
Edwin tergeletak di lantai mendengar semua obrolan Annette dengan ibu panti ternyata selama ini istrinya itu saya seorang wanita yatim piatu. Rasa bersalah terhadap dirinya semakin besar mengingat semua perlakuannya kepada Annette.
"Tuan, anda sedang apa di sini?" tanya ibu panti heran.
"Ibu maaf tadi kaki saya sedikit keseleo,'' alasan Edwin.
"Di mana? Terus bagaimana keadaan kaki Tuan Muda?" tanya ibu panti panik.
''Sudah tidak apa-apa Bu.'' Edwin tidak menyangka ternyata masih ada orang yang mau memperdulikannya.
''Tapi yakin Tuan tidak apa-apa?" tanya Ibu lagi memastikan keadaan Edwin baik-baik aja.
''Ia Bu.'' Edwin langsung berdiri karena tidak mau Ibu panti terlalu berlebihan kepadanya.
''Ibu, sedang apa di sini?" tanya Annette yang tiba-tiba muncul dari belakang.
"Nak, Tuan Muda kakinya keseleo,'' ucap ibu panti. Namun, Annette sama sekali tidak menunjukkan raut wajah khawatir terhadap Edwin.
"Tuan Muda sepertinya sudah lebih baik Bu. Annette pamit dulu untuk menemui anak-anak,'' ucapnya dengan datar.
"Jangan lupa beri mereka makan Nak!" tambah Ibu panti mengingatkan Annette.
''Ya bu.'' Edwin semangat sakit melihat sikap yang ditunjukkan Annette kepadanya.
''Nak, ayo masuk sepertinya kau membutuhkan pertolongan,'' tawar ibu panti sambil melirik kaki Edwin.
''Saya sudah lebih baik Bu terima kasih sudah mengkhawatirkanku,'' lirih Edwin.
''Ya udah kalau begitu ibu masuk dulu!" ucap Ibu panti halus.
''Ia bu.'' Orang-orang disana sama sekali tidak menyadari siapa Edwin yang sebenarnya. Hanya Annette seorang yang mengetahuinya.
Di ruangan anak-anak Annette termenung memikirkan Edwin berada di panti.
"Kak Anne sedang memikirkan apa?" tanya seorang anak kecil datang menghampirinya.
''Tidak ada sayang,'' jawabnya halus.
"Kak Annette tahu tidak ada Om tanpa di sini sedang membantu kita membersihkan panti,'' ucap anak kecil itu lagi yang bernama Mika.
''Siapa?" tanya Annette heran.
__ADS_1
"Itu, Om Edwin namanya.'' Annette langsung berbalik wajahnya terlihat pucat melihat kehadiran Edwin dibalik pintu untuk.
Edwin masuk dan mendekati Annette dan Mika namun langkahnya berhenti karena anak-anak berhambur kepadanya minta digendong.
''Om tampan gendong,'' rengek mereka semuanya begitu juga dengan Mika ikut lari ke arah Edwin.
''Om Mika juga ikut digendong.'' Edwin bingung siapa yang mau dia gendong sementara tujuannya ke sini hanya untuk menemui Annette.
''Untuk apa dia ke sini?" gumam Annette dalam hati.
"Adik-adik manis Om tidak bisa menggendong kalian semuanya tapi sebagai gantinya ini. Kalian semuanya bisa beli makanan sepuasnya.'' Seketika anak-anak langsung mundur dan melepaskan diri dari Edwin karena melihat jumlah uang yang dia berikan.
"Maaf Om, kami tidak bisa menerimanya.'' Mika langsung memeluk Annette yang masih berdiri di sana.
"Kenapa?" tanya Edwin heran.
''Anak-anak kalian semua pergi ke taman bantu bapak ya!" ucap Annette halus.
"Baik Kak Anne.'' Mika dan lainnya langsung meninggalkan mereka.
Edwin merasa bingung melihat semua anak-anak yang begitu patuh kepada Annette. Sementara itu, Annette dengan wajah yang malas mendekati Edwin yang masih mematung di sana.
''Aku tidak tahu apa yang membawamu datang ke sini tapi jangan pernah lakukan itu lagi kepada anak-anak. Mereka semua disini diajarkan dengan hidup sederhana dan penuh syukur.'' Edwin akhirnya mengerti lalu dia mengangguk.
''Kalau tidak ada yang ingin anda bicarakan lebih baik pergi dari sini kurasa anda tahu jalan pulang,'' ucap Annette dingin.
