Menikahi Perawan

Menikahi Perawan
Melepas Rindu


__ADS_3

Edwin langsung mengikuti dokter menuju ruangannya yang tidak jauh dari tempat inap Annette dengan perasaan yang begitu berkecamuk mau tidak mau harus mendengar semua penjelasan mengenai kondisi kesehatan istrinya saat ini. Dokter tersebut langsung mempersilahkan Edwin untuk duduk terlebih dahulu sebelum dia karena sebagai pemilik rumah sakit ini tentunya harus mengutamakan direktur.


"Silahkan Tuan!" ucapnya halus.


"katakan apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Edwin begitu serayu selalu duduk.


"Tuan kami harus mengatakan bahwa saat ini kesehatan Nona sudah pulih namun, dari hasil pemeriksaan kami Nona diagnosa akan kesulitan mengandung kembali karena insiden yang dialaminya cukup banyak mengeluarkan darah,'' ucap dokter wanita tersebut.


''Apa?!'' pekik Edwin.


"Maaf Tuan untuk menghindari hal yang lebih buruk terhadap kesehatan Nona kami mengangkatnya tanpa sepengetahuan anda. Jika menunggu keputusan kami tidak akan bisa menolong Nona secepatnya.'' Edwin langsung tergeletak mendengar semua penjelasan dokter.


Apa yang harus dia katakan kepada Annette bahwa saat ini ia dan selamanya tidak akan pernah bisa lagi mengandung karena rahimnya sudah diangkat. Apakah ini dota harus ditanggungnya karena memperlakukan seorang wanita tidak baik.


"Apa Annette mengetahui masalah ini?" tanya Edwin memastikan.


"Tidak Tuan. Kami menjaga perasaan pasien demi kesehatannya oleh karena itu lebih baik jangan mengatakan kepada Nona untuk sementara ini Tuan,'' pinta dokter tersebut.


Tubuh kekar itu seketika ambruk di lantai rasanya tidak pantas lagi dirinya diangkat sebagai seorang pria. Dosanya begitu besar sampai dua nyawa telah pergi tanpa berdosa karena perbuatannya.


Secara perlahan Edwin keluar dari ruangan dokter setelah mendapatkan penjelasan langsung darinya. Apa yang akan dikatakannya kepada Annette sementara istrinya itu ngotot untuk berpisah dengannya saat ini. Semuanya telah hilang sirna begitu saja dibandingkan dulu semua ada pada dirinya kecuali kebahagiaan yang sudah direnggut Annette ketika mereka berdua baru menikah.


Edwin kembali ke tempat ruang nginap Annette dan melihat dari balik kaca saat ini istrinya terbaring yang hanya menunjukkan kepala aja.


"Tuan, permisi?" sapa seorang pria yang sedari tadi memperhatikan Edwin sepertinya tidak berdaya dan tidak ada semangat.


"Ya?" balas Edwin tanpa memperhatikan siapa yang memanggilnya.


"Maaf Tuan, Nona yang berada di dalam sana tadi meninggalkan benda ini di pintu apartemen,'' ucap pria tersebut yang tidak lain adalah yang menolong Annette tadi.

__ADS_1


Edwin seketika langsung berbalik mendengar nama istrinya tiba-tiba kedua bola matanya langsung membulat melihat pria tampan di hadapannya, berbeda dengan yang saat ini yang terlihat lusuh.


''Kau-'' Bayu langsung cepat memotong ucapan Edwin sambil tersenyum kecil.


''Sepertinya ini ponsel milik istri anda ayah tidak melihat apapun di dalam tapi sepertinya sedari tadi ponsel itu berdering,'' tambah Bayu.


"Oh ia, aku akan menyampaikan kepadanya,'' ucap Edwin tanpa melepas pandangannya kepada Bayu.


''Baiklah kalau begitu saya permisi Tuan.'' Bayu langsung berbalik namun Edwin langsung menghentikannya karena masih ingin berbicara kepada pria yang menolong istrinya tersebut.


''Tunggu!" Bayu berbalik.


''Ya?" balasnya.


''Terimakasih kau sudah menolong istriku. Tapi aku belum pernah melihatmu sebelumnya di apartemen,'' tambah Edwin.


''Saya hanya seorang bekerja harian di sana Tuan dan hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di sana karena sudah habis kontrak,'' balas Bayu.


