Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Mengakuinya


__ADS_3

Annette terus berusaha menahan namun Edwin tidak mengindahkan ucapannya dan terus membawa Annette.


"Pelan-pelan Mas aku lagi pusing,'' lirih Annette. Sepertinya Edwin tidak memperdulikan ucapan Annette karena emosinya sudah memuncak jika mengingat ucapan Susan Penny serta sentuhan tangan yang belum pernah dia rasakan.


"Katakan! Kau bicara apa sama Ibu soal pernikahan kita yang tidak pernah aku inginkan ini!" teriak Edwin dan menghempaskan Annette ke tempat tidur.


"Aduh sakit sekali,'' jerit Annette karena perutnya mengenai siku tempat tidur.


"Katakan! Kau tahu Ibu memberiku sentuhan menyakitkan di sini!" tunjuk Edwin ke pipi kananya.


"Mas aku tidak tahu. Ibu kemarin, sakit.'' Annette tidak jadi melanjutkan ucapannya karena merasa perutnya kram.


"Kau keterlaluan beraninya mengadu kepada Ibu!" teriak Edwin mengamuk mengobrak-abrik isi kamar hingga terlihat seperti kapal pecah.


"Mas, aku sama sekali tidak tahu namun kemarin Ibu datang ke sini tapi Mas pulang dalam keadaan tidak sadar,'' balas Annette berusaha kuat walau perutnya terasa nyeri.


Edwin terdiam dan berusaha mengingat apa yang dikatakan Annette itu benar atau tidak. Semakin mengingat kepala Edwin pening dan akhirnya sadar saat itu jelas Susan Penny datang dan menyambut kedatangannya dalam keadaan yang tidak sadar.


"Sial! Seharusnya aku ingat Ibu datang ke sini," decaknya gusar.


Annette tidak memperdulikan Edwin bergumam sendirian ia memilih keluar karena perutnya semakin lama nyeri. Namun, Annette tidak menyadari kepergiannya meninggalkan jejak noda warna merah di lantai.


"Oh kenapa semakin lama sakit sekali,'' ucapnya dan memilih berbaring di atas tempat tidur. Namun, rasa sakit pada perutnya semakin menyakitkan hingga membuatnya tidak nyaman.


Annette memilih menuju kamar mandi karena merasa ingin membuang air kecil namun pandangannya tertuju ke tempat tidurnya ada gumpalan noda merah.


''Darah?!" pekik Annette seketika keringat dingin dan wajahnya pucat ketika melihat ke bawah banyak cairan kental berceceran.


"Mas Edwin tolong aku!" teriak Annette kuat namun yang ia panggil sepertinya sudah tidak ada lagi di apartemen ini.


Tidak mendapatkan jawaban Annette pelan-pelan keluar dari kamar kecilnya sambil memegang perutnya yang semakin nyeri. Menuju kamar Edwin sambil menahan nyeri bagian perutnya namun Annette tetap berusaha untuk menggapai pintu kamar Edwin tapi sosok yang ia cari tidak ada lagi di sana.

__ADS_1


"Mas Edwin tolong aku,'' ucapnya lirih.


Begitu banyak darah keluar sampai mengenai lantai, Annette berusaha keras untuk menuju pintu meminta pertolongan karena di apartemen sama sekali tidak memiliki telepon dan itu disengaja Edwin. Berusaha untuk keras akhirnya, Annette tiba di pintu apartemen dengan wajah yang terlihat pucat.


"Tolong aku siapa saja yang melihatku!" ucapnya lemah dan tidak berdaya. Namun tidak ada yang melihat Annette siang hari itu karena para penghuni apartemen kebanyakan meninggalkan tempat hunian mereka. Wajah yang terlihat pucat seperti tidak ada darah mengalir Annette memejamkan kedua bola matanya berharap ada yang menolongnya.


"Tolong aku,'' ucapnya perlahan lalu Annette menutup kedua bola matanya.


Di tempat lain, Edwin mengamuk tidak jelas saat dia sudah berada di perusahaan karena grup Halim membatalkan kontrak mereka.


"Bagaimana bisa kau tidak menahan mereka untuk sementara waktu?" bentak Edwin kepada sekretarisnya yang saat ini menunduk.


"Maaf Tuan Muda mereka hanya menginginkan keberadaan anda walaupun kami semua disini sudah berusaha keras untuk menahan tapi apapun yang kami katakan mereka tidak mau mendengarnya,'' balas sekretaris Edwin berterus terang.


