
Setibanya di rumah sakit, Edwin langsung masuk ke dalam meninggalkan Susan Penny namun beliau sama sekali tidak marah melihat putranya itu meninggalkan dirinya sendiri diparkiran.
Annette sudah mendapatkan perawatan di dalam namun sampai beberapa jam berlalu belum ada tanda-tanda.
"Bu, bagaimana kalau Annette tidak sadar lagi?'' tanya ya cemas.
"Annette wanita kuat Edwin ibu yakin ia bisa melewatinya." Setelah mendengar itu Edwin kembali mondar-mandir tidak peduli sudah berapa lama dia seperti itu.
Tiba-tiba ruangan terbuka seorang dokter langsung memperlihatkan diri di hadapan Edwin.
"Tuan Edwin?" panggil ya.
"Saya dok, bagaimana keadaan Annette?" tanyanya cemas.
"Kami sudah berusaha untuk menurunkan suhu tubuh ya namun tidak kunjung turun," terangnya.
"Maksudnya bagaimana dok?" tanya Edwin tidak mengerti padahal dokter adalah kepercayaannya mengenai kesehatan.
"Kalau terlalu lama dibiarkan Nona tidak dapat kami pastikan lagi Tuan." Susan Penny menatap mulutnya tidak percaya yang dia dengar barusan.
"Nona Annette mengalami stres berat hingga berakibat fatal kepada tubuh ya Tuan. Kalau dibiarkan seperti ini terus kita tidak tahu cepat atau lambat." Dokter tidak melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
"Boleh saya masuk ke dalam?" tanya Edwin.
"Tentu Tuan," angguk ya.
Susan Penny tercengang melihat keadaan Annette terbaring lemah di atas tempat tidur. Edwin merasakan suhu ruangan begitu panas namun tidak membuat Annette mau membuka kedua bola mata ya.
"Win, sepertinya kita harus membawa Annette ke luar negeri," usul Susan Penny.
"Tidak perlu Bu," tolaknya.
"Kenapa?" cacar Susan Penny.
"Mudah-mudahan Annette mau menerima Edwin," ucapnya dalam hati.
Edwin memilih melepaskan pakai yang atasan ya dan membuat Annette menyalurkan hangat tubuhnya kepada ya.
"Mudah-mudahan berkurang. Annette aku minta maaf melakukan ini tanpa seijin mu," ucapnya lalu membawanya masuk kedalam pelukan hangat ya.
Annette masih terus menggigil hingga jalan pintas akhirnya dia dilakukan dengan cara menyatu. Edwin sudah menerima resikonya kalau sewaktu-waktu apa yang dia lakukan ini terungkap kelak.
Beberapa jam kemudian Edwin tidak lagi merasakan tubuh Annette bergetar bahkan hangat ya mulai berkurang.
__ADS_1
"Oh syukurlah," ucap Edwin senang lalu kembali membawa Annette masuk ke dalam pelukannya setelah selesai melakukan penyatuan.
Susan Penny memilih kembali ke rumah karena percuma terus menunggu sementara si Edwin lagi enak-enak. Waktu terus berputar Annette bangun karena merasa tenggorokannya kering.
Namun pergerakannya kurang karena Edwin menjepit dirinya agar tidak bisa bergerak.
"Apa yang terjadi?" gumamnya pelan.
Annette menutup mulutnya melihat keadaan dia dan Edwin persis seperti dulu.
"Apa yang terjadi?!" teriaknya kencang.
Edwin terkejut ikut bangun karena suara teriakan Annette bahkan, bola matanya masih ngantuk karena mengurus dirinya.
"Tenanglah, tidak ada yang terjadi hanya saja beberapa jam yang lalu tubuhmu hangat Annette. Dokter bahkan mengatakan kalau tubuhmu sangat sulit untuk diturunkan suhunya." Annette menangis penyatuan ini sama sekali tidak mau ia inginkan.
"Bagaimana kalau nanti aku hamil?" tangisnya.
Edwin tersenyum mendengar pertanyaan Annette, hal ini lah yang dia tunggu selama ini agar bisa mengikat Annette untuk selamanya.
"Kita akan menjadi keluarga yang paling bahagia di dunia ini Annette." Setelah mengatakan itu Edwin langsung membawa Annette masuk ke dalam pelukannya.
__ADS_1