mencari dana kau lebih baik bantu Ibu mengurus adik-adikmu ini karena mereka sudah menunggu kamu selama ini dan jangan kecewa mereka ya," ucap Ibu panti asuhan halus.
"Tapi Bu Annette ingin bantu," lirihnya.
__ADS_1
"Ibu tahu Nak. Ya udah sana kau sebaiknya masuk dan temui para adikmu di dalam. Mereka pasti menunggu kakak ya yang cantik ini," goda Ibu panti.
"Baiklah Bu. Kalau begitu Annette masuk dulu," pamitnya. Setelah kepergian Annette Ibu panti membuang napasnya pelan. Memikirkan dana panti untuk menyambung hidup ternyata tugas besar namun Ibu panti tidak akan mengeluh karena ini sudah tanggung jawabnya.