
Setelah berpikir panjang Annette menuju ke rumah sakit tempat dimana Edwin saat ini dirawat. Perasaannya tidak enak apalagi dulu Edwin sama sekali tidak boleh dilihat ataupun disentuh.
''Apa aku menolak saja ya? Daripada nanti aku yang sakit hati mendengar perkataan-perkataannya yang tidak baik,'' ucap Annette dalam hati.
''Ayo sayang!" ajak Susan Penny.
''Bu, Annette ke toilet dulu ya,'' potong Annette karena jantungnya tiba-tiba saja berdebar.
''Kamu kenapa?" tanya Susan Penny panik.
''Hanya buang air kecil Bu, Annette tidak akan lama kog,'' tambahnya.
Susan Penny tidak mempercayai ucapan Annette karena dia tahu betul bagaimana rumah tangga mereka berdua selama ini.
''Ibu menunggumu disini.'' Kedua bola mata Annette terbelalak mendengar ucapan Susan Penny.
''Tapi Edwin menunggu di dalam Bu,'' ucapnya lagi.
''Kamu mau buang air kecil atau berdebat dengan ibu?" tanya Susan Penny.
''Maaf Bu,'' lirih ya.
''Cepatlah, Edwin pasti sudah menunggu kita di dalam.'' Annette mengangguk mengerti.
Di dalam toilet Annette memegang wajahnya yang panas bahkan tubuhnya bergetar.
__ADS_1
''Kenapa aku jadi seperti ini ya?" ucapnya sambil mondar-mandir.
''Annette, sudah belum?" panggil Susan Penny.
''Ya Bu, sebentar,'' sahutnya.
Tidak lama kemudian Annette keluar dengan wajah yang menunduk. Ia sama sekali tidak berani menatap wajah Susan Penny.
''Ada apa?" tanya ya karena tiba-tiba menangkap wajah Annette terlihat pucat.
Annette geleng-geleng kepala lalu mereka sudah tiba di depan pintu rawat inap Edwin. Pintu terbuka secara perlahan, kedua bola mata itu saling bertatapan untuk pertama kalinya.
''Annette,'' ucapnya pelan.
''Ayo sayang, masuk!" ajal Susan Penny.
Edwin langsung duduk melihat Annette semakin dekat dengan ya. Dia tidak menyangka wanita yang pernah disakiti mau menjenguk dirinya yang berpura-pura sakit.
''Bu?" Bahkan Edwin secara tidak sadar sudah mengubah nama panggilan Susan Penny.
''Bagaimana keadaanmu, Edwin?" tanya Susan Penny.
''Sudah lebih baik Bu,'' jawabnya namun dia tidak mau melepaskan tatapannya kepada Annette.
''Baguslah! Annette kemarilah sayang?!" panggil ya.
__ADS_1
''Ya Bu,'' jawab Annette.
''Kalian bicaralah dengan kepala dingin, ibu akan menunggu di luar.'' Annette panik melihat kepergian Susan Penny padahal bukan ini rencananya ditinggal berduaan dengan Edwin.
''Ibu pasti sengaja melakukan ini,'' batin Annette.
''An, apa kabarmu?" tanya Edwin gugup.
''Baik, anda bagaimana Tuan?" tanya ya balik.
Edwin tersenyum dia merasa senang Annette mau membalas pertanyaannya.
''Seperti yang kamu lihat,'' ucapnya sambil menaikkan kedua bahu itu lalu diturunkan pelan-pelan.
Keheningan terjadi lagi Annette bingung ingin mengatakan apa lagi. Sama halnya dengan Edwin gugup bercampur bersalah atas apa yang telah sudah dilakukan dahulu.
''Annette, aku minta maaf,'' lirih ya.
''Semua sudah terjadi Tuan, saya pikir untuk menjalani kehidupan masing-masing itu lebih baik,'' balas Annette.
''Apa kamu tidak memikirkan hubungan kita lagi, Annette?" tanya Edwin.
''Hanya pengadilan yang dapat memutuskan hubungan ini berlanjut atau tidak Tuan. Saya akan menyerahkan semuanya ke sana.'' Edwin langsung lemas mendengar ucapan Annette.
Dia benar-benar berharap kalau setelah ini Annette kembali kepadanya. Ternyata rencana yang sudah disusun serapi mungkin akan berhenti di detik ini juga.
__ADS_1
''Andai waktu bisa kembali diputar, aku dan Annette pasti sudah memiliki anak yang lucu-lucu,'' ucapnya dalam hati.
''Memang benar ya kalau penyesalan selalu datang ke belakangan,'' ucap Annette dalam hati sambil memejamkan kedua bola mata ya.