Menikahi Pria Gangguan Jiwa

Menikahi Pria Gangguan Jiwa
Mengikuti


__ADS_3

"Asal Nyonya tahu, orang yang meledakkan mansion milik putraku adalah keluarga besar dari mantan suami Delia yang pertama bukan musuh putraku jadi jangan pernah menyalahkan putraku atas kejadian ini," ucap Tuan Albert Hall dengan nada tegas.


"Keluarga besar dari mantan suami putriku?" tanya Delisa mengulangi perkataan Tuan Albert Hall dengan wajah terkejut.


"Benar, mereka melakukan itu karena sangat membencimu itulah sebabnya mereka menargetkan putrimu dan juga cucumu." jawab Tuan Albert Hall sambil menatap tajam ke arah Delisa.


"Kenapa mereka sangat membenciku?" tanya Delisa.


"Pikir saja sendiri kenapa mereka sangat membencimu. Sekarang pergilah dan jangan pernah mengusik putraku lagi," ucap Tuan Albert Hall dengan nada tegas.


"Tapi Arsene tetap menantuku jadi aku masih berhak untuk datang ke sini," ucap Delisa yang mengingat putrinya masih hidup terlebih sangat mencintai Arsene.


"Bukankah putri mu sudah meninggal jadi Nyonya tidak berhak untuk datang ke sini. Apalagi Nyonya sudah tahu dari awal kalau putraku tidak menyukai putrimu tapi gara - gara Nyonya berlutut sambil menangis karena putrimu hendak bunuh diri membuat putraku terpaksa menikah dengan putrimu.'' ucap Tuan Albert Hall.


"Putraku sudah mulai bisa menerima kenyataan jadi jangan pernah mengusik putraku lagi. Biarkan putraku menjalani hidup yang baru tanpa ada bayangan putrimu karena pada dasarnya putraku tidak mencintai putrimu,'' sambung Tuan Albert Hall sambil berjalan meninggalkan ruang keluarga di ikuti ketiga putranya.


"Bagaimana kalau ternyata putriku dan anaknya masih hidup?" tanya Delisa.

__ADS_1


Tuan Albert Hall langsung menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badannya begitu pula dengan ke tiga putranya.


"Kami akan menuntut Nyonya karena telah membuat putraku mengalami sakit jiwa," jawab Tuan Albert Hall.


"Apalagi Dela adalah cucumu bukan cucuku jadi sekali lagi aku tekankan jangan pernah mengusik keluargaku terlebih putra ku Arsene,'' sambung Tuan Albert Hal.


"Oh ya hampir lupa kalau keluarga besar Alexander sudah tidak perduli pada Nyonya dan juga Delia serta Dela jadi jangan banyak berharap bisa menang melawan kami," ucap Alex.


"Usir wanita yang tidak tahu malu itu dan mulai sekarang dan seterusnya di larang masuk ke mansion ini!!" perintah Asher.


"Baik Tuan," jawab kepala pelayan.


"Hei berhenti!!" teriak Delisa


"Maaf Nyonya, jangan buat keributan di sini jadi silahkan pergi dari mansion ini," ucap kepala pelayan.


"Kamu itu hanya seorang pelayan, jangan berani kamu mengusirku," ucap Delisa dengan nada satu oktaf.

__ADS_1


"Penjaga, usir wanita ini jika menolaknya tembak saja!!" teriak Axel dari lantai dua melalui ponsel miliknya.


Teriakkan Axel membuat penjaga menjauhkan sambungan komunikasi karena membuat telinganya langsung berdengung sedangkan Delisa yang mendengar teriakan Axel dari lantai dua terpaksa membalikkan badannya dan meninggalkan mansion sambil menahan amarahnya.


"Baik tuan," jawab penjaga sambil berjalan ke arah ruang keluarga.


Penjaga tersebut melihat Delisa sedang berjalan ke arah dirinya membuat penjaga mansion membalikkan badannya dan kembali ke tempat pos penjaga tanpa memperdulikan Delisa sedang marah-marah tidak jelas.


('Akhhhhh... si*l kenapa tidak sesuai dengan apa yang aku rencanakan,' ucap Delisa dalam hati).


xxxxxxx


Arsene dan Angel masih dalam perjalanan menuju ke villa sambil menikmati udara pagi. Arsene duduk di kursi belakang pengemudi bersama Angel sedangkan di depannya duduk dua bodyguardnya dan salah satunya merangkap sebagai sopir.


Arsene memeluk tubuh Angel dari arah samping sedangkan Angel meletakkan kepalanya di dada bidang Arsene sambil menatap ke arah jalan.


"Kamu bahagia?" tanya Arsene.

__ADS_1


"Tentu saja aku sangat bahagia," jawab Angel sambil tersenyum bahagia.


"Maaf Tuan, ada yang mengikuti mobil kita," ucap salah satu bodyguard sambil menatap ke arah spion mobil yang duduk di samping pengemudi.


__ADS_2