Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Lamunan Annette


__ADS_3

Edwin merasa nikmat dan rasanya berbeda dari Rachel sang kekasih setiap melakukan suatu hubungan. Di bawah alam sadar tanpa ada rasa Edwin kebablasan dan melupakan semua apa yang telah dikatakannya kepada Annette di awal mereka menikah.


''Sakit,'' jerit Annette ketika Edwin tidak mau melepaskan mulutnya dari area sensitifnya dan memberikan jejak begitu banyak. Seperti bayi yang kehausan Edwin tidak peduli semuanya karena merasa mendapatkan barang baru yang belum pernah disentuh sebelumnya.


Berbeda dengan di tempat lain sosok wanita yang sedari kemarin menunggu kedatangan Edwin sampai detik ini tidak menunjukkan batang hidungnya.


"Kenapa anak Mama itu tidak datang ke sini? Biasanya tiap jam sudah menghubungiku,'' kesal Rachel sambil memandangi wajahnya dibalik cermin meja rias miliknya.


Rachel merasa lelah menunggu kedatangan Edwin yang tidak kunjung terlihat batang hidungnya. Kebosanan yang menghantui setiap saat akhirnya Rachel meninggalkan apartemen menuju tempat hiburan yang akan menyenangkan hatinya.


Hingga pagi hari telah tiba kedua insan yang baru saja melakukan hubungan panas sama sekali tidak membuka kedua bola mata hingga suara getaran ponsel mengusik tidur Edwin.


"Siapa yang berani menggangguku?!" dengusnya. Edwin menyadari hari ini dia akan melakukan pertemuan penting soal pekerjaan namun karena aktivitas yang melelahkan bersama Annette menguras tenaga hingga membuat tubuh kekarnya malas bergerak.


''Wanita ini begitu berani sekali menggodaku,'' decaknya langsung turun dari tempat tidur. Hingga siang hari telah tiba Annette baru mengerjapkan kedua bola mata coklatnya.


"Sudah siang?" ucapnya pelan. Annette bangun namun sekujur tubuh kurusnya ngilu karena perbuatan Edwin kemarin malam yang benar-benar menguras tenaga. Tidak mau terus berbaring di atas tempat tidur apalagi ruangan ini bukanlah miliknya.


"Nyaman sekali,'' ucap Annette ketika berendam air hangat di kamar miliknya. Namun ingatan Annette kembali perbuatan Edwin yang melanggar ucapannya, bukan hanya sekali menyentuh namun kedua kalinya dalam keadaan sadar.


''Aku sama sekali tidak mengerti pola pikir Mas Edwin,'' lirihnya.


Sementara itu di perusahaan milik Edwin rapat berlangsung begitu baik dan tidak ada kendala sama sekali menghambat jalan kerjasama yang baru saja terjalin.


"Kalian partner bisnis terbaik yang pernah aku kenal dengan kerjasama yang sudah kita sepakati mari kita melakukannya yang terbaik kedepannya,'' ucap Edwin begitu percaya diri sambil tersenyum penuh.


"Kami mempercayai semua keputusan yang sudah kita sepakati, oh ya Pak Edwin bagaimana malam ini kita merayakan kerjasama ini?" tawar Nando.


"Tentu!" jawab Edwin.


"Baiklah saya akan mengirimkan alamatnya.

__ADS_1


Sore hari beberapa karyawan grup Baverly mulai berhamburan keluar dari gedung yang menjulang tinggi sama halnya dengan Edwin ikut meninggalkan perusahaannya karena hendak menuju suatu tempat yang sudah dijanjikan Nando rekan bisnisnya.


"Tuan kita sudah sampai,'' ucap assistant Edwin.


"Sudah ya.'' Edwin menatap sekelilingnya yang terlihat sepi. Menyadari tatapan Edwin asistent langsung berbicara.


''Tuan tempat ini tertutup dari orang-orang di luar sana. Tuan Nando sudah menunggu anda di dalam,'' tambah assistant Edwin.


"Kau tunggulah di sini!" ucap Edwin datar dan langsung keluar begitu saja.


Kedua bola mata Edwin tercengang melihat isi gedung yang baru saja dipijak. Bahkan, aktivitas tidak pantas para pengunjung yang bukan orang biasa dipertontonkan dalam keadaan terbuka.


''Sial! Bagaimana bisa tempat ini hadir di tengah-tengah kota?" kesalnya.