''Bisa kita berdua bicara? Ada yang ingin Kubicarakan denganmu!" lirih Edwin.
"Aku sibuk. Bukankah anda juga sibuk?" sindir Annette.
"Tapi-'' Annette langsung cepat memotong ucapan Edwin.
''Aku akan secepatnya mengirim surat perpisahan jadi anda jangan khawatir soal itu.'' Annette langsung meninggalkan Edwin dengan wajah yang mematung.
Annette keluar namun langkahnya berhenti karena ibu panti ternyata memergoki merasa berdua.
"Bu?!" pekiknya.
''Ibu mau bicara denganmu Annette!" Ibu panti langsung meninggalkan tempat itu menuju ruangannya yang tidak jauh dari sana.
"Oh apa lagi ini,'' ucap Annette pelan.
__ADS_1
''Aku ikut,'' ucap Edwin tiba-tiba sudah berada di belakang Annette.
''Kau?!" Edwin tidak peduli justru melangkah menuju ruangan ibu panti.
Akhirnya mau tidak mau Annette mengikuti langkah Edwin menuju ruangan Ibu panti dengan wajah yang menunduk. Setibanya, tatapan Ibu panti terlihat marah karena merasa dibohongi dua anak muda yang di hadapannya ini.
''Jelaskan semuanya Annette?" tanya ibu panti langsung points to points.
''Maaf Annette tidak bermaksud membohongi ibu,'' ucapnya dan langsung ambruk ke lantai.
"Annette.'' Edwin langsung menolong Annette memegangi kedua pundaknya.
"Lepaskan! Jangan pernah menyentuhku,'' tolak Annette.
"Annette aku minta maaf tolong jangan menghukumku!" pinta Edwin.
Ibu panti tercengang melihat Edwin Annette.
''Annette bisakah jelaskan apa maksudnya ini semuanya? Kenapa kau bisa menikah tanpa sepengetahuan ibu?" tanya ibu panti dengan perasaan yang begitu kecewa.
''Maaf bu ceritanya panjang,'' lirih Annette.
"Bu. Biarkan Annette beristirahat untuk sementara waktu ini saya akan memberitahukan semuanya,'' pinta Edwin penuh permohonan.
''Baiklah, Annette keluarlah dan jangan pergi kemana-mana sampai Ibu memanggilmu kembali!" ucap ibu penuh ketegasan.
''Ia Bu, maaf Annette sudah membuat ibu kecewa.'' Air mata Annette tumpah membasahi kedua pipinya secara perlahan mulai meninggalkan ruangan tersebut tanpa melihat Edwin sekalipun.
Kini hanya di ruangan Edwin dan ibu panti setelah diperhatikan lebih dalam ternyata wajah Edwin tidak asing di mata sang ibu panti.
"Kau bukankah pemilik grup Baverly?" tanya ibu panti pelan memastikan.
"Benar bu,'' jawab Edwin pelan sambil menunduk.
"Apa? Bagaimana bisa anda mengenal Annette dan memperistrinya?" tanya ibu panti kaget.
''Kami menikah karena ayah.'' Akhirnya Edwin menerangkan asal mula bisa dia menikah dengan Annette dan kesalahannya sampai calon buat hati mereka pergi untuk selamanya. Kini, lebih parahnya lagi Annette mau berpisah dengannya untuk selamanya.
Ibu panti menutup mulutnya dengan menggunakan kedua tangannya setelah mendengar semua penuturan Edwin. Sebagai orang tua yang sudah mendidik Annette dari bayi sampai dewasa kecewa dengan perlakuan Edwin yang tidak akan pernah bisa dimaafkan.
"Sebagai orang tua apapun yang terjadi terhadap putrinya kami akan tetap memberikan nasehat dan dukungan kepadanya. Termasuk dengan yang terjadi saat ini, ibu sangat kecewa dengan fakta ini. Terlanjur waktu tidak bisa dikembalikan namun, Ibu yakin kalian berdua pasti bisa menyelesaikannya dengan baik.'' Edwin seketika terdiam rasa bersalahnya semakin dalam mendengar jawaban ibu angkat Annette.
__ADS_1
''Bu, boleh Edwin minta tolong? Saya meminta tolong tidak ada rasa malu sedikitpun karena sudah membuat Annette sakit,'' ucap Edwin pasrah.
''Katakan?!" tanya ibu panti tanpa ada rasa takut sedikitpun walaupun Edwin orang besar. Edwin langsung berdiri tegak karena ini kesempatannya untuk bisa kembali bicara dengan Annette.