"Bodoh!" bentaknya lagi. Sekretaris Edwin hanya bisa menunduk mendengar semua ucapannya yang tidak sadar bahwa ini semuanya adalah hasil perbuatannya yang tidak bertanggung jawab sebagai pemimpin.


Kemarahannya yang memuncak ponsel sekretaris Edwin berdering hingga membuat kedua bola mata tajam Edwin melotot karena tidak sopan sekali jika dia berbicara seharusnya semua benda seperti itu tidak berdering di ruangannya.


"Tuan saya minta maaf sudah lancang melanggar peraturan yang anda buat,'' ucap sekretaris Edwin yang bernama David.


''Halo bisa bicara dengan sekretaris Tuan Edwin?" tanya seseorang dari seberang sana.


''Saya sendiri,'' jawabnya dingin.


"Kami hanya memberitahukan bahwa saat ini istri Tuan Edwin dirawat di salah satu rumah sakit kami.'' Kedua bola mata sekretaris Edwin membulat mendengar ucapan pria di seberang sana.


"Baik.'' Hanya itu keluar dari mulut sekretaris David lalu mematikan telepon.


"Kenapa?" tanya Edwin kesal.


"Tuan, maaf saat ini Nona Annette berada di rumah sakit,'' ucap sekretaris David.

__ADS_1


"Apa?! Bagaimana bisa dia berada di sana?" tanya Edwin menatap sekretaris David tajam.


''Nona-'' namun Edwin langsung memotong ucapan sekretaris David cepat.


"Kita ke sana. Aku mau melihat wanita itu melakukan drama apalagi!" kesal Edwin.


Sekretaris David hanya bisa membuang napas berharap apa yang nanti dilihat Tuan Mudanya tidak membuat dirinya menyesal di kemudian hari. Tidak membutuhkan waktu yang lama akhirnya Edwin tiba dan langsung disambut oleh para pengurus ke rumah sakit karena Edwin adalah pemilik rumah sakit tersebut.


"Ada apa ini?" tanya Edwin tidak suka berada di sini.


"Tuan maaf kami tidak bisa menyelamatkan calon buah hati anda dan keadaan Nona saat ini masih dalam keadaan lemah karena banyak mengeluarkan darah,'' ucap dokter kandungan tersebut. Langkah Edwin berhenti dan tatapannya kosong mengarah ke depan tepat kamar inap Annette.


"Apa kau bilang, bayi?" tanya Edwin tidak percaya.


''Ia Tuan, Nona Annette mengalami keguguran dan kami berusaha untuk menyelamatkan namun tidak berhasil. Sepertinya Nona sudah cukup lama menahan rasa sakit hingga seseorang menolongnya dan membawa ke sini dalam keadaan tidak sadar,'' tambah dokter tersebut.


Seketika dunia Edwin runtuh mendengar ucapan dokter tanpa mengatakan apapun lagi Edwin masuk ke dalam ruangan Annette dengan wajah yang terlihat tegang.


"Annette?!" ucap Edwin pelan.


Tidak tahu apa yang diisi kepala Edwin seketika melunak tiba-tiba melihat Annette berbaring di sana. Suaranya bahkan terdengar pelan berbeda sebelumnya Edwin begitu membencinya.


Secara perlahan kedua bola mata Annette terbuka dan melihat sosok pria yang sudah membuatnya seperti ini. Bulir bening lolos begitu saja membasahi kedua pipinya yang masih terlihat pucat.


"Mari kita pisah Mas. Aku akan menuruti semua permintaanmu, mungkin dengan ini kau bisa bebas memilih istrimu yang lebih baik daripada aku,'' lirih Annette. Edwin menggeleng mendengar ucapan Annette yang belum pernah dia dengar sekalipun.


"Tidak. Kita tidak akan pernah berpisah sampai kapanpun!'' ucap Edwin dengan nada yang penuh tegas.


"Terserah apa yang kau katakan Mas.'' Annette lebih baik memilih memalingkan wajahnya daripada melihat Edwin berdiri dengan wajah yang tidak bersalah sekalipun.


"Katakan! Sejak kapan kau hamil?" tanya Edwin tiba-tiba.

__ADS_1


"Kalau aku mengatakan apa Mas apa mengakuinya?" tanya balik Annette tanpa melihat Edwin.


"Tatap aku jika berbicara!" Suara Edwin sedikit terdengar tinggi karena emosi melihat sifat Annette.


__ADS_2