"Kau sudah datang Tuan Edwin?" ucap Nando yang muncul di tiba-tiba dari belakang bersama dengan para wanitanya. Edwin langkah berbalik dengan pandangan datar melihat Nando yang sepertinya bukan pria biasa.


''Aku tidak bisa berlama-lama di sini,'' ucap Edwin datar.


"Kau menyukai tempat ini Tuan Edwin?" tanya Nando sambil menikmati sebuah minuman bersama dengan para wanitanya.


''Ya,'' jawabnya malas. Mengobrol tentang proyek yang akan mereka selenggarakan beberapa hari lagi sambil menikmati alunan musik yang terdengar enak.


''Kau yang terbaik Tuan Edwin, sepertinya aku akan banyak belajar dari anda,'' ucap Nando sambil tersenyum smirk.


Edwin hanya mengangguk sambil mengedarkan pandangannya memperhatikan semua pengunjung yang menari-nari bersama dengan para pasangan. Namun kedua bola mata elang Edwin terbuka lebar melihat sosok wanita yang sepertinya dikenal.


"Rachel?" ucapnya pelan namun masih bisa didengar Nando yang kebetulan posisi duduk mereka berdua begitu dekat.


"Kau mengenal wanita itu?" tanya Nando ternyata sedari tadi dia memperhatikan arah pandang Edwin memandangi Rachel yang menari bersama dengan para pria di bawah lampu yang menyoroti mereka.


"Ia,'' jawab Edwin tenang.

__ADS_1


"Dia hampir tiap hari ini sini menari seperti yang kau lihat,'' terang Nando.


Edwin sama sekali tidak menanggapi ucapan Nando dan tetap fokus menatap Rachel yang terus menari.


"Rachel,'' ucapnya dalam hati. Seperti mendapatkan getaran Rachel menoleh ke arah depan namun seketika gerakannya berhenti.


"Sayang kau disini?!" tanya Rachel tanpa berdosa sedikitpun.


"Kau sepertinya bahagia di sini,'' sindir Edwin dan langsung beranjak karena merasa kesal melihat Rachel bersama dengan pria lain.


"Ayolah kita berdua sudah dewasa hal seperti ini tidak kaget lagi terutama kau sayang,'' ucap Rachel dan langsung menyatukan kedua cherry miliknya bersama dengan Edwin.


Melupakan sejenak perbuatan yang tidak terpuji Edwin tetap melakukan penyatuan terhadap Rachel dan disaksikan langsung para pengunjung klub white tersebut. Sebagian mengabadikan momen tersebut namun mereka takut menyebarkan karena tahu siapa Edwin.


"Rachel kau membuatku tidak berdaya," ucap Edwin setelah melepaskan diri dari Rachel. Napasnya bahkan terdengar memburu karena pasokan oksigen dalam tubuhnya hampir habis menikmati buah Cherry milik Rachel Leona.


"Aku kan menarik sayang," goda Rachel meliukkan tubuhnya sampai membuat kaum Adam di sana gemas melihat Rachel. Seandainya Edwin tidak ada di sana mungkin mereka giring Rachel bergantian.


"Jangan salahkan aku sayang melakukan hal lebih kepadamu," seringai Edwin langsung meraih pinggang Rachel hingga menempel dekat dengannya.


"Siapa takut." Edwin dan Rachel menjadi pusat perhatian namun kedua insan tidak memperdulikan sama sekali justru memperdalam penyatuan buah ceri tersebut.


Berbeda tempat lain Annette terdiam sendirian di apartemen memeluk tubuh kurusnya yang penuhi jejak Edwin. Masih terngiang-ngiang Edwin menjamahnya tanpa berkedip dan tidak mau menganggurkan tiap detik.


"Kau pria jahat Mas mengingkari semua apa yang kau katakan," isak Annette. Mengingat semua yang diucapkan Edwin pertama kali sampai hari ini sungguh menyakitkan.


Banyang-bayang setiap perlakuan Edwin yang kasar terngiang apa lagi perselingkuhan yang dia buat dengan Rachel sudah kelewatan. Hingga larut malam Annette masih terisak, ingin rasanya meninggalkan apartemen Edwin detik ini juga.


Tiba-tiba lamunan Annette buyar karena suara ketukan pintu menyadarkannya.


"Mas Edwin?!" pekiknya. Namun Annette merasa heran mendengar suara ketukan yang tidak biasanya.

__ADS_1


__ADS_2