
Waktu begitu cepat berganti tidak terasa usia pernikahan Annette dan Edwin sudah berjalan hampir dua tahun.
''Sayang, di mana dasi ku?" panggil Edwin.
''Bentar Mas'' sahut Annette dari dalam kamar mandi.
''Kamu sedang apa, kenapa lama sekali?" Pintu terbuka wajah Annette terlihat pucat.
''Maaf,'' ucapnya pelan.
''Kamu kenapa sayang? Wajahmu pucat?!" pekik Edwin dan langsung membawa Annette menuju tempat tidur.
''Aku baik Mas tidak perlu khawatir mengenai kondisiku. Oh ya, tadi Mas membutuhkan dasi kan?'' Annette langsung berdiri namun tiba-tiba ia jatuh pingsan.
''Annette?!" Edwin dengan sigap langsung menangkap tubuh Annette.
Edwin langsung baring kan Annette di atas tempat tidur lalu menghubungi dokter pribadinya.
''Baik Tuan, saya akan ke sana,'' sahut dokter tersebut.
Edwin kembali menatap wajah pucat Annette yang tidak biasanya seperti itu. Pikirannya mencari tidak-tidak membayangkan sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
__ADS_1
Tubuh kekar itu seketika bergetar karena dulu Annette tugas seperti ini terakhir kalinya.
''Jangan tinggalkan aku Annette, kamu boleh memarahiku kalau aku melakukan sebuah kesalahan. Aku mohon jangan seperti ini memberi pelajaran untukku,'' ucap Edwin begitu khawatir mengenai Annette saat ini.
Susan Penny di bawah dari tadi menunggu putra dan menantunya itu namun tidak menunjukkan batang hidungnya.
''Kog mereka berdua lama sekali turun ke bawah?" ucapnya kesal.
''Nyonya, berikan saya izin untuk memanggil Tuan dan Nona,'' potong kepala pelayan.
''Tidak perlu aku yang akan naik ke atas.'' Langkah Susan Penny terhenti karena mendengar suara kendaraan berhenti di depan rumah ya.
Seorang dokter masuk tergesa-gesa ke dalam sampai tidak melihat pemilik rumah sudah melihatnya dengan tatapan tercengang.
''Mati aku, Tuan pasti akan memecatku karena sudah telat lima menit?!" pekiknya.
''Hei, kau berhenti di sana?" panggil Susan Penny.
''Oh My God?! Maaf Nyonya, saya tidak melihat anda di sana karena terburu-buru Nona sedang tidak sadarkan diri saat ini,'' ucapnya langsung naik ke atas tidak peduli dengan reaksi Susan Penny ikut menjadi panik.
''Tuan, dokter sudah berada di sini?" ketuk pelayan Edwin.
__ADS_1
''Biarkan dia masuk!" Namun bukan hanya dokter yang masuk melainkan Susan Penny juga.
''Apa yang terjadi Edwin? Kenapa menantu bisa tidak sadarkan diri? Apa junior mu selalu masuk tiap malam?" tuduh Susan Penny.
''Mami bicara apa?!" Edwin begitu malu mendengar ucapan Susan Penny apalagi di sana ada seorang dokter dan pelayan.
Hal itu adalah pribadinya yang tidak bisa diketahui oleh orang-orang, sangat memalukan aib ya diumbar.
''Menantu, mami akan memberikan pelajaran kepada Edwin kalau memang dia benar-benar tiap hari membuatmu tidak bisa bergerak,'' ucapnya lagi.
Edwin tepuk jidat sementara dokter tertawa sampai hampir tidak fokus untuk memeriksa kondisi Annette.
Sudah tidak tahu bagaimana lagi wajah Edwin saat ini karena ucapan ibunya yang terlalu terbuka.
''Tuan, Nona hanya kelelahan dan saya sudah memberikan obat kepada beliau.'' Susan Penny melotot kepada Edwin ternyata dugaannya benar kalau putranya itu selalu membuat Annette tidak bisa tidur.
''Mulai malam ini kalian berdua harus dipisahkan untuk sementara. Mami tidak tega kalau menantu tiap hari tidak bisa tidur karena junior mu itu Edwin?!" pekik Susan Penny.
''Apa? Tidak bisa, Edwin mana bisa tidur kalau Annette tidak ada disampingku?" tolaknya dengan cepat.
Sementara dokter pusing melihat anak dan ibu itu saling berdebat memperebutkan Annette saat ini hanya butuh istirahat karena ia sedang mengandung.
__ADS_1