Menikahi Pria Gangguan Jiwa

Menikahi Pria Gangguan Jiwa
Karma Nyonya Besar Delisa


__ADS_3

Delisa tertawa sendiri sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah tangga menuju ke kamar Delisa.


"Mansion semegah ini .... Hahahaha ... hanya aku tinggal sendiri ... Hahahaha ... kalian pergilah karena aku ingin tinggal di sini sendirian," ucap Delisa sambil masih tertawa.


Satu demi satu Delisa menaiki anak tangga dan entah kenapa ketika sampai di lantai dua salah satu kakinya tepatnya kaki kanan Delisa tiba-tiba keseleo membuat Delisa jatuh kemudian tubuhnya terguling - guling.


"Akhhhhhhhh...." teriak Delisa ketika tubuhnya terguling - guling di lantai.


Bruk


Tubuh Delisa berhenti terguling ketika tubuhnya berada di lantai satu. Darah segar keluar dari mulut, hidung, kepala dan kening hingga Delisa melihat dan mendengar samar-samar orang berjalan ke arah dirinya sambil berteriak histeris.


"Bagaimana ini?" tanya pelayan.


"Lebih baik kita telepon Tuan Besar Delon," jawab kepala pelayan.


Kepala pelayan langsung mengambil ponselnya yang di simpan di saku kemejanya kemudian menghubungi Delon. Panggilan pertama langsung di angkat oleh Delon.


("Ada apa Paman?" tanya Delon).


("Maaf Tuan Besar, Nyonya Besar Delisa jatuh dari tangga,'' jawab kepala pelayan).

__ADS_1


("Apa?Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Delon dengan nada terkejut).


("Sekarang tergeletak di lantai dan tidak sadarkan diri," jawab kepala pelayan).


("Bawa ke rumah sakit milik keluarga besar Alexander, aku tunggu di sana," perintah Delon).


("Baik Tuan," jawab kepala pelayan).


Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Delon kemudian kepala pelayan dengan di bantu pelayan menggotong tubuh Delisa yang bersimbah darah dan tidak sadarkan diri.


Salah satu bodyguard yang merangkap sebagai sopir membuka pintu mobil belakang pengemudi dengan lebar kemudian kepala pelayan masuk ke dalam mobil sambil memegangi kepala dan tubuh Delisa sedangkan pelayan satunya memegangi tubuh dan kaki Delisa yang sudah mulai dingin.


"Bisa jadi, dosanya terlalu banyak makanya jatuh dari lantai dua," sambung kepala pelayan.


"Sebenarnya aku malas mengantar Nyonya besar Delisa ke rumah sakit," ucap bodyguard yang merangkap sebagai sopir sambil mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


"Sama," jawab kepala pelayan dan pelayan bersamaan.


"Apa aku kurangi saja kecepatan mobilnya?" tanya sopir tersebut.

__ADS_1


"Nanti ketahuan kita kena hukuman lebih baik cepat saja," ucap kepala pelayan.


"Semoga saja Nyonya Delisa tersiksa antara hidup dan ma ti," ucap pelayan yang sangat membenci Delisa


"Amin," jawab kepala pelayan dan sopir bersamaan.


"Mungkin itu karma Nyonya Besar Delisa karena sering menyakiti perasaan orang-orang terlebih Nyonya muda Alona," ucap kepala pelayan.


"Betul sekali, mungkin sekarang kena karmanya," ucap pelayan tersebut.


Lima belas menit kemudian mereka sudah sampai di rumah sakit. Sopir tersebut keluar dari mobil untuk memanggil perawat.


Kini Delisa terbaring di brangkar dan dua perawat mendorong brangkar tersebut ke arah ruangan UGD. Kepala pelayan dan pelayan mengikuti langkah dua perawat yang mendorong Delisa hingga mereka berhenti di depan pintu masuk UGD. Tidak berapa lama datang Delon, Edward, Alona, Eden dan Dela.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Delon penasaran.


"Nyonya besar Delisa berjalan menaiki anak tangga hingga saya mendengar Nyonya besar Delisa berteriak kesakitan membuat saya dan para pelayan lain berjalan menuju ke arah tangga dan saya melihat Nyonya besar tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dan tidak sadarkan diri," jawab kepala pelayan.


"Kalian berdua pulanglah karena pakaian kalian terkena noda darah," ucap Delon.


"Baik Tuan," jawab kepala pelayan dan pelayan bersamaan.

__ADS_1


Kepala pelayan dan pelayan menundukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Mommy, maafkan Eden," ucap Eden dengan nada lirih sambil duduk di kursi roda karena dirinya lumpuh.


__ADS_2