Bayu seketika terdiam mendengar tawaran Edwin, dia tahu siapa pria yang di hadapannya merupakan orang besar yang tidak bisa dianggap remeh.


"Kau tidak mau bergabung denganku?" tanya Edwin lagi.


"Saya hanya memiliki ijazah sekolah menengah atas Tuan,'' ucap Bayu.


''Dan kau akan kuangkat menjadi asisten pribadiku dan jangan membantah tawaran yang aku berikan ini kepadamu!" kedua bola mata Bayu membulat mendengar ucapan Edwin. Mimpi apa dia semalam bisa mendapatkan posisi penting bersama dengan orang yang begitu berpengaruh di kota ini.


''Kau datanglah besok ke kantor dan sekretaris David akan mengurusmu di sana,'' tambah Edwin lalu masuk ke dalam tanpa mendengar jawaban Bayu.


Bayu bagaikan disambar petir hari ini mendapatkan pekerjaan yang begitu diinginkan oleh orang-orang di luar sana namun, dia hanya hitungan beberapa jam langsung diterima tanpa seleksi.

__ADS_1


"Ya Tuhan terima kasih banyak sudah menunjukkan jalan kepadaku,'' ucap Bayu begitu senangnya lalu meninggalkan rumah sakit untuk mempersiapkan semua yang diinginkannya besok.


Sementara itu di dalam rawat inap, Edwin kembali memperhatikan Annette ya masuk terlelap dalam tidurnya. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam Annette masih belum menunjukkan bangun hingga membuat Edwin cemas karena ini sudah lewat waktunya makan malam.


Namun, tubuh yang berbaring di atas tempat tidur tersebut bergerak secara perlahan seketika raut wajah cemas Edwin langsung mengembang dengan senyumannya yang terlihat manis.


"Annette kau pasti lapar aku sudah membeli kau makanan,'' ucap Edwin halus.


Annette sedikit kaget mendengar suara Edwin yang begitu dekat dengannya namun seketika ia mengingat semua ucapan yang pernah dilontarkan Edwin kepadanya.


"Jangan pernah dekat-dekat denganku Mas! Bukankah seharusnya kau harus menjaga jarak denganku.'' Edwin langsung tersindir mendengar ucapan Annette.


Makanan yang dia pegang langsung diletakkan di atas nakas. Bayang-bayang semua kelakuannya kepada Annette langsung terlihat di hadapannya.


''Kau jangan lupa makan malam. Aku akan menunggumu di luar oh ya ponselmu ini tadi seorang pria datang menemuiku dan memberikan ini!'' ucap Edwin dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan perasaan penuh salah.


Annette sama sekali tidak memperdulikan bagaimana raut ekspresi wajah Edwin. Ia langsung membuka ponselnya seseorang harus dia hubungi untuk memberitahukan kabar mengenai dirinya saat ini. Tidak lama terdengar suara wanita paruh baya di seberang sana.


"Halo, Nak?" ucapnya penuh khawatir.


''Bu, maaf Annette tadi tidak bisa melanjutkan obrolan kita karena ada sesuatu yang harus aku urus di sini,'' bohongnya.


''Tidak apa-apa Nak. Selama menikah kau tidak pernah datang lagi ke panti Nak bersama dengan suamimu.'' Annette merasa sedikit sasak mendengar permintaan ibu sambungnya itu.


"Besok aku datang ke sana Bu,'' ucap Annette lirih.


''Benarkah? Adik-adikmu di sini pasti bahagia mendengar kau akan berkunjung ke sini Nak,'' ucapnya begitu antusias.


''Tentu Bu siapa dulu Annette kakak terbaik mereka,'' kekeh Annette.

__ADS_1


Annette melepas rindu bersama dengan para saudaranya yang berada di panti sampai melupakan makan malamnya. Tanpa disadarinya seorang pria memperhatikannya dari balik kaca dengan perasaannya yang sakit melihat senyuman palsu istrinya.


''Ternyata kau bisa tersenyum manis seperti ini Annette, bodohnya aku tidak melihatmu dari dulu.'' Edwin mengusap wajahnya yang kusam tanpa disadari air mata lolos membasahi kedua pipinya. Ada getaran yang membuat perasaannya luluh melihat wajah Annette.


__ADS_2