
Malam menjelang pagi perlahan Arsene membuka matanya dan melihat wajah cantik istrinya tepat di wajahnya bahkan bibirnya nyaris bersentuhan.
Cup
Arsene mengecup bibir istrinya secara singkat kemudian membuang asal selimutnya. Arsene menaiki tubuh polos istrinya kemudian mendekatkan wajahnya ke leher istrinya untuk memberikan tanda kepemilikan yang hampir penuh akibat ulahnya semalam.
"Eugghhhh..."
"Kak Arsene," panggil Angel sambil perlahan membuka matanya karena merasa tubuhnya dinaiki di tambah lehernya terasa geli tapi enak.
"Iya sayang," jawab Arsene kemudian melanjutkan mencium leher Angel.
"Bukankah semalam sudah?" tanya Angel.
"Itukan semalam sekarang kan belum," jawab Arsene sambil memainkan salah satu pucuk Himalaya milik Angel.
"Ahhhhhhh,"
"Suaramu sangat merdu membuatku ingin memakan mu lagi," bisik Arsene.
"Suamiku mesum," ucap Angel sambil mengalungkan ke dua tangannya ke arah leher suaminya.
"Mesum sama istri sendiri boleh?" tanya Arsene.
"Harus sama aku dan tidak boleh sama wanita lain," jawab Angel dengan posesif.
Cup
"Tentu saja hanya sama kamu," jawab Arsene sambil memasukkan tombak saktinya ke dalam goa milik istrinya.
Angel tersenyum sedangkan Arsene memasukkan mulutnya ke salah satu pucuk gunung kembar milik Angel membuat Angel kembali mengeluarkan suara merdunya.
Jleb
"Akhhhhhhhh..." ucap Angel mengeluarkan suara merdunya.
Arsene tersenyum mendengar suara Angel hingga lima belas menit kemudian ponsel Arsene berdering membuat Arsene mengeram kesal.
__ADS_1
"Siapa sih yang telepon? Ganggu aja," omel Arsene sambil mengambil ponselnya tanpa melepaskan tombak saktinya.
Arsene menatap ke layar ponselnya dan matanya menatapnya dengan tatapan kesal.
"Siapa yang telepon?" tanya Angel penasaran.
"Delia,'' jawab Arsene sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang.
"Kak Arsene ... Ahhhhhhh... Angkat ... Ahhhhhhh... aja," ucap Angel sambil mengeluarkan suara merdunya.
Grep
Angel memeluk bokong Arsene agar tidak bergerak sedangkan Arsene hanya menatap wajah cantik istrinya tanpa menjawab dan mengeluarkan suara sedikitpun.
"Jangan digerakkan nanti aku mengeluarkan suara, angkat telepon nya siapa tahu penting," ucap Angel.
Arsene hanya menatap wajah Angel dengan kesal kemudian menggeser tombol berwarna hijau.
("Ada apa?" tanya Arsene dengan nada ketus karena telah mengganggu kesenangannya).
("Maaf Kak, Hiks... Hiks... Hiks ..." ucap Eden sambil terisak).
("Mommy meninggal Kak, Kak Arsene apakah bisa datang untuk melihat untuk terakhir kalinya?" tanya Eden penuh harap).
("Baiklah Kakak akan datang," ucap Arsene yang tidak tega melihat kesedihan Eden).
("Terima kasih banyak Kak, salam buat Kak Angel," ucap Eden dengan tulus).
("Sama-sama, nanti Kakak sampaikan," jawab Arsene).
Tut Tut Tut
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Arsene kemudian Arsene meletakkan kembali ponselnya di atas meja.
"Ibu mertua Kak Arsene meninggal?" tanya Angel dengan nada terkejut.
"Ya, kita lanjutkan lagi setelah itu kita pergi ke pemakaman," jawab Arsene.
__ADS_1
"Tapi Kak ...." ucapan Angel terpotong oleh Arsene.
"Tidak ada penolakan apalagi kasihan adik kecilku jika belum mengeluarkan laharnya," ucap Arsene.
Arsene mencium bibir Angel karena Angel ingin mengatakan sesuatu sambil menggoyangkan pinggulnya secara berulang-ulang hingga akhirnya keluarlah lahar dari tombak saktinya.
Setelah satu menit kemudian Arsene menarik tombak saktinya kemudian menggulingkan tubuhnya ke arah samping istrinya. Arsene turun dari ranjang kemudian langsung menggendong istrinya ala bridal style.
Skip
Kini Arsene dan Angel sudah memakai pakaian serba hitam dan berada di mansion milik Delisa di mana keluarga besar Alexander memberikan penghormatan terakhir.
Eden hanya memeluk putri sulungnya yang masih terbalut perban sambil terisak menatap Delisa yang setia memejamkan matanya.
'Maafkan Eden, Mom karena Eden sempat marah dan membenci Mommy. Eden hanya berharap Mommy selalu bahagia di sana dan diampuni segala dosa- dosanya,' ucap Eden dalam hati).
'Maafkan Arsene Mom, kalau Arsene sempat marah dan membenci Mommy. Semoga Mommy selalu bahagia di sana dan diampuni segala dosa- dosanya,' ucap Arsene dalam hati).
'Walau aku baru mengenal Nyonya, semoga Nyonya tenang di sana dan diampuni segala dosa- dosanya,' ucap Angel dalam hati.
Setelah hampir tiga jam jenasah Delisa di bawa ke peristirahatan terakhir tempat pemakaman keluarga besar Alexander. Walau mereka sempat kesal dengan Delisa dan kecewa dengan perbuatannya namun bagaimana pun Delisa tetap bagian dari anggota keluarga besar Alexander.
Eden memeluk nisan Delisa sambil terisak bersama putri semata wayangnya hingga hampir satu jam satu persatu pergi meninggalkan area pemakaman dan hanya menyisakan Delon, Edward, Alona, Arsene, Angel, Eden dan Dela.
"Ayo Eden kita pulang," ajak Delon.
"Daddy dan yang lainnya pulang dulu biar Eden di sini," ucap Eden.
"Dela juga mau menemani Mommy," ucap Dela.
"Aku akan menunggumu," ucap mereka bersamaan.
"Eden," panggil seseorang yang sangat familiar di telinga mereka kecuali Angel dan Alona.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Sambil menunggu up silahkan mampir ke karya temanku dengan judul :
__ADS_1